Seorang pemuda dari dunia modern yang sangat mengidolakan Portgas D. Ace terbangun di tubuh Ace, tepat beberapa saat sebelum ia bertemu dengan Shirohige.
Mengetahui nasib tragis yang menantinya di Marineford, ia bertekad untuk menjadi lebih kuat, menguasai Mera Mera no Mi melampaui batas alaminya, dan mengumpulkan pengikut (serta orang-orang tercinta)
untuk mengubah sejarah Grand Line.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERUBAHAN DAN PERTUMBUHAN
Dua tahun berlalu sejak kepergian Shanks.
Aku sekarang berusia sembilan tahun dengan tubuh setinggi seratus enam puluh sentimeter—tinggi yang tidak normal untuk anak seusiaku tapi wajar mengingat latihan brutal yang sudah kujalani bertahun-tahun. Otot terbentuk sempurna tanpa berlebihan. Setiap gerakan efisien dan terkontrol.
Sabo sudah dua belas tahun, tingginya bahkan melebihi beberapa orang dewasa di desa. Dia kelihatan seperti remaja lima belas atau enam belas tahun dengan pipa besi yang sekarang permanen ada di pinggangnya—bagian dari identitasnya.
Dan Luffy—bocah berusia enam tahun yang sekarang tidak pernah lepas dari topi jerami Shanks—sudah mulai latihan serius bersama kami. Tidak seberat latihan kami di usianya, tapi cukup untuk bangun fondasi yang kuat.
"Ace-nii! Lihat! Luffy bisa lari sepuluh putaran tanpa berhenti sekarang!" Luffy berteriak bangga setelah menyelesaikan lari pagi.
"Bagus! Besok coba lima belas putaran!" aku menjawab sambil melakukan push up satu tangan dengan beban batu di punggung.
"Lima belas?! Itu banyak sekali!"
"Kalau mau jadi Raja Bajak Laut, harus bisa lebih dari itu. Raja Bajak Laut harus lebih kuat dari siapapun."
"Oke! Luffy akan lari lima belas putaran besok! Shishishi!"
Semangat yang tidak pernah pudar. Itu kekuatan terbesar Luffy—tidak peduli seberapa keras, dia tidak pernah menyerah.
Dua tahun terakhir adalah periode pertumbuhan paling pesat dalam hidup kami. Latihan yang diajarkan Shanks dan krunya menjadi fondasi baru. Setiap hari kami praktikkan—tanpa henti.
Internal Destruction Armament Haki-ku sekarang sudah bisa digunakan dalam pertarungan sungguhan. Bukan sempurna, tapi cukup untuk tembus pertahanan musuh yang keras. Bisa hancurkan batu sebesar kepala dalam satu sentuhan dan bahkan mulai bisa alirkan ke senjata.
Future Sight Sabo berkembang pesat—sekarang dia bisa melihat tiga sampai empat detik ke masa depan dalam kondisi fokus penuh. Dalam pertarungan, itu perbedaan antara hidup dan mati.
Kontrol Mera Mera no Mi-ku juga mencapai level baru. Tidak hanya bisa ubah bentuk api dengan cepat, tapi juga bisa kontrol suhu dengan presisi tinggi. Api biru yang dulu cuma bisa kubuat sesekali sekarang bisa dipertahankan cukup lama untuk serangan berkelanjutan.
"Ace, Sabo, kemari sebentar," Yamamoto memanggil dari gubuk dengan ekspresi serius.
Kami mendekat dengan sedikit khawatir. Ekspresi itu biasanya berarti ada berita penting—baik atau buruk.
Di dalam gubuk, Yamamoto duduk dengan koran di tangan. Wajahnya lebih serius dari biasanya.
"Ada berita yang harus kalian tahu," dia menaruh koran di meja.
Headline-nya membuat jantungku berhenti sejenak:
"FIRE FIST ACE - BOCAH DENGAN BOUNTY PERTAMA DI EAST BLUE! 50,000,000 BELLY!"
Di bawahnya ada foto—photoku yang diambil entah kapan. Wajahku jelas terlihat meski agak buram.
