NovelToon NovelToon
Fajar Di Gerbang Hijau

Fajar Di Gerbang Hijau

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Mengubah Takdir / Identitas Tersembunyi / Keluarga
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Herwanti

Seorang wanita yang hidup mewah pada masa 2030 dengan berbagai teknologi pintar berkembang pesat. Wanita itu adalah Ria yang dijuluki seoang pembisnis dan desainer terkenal. Banyak orang iri dengan dirinya. Di saat mendapatka penghargaan desainer terbaik terjadi sebuah kecelakaan menyebabka Ria tewas ditempat. Tapi saat dia bangun dia melihat lingkungan berbeda. Tepat di depan ada sebuah kalender lama pada tahun 1997 bulan agustus. Ria yang tidak percaya segera keluar dari ruangannya melihat pemandangan yang asing dan belum berkembang berbeda dengan dia lahir sebelumnya. Ria binggung menatap ke segala arah hingga datang ibunya bernama Ratri. Dia memanggil nama Valeria kenapa kamu diam saja sini bantu ibu memasak. Ria menoleh dengan wajah binggung hingga Ratri datang memukul kepala Valaria. Ria merasakan sakit tidak percaya kalau dia merasa sakit. Valaria bertanya ini dimana. Ratri binggung membawa Valaria ke dalam aku ibumu. Kamu ini lupa atau hanya tidak mau membantu saja. penasaran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Fajar digerbang Hijau Bab 4

Valaria berjalan menapaki jalan setapak yang membelah area persawahan dan ladang di sebelah barat Desa Panda. Matahari telah meninggi, melemparkan bayangan pendek di bawah kaki Valaria, menandakan pagi telah beranjak menuju siang. Udara di sekitarnya terasa hangat, membawa serta aroma khas pedesaan, campuran debu kering dari jalanan, wangi tajam jerami yang baru dipotong, dan bau tanah basah yang baru saja dijamah embun pagi.

Ini bukan kali pertama Valaria datang ke ladang ini. Sejak ‘kecelakaan’ yang mengubah kesadarannya, kalau ladang yang ditumbuhu tanaman ini bisa berkembang untuk mendapatkan uang. “Tapi bagaimana caranya ya,”batin Valaria yang sedang berpikir keras.

Di hadapannya, ladang yang ditanami singkong dan kacang panjang milik orang tuanya terhampar. Pemandangan itu memancarkan rasa damai yang mendalam sekaligus sedikit kepuasan. Tanaman singkong berdiri tegak dengan daun-daun lebar yang rimbun, memberikan kanopi hijau di atas tanah. Di sebelahnya, kacang panjang melilit pada tiang-tiang penopang, buahnya yang panjang menggantung elegan seperti untaian permata hijau. Segalanya tampak subur.

Valaria berhenti di tengah petak, membiarkan keheningan ladang menelan bunyi napasnya sendiri. Ia menutup mata sejenak, merasakan energi tanah di bawah telapak kakinya yang tertutup sepatu kain.

“Subur. Tapi seberapa subur? Dan untuk berapa lama?” bisiknya dalam hati. Pertanyaan-pertanyaan teknis itu, pertanyaan seorang wanita remaja, kini selalu menyertai setiap tindakannya sebagai seorang petani muda. Ini adalah takdir ganda yang ia bawa, tangan yang kurus hanya memiliki sedikit tenaga, namun pikiran yang dipenuhi diagram fase tanah dan siklus nutrisi.

Ia berlutut di antara dua baris singkong, mengabaikan panasnya tanah yang mulai menyengat. Dengan hati-hati, ia mengambil segenggam tanah di antara jari-jarinya.

Sentuhan itu sentuhan langsung kulit ke bumi selalu menjadi katalis. Begitu butiran tanah itu menyentuh telapak tangannya, ingatan masa lalu yang tersembunyi jauh di dalam inti jiwanya seakan menyala. Ini bukan lagi Valaria, gadis desa biasa; ini adalah resonansi dari dirinya yang lama, seorang pakar yang membaca bumi seperti buku terbuka.

Ia memejamkan mata erat-erat, memproses informasi yang mengalir tanpa henti. Ini bukan sekadar sentuhan, melainkan sesi diagnostik yang mendalam, menggunakan pengetahuan yang telah ia kumpulkan dari berbagai buku pelajaran yang ia baca dikehidupan sebelumnya.

"Struktur tanah," ia bergumam, matanya terbuka, kini memancarkan kilau analitis yang tajam, sangat kontras dengan wajahnya yang lugu. Ia melihat lebih dari sekadar tanah; ia melihat matriks geologi.

Diagnostik Struktur Tanah: Ilmu dalam Genggaman

Valaria meremas segenggam tanah itu, menciumnya, dan bahkan merasakan teksturnya dengan ibu jari. Informasi yang ia butuhkan tentang jenis tanah yang baik mulai terungkap, setiap detail adalah konfirmasi dari memori yang tak terhapuskan.

Warna Cokelat Kehitaman (The Humus Mark):

Valaria mengamati warna tanah. Itu adalah cokelat kehitaman yang kaya dan gelap. “Ini seringkali menjadi tanda tanah yang kaya akan bahan organik (humus). Humus adalah jantung kesuburan. Ia meningkatkan retensi air dan ketersediaan nutrisi,” pikirnya, rasa lega merayap di hatinya. Tanah yang gelap berarti kehidupan. Orang tuanya telah bekerja dengan baik.

