Di Jepang modern yang tampak damai, monster tiba-tiba mulai bermunculan tanpa sebab yang jelas. Pemerintah menyebutnya bencana, masyarakat menyebutnya kutukan, dan sebuah organisasi bernama Justice tampil sebagai pahlawan—pelindung umat manusia dari ancaman tak dikenal.
Bagi Shunsuke, atau Shun, dunia itu awalnya sederhana. Ia hanyalah pemuda desa yang hidup tenang bersama orang tuanya. Sampai suatu hari, semua kedamaian itu runtuh. Orang tuanya ditemukan tewas, dan Shun dituduh sebagai pelakunya. Desa yang ia cintai berbalik memusuhinya. Berita menyebar, dan Shun dicap sebagai “Anak Iblis.”
Di ambang kematian, Shun diselamatkan oleh organisasi misterius bernama Nightshade—kelompok yang dianggap pemberontak dan ancaman oleh Justice. Perjalanan Shun bersama Nightshade baru saja dimulai.
PENTING : Cerita ini akan memiliki cukup banyak misteri, jadi bersabarlah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bisquit D Kairifz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Eksekusi
CHAPTER 4
Malam.
Di suatu tempat yang entah di mana, berkumpullah orang-orang dengan penampilan yang tidak biasa. Simbol bulan sabit dan mata menghiasi pakaian dan aksesori mereka.
"Semuanya!" Suara berat menggema, memecah keheningan.
Suara-suara obrolan langsung lenyap, ruang itu menjadi sunyi senyap hanya karena satu perintah.
Rambut putih dan mata hitam yang tajam—dialah pemimpin perkumpulan ini, sosok yang dikenal sebagai Boss. Dengan tenang, ia mengumumkan bahwa mereka membutuhkan tiga sukarelawan untuk misi baru.
Selesai berbicara, Boss kembali ke ruangannya, menunggu anggota Nightshade yang berani untuk mengajukan diri.
Tok... tok...
Tiga orang memasuki ruangan, masing-masing dengan aura dan perannya yang unik.
Yang pertama menggenggam tombak berkarat, senjatanya tampak menyimpan kisah pertempuran masa lalu. Yang kedua memegang kunci mobil, simbol kecepatan dan kemampuan manuver. Dan yang ketiga, yang tampak paling tidak mengancam, membawa sniper mainan.
Boss menjelaskan misi dengan detail, mengungkap rencana rumit yang telah ia susun.
"Emon sudah ada di sana lebih dulu!" Ucap si pemegang kunci mobil, nadanya menunjukkan antusiasme yang tidak sabar.
"Tenanglah..." Boss menenangkan, sorot matanya menjadi lebih tajam. "Misi kali ini akan sulit. Voda pasti sudah mengantisipasi setiap gerakan kita."
Keesokan harinya...
Mentari pagi menyinari billboard besar yang mengumumkan perkiraan cuaca: badai dahsyat akan melanda kota siang ini.
Di penjara Shun, ia hanya bisa menatap pantulan dirinya di kaca yang buram. Tatapan kosong itu telah menjadi teman setianya sejak vonis hukuman mati dijatuhkan. Edo, yang dengan setia mencoba menghiburnya, akhirnya menyerah pada tembok apatisme yang mengelilingi Shun.
Tiba-tiba, langkah kaki menggema di koridor. Seorang penjaga datang.
"Yooo... anak iblis," sapa penjaga itu dengan nada mengejek.
Shun mendekat tanpa sepatah kata pun.
"Sayang sekali, sebentar lagi kau akan dieksekusi, ya?" Penjaga itu tertawa sinis. "Orang sepertimu memang pantas mati. Kau sudah membuat Tuan Voda repot." Dengan kasar, ia menjambak rambut Shun.
Mendengar nama Voda, mata Edo memancarkan kilatan amarah.
"Hei! Hentikan!" bentak Edo, suaranya mengintimidasi.
Penjaga itu, ketakutan, mundur dari sel mereka.
Tak lama kemudian, seorang penjaga lain datang untuk membawa Shun. Eksekusinya akan segera dilaksanakan.
Shun dibawa keluar dari selnya. Dengan bingung, ia bertanya mengapa ia dibawa ke luar. Ternyata, ia akan dieksekusi di depan umum, di hadapan banyak orang.
