Mati konyol hanya gara-gara dua potong roti? jangan bercanda!
Nasib buruk menimpa seorang pemuda gelandangan. perut lapar memaksanya untuk mencuri, tapi bayaran dari perbuatannya itu nyawanya hampir melayang di hajar warga.
Namur, takdir berkata lain.
saat matanya kembali terbuka, ia bukan lagi sekedar gelandangan bodoh yang lemah, jiwa dari tubuh kurus itu telah menyatu dengan jiwa seorang ahli racun, sains, dan ahli dalam ramuan.
" Lihat saja suatu saat kalian akan berlutut di kaki ku untuk minta tolong "
Di dunia yang moralnya sudah rusak ini,haus akan kekuasaan, kekayaan, dan populeritas dia bakalan menjadi penguasa tertinggi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Razif Tanjung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 : Misi Berbahaya Untuk Hidung
Toilet VIP Klub Black Mamba seharusnya adalah tempat yang suci. Tempat di mana orang-orang kaya membuang limbah metabolisme mereka dengan penuh martabat.
Namun, saat Bara berdiri di depan pintu bilik nomor satu, sensor penciumannya mendeteksi ancaman level bahaya biologis.
"Gas Metana: 30%. Hidrogen Sulfida: 40%. Bau jengkol belum dicerna: 30%," analisis Bara sambil menutup hidung dengan kerah seragam oranyenya.
"Siapa pun yang baru saja keluar dari sini, ususnya pasti sedang membusuk."
Di depan pintu toilet, si penjaga (yang mukanya mirip bulldog kurang tidur) melipat tangan.
"Lu yakin mau masuk, Tong? Itu WC mampet dari sore. Bos Cobra yakin cincinnya jatoh pas dia lagi... ekhem, buang muatan di situ. Tapi nggak ada yang berani ngoprek. Tukang sedot tinja baru dateng besok."
Bara menatap pintu bilik itu seperti menatap gerbang Neraka Lapis Ketujuh.
"Minggir," kata Bara dengan suara berat yang dibuat-buat. "Biar Sang Ahli yang menangani."
"Serah lu dah. Kalau lu pingsan, gue nggak mau ngasih napas buatan ya."
Bara masuk dan mengunci pintu. Dia menatap kloset duduk berwarna putih gading itu. Airnya menggenang tinggi, berwarna keruh kecokelatan, dan—sayangnya—ada "objek" yang mengapung dengan angkuh di sana.
Sebuah Tinja. Ukurannya kolosal.
Bara menelan ludah. Di kehidupan lampau, dia pernah membedah perut monster Kraken yang bau amis. Tapi entah kenapa, kotoran manusia modern ini terasa lebih mengintimidasi.
"Baiklah, Wahai Limbah Organik," ucap Bara pada kotoran itu. "Mari kita bernegosiasi. Kau sembunyikan dimana cincin rajaku?, aku harus mengambilnya. Jangan mempersulit keadaan, ngerti ?."
Bara tidak mungkin memasukkan tangannya ke sana. Dia miskin, tapi dia punya standar higienitas. Tangan ini nantinya akan meracik obat dewa, tidak boleh ternoda oleh bakteri E.
Dia butuh alat.
Mata Bara memindai ruangan sempit itu. Tisu gulung? Tidak berguna. Pewangi ruangan? Tidak. Sikat WC? Terlalu pendek.
Pandangannya jatuh pada Gantungan Baju dari kawat besi yang tergeletak di belakang pintu (mungkin bekas tamu yang ganti baju).
"Aha. Ini dia"
Bara mengambil gantungan baju itu, meluruskannya, dan menekuk ujungnya menjadi kait pancing.
Operasi penyelamatan dimulai.
Bara membungkuk, wajahnya hanya berjarak 30 cm dari permukaan air keruh. Matanya menyipit, fokus 100%. Keringat dingin menetes di pelipisnya. Ini lebih tegang daripada menjinakkan bom.
"Pelan... pelan..."
Dia memasukkan kawat itu ke dalam lubang pembuangan, melewati "objek" yang mengapung itu dengan manuver zig-zag yang indah.
Tung!
Ujung kawat membentur sesuatu yang keras di leher angsa (pipa S). Bunyinya beda. Itu bukan keramik. Itu batu!
"Target terdeteksi. Posisi: 15 cm di bawah permukaan air. Status: Terjepit."
Bara mulai mengait.
Dia memasukkan kawatnya tidak sabar. Dia melakukan gerakan memutar Helix Screw, teknik yang dulu dia pakai untuk mencabut jantung tanaman mandragora.
Dapat!
Kait kawat menyangkut di lingkaran cincin. Perlahan, dengan tangan gemetar, Bara menariknya ke permukaan.
Cincin itu muncul dari dalam air keruh. Sebuah cincin emas besar dengan batu akik merah darah yang menyala.
"Menjijikkan," komentar Bara datar. "Tapi ini adalah tiket kebebasanku."
Bara membawa cincin itu ke wastafel. Dia mencucinya dengan sabun cuci tangan sampai tujuh kali bilas (seperti menyucikan najis berat).
Dia menggosoknya sampai kinclong.
Dia menatap cincin itu di bawah lampu. Batu Akik Merah Delima. Konon punya kekuatan magis.
