NovelToon NovelToon
Penghianatan Tak Termaafkan

Penghianatan Tak Termaafkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Selingkuh / Cinta Terlarang / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Mengubah Takdir
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

​"Dia mencintaiku untuk sebuah taruhan. Aku menghancurkannya untuk sebuah keadilan."

​Kirana percaya bahwa Arka Mahendra adalah pelabuhan terakhirnya. Di pelukan pria itu, ia merasa aman, hingga sebuah malam di pesta megah mengoyak dunianya. Di balik tawa mahal dan denting gelas sampanye, Kirana mendengar kenyataan pahit, cintanya hanyalah sebuah objek taruhan, dan harga dirinya hanyalah alat untuk memenangkan kontrak bisnis keluarga Mahendra.

​Dikhianati, dipermalukan, dan dibuang hingga ke titik nol tak membuat Kirana menyerah. Ia menghilang, mengubur gadis naif yang penuh cinta, dan terlahir kembali sebagai wanita sedingin es yang haus akan pembalasan.

​Tiga tahun kemudian, ia kembali. Bukan untuk memohon maaf, tapi untuk mengambil setiap keping kekayaan, kehormatan, dan kewarasan pria yang telah menghancurkannya.

Selamat datang di Cerita Kirana, di mana cinta adalah racun dan pengkhianatan adalah senjatanya.

By: Miss Ra

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 4

Langkah kaki Kirana bergema di atas lantai marmer galeri yang dingin. Di sampingnya, Arka berjalan dengan kepercayaan diri yang meluap, sementara di depan mereka, sosok Surya Mahendra atau yang biasa di sebut 'sang naga bisnis yang ditakuti' memimpin jalan menuju ruang VIP yang tertutup bagi publik.

Ruangan itu tersembunyi di balik pintu kayu jati besar. Di dalamnya, suasana seketika berubah. Tidak ada lagi musik jazz yang merdu, yang ada hanyalah keheningan berat yang hanya bisa diciptakan oleh orang-orang berkuasa. Ruangan itu berbau cerutu mahal dan aroma kayu tua.

Surya duduk di kursi kebesarannya, sebuah kursi kulit yang tampak seperti singgasana. Ia tidak mempersilakan Kirana duduk. Ia hanya menatapnya dengan mata yang telah melihat ribuan orang memohon padanya.

"Duduklah, Kirana," Arka menarikkan sebuah kursi untuknya sebelum ayahnya sempat bicara. Tindakan itu kecil, tapi di mata Kirana, itu adalah bentuk perlindungan. Arka seolah sedang berkata bahwa di ruangan yang intimidatif ini, Kirana tidak sendirian.

"Jadi," Surya memulai, suaranya parau namun penuh otoritas. "Arka bilang kau punya data yang bisa menghemat lima belas persen pengeluaran distribusi perhiasan kami. Saya sudah berbisnis selama empat puluh tahun, dan biasanya, orang yang memberikan janji setinggi itu adalah pembohong atau orang yang sedang putus asa."

Kirana tidak berkedip. Ia membuka tas kerjanya, mengeluarkan tablet ramping, dan menggeser sebuah dokumen digital ke arah Surya. "Saya tidak sedang putus asa, Pak Surya. Dan saya terlalu sibuk untuk berbohong. Lima belas persen itu berasal dari integrasi rantai pasokan vendor lokal yang selama ini diabaikan oleh mitra lama Anda. Anda membayar mahal untuk nama besar, sementara kami menawarkan kualitas yang sama dengan efisiensi logistik yang lebih cerdas."

Selama lima menit berikutnya, ruangan itu hanya diisi oleh suara jemari Surya yang menggeser layar tablet. Arka memperhatikan dari samping, sesekali melirik Kirana dengan tatapan yang sulit diartikan_ setengah kagum, setengah licik.

"Menarik," gumam Surya akhirnya. Ia meletakkan tablet itu di meja. "Tapi ada satu masalah. Mahendra Group tidak pernah bekerja sama dengan perusahaan yang tidak memiliki 'keterikatan' khusus. Bisnis adalah soal kepercayaan, dan kepercayaan adalah soal informasi. Bagaimana saya tahu kau tidak akan membocorkan strategi hotel kami kepada pesaing?"

Kirana hendak menjawab, namun Surya mengangkat tangan, memotongnya. "Saya ingin akses penuh ke daftar vendor utama Kencana Jewelry. Saya ingin tahu siapa yang menyuplai berlian mentah kalian. Jika kau memberikan itu, kontrak ini milikmu."