"Apa?!" aku meraih koran dan baca dengan cepat.
Artikelnya menjelaskan tentang "bocah misterius berusia sembilan tahun dengan kemampuan Devil Fruit tipe Logia yang telah mengalahkan beberapa kelompok bajak laut di East Blue termasuk Kurohige no Daiki yang bounty-nya delapan puluh juta berry tiga tahun lalu."
Marine akhirnya menaruh bounty padaku. Lima puluh juta untuk anak sembilan tahun. Itu bounty tertinggi di East Blue untuk pemula.
"Bagaimana mereka bisa dapat fotoku?" aku bertanya bingung.
"Kemungkinan dari saksi mata saat pertarunganmu dengan Daiki. Atau mungkin ada Marine undercover yang mengamati pulau ini," Yamamoto menjawab sambil menyalakan rokok. "Yang jelas, sekarang kau resmi dicari oleh Marine."
"Ini masalah besar," Sabo bergumam sambil membaca artikel. "Lima puluh juta akan menarik banyak pemburu bounty."
"Bukan cuma pemburu bounty. Marine juga akan mulai serius. Mungkin akan kirim Captain atau bahkan Commodore level untuk tangkap kau."
Yamamoto menatapku tajam.
"Kau punya tiga pilihan. Pertama, sembunyi dan hindari perhatian—stop bertarung dengan bajak laut atau siapapun yang bisa laporkan ke Marine. Kedua, kabur dari East Blue sekarang—masuk Grand Line dimana bounty lima puluh juta tidak terlalu menonjol. Ketiga, tetap disini dan hadapi apapun yang datang—tapi risikonya sangat tinggi."
Tiga pilihan yang semuanya punya konsekuensi besar.
Sembunyi berarti berhenti tumbuh sebagai fighter. Kabur sekarang berarti tinggalkan Luffy yang masih terlalu kecil. Tetap disini berarti hadapi bahaya konstan.
"Aku akan tetap disini," aku memutuskan tanpa ragu panjang. "Aku tidak bisa tinggalkan Luffy. Dan aku tidak akan sembunyi seperti pengecut."
"Kukira kau akan bilang begitu," Yamamoto tersenyum tipis. "Maka bersiaplah. Kehidupan akan jadi jauh lebih sulit mulai sekarang."
"Kami sudah siap," Sabo berkata dengan tekad. "Dan aku akan bantu Ace hadapi apapun yang datang."
"Bagus. Kalian benar-benar sudah dewasa meski masih anak-anak."
Yamamoto berdiri dan berjalan ke lemari kayu tua di sudut ruangan. Mengambil sesuatu yang terbungkus kain.
"Aku sengaja simpan ini untuk saat yang tepat. Dan sepertinya sekarang saatnya."
Dia buka kain—menampilkan dua senjata.
Satu pedang panjang dengan sarung hitam dan gagang merah. Blade-nya terlihat sangat tajam dengan pola seperti api mengalir di permukaannya.
Satu tongkat besi dengan ukiran rumit dan ujung yang bisa dilepas untuk jadi weapon ganda.
"Pedang ini namanya Hinokami. Dibuat oleh pandai besi terkenal di Wano Country. Blade-nya bisa channeling elemen api dengan sempurna—cocok untuk pengguna Mera Mera no Mi sepertimu, Ace."
Aku menerima pedang dengan hati-hati. Saat menyentuh gagang, aku langsung merasakan koneksi—seperti pedang ini beresonansi dengan kekuatan Devil Fruit-ku.
Aku tarik dari sarung—blade-nya berkilauan dengan cahaya merah seperti bara api. Indah sekaligus mematikan.
"Dan ini—" Yamamoto menyerahkan tongkat pada Sabo. "—namanya Ryuseikon. Tongkat tempur yang terbuat dari baja Wano khusus. Bisa tahan benturan sekuat apapun dan bisa channeling Haki dengan efisien. Ujungnya bisa dilepas jadi dua tongkat pendek untuk dual wielding."
