Seorang Pria sederhana yang berprofesi sebagai Driver Ojol, ingin Berpoligami karena melihat teman SMA nya berhasil dalam poligami.
Namun Ia-Arman tidak mendapatkan restu dari Istrinya.
Berhasil kah Arman si Driver Ojol memperjuangkan Poligami nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Duduk Man
Pagi itu, Arman terbangun dengan perasaan yang asing namun membahagiakan. Ia meregangkan badan di kasur kos-kosannya—tempat yang belakangan ini lebih sering ia singgahi daripada rumah sendiri. Di luar, matahari baru saja merekah, sinarnya masuk melalui celah tirai yang tidak rapat. Arman tersenyum. Senyum yang lebar, tulus, seperti orang yang baru memenangkan lotre.
Ini dia. Akhirnya.
Yang diimpikannya sejak bertemu Budi di reuni SMA, yang dipelajarinya dari artikel-artikel online, yang diperdebatkannya dengan Rani hingga hampir bercerai—semua kini terwujud. Ia punya dua istri. Ia seorang pelaku poligami. Seperti Budi, seperti para anggota grup "Brotherhood of Harmony" yang sempat ia tinggalkan.
Ia teringat perjalanan panjang mencari pembenaran. Dulu, ia hampir menyerah. Setelah pertengkaran dengan Rani, setelah peringatan Ibu Sari di motor, setelah cerita pilu Mira sang apoteker, ia hampir membuang impian itu. Ia pasrah, menerima nasib sebagai suami satu istri, ayah satu anak, driver ojol yang nasibnya pas-pasan.
Tapi takdir berkata lain. Di saat ia paling tidak mengharapkan, di saat ia sudah pasrah, pintu itu justru terbuka lebar. Seperti kata pepatah, jodoh itu datang di waktu yang paling tidak terduga. Atau dalam kasusnya, jodoh kedua.
Arman merefleksikan semua itu sambil menyeruput kopi bungkusan yang ia beli di warung dekat kos. Nadia. Wanita yang hadir begitu saja dalam hidupnya. Mandiri, matang secara finansial, matang dalam berpikir.
Umurnya di bawah Rani, beberapa tahun lebih muda—tapi cara bicaranya, caranya memandang masalah, caranya menenangkannya, jauh lebih dewasa dari usianya.
Mungkin karena ia pernah gagal dalam pernikahan, mungkin karena ia harus berjuang sendiri membangun usaha. Yang jelas, Nadia adalah sosok yang selama ini ia impikan: partner, bukan sekadar istri. Teman diskusi, bukan hanya pengurus rumah.
Kekurangannya? Hanya satu: status janda. Tapi bagi Arman, itu bukan kekurangan. Itu justru bukti bahwa Nadia sudah matang, sudah melalui fase pahit, dan siap membangun yang baru.
"Hari ini libur," gumamnya pada diri sendiri. Ia sudah memesan jadwal khusus dari Nadia: hari ini untuk Aldi. Untuk anaknya.
Pukul sembilan pagi, Arman sudah tiba di rumah. Rani sedang sibuk di dapur, mengemas pesanan onde-onde untuk arisan ibu-ibu kompleks. Aldi sudah siap dengan jaket kecilnya, wajahnya berseri-seri.
"Bapak! Aku udah siap!" teriaknya, melompat-lompat.
"Kalian mau ke mana?" tanya Rani tanpa menoleh, fokus membungkus onde-onde dengan plastik.
"Ke TMII," jawab Arman. "Udah janjian sama Aldi dari kemarin."
Rani hanya mengangguk. Ia tidak menawari bekal, tidak bertanya kapan pulang. Yang ada hanya sibuk dengan dagangannya. Arman merasa sedikit perih, tapi segera diusirnya. Ini sudah biasa. Rani sibuk, ia sibuk sendiri. Masing-masing menjalani hidup.
"Mama nggak ikut?" tanya Aldi polos.
"Ma sibuk, Nak. Banyak pesanan. Kalian aja," jawab Rani, masih tanpa menoleh.
Aldi cemberut sebentar, tapi segera ceria lagi saat Arman menggandeng tangannya menuju motor.
