NovelToon NovelToon
Penjelajah Ghaib [Perkumpulan Pawang Ghaib] ~ [SEASON 2]

Penjelajah Ghaib [Perkumpulan Pawang Ghaib] ~ [SEASON 2]

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Matabatin / Misteri / Tumbal / Hantu / Kumpulan Cerita Horror
Popularitas:48.8k
Nilai: 5
Nama Author: Stanalise

Setelah dokumentasi ekspedisi mereka melesat ke permukaan dan menjadi perbincangan dunia, nama "Gautama Family" bukan lagi sekadar nama keluarga biasa.

Mereka kini menjadi tujuan akhir bagi mereka yang sukmanya tersesat di tempat-tempat yang tidak bisa dijangkau oleh akal manusia.

Kelahiran Arka Kumitir Gautama, bayi yang lahir tepat di ambang batas kematian semalam, membawa aura baru sekaligus beban yang lebih berat bagi keluarga ini.

Namun, di balik kebahagiaan itu, sebuah panggilan pahit datang dari benua lain. Ada raga-raga yang terbaring kaku; tubuh mereka masih di sini, namun sukma mereka telah didekap habis oleh kegelapan alam sebelah.

.Kalian akan kembali mendengar suara teriakan, tangisan, dan jeritan dari sudut-sudut bumi yang paling sunyi. Ekspedisi ini akan terus berjalan hingga waktu memaksa mereka untuk berhenti.


[Saya sarankan baca Season 1, supaya lebih mengenal kemampuan dan karakter keluarga Gautama]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stanalise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 004 : SALJU DI ATAS BRANDENBURG

Matahari pagi di Brandenburg muncul dengan malu-malu di balik awan kelabu, membiarkan sinarnya yang pucat memantul di atas tumpukan salju yang menyelimuti halaman rumah sakit.

Suasana mencekam semalam seolah sirna, digantikan oleh aroma kopi dan udara dingin yang segar.

Elena, dengan wajah yang jauh lebih cerah meski matanya masih sembab, menuntun Rachel dan seluruh rombongan masuk ke ruang perawatan VIP.

Di sana, Klaus sudah bersandar di bantalnya. Wajahnya tidak lagi sepucat mayat; rona merah mulai kembali di pipinya. Begitu melihat Rachel dan Rara masuk, Klaus mencoba memperbaiki posisi duduknya dengan bantuan Elena.

"I... I remember you,"

(Aku... aku mengingat kalian,) bisik Klaus dengan suara serak namun tulus. Ia menatap Rachel dan Rara bergantian.

"I saw you in that dark place. You brought me back to the light."

(Aku melihat kalian di tempat gelap itu. Kalian membawaku kembali ke cahaya.)

Rachel hanya mengangguk tipis, sementara Rara tersenyum lembut. Klaus meraih tangan Elena, lalu menatap tim Gautama satu per satu dengan penuh rasa hormat.

"I owe you my life. I was foolish to take that scalpel. I promise, I will never touch anything like that again. The Gautama Family... you are heroes."

(Aku berhutang nyawa pada kalian. Aku bodoh karena mengambil pisau bedah itu. Aku berjanji tidak akan menyentuh hal seperti itu lagi. Keluarga Gautama... kalian adalah pahlawan.)

Pertemuan itu berakhir penuh haru. Elena memastikan seluruh biaya akomodasi dan fasilitas terbaik di Berlin tersedia untuk mereka sebagai bentuk terima kasih yang tak terhingga.

Siangnya, suasana berubah menjadi formal. Tim Gautama menghadiri konferensi pers internasional yang telah dijadwalkan sebelumnya.

Di depan puluhan jurnalis dari berbagai negara Eropa, Rachel berdiri dengan wibawa yang luar biasa.

Ia menceritakan filosofi di balik pengusiran setan yang mereka lakukan—bahwa ini bukan sekadar tentang kekuatan, melainkan tentang keseimbangan dan penyelesaian urusan yang tertunda.

"Kami tidak datang untuk menaklukkan," ujar Rachel dalam bahasa Inggris yang fasih.

"Kami datang untuk memediasi. Terkadang, kegelapan hanya butuh didengar agar mereka bisa merelakan dunia ini."

Konferensi itu sukses besar. Nama Gautama Family semakin mengukuhkan posisinya sebagai konsultan supranatural kelas dunia.

Namun, bagi mereka, kemewahan itu tidaklah lebih penting daripada ketenangan setelah badai.

Malam harinya, di sebuah hotel mewah di pusat kota Berlin, Rachel berdiri di balkon kamarnya. Ia menatap lampu-lampu kota yang berpendar di bawah rintik salju yang mulai turun kembali.

Ponselnya bergetar. Sebuah nama muncul di layar: Adio. Senyum tipis yang jarang terlihat muncul di bibir Rachel. Ia mengangkat telepon itu.

"Halo?"

