Seorang wanita yang hidup mewah pada masa 2030 dengan berbagai teknologi pintar berkembang pesat. Wanita itu adalah Ria yang dijuluki seoang pembisnis dan desainer terkenal. Banyak orang iri dengan dirinya. Di saat mendapatka penghargaan desainer terbaik terjadi sebuah kecelakaan menyebabka Ria tewas ditempat. Tapi saat dia bangun dia melihat lingkungan berbeda. Tepat di depan ada sebuah kalender lama pada tahun 1997 bulan agustus. Ria yang tidak percaya segera keluar dari ruangannya melihat pemandangan yang asing dan belum berkembang berbeda dengan dia lahir sebelumnya. Ria binggung menatap ke segala arah hingga datang ibunya bernama Ratri. Dia memanggil nama Valeria kenapa kamu diam saja sini bantu ibu memasak. Ria menoleh dengan wajah binggung hingga Ratri datang memukul kepala Valaria. Ria merasakan sakit tidak percaya kalau dia merasa sakit. Valaria bertanya ini dimana. Ratri binggung membawa Valaria ke dalam aku ibumu. Kamu ini lupa atau hanya tidak mau membantu saja. penasaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Rahasia di Balik Butiran Tanah
Valaria berjalan menapaki jalan setapak yang membelah hamparan persawahan dan ladang di sebelah barat Desa Panda. Matahari telah meninggi, melemparkan bayangan pendek yang meringkuk tepat di bawah kakinya sebuah tanda bahwa pagi yang tenang telah beranjak menuju siang yang menyengat. Udara di sekitarnya terasa hangat dan padat, membawa serta aroma khas pedesaan yang menyesakkan sekaligus menenangkan; campuran antara debu kering dari jalanan setapak, wangi tajam jerami yang baru saja dipangkas, dan aroma tanah basah yang masih menyimpan sisa-sisa embun fajar.
Ini bukan kali pertama Valaria menginjakkan kaki di ladang ini. Namun, sejak 'kecelakaan' yang mengubah kesadarannya, ia memandang hamparan hijau ini dengan mata yang sama sekali berbeda. Baginya, tanah ini bukan sekadar hamparan bumi, melainkan aset yang berdenyut.
Bagaimana caranya ya? batin Valaria sembari mengerutkan kening. Ia berpikir keras. Di hadapannya, ladang singkong dan kacang panjang milik orang tuanya terhampar luas. Pemandangan itu memancarkan rasa damai yang mendalam, sekaligus menyisipkan sedikit rasa puas di hatinya. Tanaman singkong berdiri tegak dengan daun-daun lebar yang rimbun, menciptakan kanopi hijau yang meneduhi permukaan tanah. Di sebelahnya, tanaman kacang panjang melilit rapi pada tiang-tiang penopang kayu, buahnya yang panjang menggantung elegan menyerupai untaian permata hijau. Segalanya tampak subur secara kasatmata.
Valaria berhenti di tengah petak ladang. Ia membiarkan keheningan tempat itu menelan bunyi napasnya sendiri. Ia menutup mata sejenak, mencoba merasakan energi yang terpancar dari tanah di bawah telapak kakinya yang terbungkus sepatu kain tipis.
"Subur. Tapi seberapa subur? Dan sampai kapan kesuburan ini akan bertahan?" bisiknya lirih pada angin.
Pertanyaan-pertanyaan itu bukanlah pertanyaan biasa bagi seorang gadis remaja di desa itu. Pertanyaan itu adalah refleksi dari seorang wanita yang menyimpan memori masa lalu yang luar biasa. Kini, ia membawa takdir ganda: ia memiliki tangan yang kurus dengan tenaga fisik yang terbatas, namun pikirannya dipenuhi dengan diagram fase tanah, siklus nutrisi, dan data agrikultur yang kompleks.
Valaria berlutut di antara dua baris tanaman singkong. Ia tidak mempedulikan hawa panas dari tanah yang mulai merambat ke lututnya. Dengan gerakan hati-hati, ia meraup segenggam tanah di sela-sela jarinya.
Sentuhan itu sentuhan langsung kulit dengan bumi selalu menjadi katalisator bagi jiwanya. Begitu butiran tanah itu menyentuh telapak tangannya, ingatan masa lalu yang tersembunyi jauh di dalam inti sukmanya seakan menyala terang. Pada saat itu, ia bukan lagi Valaria sang gadis desa biasa; ia adalah resonansi dari dirinya yang lama, seorang pakar yang mampu membaca bumi seperti membaca buku yang terbuka lebar.
Ia memejamkan mata erat-erat, memproses informasi yang mengalir tanpa henti ke otaknya. Ini bukan sekadar sentuhan biasa, melainkan sebuah sesi diagnostik yang mendalam, menggunakan pengetahuan yang telah ia kumpulkan dari berbagai literatur agroteknologi di kehidupan sebelumnya.
"Struktur tanah..." gumamnya. Saat matanya terbuka, kilau analitis yang tajam terpancar, sangat kontras dengan wajahnya yang lugu dan polos. Ia melihat lebih dari sekadar tanah cokelat; ia melihat sebuah matriks geologi.
Valaria meremas tanah itu, mencium aromanya, dan merasakan teksturnya dengan ibu jari. Informasi yang ia butuhkan tentang kualitas tanah mulai terungkap satu per satu. Setiap detail adalah konfirmasi dari memori yang tak terhapuskan:
1. Warna Cokelat Kehitaman (Indikator Humus)
Valaria mengamati warna tanah tersebut dengan teliti. Warna cokelat kehitaman yang kaya dan gelap adalah pertanda baik. “Ini adalah tanda tanah yang sangat kaya akan bahan organik atau humus,” pikirnya dengan lega. Humus adalah jantung dari kesuburan; ia meningkatkan kemampuan tanah dalam menahan air dan menyediakan nutrisi bagi tanaman. Tanah yang gelap berarti kehidupan yang berlimpah. Orang tuanya telah merawat ladang ini dengan sangat baik.