---
Di TMII, Arman dan Aldi menikmati hari. Mereka naik kereta gantung, melihat reptil di Taman Reptil, dan berfoto di depan rumah-rumah adat. Aldi sangat gembira. Ia lari ke sana kemari, sesekali berteriak memanggil bapaknya untuk melihat sesuatu yang menurutnya keren.
"Pak, liat! Ikan gede!" teriaknya di depan akuarium raksasa.
Arman tersenyum lebar. Melihat Aldi bahagia, ada rasa haru yang mengganjal di dada. Ia sayang anak ini. Sangat sayang. Dan di saat seperti ini, ia bisa melupakan sejenak semua kerumitan hidupnya. Ia hanya bapak, Aldi hanya anaknya. Sederhana.
Tapi sederhana itu tidak bertahan lama.
Ponselnya bergetar. Kemudian bergetar lagi. Dan lagi.
[Nadia] : Pagi, sayang. Udah bangun? Aku kangen.
[Nadia] : Lagi apa? Capek banget semalem, tidur nyenyak banget. Baru bangun jam 9. Maap.
[Nadia] : Arman? Kamu di mana? Kok nggak bales?
Arman menjawab singkat di sela-sela menemani Aldi:
[Arman] : Lagi jalan sama Aldi. Nanti ya.
[Nadia] : Oh iya, lupa. Hari ini kamu sama anak. Maaf ganggu. Have fun! Sayang Aldi.
Arman menghela napas. Ia menyimpan ponsel, berusaha fokus pada Aldi. Tapi ponselnya bergetar lagi. Kali ini pesan panjang.
[Nadia] : Arman, aku mau tanya serius. Jatah aku gimana? Semalam itu luar biasa, aku bahagia banget. Aku nggak mau kamu kira aku cuma butuh fisik. Tapi aku butuh waktu berkualitas sama kamu.
Jatah kita cuma semalem setiap minggu? Atau gimana? Karena aku nggak bisa kalau cuma semalem. Aku juga perlu merasa jadi istri. Bukan cuma selingkuhan yang dinikmati lalu dilupakan. Maaf kalau aku terlalu blak-blakan. Tapi aku harus tahu. Biar aku bisa atur hati.
Pesan itu seperti tamparan. Arman membaca ulang, dan perasaan bahagia yang tadi membuncah perlahan keropos. Jatah. Kata yang terdengar begitu administratif. Tapi Nadia benar. Ia punya hak. Ia sudah menikah, sah secara agama. Ia butuh waktu. Ia butuh perhatian.
Dan Arman? Arman harus membagi waktu. Antara Nadia, Rani, dan Aldi. Antara dua rumah, dua istri, satu anak. Ini yang tidak pernah ia bayangkan ketika mengidolakan Budi.
Budi mungkin punya dua showroom dan kehidupan yang harmonis di foto-foto Instagram. Tapi di sini, di dunia nyata, ada seorang Nadia yang menuntut jatahnya. Ada Rani yang mulai diam-diam curiga. Ada Aldi yang tidak tahu apa-apa.
Ia membalas Nadia sekenanya:
[Arman] : Nanti kita bicarakan. Sekarang aku temenin Aldi dulu. Aku sayang kamu.
[Nadia] : Aku sayang kamu lebih. Nanti kita ngobrol. Beneran.
Arman menyimpan ponsel. Aldi menarik-narik bajunya, mengajak naik komidi putar. Arman menurut, membeli tiket, dan melihat anaknya berputar-putar dengan tawa riang. Di balik tawa itu, Arman tersenyum pahit. Ia harus menjadi bapak yang baik. Tapi di saat yang sama, ia juga harus menjadi suami yang adil untuk dua perempuan. Adil. Kata yang sangat berat untuk diwujudkan.
---
Sore harinya, setelah mengantar Aldi pulang, Arman singgah ke rumah Nadia. Hanya sebentar, katanya. Tapi "sebentar" berubah menjadi dua jam. Nadia menyambutnya dengan hangat, dengan masakan buatannya sendiri—pertama kalinya ia masak untuk suami.
Mereka makan malam bersama, bercerita, tertawa. Nadia melayani Arman dengan penuh perhatian, seperti istri yang baru menikah dan masih dimabuk asmara.
"Enak banget masakannya," puji Arman.
"Aku senang kalau kamu suka," balas Nadia, matanya berbinar. "Besok-besok aku masakin lagi ya. Kamu harus sering-sering ke sini."
