*
"Tidak ada asap jika tidak ada api."
Elena Putri Angelica, gadis biasa yang ingin sekali memberi keadilan bagi Bundanya. Cacian, hinaan, makian dari semua orang terhadap Sang Bunda akan ia lemparkan pada orang yang pantas mendapatkannya.
"Aku tidak seperti Bunda yang bermurah hati memaafkan dia. Aku bukan orang baik." Tegas Elena.
"Katakan, aku Villain!"
=-=-=-=-=
Jangan lupa LIKE, COMMENT, dan VOTE yaaa Gengss...
Love You~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amha Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Villain Chapter 4
*
Hari mulai semakin gelap, Elena bersama para rekan kerjanya sudah tiba di Hotel tempat acara ulangtahun itu berlangsung. Mereka semua sangat di sibukkan dengan pekerjaan masing-masing.
"Lihat, para tamu itu cantik juga ganteng banget yah." Puji Nia antusias melihat pemandangan di depan mata. "Jadi mengiri aku, ingin sekali jadi secantik mereka."
"Mba Nia sudah cantik kok." Balas Elena membuat Nia hampir melayang saat di puji cantik "Cuman kurang duit saja." Lanjut Elena disertai kekehannya.
Oh Tuhan, Nia sudah hampir melayang mendapat pujian tapi seketika di hempaskan begitu saja "Jahat sekali mulutmu, tapi memang fakta sih." Ucapnya menggerutu sekaligus menyayangkan nasibnya "Bagaimana caranya aku cepat kaya?"
"Ngepet aja." Spontan Elena dan langsung mendapat tampolan dari Nia.
"Astaghfirullah Elena, istighfar! Sepertinya salah besar aku curhat denganmu." Kesal Nia tapi di balas kekehan kecil dari Elena "Daripada ngepet, mending ku nikahi saja duda kaya." Lanjutnya dengan santai.
"Aku support Mba Nia seratus persen, jangan lupa bagi dua." Balas canda Elena menunjukkan kedua jarinya sambil menaik turunkan satu alisnya.
"Hahaaaa beres deh." Tawa Nia dengan puas.
"Sudah, sana lanjutkan tugas Mba. Nanti Bos lihat kita berdua kita kena omel lagi." Elena menyelesaikan obrolannya, dia tidak ingin terkena masalah tentunya.
"Iya bawel." Nia pun pergi untuk melanjutkan membereskan di tempat lain, sedangkan Elena menyajikan beberapa makanan di atas meja tamu.
"Elena?"
Seseorang mendekati Elena sembari menepuk pundaknya dan juga menatapnya untuk memastikan apakah memang Elena atau bukan "Ternyata beneran kamu, aku pikir salah orang tadi."
"Satya? Kamu... Disini?" Tanya Elena terkejut dan penuh kebingungan. Dia sama sekali tidak menyangka jika akan bertemu sahabatnya disini, begitupun dengan Satya yang sama terkejutnya.
"Papah aku ada kerjasama bisnis dengan yang adain acara ini, makanya aku juga di undang kesini." Jelas Satya apa adanya.
"Kamu kenal dengan pemilik acara ini?" Tanya Elena memastikan.
"Tidak. Bahkan aku tidak mengenal siapa yang ulang tahun. Yang ku tahu aku diminta papah memenuhi undangan rekan bisnisnya ini, meski aku sendiri tidak pernah melihat orangnya." Jelasnya lagi tanpa menutupi apapun dari Elena.
Elena terdiam, raganya mungkin di depan Satya namun pikirannya jauh entah kemana.
"Dan aku terkejut ternyata bisa ketemu kamu disini." Ucap Satya berhenti sejenak "Mungkin jodoh." Lanjutnya lirih juga tersenyum.
"Kamu mengatakan sesuatu?" Elena tak mendengarnya tadi, ia sedang melamun.
"Bukan apa-apa." Jawabnya cepat agar Elena tak curiga.
Elena hanya ber-oh ria, dia tidak ingin menanggapinya.
"Satya, kamu mamah cariin ternyata disini." Seorang wanita paruh baya menghampiri mereka membuat Satya dan Elena menoleh ke arahnya "Loh, Elena? Kamu disini?" Ucapnya terkejut baru menyadari kehadiran Elena.
"Salam Tante Sofia, aku kerja disini" Balasnya lalu menyalami mamah dari Satya yang bernama Sofia.