Mendengar itu, Shun tertawa hambar. Baginya, ini adalah akhir yang pantas: mati tak berdaya di hadapan khalayak ramai.
Setibanya di tempat eksekusi, Shun diikat ke tiang. Tubuhnya begitu lemah sehingga ia bahkan tidak bisa melawan.
"Ada kata-kata terakhir?" tanya petugas eksekusi.
Shun menatap kerumunan, berharap melihat wajah-wajah yang dikenalnya dari desanya.
"Tidak ada," jawab Shun dengan suara serak.
Di atap sebuah gedung, sekitar 50 meter dari tempat eksekusi, seorang pemuda berambut cokelat berbaring telungkup. Di tangannya, ia memegang sniper mainan.
Energi kuning terpancar dari tubuhnya, menyelimuti dirinya dan senjatanya. Seketika, mainan itu berubah menjadi sniper futuristik yang mematikan.
Dengan tenang, ia membidik sisi kepala Shun, menunggu saat yang tepat. Jari petugas eksekusi bergerak menarik pelatuk.
DORR!
Petugas itu terkejut. Kepala Shun masih utuh. Ia mencoba menembak lagi, tetapi setiap usahanya berakhir dengan kegagalan.
Sesuai ramalan cuaca, hujan deras mulai turun, disertai angin kencang. Badai telah tiba.
Ternyata, sniper itulah penyebabnya. Pelurunya menghantam peluru petugas eksekusi, membelokkannya dari sasaran.
Seketika, seseorang di kerumunan melemparkan bom asap.
Dari sisi lain, Edo melompat maju. Tubuhnya yang kekar membawa gada berduri yang terhubung dengan rantai. Energi putih terpancar dari tubuhnya, menyelimuti senjatanya dan mengubahnya menjadi senjata penghancur yang menakutkan.
Dengan raungan, Edo menghantamkan gadanya ke tempat Shun diikat. Kerumunan panik dan berlarian menyelamatkan diri.
Saat asap menghilang, Shun terlihat berdiri di antara Edo dan dua orang asing.
Namun, Shun meronta, mencoba melepaskan diri. Ia merasa hukumannya belum selesai.
"Lepaskan aku, Edo!" desak Shun.
"Tidak akan!"
"Kenapa kau ingin mati?" tanya seorang wanita dengan rambut merah yang diikat dengan jarum.
"Karena... seharusnya aku yang mati," jawab Shun. "Aku tidak berhak hidup. Aku—" Tiba-tiba, bayangan orang tuanya muncul di benaknya.
Kata-kata yang menghantuinya dalam mimpi kembali terngiang di telinganya: "Ini salahmu! Kenapa kau tidak ada di rumah saat itu?" dan "Kenapa hanya kau yang selamat?"
Kata-kata itu menusuknya seperti pisau, menghalangi semua suara di sekitarnya.
Tetapi kemudian, wanita itu mengucapkan sesuatu yang membuatnya tersentak.
"Apa kau yang membunuh orang tuamu?"
Shun tertegun. "Tentu saja bukan!"
Wanita itu tersenyum tipis. "Kalau begitu... hiduplah! Jika kau tidak membunuh orang tuamu, maka hiduplah! Jadilah kuat! Buktikan kepada semua orang bahwa kau tidak bersalah!"
Mendengar kata-kata itu, secercah harapan kembali muncul di mata Shun. Ia teringat bahwa mimpi buruk itu hanyalah kebohongan.
Dialah yang paling dekat dengan orang tuanya. Dialah yang tahu apa yang akan mereka katakan.
Sesuatu yang selama ini terperangkap di dalam hatinya akhirnya terbebas. Sekali lagi, ia melihat bayangan orang tuanya, tetapi kali ini mereka tersenyum kepadanya.
Plaak!... Plaak!...
Suara tepuk tangan menggema. Sosok itu dikenal sebagai Two, peringkat kedua di organisasi Justice dan salah satu dari Sepuluh Jari Voda.
"Amazing!... Bagus sekali!... Bravoo!... Drama yang sangat indah sampai membuatku menangis," ucap Two sambil menyeka air mata palsu.
"Ternyata benar apa kata Boss," gumam pria bertombak.
