"Dia mencintaiku untuk sebuah taruhan. Aku menghancurkannya untuk sebuah keadilan."
Kirana percaya bahwa Arka Mahendra adalah pelabuhan terakhirnya. Di pelukan pria itu, ia merasa aman, hingga sebuah malam di pesta megah mengoyak dunianya. Di balik tawa mahal dan denting gelas sampanye, Kirana mendengar kenyataan pahit, cintanya hanyalah sebuah objek taruhan, dan harga dirinya hanyalah alat untuk memenangkan kontrak bisnis keluarga Mahendra.
Dikhianati, dipermalukan, dan dibuang hingga ke titik nol tak membuat Kirana menyerah. Ia menghilang, mengubur gadis naif yang penuh cinta, dan terlahir kembali sebagai wanita sedingin es yang haus akan pembalasan.
Tiga tahun kemudian, ia kembali. Bukan untuk memohon maaf, tapi untuk mengambil setiap keping kekayaan, kehormatan, dan kewarasan pria yang telah menghancurkannya.
Selamat datang di Cerita Kirana, di mana cinta adalah racun dan pengkhianatan adalah senjatanya.
By: Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 4
Langkah kaki Kirana bergema dengan ritme yang tajam di atas lantai marmer galeri yang dingin. Suara itu seolah memantul pada lukisan-lukisan abstrak di dinding yang seakan-akan ikut mengawasi langkahnya. Di sampingnya, Arka berjalan dengan kepercayaan diri yang meluap, satu tangannya berada di saku celana jas, sementara tangan lainnya sesekali memberikan gestur penunjuk jalan yang elegan.
Di depan mereka, sosok Surya Mahendra - pria yang oleh majalah bisnis dijuluki sebagai 'Sang Naga dari Sudirman' - pemimpin jalan dengan punggung tegap yang memancarkan aura dominasi mutlak. Mereka menuju ruang VIP, sebuah area terlarang yang pintunya dijaga oleh dua pria berbadan besar dengan alat komunikasi terselip di telinga.
Pintu jati besar itu terbuka perlahan, mengeluarkan suara gesekan kayu yang berat. Begitu masuk, suasana seketika berubah. Tidak ada lagi musik jazz yang merdu atau tawa ringan para sosialita. Yang tersisa hanyalah keheningan berat, jenis keheningan yang hanya bisa diciptakan oleh orang-orang yang memiliki kuasa untuk menghancurkan hidup seseorang hanya dengan selembar cek. Ruangan itu berbau cerutu mahal, aroma kayu tua yang lembap, dan sesuatu yang tajam, mungkin bau ambisi.
Surya Mahendra duduk di kursi kebesarannya, sebuah kursi kulit yang tampak seperti singgasana modern. Ia tidak segera bicara. Ia juga tidak mempersilakan Kirana duduk. Ia membiarkan Kirana berdiri selama beberapa detik yang terasa seperti keabadian, membiarkan tekanan psikologis ruangan itu bekerja.
"Duduklah, Kirana," Arka tiba-tiba melangkah maju dan menarikkan sebuah kursi kayu berpahat untuk Kirana, bahkan sebelum ayahnya sempat membuka suara.
Tindakan itu kecil, namun di mata Kirana yang sedang merasa terintimidasi, itu adalah sebuah oase. Arka seolah sedang mengirimkan pesan tanpa kata. Di ruangan yang dingin ini, kau tidak sendirian. Aku bersamamu. Kirana memberikan anggukan tipis, merasakan sedikit beban di pundaknya terangkat.
"Jadi," Surya memulai. Suaranya serak namun penuh otoritas, tipe suara yang tidak perlu berteriak untuk didengarkan. "Arka bilang kau punya data yang bisa menghemat lima belas persen pengeluaran distribusi perhiasan kami. Saya sudah berbisnis selama empat puluh tahun, anak muda. Dan biasanya, orang yang memberikan janji setinggi itu hanya punya dua kemungkinan, dia pembohong besar, atau dia orang yang sedang sangat putus asa."
Kirana mengatur napasnya. Ia tidak boleh terlihat gemetar. Ia membuka tas kerjanya, mengeluarkan tablet ramping, dan dengan gerakan jemari yang stabil, ia menggeser sebuah dokumen digital ke arah Surya.
