Empat tahun menikah tanpa cinta dan karena perjodohan keluarga, membuat Milea dan Rangga Azof sepakat bercerai. Namun sebelum surat cerai diteken, Rangga mengalami kecelakaan hebat yang membuatnya koma dan kehilangan ingatan. Saat terbangun, ingatannya berhenti di usia 22 tahun. Usia ketika ia belum menjadi pria dingin dan ambisius.
Anehnya, Rangga justru jatuh cinta pada Milea, istrinya sendiri. Dengan cara yang ugal-ugalan, manis, dan posesif. Di sisi lain, Milea takut membuka hati. Ia takut jika ingatan Rangga kembali, pria itu bisa kembali menceraikannya.
Akankah cinta versi “Rangga 22 tahun” bertahan? Ataukah ingatan yang kembali justru mengakhiri segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 4.
Ruang ICU itu terlalu sunyi untuk ukuran hati Milea yang sedang berisik.
Lampu putih menggantung di langit-langit, memantul pada dinding steril berwarna pucat. Aroma obat-obatan menusuk hidung, bercampur dengan suara beep mesin monitor yang berdetak teratur, satu-satunya tanda bahwa Rangga masih bertahan di dunia ini.
Milea duduk di kursi kecil di samping ranjang, tak bergerak sejak satu jam lalu.
Di hadapannya, Rangga terbaring kaku. Selang oksigen terpasang di hidungnya, infus mengalir pelan di lengannya. Wajah pria itu terlihat begitu damai, seolah hanya sedang tertidur pulas.
Tidak ada kerutan dingin di dahinya.
Tidak ada tatapan tajam yang biasa pria itu berikan.
Hanya wajah seorang pria yang rapuh.
Milea menggenggam tangan Rangga, jari-jarinya gemetar.
“Aku di sini, aku nggak ke mana-mana.”
Kalimat itu terasa ironis.
Bukankah beberapa jam lalu mereka sepakat untuk berpisah?
Air mata Milea jatuh, membasahi punggung tangan Rangga. Ia menunduk, bahunya bergetar hebat.
Waktu berjalan lambat.
Jarum jam di dinding bergerak seolah mengejek, satu detik demi satu detik. Milea kehilangan hitungan berapa lama ia duduk di sana, berbicara sendiri, berdoa, dan menangis tanpa suara.
Dalam sunyi itu, kenangan datang bertubi-tubi.
Hari pernikahan mereka.
Rangga berdiri gagah dengan setelan jas hitam, wajahnya tampan namun sulit ditebak. Saat mengucap ijab kabul, suaranya tegas tanpa getar.
Milea masih ingat betul, ia berharap itu hanya karena Rangga gugup. Ternyata... bukan. Empat tahun bersama, namun jarak di antara mereka tak pernah menyempit.
“Aku bodoh, aku pikir aku kuat.” Ia mengusap pipinya, mencoba menenangkan diri.
“Aku pikir, asal aku bertahan… kamu akan berubah.”
Tangannya mengerat. “Ternyata aku hanya menunggu sendirian.”
Mesin monitor berbunyi stabil, tak ada reaksi.
Milea tersenyum pahit.
“Sekarang, bahkan untuk marah pun aku nggak bisa. Karena aku takut… takut kamu nggak bangun lagi.”
Kata-kata itu membuat dadanya sesak. Ia menunduk, keningnya menyentuh tangan Rangga.
“Kalau ini cara Tuhan menghentikan kita dari saling menyakiti,” lanjutnya dengan suara bergetar, “Aku akan mohon pada Tuhan… untuk jangan mengambilmu.”
Pagi menjelang.
Sinar matahari tipis menyusup melalui jendela kecil di sudut ruangan. Milea masih di tempat yang sama, matanya sembab, tubuhnya lelah namun tak mau beranjak.
Nyonya Atalia masuk dengan langkah pelan. Wajah wanita paruh baya itu tampak pucat, matanya merah karena kurang tidur.
“Kamu belum pulang?” tanyanya lirih.
Milea menggeleng. “Aku mau di sini saja, Mah.”
Nyonya Atalia menatap menantunya lama. Ada sesuatu yang berubah di matanya, bukan lagi penilaian dingin melainkan kelelahan dan penyesalan.
“Terima kasih, sudah menemani Rangga.”
Milea tersenyum tipis. “Dia suamiku, Mah.”
Masih suamiku, untuk saat ini! Ucap Milea dalam hati.
Kalimat sederhana itu membuat Nyonya Atalia terdiam. Ia duduk di sisi lain ranjang, menatap wajah putranya dengan mata berkaca-kaca.