Sabo menerima dengan mata berbinar. Dia swing sekali—bunyi whistling tajam terdengar. Lalu dia lepas ujungnya—jadi dua weapon terpisah yang bisa digunakan bersamaan.
"Ini... sempurna..." Sabo bergumam kagum.
"Aku dapat kedua senjata ini saat masih aktif sebagai Marine Captain. Hasil rampasan dari bajak laut Wano yang mencoba kabur ke East Blue. Aku simpan karena tahu suatu hari akan berguna."
Yamamoto menatap kami dengan tatapan bangga yang jarang dia tunjukkan.
"Kalian sudah melampaui ekspektasiku. Bukan hanya sebagai murid, tapi sebagai fighter sejati. Senjata ini adalah pengakuan resmi—kalian sekarang warrior yang layak berdiri sejajar dengan siapapun."
"Terima kasih, Yamamoto-sensei," kami membungkuk hormat bersamaan. "Kami tidak akan sia-siakan kepercayaan ini."
"Aku tahu kalian tidak akan. Sekarang pergi latihan dengan senjata baru kalian. Biasakan dengan weight dan balance-nya."
Kami keluar dengan excited membawa senjata baru. Luffy langsung berlari mendekat dengan mata berbinar.
"UWAAAH! Ace-nii punya pedang keren! Sabo-nii juga punya tongkat baru! Luffy juga mau!"
"Nanti kalau sudah besar, Luffy juga akan dapat senjata sendiri," aku mengelus kepalanya sambil tertawa. "Sekarang fokus latihan dasar dulu."
"Hmmm... oke! Tapi Luffy mau pedang yang lebih keren dari Ace-nii nanti!"
"Boleh! Kalau kau bisa lebih kuat dari kakak, boleh punya pedang sekeren apapun!"
Kami pergi ke area latihan untuk coba senjata baru. Hinokami di tanganku terasa pas—tidak terlalu berat tapi tidak terlalu ringan. Balance sempurna untuk style bertarungku yang kombinasi antara pedang dan api.
Aku swing pedang sambil alirkan sedikit kekuatan Mera Mera no Mi—blade langsung menyala dengan api oranye yang mengikuti gerakan slash.
"Wow... ini benar-benar channeling api..." aku bergumam kagum.
Slash berikutnya lebih kuat—api berubah jadi biru. Blade seolah amplify kekuatan api sampai lebih panas dari biasanya.
"Sabo! Coba block slash-ku!"
Sabo ambil stance dengan Ryuseikon. "Oke! Datang!"
Aku slash dengan Hinokami—api biru mengikuti blade. Sabo block dengan tongkat yang dilapisi Armament Haki.
CLANG!
Benturan menciptakan gelombang shock. Api menyebar ke samping seperti sayap.
"Kuat! Amplifikasinya luar biasa!" Sabo berkomentar sambil mundur sedikit.
Kami sparring selama satu jam penuh—test kemampuan senjata baru. Setiap menit kami menemukan feature dan kemampuan baru yang bisa dimaksimalkan.
Petang hari, saat kami istirahat dari latihan, Dadan memanggil dari gubuk.
"ACE! SABO! ADA TAMU!"
Tamu? Siapa yang akan datang di saat seperti ini?
Kami berlari ke gubuk. Di depan berdiri seorang pria paruh baya dengan seragam Marine—coat putih dengan kata "JUSTICE" di punggung.
Pangkatnya terlihat di bahu—Captain.
"Portgas D. Ace?" dia bertanya dengan nada formal.
"Ya, itu aku," aku menjawab sambil siap-siap kalau tiba-tiba diserang.
"Aku Captain Nezumi dari Marine Base 16. Aku kesini bukan untuk menangkapmu—setidaknya belum. Aku kesini untuk kasih peringatan."
Peringatan?
"Headquarters tahu tentang bounty-mu. Dan mereka tidak senang. Anak sembilan tahun dengan bounty lima puluh juta dan kemampuan Logia adalah ancaman besar bagi image Marine. Mereka akan kirim pasukan dalam waktu dekat untuk tangkap kau."
