NovelToon NovelToon
KETIKA AKU MENCINTAI PUTRA

KETIKA AKU MENCINTAI PUTRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cintapertama / Berondong
Popularitas:314
Nilai: 5
Nama Author: Essa Amalia Khairina

Salma tidak pernah merasakan seperti apa itu pacaran. Setiap kali dirinya menyukai seseorang, pasti orang yang dicintainya itu tidak pernah membalas perasaannya, hingga akhirnya selalu berujung kepada cinta bertepuk sebelah tangan. Sekalinya pacaran, justru disakiti. Hingga ia mati rasa kepada pria mana pun.

Namun anehnya, setelah mendapati satu murid yang pintar, cerdas, manis dan memiliki kharismatik sendiri, Salma justru terjebak dalam cinta itu sendiri. Layaknya dejavu yang belum pernah ia lewati. Bersama Putra, Salma merasa bahwa ia kembali pada titik yang seharusnya ia miliki sejak dulu.

Menentang takdir? Bodo amat, toh takdir pun selalu menentangnya untuk merasakan seperti apa ia benar-benar dirinya dicintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RENUNGAN

Salma duduk di kursi ruang kerjanya lagi dengan perasaan yang sulit ia beri nama. Ia tak pernah menyangka, dari sekian banyak murid yang ia ajar, justru Putra—anak yang selama ini dicap berandal, sering terlambat masuk kelas, dan kerap membuat guru-guru lain mengelus dada—menjadi sosok yang paling peka hari itu. Bahkan Salma sendiri, tanpa sadar, pernah menempatkan Putra dalam kotak penilaian yang sama, murid bermasalah, sulit diatur, dan tak layak diberi harapan lebih.

Namun pagi itu mematahkan semua prasangkanya. Di balik sikap keras dan ketidakpeduliannya yang tampak, Putra menyimpan hati yang tulus. Perhatiannya sederhana, nyaris canggung, tetapi jujur. Tidak dibuat-buat, tidak pula berharap balasan apa pun. Ketulusan itu hadir begitu saja, dan kini, Salma terdiam—merasa malu pada penilaiannya sendiri.

Yang lebih menyakitkan sekaligus mengharukan, Salma bahkan lupa bahwa hari itu adalah hari ulang tahunnya. Tak ada penanda istimewa dalam ingatannya. Pagi berlalu seperti biasa, tanpa ucapan, tanpa pelukan. Suaminya pun tenggelam dalam kesibukan masing-masing, tak ada kejutan kecil, tak ada senyum penuh makna. Segalanya berjalan normal, seolah tanggal itu tak pernah berarti apa-apa.

Salma meraih ponselnya untuk memastikan tanggal. Namun, sesaat ia membuka layar dan memandang kalender, matanya menangkap sebuah notifikasi kecil di bagian atas.

Ikon Instagram berkedip pelan. Alisnya berkerut, lalu jarinya mengetuk layar itu.

Laman Instagram kemudian terbuka, dan di sana, dadanya terasa sesak. sebuah pesan DM yang tak pernah benar-benar hilang dari ingatan. Randi.

Happy birthday, Salma. Do'a terbaik untukmu selamanya.

Salma mendesis lirih, Senyum getir terbit di sudut bibirnya. Luka lama yang nyaris telah mengering, perlahan basah dan perih saat membaca isi pesan tersebut, bak disentuh kenangan.

“Setelah memilih wanita selingkuhannya, masih berani-beraninya dia mengucapkan selamat ulang tahun padaku,” Gumamnya penuh amarah. Jarinya mengepal, matanya memanas. “Dasar pria ular!"

Salma menarik napas. Ingatannya melompat pada hari itu—sehari setelah Randi membatalkan pertemuan di kafe sore itu. Ponselnya berdering lama, menampilkan nama Randi di layar. Ia sempat ragu, namun akhirnya mengangkatnya dengan perasaan tak menentu.