"Saya tidak sedang putus asa, Pak Surya. Dan hidup saya terlalu sibuk untuk diisi dengan kebohongan," jawab Kirana, menatap langsung ke mata sang naga. "Lima belas persen itu bukan angka ajaib. Itu berasal dari integrasi rantai pasokan vendor lokal yang selama ini diabaikan oleh mitra lama Anda. Anda telah membayar mahal untuk 'nama besar' logistik internasional, sementara kami menawarkan efisiensi logistik yang lebih cerdas dengan kualitas material yang identik."
Selama lima menit berikutnya, ruangan itu jatuh ke dalam keheningan yang menyesakkan. Hanya terdengar suara jemari Surya yang menggeser layar tablet secara perlahan. Arka memperhatikan dari samping, menopang dagu dengan ibu jarinya.
Sesekali ia melirik Kirana dengan tatapan yang sulit diartikan, setengah kagum melihat keberanian wanita itu, namun setengah lagi menyimpan kilatan licik yang tersembunyi di balik bulu matanya yang lentik.
"Menarik. Sangat menarik," gumam Surya akhirnya. Ia meletakkan tablet itu di meja dengan dentuman kecil. "Namun, dalam bisnis Mahendra Group, data hanyalah setengah dari cerita. Kami tidak pernah bekerja sama dengan perusahaan yang tidak memiliki 'keterikatan' khusus. Bisnis bagi saya adalah soal kepercayaan, dan kepercayaan adalah soal transparansi informasi."
Surya mencondongkan tubuh ke depan, memberikan tatapan predator. "Saya ingin akses penuh ke daftar vendor utama Kencana Jewelry. Saya ingin tahu siapa yang menyuplai berlian mentah kalian secara langsung. Jika kau memberikan daftar itu sekarang, kontrak hotel Bali ini milikmu. Detik ini juga."
Jantung Kirana berdegup kencang, seolah ingin melompat keluar dari dadanya. Itu adalah informasi rahasia perusahaan, Intellectual Property yang paling dijaga ketat. Memberikan daftar vendor utama tanpa kontrak yang sah adalah pengkhianatan berat bagi Kencana Jewelry. Itu adalah menyerahkan jantung perusahaan kepada pesaing.
"Maaf, Pak Surya," suara Kirana tetap tenang meski ujung jemarinya terasa sedingin es. "Informasi itu adalah rahasia dapur kami. Itu baru bisa dibuka setelah nota kesepahaman ditandatangani dan ada klausul kerahasiaan yang mengikat secara hukum. Saya tidak bisa memberikannya sekarang hanya untuk sebuah tawaran lisan."
Wajah Surya langsung mengeras seperti batu karang. Matanya menyipit penuh ancaman. "Kalau begitu, kau hanya membuang waktu saya yang berharga. Keluar dari sini."
Suasana membeku. Kirana merasa harga dirinya diinjak-injak di ruangan itu. Namun, sebelum ia sempat berdiri untuk pergi dengan kepala tegak, Arka tiba-tiba melangkah maju, meletakkan tangannya di bahu kursi ayahnya dengan gerakan yang berani.
"Ayah, tunggu," suara Arka terdengar tenang namun tegas. "Jangan terlalu keras padanya. Kirana hanya menjalankan tugasnya sebagai manajer yang berintegritas tinggi. Bukankah Ayah sendiri yang selalu bilang bahwa orang yang paling jujur pada perusahaannya adalah orang yang paling bisa dipercaya dalam kemitraan?"
Surya menatap putranya dengan tatapan tajam, lalu kembali menatap Kirana yang masih mematung. Arka kemudian menoleh ke arah Kirana dan memberikan senyum kecil yang sangat menenangkan, seolah memberi isyarat melalui tatapan matanya agar Kirana tetap bertahan.
"Beri dia waktu satu minggu, Ayah," lanjut Arka dengan nada persuasif. "Biarkan aku yang menangani proses transisinya. Aku akan memastikan semua syarat Ayah terpenuhi secara bertahap tanpa melanggar prosedur internal mereka. Kita tidak ingin kehilangan mitra cerdas seperti dia hanya karena kita terlalu terburu-buru, bukan?"