"Berapa lama 'waktu dekat'?" Yamamoto bertanya dari belakang.
Nezumi melirik Yamamoto dan mata sedikit melebar—seperti mengenali.
"Yamamoto... mantan Captain yang kabur karena membunuh superior officer yang korup. Jadi kau yang melatih bocah ini."
"Itu bukan urusanmu. Jawab pertanyaannya."
Nezumi menghela napas. "Dua minggu. Mungkin tiga kalau mereka lambat. Tapi pasti akan datang. Dan yang datang bukan Captain biasa seperti aku. Mungkin Commodore. Atau bahkan Rear Admiral kalau kau sial."
Rear Admiral. Itu level yang sangat berbeda. Officer dengan kekuatan setara bajak laut bounty seratus juta ke atas.
"Kenapa kau kasih tahu kami? Bukannya kau Marine?" Sabo bertanya dengan curiga.
Nezumi tersenyum pahit. "Karena aku berhutang pada Yamamoto. Dia dulu menyelamatkan hidupku saat aku masih Lieutenant muda. Ini cara aku bayar hutang."
Dia berbalik untuk pergi tapi berhenti sejenak.
"Satu saran—kalau kau mau bertahan di East Blue, kau butuh kekuatan lebih besar. Atau kau butuh sembunyi lebih baik. Atau..." dia menatapku serius. "Kau harus jadi cukup kuat sampai bahkan Rear Admiral berpikir dua kali sebelum menyerang."
Lalu dia pergi—menghilang di antara pepohonan.
Hening sejenak di depan gubuk.
"Dua minggu..." Dadan bergumam khawatir. "Itu tidak cukup waktu—"
"Cukup," aku memotong dengan nada tegas. "Dua minggu cukup untuk persiapan. Kami akan latihan lebih keras dari sebelumnya. Dan saat mereka datang, kami akan siap."
"Ace, ini Rear Admiral—" Yamamoto mencoba peringatkan.
"Aku tahu. Tapi aku tidak akan lari. Aku tidak akan sembunyi. Kalau mereka mau tangkap aku, mereka harus lewati aku dengan kekuatan penuh."
Sabo berdiri di sampingku. "Dan aku. Kalau mereka mau Ace, mereka harus hadapi kami berdua."
Tekad kami jelas. Tidak ada kompromi.
Yamamoto menatap kami lama. Lalu tersenyum—senyum bangga seorang guru melihat muridnya tumbuh jadi warrior sejati.
"Baiklah. Dua minggu. Aku akan kasih kalian latihan paling brutal yang pernah kalian alami. Setelah ini, kalian akan bisa hadapi Rear Admiral—atau setidaknya bertahan cukup lama."
"Kami siap."
"Bagus. Latihan dimulai besok pagi jam tiga. Siapkan mental."
Jam tiga. Lebih pagi dari biasanya.
Malam itu, aku tidak bisa tidur nyenyak. Pikiran terus berputar tentang pertarungan yang akan datang. Ini akan jadi ujian terbesar sejauh ini—jauh lebih besar dari Kurohige no Daiki atau gorila raksasa atau apapun yang pernah kuhadapi.
Tapi aku tidak takut.
Atau lebih tepatnya—aku takut tapi tidak akan mundur karena takut.
Karena ini bukan cuma tentang aku. Ini tentang melindungi keluarga. Melindungi Dadan yang sudah merawat kami bertahun-tahun. Melindungi Luffy yang masih terlalu kecil untuk bertarung di level ini.
Aku menatap langit-langit kayu dengan tekad mengeras.
Dua minggu.
Dalam dua minggu, aku harus jadi cukup kuat untuk hadapi Rear Admiral.
Tidak peduli seberapa keras latihan yang menanti.
Tidak peduli seberapa menyakitkan.
Aku akan bertahan.
Aku akan menang.
Karena api takdir tidak akan padam dengan mudah.
Api ini akan membakar siapapun yang mencoba padamkan.
Bahkan Marine sekalipun.