Saat itu, suara Randi terdengar datar di seberang sana, tanpa jeda, tanpa basa-basi. Seolah keputusan itu sudah bulat bahkan sebelum ia sempat bertanya.

Setelah aku menimbang semuanya, aku memilih dia. Dua minggu lagi kami akan melangsungkan pertunangan. Keluarganya akan datang ke Bandung lusa.

Ya. Salma ingat betul kalimat itu. Bukan sekadar kata-kata, melainkan sebuah pernyataan yang menghantam tepat di dadanya. Tidak ada permintaan maaf, tidak ada penjelasan panjang—hanya keputusan yang disampaikan seperti laporan singkat, dingin, bahkan kejam.

Hari itu, hubungan mereka berakhir bukan dengan tatap muka, bukan dengan penjelasan yang layak, melainkan lewat sambungan telepon yang sunyi. Dan sejak saat itu, Salma belajar bahwa perpisahan paling menyakitkan adalah yang disampaikan tanpa keberanian untuk menatap mata orang yang ditinggalkan.

Tari benar. Kalau ia dicap sebagai gadis bodoh saat itu, ya. Salma mengakuinya. Bahkan lebih dari sekadar bodoh. Ia telah mempertahankan sesuatu yang sejak awal rapuh, menggenggam janji yang perlahan kehilangan makna, dan berharap pada seseorang yang diam-diam sudah menyiapkan perpisahan.

Ia bertahan bukan karena tak melihat tanda-tanda, melainkan karena terlalu percaya. Terlalu yakin bahwa cinta yang pernah diucapkan tak mungkin berubah arah begitu saja. Nyatanya, ia salah. Sangat salah.

Kini Salma paham, bukan Randi saja yang melukainya. Ia sendiri ikut berperan—dengan membiarkan hatinya tinggal terlalu lama di tempat yang tak lagi menyisakan ruang untuknya.

"Bu Salma..." Sapa seseorang memecah lamunannya.

Ia mengusap kasar sudut matanya yang basah saat mendapati seseorang masuk ke ruang guru. Gelang pemberian Putra segera ia sembunyikan ke dalam tasnya. "Bu Silva." Katanya.

"Waaaah. Kue dari siapa, ini?" Tanyanya. Bola mata bulatnya membesar, menatap kue di meja Salma dan bergerak menghampiri. "Bu Salma ulang tahun?" Tambahnya, saat menatap lilin di atas kue.

"Iya, Bu." Angguk Salma. "Pemberian kelas sebelah."

"Kelas si Putra yang anaknya cuma bisanya cengengesan itu?!" Celetuk Bu Silva.

Salma hanya mengangguk tanpa suara. Lebih dari itu. Hari ini, Putra justru menjadi salah satu yang mulai membuat Salma berpikir ulang tentang arti menilai seseorang. Terutama dalam diri anak itu.

Putra memang nakal. Suka melawan, tak pernah benar-benar menghargai gurunya, tugas jarang masuk dan selali bersikap bodo amat seolah sudah menjadi prinsip hidupnya. Ia kerap datang ke kelas dengan wajah santai, senyum miring, dan sikap menantang yang membuat siapa pun cepat menggeleng lelah.

Namun hari ini, anak itu telah membuktikan sesuatu. Untuk pertama kalinya, ia tidak cengengesan. Matanya lurus menatap keadaan, seolah ia tahu persis apa yang harus dilakukan.

Salma masih terpaku. Ia menyadari satu hal yang selama ini luput dari pandangannya, di balik sikap acuh dan kenakalan bocah itu, Putra menyimpan keberanian. Dan mungkin, juga rasa hormat—yang hanya ia tunjukkan pada saat-saat yang benar-benar berarti.

"By the way... Ulang tahun yang ke berapa Bu Salma?" Tanya Bu Silva.

"Dua puluh sembilan tahun, Bu." Jawab Salma dengan senyuman.