Surya mendengus keras, lalu melambaikan tangan dengan kasar, pertanda ia sudah bosan dengan perdebatan itu. "Terserah kau, Arka. Tapi ingat satu hal, jika dalam satu minggu kau tidak mendapatkan apa yang aku mau, kontrak ini jatuh ke tangan kompetitor mereka di Singapura. Saya tidak punya waktu untuk drama integritas."
Setelah keluar dari ruang VIP, Kirana merasa kakinya sedikit lemas. Ketegangan di dalam sana jauh lebih berat dari yang pernah ia alami di ruang rapat mana pun. Arka membimbingnya menuju balkon galeri yang sepi, menjauh dari kerumunan tamu lelang yang masih sibuk berbincang tentang harga lukisan.
"Terima kasih," ucap Kirana lirih, membiarkan angin malam Jakarta yang lembap menerpa wajahnya, menerbangkan beberapa helai rambut hitamnya yang harum mawar. "Anda... Anda tidak perlu melakukan pembelaan itu tadi."
Arka berdiri di sampingnya, kedua tangannya bertumpu pada pagar balkon. Ia menatap lurus ke depan, ke arah deretan gedung pencakar langit yang berkelap-kelip. "Ayahku memang seperti itu, Kirana. Dia adalah tipe pria yang ingin menguasai segala sesuatu sebelum dia memberi. Dia tidak percaya pada kata-kata, dia hanya percaya pada kendali. Tapi aku tahu kau benar. Kau punya prinsip, dan di dunia yang palsu ini, prinsip adalah sesuatu yang langka. Aku menghargai itu."
Arka berbalik menghadap Kirana sepenuhnya. Dalam remang cahaya lampu balkon yang kekuningan, wajah pria itu tampak sangat tulus, seolah-olah topeng playboy-nya telah ditanggalkan sepenuhnya. "Jangan pikirkan kata-katanya. Aku akan bicara padanya lagi besok. Aku akan memastikan kontrak ini tetap menjadi milikmu tanpa kau harus mengkhianati perusahaanmu. Aku berjanji."
Kirana menatap mata Arka. Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, dinding pertahanan yang ia bangun selama bertahun-tahun retak. Selama ini, ia selalu menghadapi dunia bisnis sendirian. Ia adalah tameng dan pedang bagi dirinya sendiri. Namun malam ini, untuk pertama kalinya, ada seseorang yang berdiri di depannya, melindunginya dari serangan sang naga.
"Kenapa Anda melakukan semua ini untuk saya?" tanya Kirana, suaranya hampir tidak terdengar di antara bising jalanan di bawah sana. "Kita baru mengenal beberapa hari."
Arka melangkah satu tindak lebih dekat, memangkas jarak di antara mereka hingga Kirana bisa merasakan kehangatan dari tubuh pria itu. "Sudah kubilang, bukan? Karena kau berbeda. Di dunia yang penuh dengan orang-orang yang memiliki label harga di dahi mereka, kau adalah berlian yang tidak punya harga. Dan aku... aku mulai merasa ingin menjadi pria yang layak untuk berdiri di samping berlian itu."
Kalimat itu terdengar sangat puitis, hampir terlalu sempurna untuk menjadi kenyataan. Logika Kirana mencoba memberontak, namun di tengah kelelahan mentalnya setelah ditekan oleh Surya Mahendra, ia membiarkan dirinya percaya. Ia membiarkan egonya merasa disanjung dan hatinya merasa dilindungi.
"Aku akan mengantarmu pulang," ucap Arka lembut, suaranya kini sehalus beludru. "Kau sudah melewati malam yang sangat berat."
Di dalam mobil Bentley yang mewah dan kedap suara, keheningan di antara mereka terasa berbeda. Tidak ada lagi ketegangan bisnis yang kaku. Arka memutar musik klasik dengan volume rendah yang menenangkan. Kirana menyandarkan kepalanya ke jok kulit yang empuk, menatap lampu-lampu jalanan yang kabur karena kecepatan mobil.
"Arka," panggil Kirana pelan. Ini adalah pertama kalinya ia memanggil pria itu tanpa sebutan formal 'Pak'. Nama itu terasa asing namun manis di lidahnya.
Arka meliriknya sekilas dari balik kemudi, sebuah senyum tipis terukir di bibirnya yang tegas. "Ya?"
"Terima kasih... untuk malam ini. Benar-benar terima kasih karena sudah berdiri untukku di depan ayahmu."