2. Tekstur Lempung (Keseimbangan Ideal)
Ia menggosok-gosokkan tanah di antara jari telunjuk dan ibu jarinya. Rasanya sedikit kasar namun licin, dan yang terpenting, tanah itu terasa remah. “Lempung (loam). Campuran seimbang antara pasir, debu, dan liat,” simpulnya dalam hati. Ini adalah tekstur tanah yang paling diidamkan oleh setiap petani. Saat ia mengepalkan tangan, tanah itu membentuk gumpalan yang utuh, namun segera hancur menjadi butiran halus saat diberi sedikit tekanan. Ini adalah keseimbangan sempurna; mampu menahan air namun tetap memiliki drainase yang baik agar akar tidak membusuk.
3. Kondisi Fisik yang Gembur
Dengan bantuan sekop kecil, ia menggali sedikit lebih dalam ke lapisan bawah. Tanah tersebut tetap terasa gembur, tidak padat atau lengket seperti tanah liat murni. Hal ini menunjukkan bahwa akar singkong dapat menembus kedalaman dengan mudah, sementara akar kacang panjang memiliki ruang yang cukup untuk "bernapas" melalui aerasi yang optimal.
4. Kandungan Nutrisi dan pH
Meskipun tanpa peralatan laboratorium yang canggih, naluri terlatih Valaria mampu memperkirakan kandungan kimia di dalamnya. Nitrogen, Fosfor, dan Kalium unsur hara makro esensial pasti tersedia dalam jumlah memadai. Ia juga memperkirakan tingkat keasaman tanah tersebut berada pada pH netral, di kisaran 6.0 hingga 7.5. Ini adalah angka emas yang memastikan nutrisi dapat diserap secara optimal oleh akar tanaman.
5. Indikator Biologis (Cacing Tanah)
Saat ia menggali lebih dalam, sebuah senyum tulus mengembang di wajahnya kali ini adalah senyum murni dari Valaria yang sekarang, bukan sang ilmuwan. Ia melihat banyak cacing tanah yang menggeliat aktif. “Cacing tanah adalah indikator kesuburan yang paling jujur,” pikirnya senang. Kehadiran mereka membuktikan bahwa ekosistem mikroorganisme di bawah tanah ini berfungsi dengan sempurna.
Valaria bangkit berdiri dan membersihkan sisa-sisa tanah yang menempel di tangannya. Ia menatap ladang itu dengan emosi yang bergejolak di dada.
“Dulu, aku membaca data seperti ini melalui monitor, buku-buku tebal, dan perangkat spektrometer yang mahal. Sekarang, aku membacanya melalui sentuhan langsung, melalui bau, dan melalui suara alam yang tenang,” batinnya. Ada rasa rindu yang menyelinap akan kehidupan masa lalunya yang serba canggih, namun perasaan itu segera berbenturan dengan janji tulus yang ia buat untuk kehidupan barunya saat ini.
"Aku memiliki semua pengetahuan itu, Valaria. Ilmu untuk mengubah padang tandus menjadi surga, untuk memberi makan ribuan orang. Tapi... di sini, tugasku adalah memberi makan tiga orang yang paling kucintai," ia bergumam pelan dengan nada yang sedikit ironis.
Matanya kembali beralih pada tanaman singkong yang ditanam dengan cucuran keringat oleh Ayah dan Ibunya. Kehidupan mereka sangat sederhana. Mereka tidak mengenal istilah pH, Loam, atau Humus. Mereka hanya mengerti satu hal: kerja keras, ketulusan, dan cinta pada tanah yang memberi mereka makan.
“Tidak, ini bukan hanya tentang pemenuhan kebutuhan. Ini adalah tanggung jawabku untuk menjaga warisan ini tetap hidup. Tanah ini baik karena mereka merawatnya dengan hati. Tugas baruku adalah membuat yang sudah baik ini menjadi luar biasa. Aku harus memastikan setiap tetes keringat mereka tidak pernah sia-sia.”
Rasa beban karena memiliki pengetahuan besar yang harus diterapkan dalam skala kecil perlahan-lahan menguap, berganti dengan rasa damai yang merasuk ke relung hatinya. Ini adalah awal. Sebuah langkah pertama untuk memanfaatkan anugerah dari masa lalu demi masa depan yang sederhana namun sangat berharga.
Valaria menarik napas dalam-dalam, menghirup dalam-dalam aroma tanah lempung yang kaya dan wangi manis dari pucuk-pucuk daun singkong. Data telah terkumpul, kesimpulannya mutlak: tanah ini luar biasa.
Ia membiarkan pandangannya menyapu cakrawala ke arah desa. Kehidupan yang ia jalani sekarang terasa jauh lebih nyata dan mendesak daripada teori-teori dalam buku yang pernah ia baca. Dengan keyakinan yang diperoleh dari sentuhan buminya, Valaria melangkah kembali menuju rumah. Langkahnya kini jauh lebih mantap, dipenuhi dengan rencana-rencana baru tentang bagaimana ia akan menerapkan "ilmu purba" agrikulturnya di ladang sederhana ini demi kebahagiaan orang tuanya.
Tugasnya di ladang hari ini mungkin sudah selesai, namun tugas hidupnya yang sesungguhnya baru saja dimulai.