Wasiat dua kakek yang bersahabat sejak lama menetapkan Adam dan Hawa sebagai pasangan di masa depan. Namun ketika waktu itu tiba, Adam justru menolak perjodohan tersebut. Ia merasa belum siap dan memilih fokus pada hidup serta pekerjaannya di Australia. Demi menghindari perjodohan itu, Adam mendorong adiknya Harun untuk menggantikan posisinya menikahi Hawa. Keputusan itu ternyata menjadi titik awal munculnya berbagai masalah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarah Mai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pernikahan siri Harun dan Raisa yang terlalu cepat
Setelah seharian penuh tenggelam dalam rutinitas pekerjaan, Harun tanpa menunda waktu langsung melangkahkan kaki menuju galeri busana milik Raisa. Tempat itu selalu menjadi pelarian favoritnya, karena di sanalah hatinya merasa benar-benar hidup dan berbunga-bunga.
Dari balik kaca etalase, Raisa yang sedang sibuk memberi arahan pada asistennya langsung menoleh. Tatapannya membeku sesaat ketika menangkap sosok Harun berdiri di ambang pintu. Tanpa memedulikan siapa pun di sekelilingnya, Raisa berlari kecil menghampiri pria itu lalu memeluknya dengan sangat erat, seakan takut Harun akan menghilang jika dilepaskan. Pelukan itu penuh rindu, penuh emosi yang selama ini ia pendam.
Raisa adalah perempuan cantik kariernya cukup bagus yaitu sebagai model sekaligus perancang busana ternama membuat namanya dikenal luas di kalangan sosialita. Dari segi kemapanan, gaya hidup, dan pencapaian, Raisa berdiri jauh di atas Hawa istri sah Harun yang hanyalah seorang staf perawat biasa di sebuah rumah sakit swasta di Jakarta. Perbandingan itu kerap menjadi luka sekaligus pembenaran di hati Raisa.
“Sayang, aku kangen banget, tahu…” ucapnya manja, mempererat pelukan tanpa niat melepaskan.
“Sa… malu, dilihatin orang,” bisik Harun pelan di telinga Raisa, Dengan berat hati, ia melonggarkan pelukan Raisa, lalu menggenggam tangan wanita itu dan mengajaknya masuk ke ruangan pribadi di bagian belakang galeri. Pintu tertutup, menyisakan keheningan yang dipenuhi napas rindu dan tatapan sarat makna.
Belum sempat Harun duduk, Raisa kembali mendekat. Kali ini suaranya terdengar lebih mendesak, lebih emosional.
“Pokoknya malam ini aku mau nikah siri sama kamu. Aku nggak sanggup nunggu kamu cerai sama Hawa,” rengeknya, seperti anak kecil yang takut kehilangan mainan paling berharga.
“Tapi…” Harun terdiam, kalimatnya menggantung bersama kebimbangannya.
“Enggak ada kata tapi!” potong Raisa tegas. Tatapannya tajam, seolah tak memberi ruang untuk penolakan.
Harun menghela napas panjang. Pikirannya berkecamuk, logika dan perasaan saling bertabrakan. Raisa menyandarkan pipinya di dada Harun, suaranya kini lebih lembut namun menusuk.
“Hasrat kamu pasti sudah nggak karuan, kan? Malam pertama itu harusnya buat aku… bukan buat Hawa.”
Kalimat itu seperti pemantik. Harun menelan ludah, jantungnya berdetak lebih cepat.
“Benar juga…” gumamnya lirih. “Takutnya kalau nggak tersalurkan, aku malah tergoda sama Hawa…”
Godaan itu terlalu kuat. Ditambah lagi, Harun adalah sosok yang mudah mengambil keputusan tanpa pertimbangan matang. Hingga pada akhirnya, pria itu menyerah pada kebucinan yang selama ini diam-diam ia pelihara, menutup mata pada konsekuensi yang kelak harus ia tanggung.
“Baiklah, sayang…” ucapnya pasrah.
Namun sesaat kemudian, wajah Harun berubah serius.
“Tapi ini harus jadi rahasia kita berdua. Keluargaku nggak boleh tahu.”
Raisa tersenyum manis dan mengangguk pelan. “Ehm…”
Lalu alisnya berkerut, seolah baru teringat sesuatu. “Tapi… gimana kalau Mas Adam tahu?”
“Kalau dia, nggak masalah,” jawab Harun singkat, seakan yakin semuanya bisa ia kendalikan. Padahal Adam menyatakan Harun sebaiknya nikah siri setelah perceraiannya dengan Hawa sudah dekat.
Mendengar itu, wajah Raisa langsung berbinar. Setelah berhari-hari menangis pilu akibat pernikahan Harun dengan Hawa, akhirnya senyum itu kembali merekah. Ada kemenangan yang terasa begitu nyata di dadanya.
Dalam hati, Raisa tersenyum penuh tekad.
