melanjutkan perjalanan Lucyfer setelah kekalahan nya dengan Toma.
kini Lucyfer bergabung dengan kelompok Toma dan akan masuk ke ujian high magnus tapi memerlukan 2 orang tambahan.
setelah 2 slot itu di isi mereka kini menghadapi satu masalah akademi odler adalah musuh yang sulit dan tidak mudah di lawan.
arc ini juga memperkuat beberapa character
dan pertarungan masa lalu sang penyihir kegelapan yang bebas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nakuho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
aturan baru dan kau menjadi rival ku
Asrama Lucyfer – Malam Menjelang Tenang
Sejak tadi, Lucyfer menahan amarahnya.
Namun Klee dan Toma sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti berisik.
Akhirnya—
“WOI!” bentak Lucyfer.
“Kalian bertiga ini kenapa masih di asramaku, hah?!”
“Kupikir cuma main sebentar terus pergi, tapi kenapa malah betah?!”
Klee berhenti dan menoleh ke arah Lucyfer.
Ia berjalan ke Lucyfer dan mengeluarkan sebuah surat berstempel resmi dan menyodorkannya ke arah Lucyfer.
“Lihat nih peraturan baru dari akademi yang di ubah.”
Lucyfer membuka surat itu.
Dan seketika…
Ia hanya membelalak tak percaya dan tak bisa berkata apa-apa.
...PENGUMUMAN RESMI...
...Berdasarkan keputusan bersama para raja dari berbagai kerajaan,...
...ujian High Magnus akan mengalami perubahan....
...Setiap peserta wajib membentuk satu tim beranggotakan delapan orang...
...untuk mengikuti ujian High Magnus yang baru....
...— Kepala Akademi Sihir Agreta...
Lucyfer menatap surat itu lama.
Elviera dan Sylvara ikut membaca dari kiri dan kanan.
Keduanya saling berpandangan—diam-diam berpikir hal yang sama.
Kurang dua orang.
“Siapa sebenarnya yang mengubah aturan ujian High Magnus?” tanya Lucyfer akhirnya, nadanya rendah.
Klee mengangkat bahu.
“Kayaknya banyak menteri dari kerajaan lain yang mengubah peraturan menjadi high magnus.” kata klee dengan nada serius
“Tapi lawannya sekarang antar akademi, bahkan para veteran high magnus generasi sekarang yaitu dari divisi 1.”
Lucyfer masih terlihat heran tapi sedikit kecewa.
“kenapa... Padahal aku ingin mengalahkan kakak sialan itu tapi, ntah kenapa jantung ku berdetak kencang, apa aku takut?”kata Lucyfer dalam hati nya
Ia menatap ke arah langit biru cerah di luar jendela.
Lucyfer memikirkan siapa yang kini mengendalikan sistem pendidikan sihir.
Lorong Akademi Sihir
“Lucyfer,” ucap Toma pelan.
“Bisa bicara sebentar?”
“Apa?” kata Lucyfer sambil berjalan di lorong akademi.
Tongkat bantu Toma berdetak pelan di lantai.
“Hei,” kata Toma.
“Aku dengar kau kena pelanggaran… soal taruhan Koin Emas Bintang waktu itu?”
Lucyfer mengangguk pelan.
“Benar,” ucapnya murung.
“Aku, Elviera, dan Sylvara hanya mendapat Koin Emas Bulan.”
“Kepala sekolah bilang aku harus membentuk tim dengan banyak koin emas…”
“tapi aku memilih tidak meminta pada siapa pun.”
Ia menunduk dan mengepalkan tangannya.
“Karena aku sadar… aku dulu menindas mereka yang kuanggap lemah."
Toma menatapnya bukan untuk memarahi Lucyfer atau membentak nya namun menasehati nya.
“Itu wajar,” katanya.
“Kalau kita menindas orang lain, suatu hari kita akan sadar—itu bukan solusi.”
“Dan saat itu tiba… kita justru malu untuk meminta bantuan pada mereka.”
Lucyfer terdiam dan tak bisa menjawab karena yang di katakan Toma itu benar sekali.
“Kau tahu,” lanjut Toma serius,
“waktu kau menindas orang lain, aku bisa merasakan auramu.”
“Kesepian. Kekecewaan. Dan membutuhkan perhatian.”
“Kau hanya terpaksa dan hanya ingin di lihat oleh kakak mu.”
“Apa aku benar Lucyfer?” kata Toma sambil memiringkan kepalanya
Lucyfer menarik napas panjang dan menghembuskan nafas dengan tenang.
“Benar.”
Lucyfer mengalihkan pandangan nya dari Toma.
“Kakakku…” katanya pelan.
“Iglesias Elice.”
“Ketua High Magnus Divisi Satu.”
“Pangkat tertinggi seorang penyihir.”
Lucyfer mengepalkan tangannya dengan perasaan kecewa.
“Dia dan timnya menggantikan generasi sebelumnya dengan sangat sangat cepat.”
“Tapi saat dia kembali… umurku empat belas, dia delapan belas…”
“aku merasa dia bukan kakak yang sama lagi.”
Lucyfer kini mata nya berkaca kaca mengingat saat dia melawan kakak nya sendiri saat kakak nya kembali.
Lucyfer terjebak di gundukan es raksasa yang menjulang sampai atap kerajaan.
Di sana ia hanya menatap kakak nya dengan kekecewaan, sedangkan Elice hanya menatap nya tanpa emosi.
Toma menyela, suaranya mantap.
“Aku tahu.”
“Tapi kau sadar tidak?”
“Ada satu hal yang kakakmu punya… yang tidak dimiliki High Magnus lain.”
Lucyfer menoleh, ia ingin tahu apa yang Toma katakan sebenarnya.
“Dia memang dingin. Kejam. Seolah tak peduli siapa pun,” lanjut Toma.
“Tapi auranya—kasih sayangnya sangat kuat.”
“Seperti kasih seorang ibu pada bayi.
Lucyfer menggeleng pelan, ia jelas sekali tak percaya pada perkataan Toma sedikit pun.
“Aku tak percaya, Toma.” kata nya dengan tenang
“Dia saja... Membuat ku hancur lebur saat itu.”
Toma berhenti berjalan dan tongkat nya pun berhenti berjalan.
“Kau tahu kenapa aku diangkat jadi rival oleh kakak mu?” katanya serius.
“Itu perintah Kakak mu yaitu kak Elice.”
“Katanya… kau butuh seseorang yang bisa memaksamu tumbuh dan memiliki ego sendiri.”
“Agar kau bisa menjadi High Magnus sejati.”
Langkah Lucyfer terhenti.
Matanya melebar.
Tangannya mengepal erat.
Tanpa berkata apa-apa, ia berjalan lebih cepat—
meninggalkan Toma di belakang.
Namun untuk pertama kalinya…
dalam hati Lucyfer, muncul keraguan.
Tentang kebencian.
Tentang kakaknya.
Dan tentang dirinya sendiri.