“Sebenarnya, sejak kecil Rangga anak yang ceria. Ayahnya memang terlalu keras, kami berdua terlalu menuntut Rangga agar menjadi anak yang bisa diandalkan. Lalu setelah kematian adiknya... sikapnya mulai berubah dingin. Kami tau, dia menyalahkan kami atas kematian Radit.“
Milea menunduk, dia baru pertama kali mendengar mertuanya berbicara tentang almarhum adik iparnya. Sebab selama ini, tidak boleh ada yang mengungkit kematian Radit terutama di depan Rangga.
Nyonya Atalia menghela napas panjang. “Mama sudah tau, kalian dalam proses perceraian. Tapi kalau Rangga bangun nanti… jika ada kesempatan, Mama harap hubungan kalian bisa diperbaiki.”
Milea tak menjawab.
Ia tak berani berharap.
Hari kedua.
Dokter datang dan pergi, memeriksa respons tubuh Rangga. Namun pria itu masih tak membuka mata. Kondisinya stabil, tapi tak menunjukkan tanda-tanda sadar.
“Cedera kepalanya cukup serius,” ujar dokter. “Doa dan waktu adalah yang bisa kita lakukan sekarang.”
Waktu.
Milea benci kata itu, karena waktu selama ini justru membuat mereka semakin jauh.
Malam kembali datang.
Keluarga Rangga pulang bergantian, Milea tetap tinggal. Ia menolak pulang meski tubuhnya lelah.
Di ruang ICU itu, Milea seperti terperangkap bersama penyesalannya sendiri. Ia berbicara pada Rangga tentang hal-hal kecil. Tentang kopi kesukaan suaminya, tentang hujan yang sering ia tunggu sendirian. Tentang rumah yang terlalu besar untuk satu orang.
“Aku tahu kamu mungkin nggak dengar,” ucap Milea sambil mengelus tangan Rangga. “Tapi aku ingin jujur.”
Ia menarik napas dalam-dalam.
“Aku pernah ingin menyerah pada hubungan kita, aku hampir menandatangani surat cerai yang aku siapkan tanpa ragu.”
Suaranya bergetar. “Tapi sekarang… aku takut.”
Milea menggigit bibir, menahan tangis.
“Takut kehilanganmu sepenuhnya.”
Sunyi.
Namun tiba-tiba, jari Rangga bergerak. Sangat kecil, hampir tak terasa. Milea terdiam, jantungnya berdetak kencang.
“Rangga?” panggilnya lirih.
Ia menunduk lebih dekat, menatap wajah pria itu penuh harap. Namun tak ada reaksi lanjutan, mungkin hanya refleks. Atau mungkin harapannya saja yang terlalu besar.
Air mata Milea jatuh lagi.
“Maaf, aku terlalu egois.”
Hari ketiga.
Subuh itu Milea tertidur di kursi, kepalanya bersandar di tepi ranjang. Tangannya masih menggenggam tangan Rangga. Ia terbangun oleh suara mesin monitor yang berubah iramanya.
“Bu!” suara perawat memanggil pelan. “Pasien menunjukkan respons.”
Milea langsung bangkit.
Dokter datang cepat. Mereka memeriksa reaksi pupil Rangga, tekanan darah, dan pernapasannya.
“Tuan Rangga,” panggil dokter itu tegas. “Bisa dengar saya?”
Kelopak mata Rangga bergetar.
Sekali.
Dua kali.
Dan perlahan... terbuka.
Milea menutup mulutnya dengan tangan, air mata langsung mengalir deras.
“Rangga…” suaranya nyaris tak terdengar.
Mata pria itu menatap kosong ke langit-langit, nafasnya terdengar berat. Rangga tampak kebingungan.
“Tenang, Tuan. Anda di rumah sakit.” Ujar Dokter menjelaskan.
Rangga mengerjapkan mata, alisnya mengernyit seolah mencoba memahami. Pandangannya kemudian bergeser… dan berhenti pada Milea.
Tatapan mereka bertemu, detik itu terasa seperti selamanya. Milea menahan napas, dadanya bergetar hebat.
“Rangga,” ucapnya pelan sambil tersenyum di tengah air mata. “Aku di sini.”
Rangga menatap wanita itu lama, lalu dengan suara serak dan lemah ia bertanya. “Maaf… kamu siapa?”
Dunia Milea runtuh dalam sekejap.
skrg dah terlambat untuk bersama Milea, tapi tuh Ethan terobsesi bgt sme Milea. semoga rencana Rangga berhasil.
apa gak seharusnya Milea dikasih tau ya, takutnya nanti bisa salah paham. apa orang tua Milea dikasih tau Rangga?
malah datang kayak maling, datang dengan cara tidak baik baik
Lebih baik kamu kasih tahu Rangga deh, biar Rangga yang urus semuanya... 😌