Aku harus bisa hamil dari anak Harun, batinnya. Biar posisiku nggak pernah tergantikan.
*
Malam semakin larut, sunyi kian menebal seiring keputusan nekat yang akhirnya diambil Harun dan Raisa. Di sebuah ruangan sederhana namun tertutup rapat dari sorot dunia luar, keduanya melangsungkan pernikahan siri. Tak ada kemeriahan, tak ada keluarga besar yang hadir. Hanya seorang penghulu, dua saksi, dan satu sosok yang berdiri dengan wajah senang, Faisal, kakak kandung Raisa sekaligus sahabat lama Harun yang cukup mendukung hubungan keduanya.
Akad diucapkan lirih namun tegas. Dalam hitungan menit, status Raisa berubah. Senyum bahagia mengembang di wajahnya, seolah semua air mata dan penantian panjang akhirnya terbayar lunas malam itu. Harun sendiri mencoba menenangkan hati yang bergejolak, antara lega, bersalah, dan dorongan perasaan yang sulit ia jelaskan.
Tak lama setelah semuanya selesai, Harun meraih ponselnya. Ia menatap layar sejenak, lalu mengetik sebuah pesan singkat.
“Aku cukup sibuk. Kemungkinan tiga hari tidak pulang.” Pesan itu terkirim kepada Hawa.
Di tempat lain, Hawa membaca pesan tersebut dengan dada yang terasa sesak. Tak ada kemarahan, tak ada pertanyaan. Hanya rasa pasrah yang semakin menguat. Ia tersenyum tipis, senyum seorang istri yang belajar menerima bahwa pernikahan yang dijalaninya lebih banyak menghadirkan kesepian daripada kebahagiaan. Ia sedih, sangat sedih, namun tak memiliki cukup kekuatan untuk menuntut atau melawan keadaan.
Sementara itu, Harun dan Raisa meninggalkan tempat akad menuju apartemen mewah milik Raisa. Kota Jakarta terlihat berkilau dari balik jendela mobil, seakan ikut merayakan kebahagiaan mereka berdua.
“Pasti kamu sudah nggak sabar, kan?” goda Raisa sambil tersenyum penuh arti.
Harun tertawa kecil, menggeleng pelan malu-malu “Kamu ini ada-ada saja.”
Sesampainya di apartemen, suasana hangat langsung menyelimuti. Tawa ringan, sentuhan genit dan perasaan yang selama ini terpendam akhirnya menemukan ruang untuk bernafas. Harun mengangkat tubuh Raisa dengan penuh semangat, membaringkannya perlahan di atas ranjang empuk yang menghadap jendela kota. Malam itu menjadi saksi bagaimana dua hati yang merasa saling memiliki akhirnya melebur dalam janji dan hasrat yang tak lagi terbendung.
Di sisi lain, Hawa berdiri sendirian di balkon rumah Adam. Angin malam membelai wajah dan rambutnya, sementara matanya menatap langit yang dipenuhi bintang. Cahaya itu indah, namun justru membuat hatinya semakin hampa. Setelah cukup lama larut dalam pikirannya sendiri, Hawa kembali ke kamar, merebahkan tubuh di atas ranjang pengantin yang dingin ranjang yang seharusnya menjadi tempat berbagi kasih, bukan menunggu dalam sepi.
Malam itu, Harun larut dalam kebahagiaan bersama Raisa. Segala rindu dan perasaan yang selama ini tertahan akhirnya tersalurkan. Mereka berdua memang pernah sepakat, bahwa pernikahan resmi akan dilakukan setelah Adam menikah. Namun takdir rupanya memiliki alur yang berbeda.
Malam pertama Harun justru berlabuh pada Raisa. Adegan penuh gairah itu terbalut cinta dan kasih sayang dalam hubungan suami istri. Harun hanyut dalam godaan serta rayuan maut Raisa, hingga membuatnya melupakan segalanya, termasuk pernikahan yang baru saja ia jalani bersama Hawa.
Sesekali Hawa tersentak dari tidurnya lalu meraih ponsel di samping bantal. Layar yang gelap menampilkan waktu yang sudah terlalu larut, membuat dadanya terasa semakin sesak. Kekhawatirannya yang tulus pada Harun kian menguat.
“Jam segini… apa dia masih bekerja?” gumam Hawa lirih, begitu polos, tak pernah menyadari bahwa sang suami justru tengah sibuk menjalani malam pertama bersama wanita lain..
Ibu jarinya sempat melayang di atas nama Harun, ingin sekali menekan tombol panggil, sekadar memastikan sang suami baik-baik saja. Namun niat itu urung. Ada perasaan canggung sekaligus takut dianggap berlebihan, bahkan takut terlihat seperti wanita yang terlalu menggantungkan diri. Akhirnya, Hawa meletakkan kembali ponselnya, memeluk dirinya sendiri, dan membiarkan kegelisahan itu menemani sisa malamnya yang sunyi.