Di balik tembok gedhe SMA Dirgantara, ada lima cowok paling kece dan berkuasa yang jadi most wanted sekaligus badboy paling disegani: ALVEGAR. Geng ini dipimpin Arazka Alditya Bhaskara, si Ketua yang mukanya ganteng parah, dingin, dan punya rahang tegas. Pokoknya dia sempurna abis! Di sebelahnya, ada Rangga Ananta Bumi, si Wakil Ketua yang sama-sama dingin dan irit ngomong, tapi pesonanya gak main-main. Terus ada Danis Putra Algifary, si ganteng yang ramah, baik hati, dan senyumnya manis banget. Jangan lupa Asean Mahardika, si playboy jago berantem yang hobinya tebar pesona. Dan yang terakhir, Miko Ardiyanto, lumayan ganteng, paling humoris, super absurd, dan kelakuannya selalu bikin pusing kepala tapi tetep jago tebar pesona.
AlVEGAR adalah cerita tentang cinta yang datang dari benci, persahabatan yang solid, dan mencari jati diri di masa SMA yang penuh gaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yunie Afifa ayu anggareni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Senyum Manis dan Map Merah Jambu
Seharian penuh, berita tentang ALVEGAR dan The Queens yang tiba-tiba "berkolaborasi" menjadi gosip panas di SMA Dirgantara. Meskipun tujuannya mulia (acara amal), semua orang tahu, ini adalah gencatan senjata yang penuh ledakan—terutama antara Arazka dan Maura.
Setelah jam sekolah usai, Maura dan Kinara sedang merapikan materi presentasi di perpustakaan. Fanila dan Yasmin sudah pulang lebih dulu, sementara Keysha ada urusan ekstrakurikuler.
"Gila, Kinara, gue gak nyangka Rangga beneran serius mau kerja sama," kata Maura sambil menyortir dokumen.
Kinara, yang sedang menyusun map merah jambu itu, tersenyum polos. "Bagus dong, Maura. Nanti acaranya bisa lebih sukses kalau ada bantuan Kak Rangga sama Kak Arazka."
"Bantuan atau intervensi, Kinara? Mereka itu geng penguasa. Gue yakin Arazka pasti punya niat busuk," gumam Maura.
Saat mereka sedang fokus dengan kertas-kertas, Kinara tiba-tiba menjerit tertahan.
"Aduh!"
Salah satu tumpukan buku yang dibawanya jatuh ke lantai, dan di antara buku-buku itu, ada sebuah bingkai foto kecil yang juga ikut jatuh. Kaca bingkai itu pecah.
Maura langsung panik. "Ya ampun, Kinara! Itu foto apa?"
Kinara terlihat sangat sedih, matanya berkaca-kaca. "Ini foto graduation TK gue, Maura. Gue sayang banget sama foto ini. Gimana nih?"
Tiba-tiba, sebuah suara lembut terdengar dari belakang rak buku.
"Sini, biar gue bantu."
Danis Putra Algifary muncul di balik rak, membawa beberapa buku tebal. Wajahnya yang ganteng dan ramah langsung menyunggingkan senyum manis yang menjadi ciri khasnya. Danis berjongkok di samping Kinara, sama sekali tidak menunjukkan jijik pada pecahan kaca.
"Hati-hati, pecahan kacanya kecil," kata Danis lembut.
"Kak Danis..." Kinara menatapnya dengan wajah memerah karena malu dan sedih.
"Gak usah panik, Kinara. Fotonya gak apa-apa, cuma bingkainya aja," ujar Danis sambil mengambil bingkai yang pecah. "Nanti gue minta tolong tukang frame langganan gue buat ganti kacanya. Simple kok."
"Eh, gak usah, Kak. Gak enak ngerepotin," potong Kinara, merasa tidak nyaman.
Danis tersenyum lagi, senyum yang membuat Kinara hampir lupa cara bernapas. "Gak ngerepotin. Lagipula, ini kan tugas gentleman nolongin cewek yang lagi kesusahan, apalagi loe kelihatan panik banget."
Maura, yang berdiri di sana menyaksikan interaksi itu, hanya bisa tercengang. Danis yang ramah memang terkenal, tapi sikapnya ke Kinara terasa begitu tulus dan hati-hati. Ia sama sekali tidak menunjukkan aura badboy seperti yang biasa ditunjukkan ALVEGAR.
"Mulai sekarang, kalau bawa buku yang berat, jangan sendiri ya," kata Danis sambil mengembalikan foto graduation TK Kinara ke tangan gadis itu. "Ini gue bawa, biar aman."
Kinara menerima foto itu dengan mata berbinar. "Makasih banyak, Kak Danis. Kakak baik banget."