Sofia tersenyum, sejujurnya ia kagum dengan kegigihan Elena dan ia tahu jika Elena sosok yang tangguh "Kamu sudah cantik terus pekerja keras, orangtuamu pasti bangga memiliki anak sepertimu."
"Jangan terus memujiku Tan, nanti aku bisa melayang." Elena terkekeh tersipu malu dan membuat Sofia juga ikut terkekeh.
Elena memang kenal dekat dengan keluarga Satya. Ia tahu jika Satya bukanlah orang biasa sepertinya, tapi Satya merupakan anak orang berada. Awalnya dia tidak ingin berteman dengannya, namun Satya yang terus mendekati Elena hingga akhirnya mereka bisa bersahabat. Elena juga cukup senang mengenal Keluarga Satya yang terbilang sangat baik terhadapnya, mereka tidak pernah memandang status sosial, bahkan mereka tahu jika Elena bagaimana kondisi Keluarga Alana. Namun tentunya mereka tidak tahu siapa sosok kejam yang tega meninggalkan Alana bersama ibunya saja.
"Satya, Tante, aku kesana dulu. Aku harus membantu yang lain." Ijin Elena karena ia merasa tidak enak hati jika mengobrol terlalu dan meninggalkan pekerjaannya.
Satya hanya mengangguk, sedangkan Sofia malah mengatakan "Seharusnya kamu kerja di restaurant Tante, jadi kan kita punya banyak waktu buat ngobrol."
Elena tersenyum, hatinya sangat tersentuh mendengar ketulusan ibu dari sahabatnya "Aku tidak ingin merepotkan orang lain selagi aku bisa usaha sendiri dan aku juga tidak ingin bergantung pada orang lain. Tante mengerti kan maksudku?"
"Tante mengerti, pemikiranmu sangat dewasa. Tante yakin suatu saat kamu bisa jadi orang sukses dengan usahamu sendiri." Sofia tersenyum, dia makin kagum. Bahkan bukan hanya dia tapi Satya yang terus menatap Elena kagum tanpa berkedip.
"Amin. Terimakasih do'anya Tan. Tante juga semoga makin sukses kedepannya." Elena membalasnya tulus "Kalau begitu, El pamit dulu." Lanjutnya membungkukkan kepala sebagai tanda hormat, lalu melangkahkan kakinya pergi.
Kepergian Elena tak mampu mengalihkan pandangan Satya kepadanya. Dia terpukau, pantas saja dia tidak berpaling dari Elena sejak beberapa tahun ini. Elena adalah tipe idealnya.
"Kamu menyukainya?" Tanya Sofia dengan senyuman menggoda.
"Hah t-tidak." Elak Satya menutupi rasa saltingnya "Kita... Kita hanya sahabat, tidak lebih."
"Yakin nih sahabat aja?" Godanya terus menerus
"Maahhh..." Satya mendengus kesal, dirinya tak suka di goda. Apalagi saat ini telinganya sudah memerah nahan salting. "Satya mau ke toilet dulu." Lanjutnya langsung pergi sebelum dia tambah salting.
Sofia bukannya berhenti, justru ia tertawa kecil melihat tingkah anaknya yang memiliki gengsi tingkat Dewa.
"Ekhem... Baiklah semuanya, Assalamu'alaikum Wr. Wb." Pembawa acara itu membuka suaranya lewat mic yang tersedia, pertanda akan segera di mulainya acara perayaan ulang tahun.
"Wa'alaikumsalam Wr. Wb." Sahut semua orang disana.
"Pertama saya sebagai pembawa acara ini mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya pada semua undangan yang menyempatkan untuk hadir." Lanjut pembawa acara dengan mengucapkan berbagai rentetan kalimat sambutan.
"Sebelum memulai acara inti, bagaimana jika kita mendengarkan sambutan hangat dari pemilik acara ini." Ucap MC menatap seseorang yang sangat penting disana "Tuan Faizal Pratama, berkenan kah anda maju ke atas panggung untuk memberikan sepatah dua kata disini?"
Faizal Pratama, Pria paruh baya dengan postur tinggi, tegap dan penuh wibawa di usianya yang menginjak empat puluh tahun namun masih terlihat begitu gagahnya. Tuan Faizal melangkah maju ke atas panggung dengan diringi tepukan hangat dari para tamu undangan.