Tekstur Lempung (Loam The Ideal Balance):

Ia menggosok tanah di antara jari telunjuk dan ibu jarinya. Rasanya sedikit kasar, sedikit licin, tetapi juga remah. “Lempung (loam). Campuran seimbang antara pasir, debu (silt), dan liat (clay).” Ini adalah tekstur yang ideal. Ia merasakan gumpalan yang relatif utuh saat ia membuka tangannya, tetapi dengan sedikit tekanan, gumpalan itu mudah hancur kembali saat ditekan sedikit. “Keseimbangan sempurna: mampu menahan air dan nutrisi, tetapi drainase dan aerasi juga mencukupi.” Ia merasakan kekaguman yang mendalam pada keseimbangan alam ini, bahkan setelah ribuan kali menganalisisnya di kehidupan lamanya.

Kondisi Fisik (Gembur dan Remah):

Dengan sekop kecil, ia menggali sedikit lebih dalam. Tanah di lapisan bawah terasa gembur dan remah, tidak padat atau lengket seperti tanah liat murni. Ini menunjukkan bahwa tanah tersebut mudah ditembus oleh akar singkong yang mencari kedalaman dan memungkinkan akar kacang panjang bernapas.

Kandungan Nutrisi dan pH (The Chemical Signature):

Meskipun tidak memiliki peralatan lab, naluri Valaria memberitahunya tentang kandungan kimia tanah. “Kandungan nutrisi cukup,” Valaria mengangguk puas. Nitrogen, Fosfor, Kalium unsur hara makro yang esensial pasti tersedia dalam jumlah yang memadai, didukung oleh kandungan humus yang tinggi.

Ia juga memperkirakan tingkat pH. “pH netral. Mungkin antara 6.0 hingga 7.5.” Tingkat ini memastikan nutrisi dapat diserap secara optimal oleh tanaman. Tidak terlalu asam, tidak terlalu basa.

Hidrologi dan Aerasi (Air and Airflow):

Valaria mengingat hujan terakhir. Air tidak menggenang. “Drainase baik,” gumamnya. Ini krusial agar akar tidak busuk karena kekurangan oksigen. Aerasi baik juga tercermin dari tekstur gembur tanah memiliki pori-pori yang cukup untuk sirkulasi udara.

Indikator Kehidupan (Biological Health):

Saat ia menggali, ia melihat sesuatu yang membuatnya tersenyum tulus sebuah senyum yang murni Valaria saat ini, bukan sang ilmuwan. Banyak cacing tanah. “Cacing tanah adalah indikator kesuburan yang paling jujur. Mereka menggemburkan, meningkatkan aerasi, dan mengurai bahan organik.” Kehadiran mikroorganisme yang tak terlihat, bakteri dan jamur, yang berperan dalam siklus nutrisi, juga terkonfirmasi melalui kesehatan visual tanaman.

Valaria bangkit, membersihkan sisa tanah dari tangannya. Ia berdiri memandangi ladang itu dengan emosi yang bergejolak.

“Dulu, aku membaca data ini melalui monitor dan buku, melalui spektrometer. Sekarang, aku membacanya melalui sentuhan, melalui bau, melalui suara alam yang tenang,” batinnya. Perasaan rindu akan kehidupan anak cerdas yang serba canggih berbenturan dengan janji tulus yang ia buat pada kehidupan barunya.

"Aku punya semua pengetahuan itu, Valaria. Ilmu untuk mengubah padang tandus menjadi surga, untuk memberi makan ribuan orang. Tapi... aku hanya perlu memberi makan tiga orang," ia bergumam, suaranya pelan dan penuh ironi.

Matanya beralih ke tanaman singkong yang ditanam dengan susah payah oleh Ayah dan Ibunya. Kehidupan mereka sederhana. Mereka tidak tahu tentang pH, Loam, atau Humus. Mereka hanya tahu kerja keras dan cinta pada tanah.

“Tidak, ini bukan hanya tentang Ayah dan Ibu. Ini adalah tanggung jawabku untuk menjaga warisan ini tetap hidup. Tanah ini baik, karena mereka merawatnya dengan baik. Tugas baruku adalah membuat yang baik menjadi lebih baik. Memastikan setiap tetes keringat mereka tidak sia-sia.”

Rasa beban karena memiliki pengetahuan yang begitu besar, tetapi harus menggunakannya dalam skala yang sangat kecil, perlahan digantikan oleh rasa damai. Ini adalah awal. Langkah pertama untuk memanfaatkan anugerah dari masa lalu demi masa depan yang sederhana, tetapi berharga.

Valaria menarik napas dalam-dalam, menghirup aroma tanah lempung yang kaya dan wangi manis dari daun singkong. Data telah terkumpul, tanah ini luar biasa.

Ia membiarkan pandangannya menyapu cakrawala, ke arah desa. Kehidupan yang ia jalani sekarang terasa jauh lebih nyata, lebih mendesak. Daripada buku yang aku baca sebelumnya, Tapi dengan mempraktekannya ia peroleh dari sentuhan buminya, Valaria kembali ke rumah. Langkahnya kini lebih mantap, dipenuhi dengan rencana baru tentang bagaimana ia akan menerapkan ilmu purba di ladang sederhana ini, demi orang tua yang ia sayangi. Tugasnya di ladang hari ini sudah selesai. Tugas hidupnya, baru saja dimulai.

1
panjul man09
pak Arjun dan bu Ratri 👍👍
panjul man09
banyak hal2 yg kurang dipahami masalah tanah , berikan yg lebih menarik lagi
panjul man09
sayang tahunnya agak jauh seandainya di tahun yg belum pake drone untuk transportasi atau mundur 4 tahun dari 2030 kayaknya lebih cocok
panjul man09
sebaiknya untuk orang tua valaria gunakan kata ayah dan ibu supaya posisinya jelas
Dewiendahsetiowati
hadir thor
anggita
ikut dukung ng👍like aja, 2👆👆iklan. moga novelnya lancar.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!