"Sama-sama. Gue duluan ya," pamit Danis, lalu ia menoleh ke Maura. "Maura, bilangin Arazka, gue gak ikut rapat nanti malam. Ada urusan. Rangga yang akan handle."
"Oke," jawab Maura singkat.
Setelah Danis pergi, Maura menoleh ke Kinara yang masih memegang foto sambil tersenyum malu-malu.
"Loe kenapa, Kin? Mukanya merah kayak kepiting rebus!" goda Maura.
"Gak tahu, Maura. Kak Danis itu... manis banget senyumnya," bisik Kinara, benar-benar polos.
Maura tersenyum. Setidaknya, dari kerja sama yang dipaksakan ini, ada satu pasang yang mungkin bisa berakhir manis tanpa drama.
Malam harinya, di sebuah kafe premium di pusat kota, Arazka dan Maura bertemu. Ini adalah pertemuan resmi pertama mereka sebagai "mitra kerja", didampingi Rangga dan dua anggota tim Maura yang lain.
"Ini data target donatur yang tim gue kumpulkan. Lo bisa lihat sendiri, ini jauh lebih terstruktur daripada daftar loe," kata Arazka, melempar map berisi data ke meja di depan Maura. Wajahnya tetap dingin, profesional, dan menuntut.
Maura menatap sinis map itu. "Gue gak minta loe remehin kerja tim gue. Kita cuma butuh koordinasi, bukan kompetisi."
"Ini Dirgantara, Maura. Semuanya kompetisi. Dan gue gak pernah suka kalah," balas Arazka, tatapannya menantang.
Rangga, yang duduk di sebelah Arazka, mencoba menengahi. "Maura, please. Kita cuma mau acara ini sukses total. Data Arazka bagus, loe punya visi acaranya. Kombinasinya kuat."
"Oke. Fine," kata Maura, mengalah. "Gue terima data loe. Tapi bagian lapangan dan publikasi, gue yang atur. Loe cuma back up dana."
"Gak bisa. Publikasi harus lewat jalur ALVEGAR. Kita punya influence yang lebih besar," potong Arazka cepat. "Dan gue yang akan jadi perwakilan utama acara ini. Loe di samping gue."
Maura terkejut. "Apa?! Gak bisa! Ini ide gue!"
"Ini nama ALVEGAR, Maura. Kalau loe mau sukses total, loe harus terima brand gue di sana. Kita akan tampil berdua. Ketua ALVEGAR dan The Queen," ujar Arazka, seringai tipis muncul di sudut bibirnya—seringai yang sangat ganteng dan sangat menjengkelkan.
"Gue gak mau! Itu sama aja gue ngakuin loe lebih hebat!" tolak Maura keras.
"Anggap aja loe dapet package lengkap: dana, influence, dan pasangan yang gak akan bikin loe malu di depan umum," goda Arazka, sengaja menekankan kata 'pasangan'.
Wajah Maura memerah hebat. Jantungnya berdebar, bukan karena benci murni, tapi karena ucapan Arazka yang selalu berhasil membuatnya salah tingkah.
"Loe... banci promosi!" desis Maura.
Arazka tertawa pelan. "Loe cewek paling pintar di sekolah. Gue gak mungkin nyuruh loe rugi. Terima atau gue tarik semua support ALVEGAR sekarang juga."
Maura memejamkan mata, kesal luar biasa. Dia tahu, Arazka tidak main-main. Untuk acara amal ini, dia harus mengalahkan egonya.
"Oke, Arazka. Gue terima," ucap Maura akhirnya, menatap Arazka dengan tatapan yang penuh janji dendam. "Tapi jangan harap loe bisa ngatur gue di atas panggung. Kita cuma partner kerja!"
"Terserah loe bilang apa. Yang jelas, kita akan tampil berdua," balas Arazka, puas. Ia mengambil kunci mobilnya dan berdiri. "Rangga, loe urus detailnya sama Maura. Gue cabut duluan."
Arazka meninggalkan Maura dengan wajah jengkel, dan Rangga dengan ekspresi datarnya yang biasa. Maura menatap Rangga.
"Loe gak bosen ya, jadi babysitter Ketua loe yang sombong itu?" tanya Maura.
Rangga hanya mengangkat bahu. "Dia Ketua. Dan dia gak salah. Kerjasama ini emang harusnya begini. Loe dan dia itu magnet. Tinggal tunggu waktu aja kapan kalian saling tarik."
Maura menggeleng. "Gak akan pernah!"
Namun, di sudut hatinya, ia merasa sedikit terintimidasi. Arazka memang menyebalkan, tapi setiap interaksi dengannya terasa seperti sebuah tantangan yang sulit ditolak.
TO BE CONTINUED