"Rachel... kamu sudah selesai dengan urusan di Beelitz?" suara Adio terdengar berat namun sangat manis di seberang sana.

Dua tahun ini, hubungan mereka memang tidak memiliki status formal, namun perhatian dan kasih sayang yang mengalir di antara mereka jauh lebih dalam dari sekadar kata-kata.

"Sudah, Adio. Semuanya berjalan lancar. Klaus sudah sadar," jawab Rachel lembut.

"Baguslah. Aku mencemaskanmu setiap detik sejak kamu berangkat," gumam Adio.

"Rasanya aku ingin menyusulmu ke sana sekarang juga. Tapi pekerjaan di rumah sakit... sebagai direktur, jadwalku benar-benar menjeratku. Aku benci tidak bisa ada di sampingmu saat kamu menghadapi 'Sang Ahli Bedah' itu."

Rachel terkekeh pelan, hatinya menghangat.

"Aku baik-baik saja, Adio. Fokuslah pada pasienmu. Aku akan segera pulang."

"Cepatlah pulang, Rachel. Berlin terlalu dingin untukmu sendirian tanpa aku."

Percakapan manis itu terus berlanjut. Rachel tidak menyadari bahwa di balkon kamar tepat di atasnya, Melissa sedang bersandar, tanpa sengaja mendengar setiap kata manis yang terucap.

Melissa tersentak ketika sepasang tangan kekar mendadak melingkar erat di perutnya. Ia menoleh dan mendapati Peterson sudah berdiri di belakangnya.

"Peterson! Lepaskan!" bisik Melissa panik.

"Kau tahu aku memesan kamar sendiri agar bisa tenang, bukan untuk kau sergap!"

Bukannya melepas, Peterson justru menaruh dagunya di bahu Melissa.

"Aku hanya merindukanmu, Melissa. Aku tidak berbuat lebih. Apa aku tidak boleh bersikap seperti ini padamu? Sedangkan kecantikanmu terus memikatku setiap hari?"

Wajah Melissa seketika bersemu merah. Namun, Peterson kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga Melissa, berbisik dengan nada yang sangat serius.

"Aku ingin menikahimu!"

Melissa tersentak. Tubuh kecilnya menegang. Ia terdiam sejenak sebelum akhirnya tersenyum kecil.

"Kau gila menikahi gadis yang jauh lebih muda darimu? Lagi pula, aku masih belum berpikir sampai ke sana!" jawab Melissa.

Peterson mengeratkan pelukannya.

"Kau mencintaiku, aku pun sama. Kita sudah berbagi banyak hal selama dua tahun. Apa yang kau tunggu?"

Melissa mencoba melepaskan diri dan menatap Peterson yang jauh lebih tinggi.

"Entahlah, aku mempercayai perasaanmu. Tapi, aku masih ingin bersenang-senang!" jawab Melissa begitu lugu.

Peterson yang gemas dengan tubuh kecil Melissa pun mengangkat tubuh Melissa tanpa aba-aba.

Melissa terkejut sekaligus panik, takut jika ada seseorang yang masuk melihat mereka. Namun, sorot mata Peterson yang dalam membuat dia terdiam.

Tangan-tangan kecilnya itu bertumpu tepat di bahu Peterson. Detik kemudian, Peterson mencium lembut bibir Melissa.

Di Eropa, menyampaikan kasih sayang melalui sentuhan fisik adalah hal lumrah. Saat Peterson usai menciumnya, ia berkata lembut,

"Terima kasih sudah lahir dan bertemu denganku, gadis putih!"

Terenyuh rasanya hati Melissa sehingga membuatnya tersenyum manis dan mengangguk.

Sementara itu, sosok hantu Gelanda—kakak Melissa—berdiri di belakang mereka bersama hantu cilik Melissa.

Gelanda menatap mereka dengan jengkel dan langsung menarik hantu Melissa pergi.

"Kehadiran kita adalah hama! Kita pergi saja, lagi pula kau juga belum cukup umur!" tutur Gelanda protektif sebelum mereka menghilang.

Di bagian lain kota, suasana tidak kalah hangat. Di sebuah taman luas yang tertutup salju, Cak Dika dan Rara sedang asyik bermain bola salju. Gelak tawa Rara pecah saat sebuah bola salju lemparan Cak Dika mengenai jaketnya.

"Eh, curang kamu, Cak!" seru Rara sambil membalas dengan lemparan yang lebih besar.

"Mana ada curang? Kamu saja yang kurang gesit!" Cak Dika tertawa lepas. Ia merasa lega melihat Rara kembali ceria setelah trauma di Beelitz kemarin.

"Aku senang melihat kamu tertawa lagi."

Tak jauh dari sana, Mas Suhu tampak sedang membimbing Bella berjalan di atas salju yang licin agar tidak terpeleset.

"Hati-hati, Bella. Jalannya licin, nanti kamu jatuh," ujar Mas Suhu dengan nada kebapakan.