Bara mendengus. "Magis apanya. Ini cuma batu Silikon Dioksida dengan campuran Kromium. Tapi harganya mahal karena orang bodoh percaya takhayul."
Bara keluar dari toilet dengan langkah kemenangan. Si Penjaga Bulldog masih di sana.
"Gimana? Gagal kan lu?" ejek si Penjaga.
Bara mengangkat tangan kanannya. Cincin Akik Merah menyala di jari jempol nya(karena jari lain gak pas).
Mata si Penjaga melotot sampai hampir keluar. "Anjir! Ketemu?! Lu ngobok-ngobok tahi?!"
"Seorang profesional tidak menjelaskan metodenya," jawab Bara angkuh. "Bawa aku ke Cobra. Aku mau menagih upeti."
Ruang VIP Bos Cobra.
Cobra sedang memijat pelipisnya yang pening karena laporan kerugian bulanan, ketika Bara masuk dan meletakkan cincin itu di meja.
Ting.
Cobra terlonjak. Dia menyambar cincin itu, menciumnya (Bara meringis dalam hati, 'Jangan dicium, Bos. Tadi itu bekas... ah sudahlah'), dan tertawa lebar.
"Hahahaha! Cincin keberuntunganku! Akik Darah Perawan!" seru Cobra. "Bagaimana cara lu ngambilnya ni barang?, orang lain aja gak berani"
"Rahasia dagang," jawab Bara singkat. Perutnya berbunyi lagi. Keras sekali. Kruyuuuuk.
Cobra berhenti tertawa. Dia menatap Bara yang kurus kering.
"Oke. Karena lu udah nyelamatin 'nyawa cincin' gue, lu minta apa? Naik gaji?"
Bara menggeleng. Dia sudah punya rencana. Gaji harian tidak cukup. Dia butuh dana untuk beli peralatan bertahan hidup di hutan, dia berencana untuk hidup di sana karena lebih mudah menemukan bahan ramuan dan meneliti sesuatu yang baru.
"Saya mau uang tunai 500 ribu sekarang," kata Bara tegas. "Dan sisa makanan prasmanan tamu VIP yang belum disentuh."
Cobra mengernyit. "500 ribu? Itu gaji lu 10 hari, bego."
"Cincin itu harganya berapa? Sepuluh juta? Dua puluh juta?" tawar Bara. "500 ribu itu murah untuk biaya jasa diving di kloset."
Cobra berpikir sejenak, lalu menyeringai. Dia melempar segepok uang ratusan ribu ke meja. Ada lima lembar.
"Ambil. Dan pergi ke dapur. Bilang sama koki, bungkus semua sisa Steak Wagyu sama Ayam Bakar yang nggak abis. Gue lagi seneng."
Bara menyambar uang itu dengan kecepatan cahaya. Matanya berbinar bukan karena serakah, tapi karena dia melihat botol kaca, pisau lipat, dan korek api yang bisa dia beli dengan uang ini.
"Terima kasih, Bos. Senang berbisnis dengan Anda."
Bara berbalik pergi.
"Eh, tunggu," panggil Cobra. "Siapa nama lu?"
Bara menoleh, tersenyum tipis.
"Bara."
Satu Jam Kemudian.
Di belakang gedung klub, di dekat tempat sampah besar.
Bara duduk bersila di atas kardus bekas. Di depannya terhampar "Pesta Raja". Tiga potong Steak Wagyu dingin, setengah ekor ayam bakar, dan segunung kentang goreng yang sudah lembek.
Bagi orang lain, ini sampah.
Bagi Bara, ini Nutrisi Makro Protein Tinggi.
Dia makan dengan lahap, tapi tetap dengan cara yang aneh. Dia memisahkan lemak daging dengan presisi menggunakan sendok plastik, mengunyah setiap suapan tepat 32 kali untuk penyerapan enzim maksimal.
"Protein masuk. Karbohidrat masuk. Energi terisi 80%," gumamnya dengan mulut penuh.
Kucing kudis yang kemarin kembali datang, menatap Bara dengan iri.
Bara melempar sepotong ayam ke kucing itu. "Makanlah, Kawan. Hari ini kita bangsawan."
Sambil mengunyah, otak Bara menyusun rencana selanjutnya.
Uang: 500 ribu rupiah.
Target: Hutan di pinggiran kota
Kebutuhan:
Tenda/Terpal.
Pisau yang layak (bukan pisau plastik).
Panci aluminium.
Garam.
Tapi sebelum ke hutan, dia harus bertahan di kota ini beberapa hari lagi untuk mengumpulkan "sampah berguna" lainnya. Botol-botol bekas di klub ini... dia bisa menjadikannya wadah ramuan.
Tiba-tiba, mata Bara menangkap sesuatu di tumpukan sampah botol kaca di sebelahnya.
Sebuah botol Wine hijau gelap yang antik. Labelnya sudah sobek.
Tapi Bara tahu bentuk botol ini. Kaca tebal, dasar cembung dalam. Ini botol tahan tekanan tinggi.
"Sempurna," bisik Bara, matanya berkilat jahat di bawah sinar bulan. "Dengan botol ini, aku bisa membuat Bom Asap Lada atau Molotov Bius. Siapa tahu besok ada yang mau macam-macam lagi."
Bara mengangkat botol itu, bersulang ke arah bulan.
"Bersiaplah, Hutan. Sang Raja Rimba akan datang membawa peradaban."