Arman tersenyum, tapi di dalam dadanya, ada yang berdesir tidak nyaman. Ia memikirkan Aldi yang mungkin sudah menunggunya di rumah, memikirkan Rani yang mungkin sudah menyiapkan makan malam—meski tanpa kehangatan, tapi tetap ada.
"Iya," jawabnya singkat.
---
Jam delapan malam, Arman pulang. Ia sudah berganti pakaian di kos-kosan, memastikan tidak ada bau parfum Nadia yang tersisa. Jaket ojol sudah dikenakan kembali, seperti aktor yang berganti kostum untuk babak berikutnya.
Saat melangkah masuk, suasana rumah sunyi. Biasanya, jam segini Rani masih sibuk di dapur atau menonton TV sambil menunggu Aldi tidur. Tapi malam ini, TV mati. Dapur gelap. Hanya lampu ruang tamu yang menyala temaram.
Rani duduk di sofa. Sendirian. Ia sudah mandi, rambutnya masih setengah basah, terurai tanpa hijab. Ia mengenakan daster rumah warna krem polos, tanpa motif, tanpa aksesori. Wajahnya tidak bisa terbaca—antara lelah, marah, atau sedih.
Aldi tidak terlihat. Mungkin sudah tidur.
Arman meletakkan helm, berusaha santai. "Loe belum tidur? Aldi udah?"
Rani tidak menjawab. Ia hanya menatap Arman. Tatapan yang panjang, dalam, seperti sedang mengukur sesuatu.
Arman mulai gelisah. "Ran?"
"Arman," panggil Rani, suaranya datar. "Duduk sini."
Ia menepuk sofa di sampingnya. Bukan dengan mesra, tapi dengan sebuah perintah yang tidak bisa ditolak.
Arman menurut. Ia duduk, meletakkan kedua tangan di pangkuan, merasa seperti anak sekolah yang dipanggil kepala sekolah.
Rani tidak langsung bicara. Ia menatap layar TV yang mati, seolah sedang mengumpulkan kata-kata. Detik-detik berlalu dalam keheningan yang menyesakkan.
Lalu, Rani menoleh. Matanya bertemu dengan mata Arman. Untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, ada fokus penuh di sana. Bukan tatapan kosong yang sibuk dengan pikirannya sendiri, tapi tatapan yang tajam, yang menembus.
"Ada yang mau gue bicarakan."
Suaranya pelan, tapi bobotnya seperti batu yang dijatuhkan ke danai tenang. Arman merasa udara di ruangan itu tiba-tiba berkurang. Ia menelan ludah, mencoba menebak-nebak apa yang akan keluar dari mulut istrinya.
Apakah Rani tahu? Seberapa banyak yang ia tahu?
Di dalam dadanya, debu-debu kebohongan yang selama ini ia bangun dengan rapi, mulai berhamburan, siap dihempas angin kebenaran yang akan segera bertiup.
Malam itu, di ruang tamu rumah kecil mereka, di depan TV yang mati, Arman duduk di samping perempuan yang telah menjadi istrinya selama tujuh tahun, menunggu kalimat berikutnya dengan jantung berdebar tak karuan.
Di luar, Jakarta malam masih ramai dengan suara kendaraan dan hiruk-pikuk yang tak pernah tidur. Tapi di dalam sini, hanya ada keheningan yang mencekik, dan sebuah pertanyaan yang belum diucapkan namun sudah menggantung sejak lama.
arman makin blangsak hidup nya.
kl cerai ya cerai kl bgini hub bgaimana aneh.
lihat podcast Densu dng mama dedeh barusan.
Kl gk mau cerai ya terima poligami nya aman artinya hidup berdampingan.
Kl gk mau dampingan ya cerai bkn hub menggantung kayak gini.
yg Ada mupuk dosa.
Kl Arman gk masalah dng Nadia krn nikah siri gk perlu izin istri pertama.
kl posisi rani sebagai istri pertama hnya 2 pilihan kl lanjut pernikahan hrs terima poligami kl gk mau berdampingan ya cerai. aneh bnget. kyak gk ngerti agama saja.
mnding urus cerai drpd hidup hub di gantung status jelas mlh gk nambah dosa kita kn.