"Hohohoho... Satu, dua, tiga... Wah, cuma tiga orang?" Two memasang wajah kecewa. "Kenapa Tuan Voda begitu ingin membunuh bocah ini? Dan yang melindunginya malah serangga Nightshade." Tatapannya berubah tajam.
Tiba-tiba, suara tembakan memecah keheningan.
DORR!
Peluru itu tidak mengenai Two. Dengan gerakan cepat, ia menangkapnya dengan dua jarinya.
Two mengeluarkan tongkatnya dan mengalirkan energi emas ke dalamnya. Perubahan senjatanya terlalu cepat untuk dilihat.
Dalam sekejap, tongkat itu memanjang dan menghantam Edo, sebelum kembali ke ukuran semula.
Two bergerak dengan kecepatan yang mencengangkan.
Wanita berambut merah mengeluarkan jarumnya, mengalirkan energi merah ke dalamnya dan mengubahnya menjadi senjata yang lebih besar.
Mereka berdua terlibat dalam pertarungan sengit.
Kecepatan mereka hampir setara, tetapi wanita itu terus-menerus terkena serangan. Ia tidak bisa mengimbangi kecepatan Two.
Serangan Two mengenai perut wanita itu. Ia terhuyung, tetapi tetap berdiri dan kembali menyerang.
Tembakan lain diluncurkan dari kejauhan, tetapi alih-alih mengenai Two, peluru itu justru mengenai wanita itu.
"Cih..." Ia meludahkan darah. "Hei! Fin, kalau menembak yang benar, dong!" teriaknya, memprotes sang sniper.
Pertarungan yang berat sebelah itu terus berlanjut. Dua bawahan Two datang membantu, melawan Edo dan pria bertombak.
Pertarungan brutal pecah di antara mereka.
Shun, yang hanya bisa menonton dari pinggir lapangan, bertanya-tanya mengapa orang-orang ini bersedia melakukan begitu banyak untuknya.
Ia ingin membantu, tetapi sekarang ia hanyalah seorang bocah 16 tahun biasa.
Tiba-tiba, sebuah mobil melaju dari kejauhan. Ketiga anggota Nightshade tersenyum penuh kemenangan, kecuali Shun.
Mobil itu tiba-tiba diselimuti energi hijau, mengubahnya menjadi kendaraan futuristik yang keren.
Mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi, melepaskan tembakan ke arah Two. Kemudian, mobil itu berbelok tajam tepat di depan Shun dan teman-temannya.
Di dalam mobil ada dua orang: seorang sopir dan pemuda berambut cokelat.
Ketiganya melompat ke belakang mobil, menarik Shun bersamanya.
Mereka meninggalkan Two di belakang, melaju dengan kecepatan yang luar biasa.
Mobil itu menutup bagian belakang dan berkamuflase menjadi kendaraan biasa, menghindari deteksi dari Justice.
Di dalam, mereka tertawa seolah tidak terjadi apa-apa.
Tetapi bagi Shun, ini adalah kejadian yang tidak akan pernah ia lupakan.
"Hei... kau tidak apa-apa?" tanya Shun kepada wanita berambut merah yang duduk di seberangnya. "Kau terluka parah."
Wanita itu menahan tawa. "Hahaha... Aku baik-baik saja."
"Ehh?"
Edo menjawab, "Di tempat kami ada dokter. Luka seperti itu akan cepat sembuh."
"Oh, begitu." Kemudian Shun menatap Edo. "Edo, kenapa kau ada di sini?"
Edo menjelaskan bahwa ia adalah anggota Nightshade, nama aslinya adalah Edo Emon, dan alasan ia dipenjara adalah untuk mengawasi bocah yang dijuluki sebagai Anak Iblis.
Tidak hanya Emon, anggota Nightshade lainnya memperkenalkan diri satu per satu.
Pria bertombak bernama Neir.
Pemuda sniper bernama Fin.
Sopir bernama Juichi.
Dan wanita berambut merah yang diikat dengan jarum bernama Yuzuriha. "Panggil saja Yuzu... Shuchan," ucapnya sambil tersenyum.
Shuchan... panggilan baru yang diterima oleh Shun.
Anehnya, Shun menerima panggilan itu.
Dan Shun juga akan menyiapkan mental karena dia sudah sampai di tempat perkumpulan tidak biasa atau lebih tepatnya
Organisasi Nightshade