When Gods Grow Bored berlatar di sebuah benua kuno "Nirenva" yang dilanda perang tanpa akhir, tempat kerajaan-kerajaan saling membantai atas nama para dewa yang pernah turun dan meminjamkan kekuatan mereka kepada umat manusia. Di dunia di mana nilai hidup diukur dari restu ilahi, Kai Jhoven: seorang anak tanpa berkah dan tanpa asal-usul tumbuh sebagai sosok terbuang, dipaksa bertahan di tengah kekacauan yang tidak pernah ia pilih. Ketika sebuah kekuatan asing akhirnya menjamah dirinya, Kai Jhoven terseret ke dalam pusaran konflik yang jauh lebih besar dari perang antar manusia: intrik ilahi, kekuasaan yang dipinjam, dan kebenaran kelam di balik mukjizat yang disembah dunia. Dalam perjalanan dari medan perang hingga jantung kekuasaan, takdir, kepercayaan, dan kemanusiaan diuji; sementara langit yang selama ini dipuja perlahan mulai retak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jhoven, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HEIAN WAR V.II (2)
...-Heian Plain-...
Saat ini, Vergil dan Melissa sedang membawa kereta kudanya menuju Kota Simeon.
"Simeon? Kota disebelah Ibu Kota, Phobos? Kenapa kesana? Bukannya lebih baik langsung menuju markas Tuan Nolan di Ibu Kota?"
"Justru kita sedang menuju markas Tuan Nolan, yaitu Kota Simeon. Tidak semua Komandan Besar memiliki markas di Ibu Kota, kebanyakan mereka memimpin suatu Kota sendiri dan menjadikannya markas."
"Yah, jadi aku belum bisa melihat Ibu Kota ya.." ujar Kai kecewa.
"Tidak perlu bersedih, tahun depan kan kamu akan mendaftar akademi Hishan." Lanjut Melissa.
"Itu masih lama sekali, mbak melissa.."
"Apa kalian benar-benar yakin untuk ikut? Kai, Given? Mumpung belum jauh, aku bisa memutar arah dan mengembalikan kalian.. " Tanya Vergil.
"Sudah tidak ada jalan untuk pulang. Aku berjanji akan menjadi Savior terhebat dan menemui mereka kembali suatu saat nanti. Untuk itu aku akan berjuang." Balas Kai dengan tegas.
"Kalau aku.." Given seperti memikirkan sesuatu yang berat.
"Apa kau memikirkan pertanyaan Nolan soal kepercayaanmu pada Dewa/Dewi ?" Tanya Vergil.
"Y-Ya.. Sampai sebelum pertanyaan itu dilontarkan.. Tidak, sebelum Typhon mengincar aku dan Kai, aku tidak pernah meragukan dewa/i sedikitpun.. Namun mengetahui Dewa mengirim Typhon untuk membunuhku dan Kai.. Kenapa?? Aku tidak pernah melakukan kesalahan apapun dihadapan mereka.."
"Dewa dan Dewi itu sesuatu diluar pemahaman kita. Nolan juga masih menyelidiki tujuan mereka memberi berkah pada manusia. Jangan terlalu dipikirkan, given. Kebenaran akan terungkap pada waktunya, entah pada zaman siapa.. dimasa depan. Hiduplah untuk hari ini dan jadilah kuat. Karena musuh kita tidak hanya para Dewa, namun penindasan, dibuang, kelaparan, pembunuhan, penyakit, dan... Kerajaan musuh yang hendak menghancurkan kita." Balas Vergil pada Given.
Given menundukkan kepalanya, ia sadar bahwa perkataan Vergil adalah kenyataan yang harus diterima, jauh sebelum kita membahas para Dewa.
"Kau benar, Tuan Vergil.. Maafkan aku. Terima kasih.. Sekarang aku sudah memantapkan hatiku untuk berjuang. Mari kita kalahkan para bajingan Vladmir itu."
"Bagus!"
Beberapa hari kemudian, sampailah mereka di Kota Simeon.
Kotanya tidak besar, dari luar juga terlihat seperti Kota pada umumnya. Masyarakat menjalankan pekerjaannya masing-masing; ada yang berdagang, berkebun, bertani, beternak, sedangkan anak-anak bermain. Savior sangat banyak berkeliaran, berpatroli menjaga keamanan Kota.
"Woah.. Apakah mereka semua Savior unit Nolan??" Tanya Kai melihat sekumpulan pria dengan zirah perang berlambangkan bintang bermahkota.
"Ya.. Karena ini Kotanya si Nolan, jadi seluruh savior disini adalah Unit nya."
Kereta kuda Vergil melewati kios pedagang.
"Tuan Vergil ! Ambil makanan ini, selamat datang kembali di Kota Simeon !"
"Tuan Vergil sudah kembali?"
"Wah benar, Tuan Vergil !!"
Kai mengamati, betapa dihormatinya Vergil di Kota ini.
"Bukan cuma aku saja lho.. Semua Savior unit Nolan sangat dihormati oleh warga Simeon. Dahulu.. Kota ini terpuruk: kelaparan, roda ekonomi yang berhenti, dan penyakit mematikan tanpa adanya pengobatan. Namun semuanya berubah ketika Nolan dan unitnya mengambil alih Kota Simeon, kami mengubahnya 180 derajat menjadi seperti saat ini. Itulah sebabnya, masyarakat Simeon sangat menghormati kami."
"Wow.. Sangat menyentuh sekali.. Jujur, aku kira Komandan Nolan itu hanya orang ceria yang suka memamerkan kekuatannya.. Ternyata tidak ya.. Aku jadi kagum." Ucap Kai.
"AHAHA! Tidak sepenuhnya salah kok. Dia memang narsistik yang suka pamer kekuatan." Lanjut Vergil.
"Sudah sampai.."
Mereka tiba didepan gedung putih besar, Jajaran Savior terlihat didepannya; menjaga pintu gerbang.
"Weh ven. Dulu kita pernah kesini gak sih? Sehabis melawan Typhon? Yang kita ditanyain masalah kepercayaan itu.."
"Wah iya. Aku baru sadar, ini bangunan yang sama. Tapi dulu tidak seramai ini sih saviornya.."
Di pintu masuk terlihat 2 orang bertubuh besar dan tinggi, mirip dengan Vergil tapi lebih berotot ! Satunya membawa kapak besar dan satunya membawa golok raksasa.
"wooo Givenn, siapa 2 orang itu?! Apa mereka musuh?!" Tanya Kai ketakutan.
Vergil tertawa,"Kalian mendengarnya ?? Renji, Kenji.. Kalian dibilang musuh oleh bocah ini !"
Dua pria besar itu langsung menatap tajam ke arah Kai.
"Givenn ! Mereka menatapku !"
"Tenang lah Kai.. Mereka adalah si Kembar, Wakil Komandan Unit Nolan.. "
Renji Tozar-Wakil Komandan / Komandan Divisi 1 Unit Nolan.
Kenji Tozar-Wakil Komandan / Komandan Divisi 2 Unit Nolan.
Suasana itu pecah ketika langkah kaki Nolan mendekat.
Seluruh Savior menundukkan kepalanya, memberi hormat; tak terkecuali Vergil dan Melissa.
Itulah dia.. Salah satu Nemesis.
Komandan Besar Kerajaan Khanox.
Nolan Constantine !