Jantung Kirana berdegup kencang. Itu adalah informasi rahasia perusahaan (IP). Memberikan daftar vendor utama tanpa kontrak yang sah adalah pelanggaran berat. Itu adalah jantung dari Kencana Jewelry.

"Maaf, Pak Surya," suara Kirana tetap tenang meski tangannya sedikit dingin. "Informasi itu baru bisa dibuka setelah nota kesepahaman ditandatangani dan ada klausul kerahasiaan. Saya tidak bisa memberikannya sekarang."

Wajah Surya langsung mengeras. "Kalau begitu, kau hanya membuang waktu saya. Keluar."

Suasana membeku. Kirana merasa harga dirinya diinjak-injak. Namun, sebelum ia sempat berdiri, Arka tiba-tiba melangkah maju.

"Ayah, tunggu," Arka meletakkan tangannya di bahu kursi ayahnya. "Jangan terlalu keras padanya. Kirana hanya menjalankan tugasnya sebagai manajer yang berintegritas. Bukankah Ayah sendiri yang bilang bahwa orang yang paling jujur pada perusahaannya adalah orang yang paling bisa dipercaya?"

Surya menatap putranya, lalu kembali menatap Kirana. Arka tersenyum kecil pada Kirana, seolah memberi isyarat agar dia tenang.

"Beri dia waktu satu minggu, Ayah," lanjut Arka. "Biarkan aku yang menangani proses transisinya. Aku akan memastikan semua syarat Ayah terpenuhi tanpa melanggar prosedur mereka."

Surya mendengus, lalu melambaikan tangan dengan kasar. "Terserah kau, Arka. Tapi ingat, jika dalam satu minggu kau tidak mendapatkan apa yang aku mau, kontrak ini jatuh ke tangan kompetitor mereka di Singapura."

Setelah keluar dari ruang VIP, Kirana merasa kakinya sedikit lemas. Ketegangan di dalam sana jauh lebih berat dari yang ia bayangkan. Mereka berjalan menuju balkon galeri yang sepi, menjauh dari kerumunan tamu lelang.

"Terima kasih," ucap Kirana lirih. Angin malam Jakarta menerpa wajahnya, menerbangkan beberapa helai rambutnya. "Anda tidak perlu melakukan itu tadi."

Arka berdiri di sampingnya, menatap lurus ke depan ke arah deretan gedung pencakar langit. "Ayahku memang seperti itu. Dia tipe pria yang ingin menguasai segalanya sebelum dia memberi. Tapi aku tahu kau benar. Kau punya prinsip, dan aku menghargai itu."

Arka berbalik menghadap Kirana. Dalam remang cahaya balkon, wajah pria itu tampak sangat tulus. "Jangan pikirkan kata-katanya. Aku akan bicara padanya lagi. Aku akan memastikan kontrak ini tetap menjadi milikmu tanpa kau harus mengkhianati perusahaanmu."

Kirana menatap Arka. Untuk pertama kalinya, dinding pertahanannya retak. Selama ini, ia selalu menghadapi dunia bisnis sendirian. Ia terbiasa menjadi tameng bagi dirinya sendiri. Namun malam ini, ada seseorang yang berdiri di depannya, melindunginya dari serangan sang naga.

"Kenapa Anda melakukan semua ini untuk saya?" tanya Kirana.

Arka melangkah satu tindak lebih dekat. "Sudah kubilang, bukan? Karena kau berbeda. Di dunia yang penuh dengan orang-orang yang bisa dibeli, kau adalah berlian yang tidak punya harga. Dan aku... aku ingin menjadi pria yang layak untuk berdiri di samping berlian itu."

Kalimat itu terdengar sangat puitis, hampir terlalu sempurna untuk menjadi kenyataan. Namun, di tengah kelelahan mentalnya, Kirana membiarkan dirinya percaya. Ia membiarkan egonya merasa disanjung.

"Aku akan mengantarmu pulang," ucap Arka lembut. "Kau butuh istirahat."

Di dalam mobil Bentley yang mewah, keheningan terasa berbeda. Tidak ada lagi ketegangan. Arka memutar musik klasik dengan volume rendah. Kirana menyandarkan kepalanya ke jok kulit, menatap lampu-lampu jalanan yang kabur karena kecepatan mobil.

"Arka," panggil Kirana. Ini pertama kalinya ia memanggil pria itu tanpa sebutan 'Pak'.

Arka meliriknya sekilas dari balik kemudi, senyum tipis terukir di bibirnya. "Ya?"

"Terima kasih... untuk malam ini. Benar-benar terima kasih."

