NovelToon NovelToon
Mahar Penebus Dosa Ayah

Mahar Penebus Dosa Ayah

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Perjodohan / Nikahmuda / Balas Dendam
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

"Ayah, kenapa Nin dipakaikan baju pengantin? Nin kan besok mau ujian matematika..."

Kalimat polos Anindya (10 tahun) menjadi pisau yang menyayat hati Rahardian. Demi melunasi hutang nyawa dan harta pada keluarga kaya di kota, Rahardian terpaksa menjual masa depan putri tunggalnya.

Anindya dibawa pergi, meninggalkan bangku sekolah demi sebuah pernikahan dini yang tidak ia pahami.

Di rumah mewah Tuan Wijaya, Anindya bukanlah seorang menantu. Ia adalah pelayan, samsak kemarahan ibu mertua, dan mainan bagi suaminya yang sombong, Satria.

Namun, di balik tangisnya setiap malam, Anindya menyimpan sebuah janji. Ia akan terus belajar meski tanpa buku, dan ia akan bangkit meski kakinya dirantai tradisi.

Ini adalah kisah tentang seorang bocah yang dipaksa dewasa oleh keadaan, dan perjuangannya untuk kembali menjemput martabat yang telah digadaikan ayahnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Pesta di Atas Luka

Bab 17: Pesta di Atas Luka

Lampu-lampu kristal di ruang utama kediaman Wijaya bersinar begitu terang, memantulkan kemewahan yang menyilaukan mata bagi siapa pun yang memandangnya. Malam ini adalah malam pertunangan Satria dengan Clarissa, putri tunggal dari seorang pengusaha tekstil raksasa yang menjadi rekan bisnis terpenting Tuan Wijaya. Aroma bunga lili mahal dan parfum kelas atas memenuhi udara, bercampur dengan suara denting gelas sampanye dan tawa basa-basi para tamu undangan.

Di sudut ruangan, tersembunyi di balik bayang-bayang pilar besar, Anindya berdiri dengan seragam pelayan hitam-putih yang sangat rapi.

Rambutnya disanggul kencang, menonjolkan leher jenjangnya dan wajahnya yang tanpa riasan namun tetap memancarkan kecantikan yang alami dan tajam. Tugasnya sederhana: memastikan gelas-gelas tamu selalu terisi dan piring-piring kotor segera menghilang.

Namun, mata Anindya tidak sedang bekerja sebagai pelayan. Matanya adalah mata seorang pemangsa.

Di tengah ruangan, Satria berdiri dengan setelan tuksedo pesanan khusus. Ia tampak sangat tampan, namun wajahnya sepucat kertas. Berkali-kali ia melirik ke arah sudut tempat Anindya berdiri, namun Anindya selalu membuang muka, fokus pada nampan peraknya. Di samping Satria, Clarissa merangkul lengannya dengan posesif, memamerkan cincin berlian di jarinya yang seharga satu buah rumah mewah.

"Lihatlah mereka, Anindya," bisik Nyonya Lastri yang tiba-tiba muncul di sampingnya, mengenakan kebaya sutra berlapis emas. "Itu adalah dunia yang tidak akan pernah kau sentuh. Satria akhirnya berada di tempat yang seharusnya, dengan wanita yang pantas untuknya. Setelah pesta ini selesai, aku ingin kau membersihkan seluruh sisa makanan di dapur. Jangan berani-berani tidur sebelum semuanya mengkilap."

Anindya hanya menunduk sedikit, memberikan hormat yang dingin. "Baik, Nyonya."

Nyonya Lastri berlalu dengan tawa kemenangan.

Namun, ia tidak tahu bahwa di dalam saku seragam pelayannya, Anindya menggenggam sebuah flashdisk kecil yang berisi salinan data transaksi ilegal Tuan Wijaya yang ia ambil dari laptop kerja Tuan Wijaya sore tadi, saat semua orang sibuk bersiap untuk pesta.

Acara berlanjut ke sesi pidato. Tuan Wijaya berdiri di podium kecil, membusungkan dada dengan penuh kesombongan.

"Pernikahan ini bukan sekadar penyatuan dua keluarga, tapi penyatuan dua kekuatan ekonomi besar..." suara Tuan Wijaya menggema, diikuti tepuk tangan meriah.

Saat perhatian semua orang tertuju pada podium, Satria memanfaatkan celah itu untuk berjalan menuju meja minuman di dekat Anindya.

"Anindya, hentikan ini," bisik Satria dengan nada putus asa saat Anindya menuangkan air ke gelasnya.

"Aku dipaksa. Ayah mengancam akan membatalkan semua bantuan untuk pengobatan bapakmu di desa kalau aku menolak pertunangan ini."

Anindya berhenti menuang. Ia menatap Satria langsung ke matanya—tatapan yang begitu dingin hingga membuat Satria bergidik. "Anda tidak perlu menjelaskan apa pun kepada saya, Mas Satria. Anda melakukan apa yang harus Anda lakukan sebagai seorang putra, dan saya akan melakukan apa yang harus saya lakukan sebagai seorang pelayan."

"Tapi aku mencintaimu, Anindya! Sejak kita remaja, sejak buku biru itu..."

"Cinta tidak membayar hutang darah, Mas Satria," potong Anindya dengan suara setajam sembilu. "Dan cinta tidak akan menyelamatkan keluarga Anda dari apa yang akan datang. Sekarang, kembalilah ke tunangan Anda sebelum Nyonya Lastri curiga."

Satria terpaku. Ia melihat Anindya berjalan menjauh dengan keanggunan yang tidak dimiliki oleh wanita mana pun di ruangan itu. Ia merasa ada sesuatu yang besar yang sedang direncanakan Anindya, sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak bisa cegah.