Arka mengulurkan tangan kirinya, menyentuh jemari Kirana yang bertaut gelisah di atas pangkuannya. Kirana tidak menarik tangannya. Sentuhan itu terasa hangat, mengalirkan rasa aman yang, tanpa ia sadari adalah rasa aman yang palsu.
"Sama-sama, Kirana. Aku akan selalu ada di pihakmu. Apa pun yang terjadi."
Sesampainya di apartemen, Arka mengantar Kirana hingga ke depan pintu unitnya di lantai dua puluh. Saat Kirana berbalik untuk mengucapkan selamat malam, Arka tidak langsung pergi. Ia berdiri sangat dekat, hingga Kirana bisa mencium aroma parfum oud dan tobacco yang maskulin dari jas Arka yang mahal.
"Minggu depan akan sangat berat bagi kita," bisik Arka, menatap langsung ke mata Kirana dengan intensitas yang memabukkan. "Tapi kita akan melaluinya bersama. Aku tidak akan membiarkan Ayah menyentuh posisimu."
Secara perlahan, Arka menunduk dan mengecup kening Kirana dengan lembut. Itu bukan sebuah kecupan nafsu yang kasar, melainkan kecupan yang terasa seperti sebuah janji perlindungan. Itu adalah taktik manipulasi tingkat tinggi yang dirancang untuk membangun ikatan emosional yang mendalam dalam waktu singkat.
"Selamat malam, Kirana. Bermimpilah yang indah."
Setelah pintu apartemen tertutup, Kirana menyandarkan punggungnya ke pintu yang dingin. Jantungnya berdebar kencang, sebuah sensasi yang sudah bertahun-tahun tidak ia rasakan. Ia menyentuh keningnya yang masih terasa hangat. Mungkin dia memang berbeda, pikirnya dalam hati. Mungkin Arka adalah pengecualian dari semua pria brengsek yang pernah kutemui.
Namun, di bawah sana, di dalam kabin mobilnya yang mewah, Arka tidak langsung melajukan kendaraannya. Ia menyandarkan punggungnya, mengambil ponselnya, dan menekan tombol panggil cepat untuk Dion.
"Bagaimana, 'Sang Pahlawan'?" suara Dion terdengar mengejek dari seberang telepon. "Drama di ruang VIP tadi sepertinya sukses besar."
Arka tertawa, suara tawa yang terdengar sangat dingin, kering, dan tanpa emosi. Sangat kontras dengan suara lembut yang ia gunakan saat bersama Kirana beberapa menit lalu.
"Sempurna, Dion. Lebih dari yang kubayangkan. Dia sudah memanggil namaku tanpa gelar. Dia sudah membiarkanku menyentuh tangannya tanpa protes. Dan yang paling penting, dia sekarang merasa berhutang budi padaku karena aku 'menyelamatkannya' dari amarah Ayah."
"Ayahmu benar-benar berakting sangat meyakinkan tadi," komentar Dion sambil terkekeh.
"Ayahku tidak berakting sepenuhnya, Dion. Dia memang menginginkan daftar vendor itu secepatnya. Bedanya, Ayah ingin menggunakan kekerasan dan intimidasi, sedangkan aku lebih suka menggunakan... pesona. Hasilnya akan sama saja. Dalam minggu ini, Kirana sendiri yang akan memberikan rahasia perusahaannya padaku sebagai bentuk 'kepercayaan' karena aku telah melindunginya. Dan saat kontrak itu ditandatangani, taruhan mobil sport merahmu itu selesai."
Arka menyalakan mesin mobilnya, suaranya menggeram di kesunyian malam. Matanya menatap jendela apartemen Kirana di lantai atas yang masih menyala. "Kasihan sekali dia. Dia mengira dia sedang menemukan cinta di tengah kejamnya dunia bisnis, padahal dia hanya sedang menyerahkan lehernya sendiri ke pisau jagal yang sudah kupersiapkan."
Mobil itu melesat membelah malam Jakarta, meninggalkan Kirana yang di atas sana mulai merajut mimpi indah tentang masa depan, tanpa sedikit pun menyadari bahwa ia baru saja masuk ke bagian terdalam dari sarang singa yang akan mengoyaknya hingga tak bersisa.
...----------------...
Next Episode....