"Selamat malam semuanya." Ucapnya memulai membuka mulut.
"Malam."
Semua yang disana seketika menatap Tuan Faizal yang bersiap membuat pidato. Bukan hanya tamu undangan, melainkan para pelayan kini sedang berdiri berjejer rapi paling belakang. Tentunya diantara pelayan itu ada Elena.
"Shuutt... Dia Tuan CEO yang kemarin traktir pegawainya di cafe kita kan?" Bisik salah satu pelayan kepada pelayan lainnya.
Elena mendengar bisikan itu, namun dia tak mempedulikannya karena matanya ingin memfokuskan dia pada satu titik di depan. Tatapannya yang datar namun penuh arti, dia bahkan seperti merasakan sesuatu di hatinya.
"Saya tidak pandai berpidato, saya disini hanya ingin mengucapkan terimakasih atas kehadiran kalian semua. Saya sangat tersanjung." Ucap Faizal dengan tatapan memancarkan seperti sosok yang lembut.
"Selain itu, saya tentu ingin berterimakasih pada istri saya tercinya Shella Zhamora. Berkat dia, saya bisa menjadi sesukses ini. Mungkin kesuksesan saya adalah hasil dari ketulusan do'anya. Terimakasih istriku, aku mencintaimu." Lanjutnya menampilkan senyuman manis kepada istrinya.
Shella Zhamora sang istri dari Faizal Pratama tersenyum manis menanggapi pernyataan cinta suaminya. Wanita dengan blasteran antara Indonesia dengan Inggris. Dia wanita karir, model terkenal yang sudah banyak membintangi iklan produk ternama.
Hal itu tak luput dari pandangan semua tamu undangan. Mereka memuji Tuan Faizal yang sangat menyayangi istrinya di gempuran banyaknya kasus perselingkuhan. Tak hanya tamu, tapi beberapa wartawan yang hadir disana langsung meliput kemesraan mereka berdua.
"Istri saya begitu hebat, dia bahkan mampu memberikan seorang putri cantik yang sangat mirip denganku. Dialah yang berulangtahun hari ini, Putri kesayanganku... Keyra May Natasha." Lanjut Tuan Faizal tersenyum menatap putri kesayangannya.
Shella tersenyum, dia menggandeng putrinya yang bernama Keyra untuk menaiki panggung bersama. Sontak saja semua wartawan meliputnya, bahkan mereka yang ada disana dibuat terpukau dengan kecantikan Nona muda Keyra May Natasha.
"Selamat ulang tahun yang ke sembilan belas, putri kesayangan papah." Tuan Faizal tersenyum, ia memeluk Keyra dengan penuh kasih sayang dan kelembutan, begitupun dengan Shella yang ikut memeluk putrinya.
"Terimakasih pah, mah..." Balas Keyra tersenyum sangat manis.
Tuan Faizal dan Nyonya Shella menuntun Keyra menuju kue ulang tahun yang sudah disediakan. Mereka semua mulai bernyanyi Happy Birthday untuk Keyra.
Keyra memejamkan mata, dia memanjatkan do'a dalam hati 'Tuhan, tetaplah seperti ini selamanya.' Batinnya penuh harap lalu meniup lilin dengan angka sembilan belas dengan sekali tiupan.
Semua bersorak ria, para tamu undangan merasakan kebahagiaan mereka, para wartawan mulai mengabadikan momen kehangatan mereka, sungguh mereka terlihat keluarga yang sangat harmonis.
Pujian demi pujian mereka lontarkan pada keluarga Tuan Faizal, banyak yang memuji bagaimana kebaikan Tuan Faizal, dia adalah sosok suami serta atas yang sangat baik dan patut di contoh.
Namun tak semuanya bisa merasakan hal itu. Ada satu sosok yang sejak tadi menatap mereka dengan tatapan tak dapat di artikan. Telinganya serasa terbakar mendengar pujiannya, tak terasa sebuah bulir bening lolos begitu saja menghujani pipinya, matanya memerah, dadanya merasa sesak, hatinya panas, jantungnya berdetak lebih cepat seakan ingin keluar, bahkan tangannya spontan mengepal. Ia tidak ingin seperti ini, tapi jujur ia tidak bisa menahannya.
.
~Bersambung~
*-*-*-*-*-*-*-*-*-*
Jangan lupa LIKE, COMMENT dan VOTE yaaa Gengsss....
Love you~