Arka mengulurkan tangan kirinya, menyentuh jemari Kirana yang bertaut di atas pangkuannya. Kirana tidak menarik tangannya. Sentuhan itu terasa hangat dan memberikan rasa aman yang palsu.

"Sama-sama, Kirana. Aku akan selalu ada di pihakmu."

Sesampainya di apartemen, Arka mengantar Kirana sampai ke depan pintu unitnya. Saat Kirana berbalik untuk mengucapkan selamat malam, Arka tidak langsung pergi. Ia berdiri sangat dekat, hingga Kirana bisa mencium aroma parfum oud yang maskulin dari jas Arka.

"Minggu depan akan berat," bisik Arka. "Tapi kita akan melaluinya bersama."

Ia mengecup kening Kirana dengan lembut. Bukan sebuah kecupan nafsu, melainkan kecupan yang terasa seperti sebuah janji. Sebuah taktik tingkat tinggi yang dirancang untuk membangun kepercayaan emosional yang mendalam.

"Selamat malam, Kirana."

Setelah pintu apartemen tertutup, Kirana menyandarkan punggungnya ke pintu. Jantungnya berdebar kencang. Ia menyentuh keningnya yang masih terasa hangat. Mungkin dia memang berbeda, pikirnya. Mungkin Arka adalah pengecualian.

Di bawah, di dalam mobilnya, Arka tidak langsung melaju. Ia mengambil ponselnya dan menelepon Dion.

"Bagaimana, Pahlawan?" suara Dion terdengar mengejek dari seberang sana.

Arka tertawa, suara tawanya terdengar dingin dan tanpa emosi, sangat kontras dengan suaranya saat bersama Kirana tadi. "Sempurna. Dia sudah memanggil namaku tanpa gelar. Dia sudah membiarkanku menyentuh tangannya. Dan yang paling penting, dia sekarang merasa berhutang budi padaku karena aku menyelamatkannya dari Ayahku."

"Ayahmu benar-benar akting yang bagus tadi di dalam," komentar Dion.

"Ayahku tidak akting, Dion. Dia memang ingin daftar vendor itu. Bedanya, dia ingin menggunakan kekerasan, sedangkan aku menggunakan... pesona. Hasilnya akan sama. Minggu depan, Kirana sendiri yang akan memberikan rahasia perusahaannya padaku sebagai bentuk kepercayaan. Dan saat kontrak itu ditandatangani, taruhan kita selesai."

Arka menyalakan mesin mobilnya, matanya menatap jendela apartemen Kirana di lantai atas. "Kasihan sekali dia. Dia mengira dia sedang menemukan cinta, padahal dia hanya sedang menyerahkan lehernya ke pisau jagal."

Mobil itu melesat membelah malam, meninggalkan Kirana yang mulai merajut mimpi indah tentang masa depan, tanpa menyadari bahwa ia baru saja masuk ke dalam bagian terdalam dari sarang singa.

...----------------...

Next Episode.....

1
anju hernawati
bagus jalan ceritanya author lanjut y .....
Miss Ra: siaaappp
total 1 replies
zhelfa_alfira
makin seru
Renjana Senja
nah bener. harus waspada sama barang asing gitu
Renjana Senja
eh. kiriman apa itu kalau boleh tau kawan?
zhelfa_alfira
wah keren²
zhelfa_alfira
lanjut²...
Sunaryati
Okey ku kira walau di penjara Bram tidak tinggal, orang yang serakah hal dunia biasanya sulit menerima kekalahan walau terbukti bersalah
Sunaryati
Menegangkan melebihi cerita mafia
Sunaryati
Semoga Arka selamat
zhelfa_alfira
semangat²
zhelfa_alfira
lanjut sama2 masih punya perasaan tapi ego masih sama² tinggi
zhelfa_alfira
dah selesai yang menegangkan kita tunggu yang manis2 nya lagi.😁🤭
zhelfa_alfira
wow seru nya cerita ini...
zhelfa_alfira
akhirnya keangkuhan arka selesai juga
zhelfa_alfira
bagus akhirnya ketahuan juga padahal reza sudah tau semua kebusukan arka...semangat²
zhelfa_alfira
entah lah bisa² nya masuk lobang yang sama...
zhelfa_alfira
keren² aku suka hancur kan dan hempaskan yang sudah menyakiti
zhelfa_alfira
keren
Miss Ra: /Kiss//Heart/
total 1 replies
zhelfa_alfira
wow keren aku suka karakter kinara tegas...semangat up kk author
zhelfa_alfira: sama² semangat
total 2 replies
zhelfa_alfira
lanjut²
Miss Ra: siaaap...

lanjut besok pagi ya kak..
good night...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!