Sontak, wanita berblazer coklat itu membelalakkan bola matanya. "What?! Dua puluh sembilan tahun?!" Ulangnya, memastikan bahwa ia memang tak salah dengar.

Salma tertawa lalu mengangguk. "Kenapa emang, Bu?"

Bu Silva gegas menarik kursi, lalu duduk di samping Salma. "Serius, dua puluh sembilan?"

"Iyaaaa." Jawab Salma di sisa tawanya.

"Gi-Gini lho... aku aja yang dua puluh delapan tahun... punya satu anak... nih, lihat!" Tutur Bu Silva memperlihatkan rahang samping kirinya. "Udah ada garis keriput haluuuus...! Aduuuuuh...!"

Bu Silva menatap penuh wajah Salma. Tanpa ragu, ia bahkan menangkup dagu lembut Salma. "Tapi Bu Salma... Ya ampun, kayak masih usia dua puluh tahunan tahu, gak. Awet muda, cantik, bersih, mulus. Gak jerawatan, sama sekali gak ada tanda-tanda penuaan dini. Keliatan kayak masih gadis tahu, gak.... padahal kan udah menikah dari beberapa tahun yang lalu, ya... kan."

Tawa Salma yang semula renyah, kini terdengar rendah. "Bu Silva bisa aja. Bu Silva juga cantik kok."

"Enggak, lho... Bu." Sanggah Bu Silva. "Aku serius lho, ini. Badan Bu Salma juga ideal banget lho. Aku jadi iri."

Salma tertunduk. Senyum tipis terbit, namun matanya redup. Pujian itu tak sepenuhnya membuatnya senang. Ada perasaan asing yang menyelinap—antara canggung dan tidak terbiasa menerima perhatian seperti itu. Ia mengusap ujung jarinya sendiri, berusaha menyembunyikan kegugupan yang tiba-tiba muncul.

Bukan karena ia tak percaya diri, melainkan karena akhir-akhir ini, Salma lebih sering lupa bagaimana rasanya dihargai tanpa syarat, tanpa luka yang menyertai.

"Tapi... Bu Silva kan udah punya anak... sementara aku, belum." Kata Salma menenangkan.

"Oh iya. Emang ngaruh ya, Bu?"

"Mungkin." Angguk Salma.

Ia sendiri tak sepenuhnya yakin pada jawabannya. Yang ia tahu, usia, status, dan label-label itu kerap menjadi ukuran tak tertulis—terutama bagi perempuan. Punya atau belum punya anak, menikah atau tidak, seolah menentukan nilai dan kelayakan di mata banyak orang.

"Jadi.... kapan nih, Bu Salma juga nyusul punya anak?" Celetuk Bu Silva lagi sambil menyenggol bahu Salma.

Pernyataan itu mendadak membuat Salma bungkam. Senyumnya tertahan di udara, lalu perlahan runtuh. Dadanya terasa mengempis, seolah ada sesuatu yang menekan dari dalam.

Pertanyaan sederhana itu menyentuh sudut hidup yang selama ini ia simpan rapat-rapat, tentang suaminya yang jarang sekali pulang karena sering keluar kota dengan alasan pekerjaan. Dan ketika ada di rumah pun, lelaki itu lebih banyak diam—dingin, cuek, seolah kehadiran Salma hanyalah bagian dari rutinitas yang tak perlu diperhatikan. Tidak ada obrolan panjang, tidak ada rencana, apalagi harapan yang dibicarakan bersama.

Sama seperti hari ini. Hari ulang tahun yang seharusnya patut dirayakan, setidaknya mengucapkan ucapan selamat meski hanya dalam satu kalimat saja, tidak ada.

Salma kemudian menunduk, menyembunyikan mata yang tiba-tiba terasa panas. Ia tak tahu harus menjawab apa. Karena bagaimana mungkin ia menjelaskan bahwa keinginan punya anak bukan soal waktu, melainkan soal ruang. Ruang untuk dicintai, diperhatikan, dan benar-benar ditemani.

****

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!