Pesta berakhir saat tengah malam. Satu per satu tamu pulang dengan mobil mewah mereka. Rumah besar itu kini menyisakan tumpukan piring kotor, sisa makanan yang berserakan, dan kelelahan yang luar biasa. Anindya mulai bekerja di dapur. Mbok Sum sudah terlalu tua untuk bekerja lembur, jadi Anindya menyuruhnya tidur dan membiarkannya menyelesaikan semuanya sendiri.

Saat itulah, Tuan Wijaya masuk ke dapur untuk mengambil air minum. Ia tampak mabuk karena terlalu banyak minum sampanye. Ia melihat Anindya yang sedang mencuci piring, punggungnya menghadap ke arahnya.

"Kau tahu, Anindya..." Tuan Wijaya bicara dengan suara serak, bersandar pada pintu. "Kau sudah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik. Kadang aku berpikir, kenapa aku harus menikahkanmu dengan Satria secara formal? Kau terlalu berharga untuk sekadar jadi istri di atas kertas."

Anindya berhenti mencuci. Ia membalikkan badan, memegang pisau dapur yang sedang ia bersihkan. "Tuan Wijaya, Anda sedang mabuk. Sebaiknya Anda istirahat."

Tuan Wijaya tertawa, langkahnya sempoyongan mendekati Anindya. "Hutang bapakmu... nilainya sudah mencapai satu miliar sekarang dengan biaya operasinya. Kau tidak akan pernah bisa melunasinya, bahkan jika kau bekerja seratus tahun di sini."

Tuan Wijaya mencoba menyentuh pipi Anindya, namun dengan gerakan yang sangat cepat, Anindya menepis tangan itu dan menancapkan pisau dapur tersebut ke atas talenan kayu dengan suara jleb yang keras, tepat di samping jari Tuan Wijaya.

Tuan Wijaya tersentak, rasa kantuknya hilang seketika digantikan oleh amarah dan keterkejutan.

"Dengar, Tuan Wijaya," ucap Anindya dengan suara yang sangat rendah namun penuh otoritas. "Satu miliar adalah angka yang kecil dibandingkan dengan bukti penggelapan pajak sebesar lima puluh miliar yang Anda lakukan di proyek apartemen Sukasari.

Atau mungkin, Anda ingin saya membicarakan tentang supir Anda yang Anda sogok untuk mengaku salah dalam kecelakaan maut tiga tahun lalu?"

Wajah Tuan Wijaya berubah pucat pasi. Ia mundur dua langkah, menabrak meja makan. "D-dari mana kau tahu? Kau hanya pelayan bodoh!"

"Pelayan bodoh inilah yang merapikan dokumen di ruang kerja Anda setiap pagi. Pelayan bodoh inilah yang mengoperasikan laptop Anda saat Anda lupa mematikannya. Dan pelayan bodoh inilah yang akan mengirimkan semua data itu ke kantor polisi besok pagi jika Anda atau istri Anda berani menyentuh saya atau bapak saya lagi."

Tuan Wijaya gemetar. Ia melihat Anindya bukan lagi sebagai gadis kecil yang malang, melainkan sebagai malaikat pencabut nyawa bagi kerajaan bisnisnya.

"Apa... apa yang kau inginkan?" tanya Tuan Wijaya dengan suara yang nyaris tidak terdengar.

"Sederhana," Anindya mendekati Tuan Wijaya, menatapnya dengan pandangan menghina. "Besok pagi, Anda akan menandatangani surat pembebasan hutang bapak saya secara hukum. Setelah itu, Anda akan memberikan saya uang pesangon sebesar seratus juta sebagai ganti rugi atas delapan tahun saya yang hilang di rumah ini. Jika itu selesai, saya akan pergi, dan rahasia Anda aman selama saya merasa aman."

"Kau memeras saya?"

"Saya hanya mengambil mahar saya kembali, Tuan Wijaya. Mahar yang Anda rampas dari masa kecil saya."

Anindya mengambil gelas air putih dan memberikannya kepada Tuan Wijaya yang masih terpaku. "Minumlah. Anda butuh pikiran yang jernih untuk menandatangani surat itu besok pagi. Dan jangan coba-coba mencelakai saya semalam ini, karena jika jantung saya berhenti berdetak, data itu akan terkirim secara otomatis ke email lima kantor berita terbesar di negeri ini."

Anindya berbalik dan kembali mencuci piring seolah tidak terjadi apa-apa. Tuan Wijaya keluar dari dapur dengan kaki yang lemas, menyadari bahwa di dalam rumahnya selama ini, ia telah memelihara seekor singa yang kini siap menerkamnya.

Di dalam gudang alat malam itu, Anindya tidak tidur. Ia mengemasi barang-barangnya yang sedikit ke dalam tas ransel tua. Ia memegang ijazah Paket C yang baru saja ia terima hasilnya sore tadi lewat email. Ia lulus dengan nilai tertinggi di provinsinya.

"Satu langkah lagi," bisik Anindya.

Ia menatap ke luar jendela, ke arah langit yang mulai memutih. Fajar akan segera tiba. Fajar yang tidak akan lagi melihatnya sebagai pelayan. Fajar yang akan melihat Anindya sebagai wanita bebas yang akan memulai babak baru dalam hidupnya.

Pembalasan yang sesungguhnya bukanlah tentang darah, tapi tentang bagaimana ia membuat orang-orang yang merendahkannya menyadari bahwa mereka tidak pernah benar-benar memiliki kendali atas dirinya. Anindya akan pergi, namun ia akan meninggalkan luka yang tak akan pernah sembuh di hati keluarga Wijaya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!