"Tenang saja, Mas Suhu. Kan ada kamu yang pegangin aku," jawab Bella sambil tersenyum lebar, terus berceloteh tentang betapa indahnya Jerman di musim dingin.

Sedangkan di sebuah kafe pinggir jalan yang hangat, Marsya duduk bersama Pram dan Teguh. Mereka bertiga lebih memilih nongkrong sambil membuka laptop dan kamera, sibuk berbincang perkara video penyelamatan mereka.

"Gila, footage pas Rara mata putih itu bakal jadi viral, Pram! Aku yakin penonton bakal merinding," seru Marsya antusias.

"Iya, tapi Mbak Rachel minta adegan itu sedikit di-blur supaya tidak terlalu vulgar. Kamu cek lagi deh bagian transisinya," sahut Teguh sambil menyeruput cokelat panasnya.

Malam itu, di bawah langit Jerman yang luas, tim Gautama menemukan kedamaian mereka masing-masing dalam cinta, tawa, dan kebersamaan yang tak tergantikan.

1
Chimpanzini Gagal Hiatus
serem banget. saking banyaknya mayat bisa jadi tanah pijakan.
Chimpanzini Gagal Hiatus
samudra mematuhi kehendakku
Chimpanzini Gagal Hiatus
wihh ilusinya sama kuatnya kek karakter Huli Jing di novelku/Proud//Proud/
Chimpanzini Gagal Hiatus
langsung refleks megang perut 😭😭
❤️⃟WᵃfᏞιͣҽᷠαͥnᷝαͣ༄⃞⃟⚡
wah gagal teguh mau hibernasi ehh ada tugas mendadak 🤭🤭
duh gemesin si arka tau2an Rachel ada didepan
❤️⃟WᵃfᏞιͣҽᷠαͥnᷝαͣ༄⃞⃟⚡
ngeri woii kalo jadi aelke jelas aja dia ketakutan.
untung yg hampir nabrak Aldo jadi seenggaknya kamu sedikit aman sekarang
❤️⃟WᵃfᏞιͣҽᷠαͥnᷝαͣ༄⃞⃟⚡
wkwkwk Adio ihh nyuri kesempatan lagi yaa 🤣🤣
❤️⃟WᵃfᏞιͣҽᷠαͥnᷝαͣ༄⃞⃟⚡
pas baca judulnya udh penasaran siapa lagi arwah nya , oh Bagus lah kalo ternyata orang tuamu tami
❤️⃟WᵃfᏞιͣҽᷠαͥnᷝαͣ༄⃞⃟⚡
yeee akhirnya cak Dika melakukan niatnya buat ngelamar rara🤭🤭
wah kemana pak dokter sama pasiennya 😄
etdah Tami kamu yaa blak2an banget
❤️⃟WᵃfᏞιͣҽᷠαͥnᷝαͣ༄⃞⃟⚡
aihh habis adegan tegang menegangkan plus serem dikasih yang manis2 gini meleleh lahh
❤️⃟WᵃfᏞιͣҽᷠαͥnᷝαͣ༄⃞⃟⚡
sumpah menegangkan banget, untung mas suhu sama bela bisa cepat bawa Tami .
semoga nanti Tami bisa ketemu orang tua nya berkat bantuan Rachel ya
❤️⃟WᵃfᏞιͣҽᷠαͥnᷝαͣ༄⃞⃟⚡
ini yakin kan Tami bakal selamat enggak bakal denger suara aneh2 lagi
merinding bayangin kematian toby 🥺
❤️⃟WᵃfᏞιͣҽᷠαͥnᷝαͣ༄⃞⃟⚡
isss tamii ini gegara kecerobohan mu juga , untung Rachel bangun dan segera datang menolong mu
CACASTAR
yakin banget deh di lokasi angkernya setengah ampun
❤️⃟WᵃfᏞιͣҽᷠαͥnᷝαͣ༄⃞⃟⚡
keren lahh Tami punya kekuatan juga ternyata, wah Bella siap2 kamu beranak banyak sama mas suhu🤣🤣
🔵🦋⃞⃟𝓬🧸🥑⃟RY
Wah ada 3 pasangan nih yg mau meresmikan status mereka
jadi kalau Rahel nikah dy harus melepaskan kekuatan nya
🔵🦋⃞⃟𝓬🧸🥑⃟RY
cie cie cie Dio
❤️⃟WᵃfᏞιͣҽᷠαͥnᷝαͣ༄⃞⃟⚡
hahahah barend ngapain kamu mau belajar dewasa pake cerutu gitu nya 🤣🤣
Tami kan bener dia random banget
🔵🦋⃞⃟𝓬🧸🥑⃟RY
ngeri ngeri
🔵🦋⃞⃟𝓬🧸🥑⃟RY
ternyata di ambil dr kisah nyata
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!