NovelToon NovelToon
Janji Suci Yang Ternoda

Janji Suci Yang Ternoda

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Penyesalan Suami / Selingkuh
Popularitas:553
Nilai: 5
Nama Author: Acaciadri

Aku Nadia istri dari Mas Afif dan ibu dari Bintang. aku istri yang setia, yang selalu berusaha melayani suamiku dengan baik, menemaninya dari nol. aku juga ibu yang baik untuk anakku Bintang. singkatnya aku berusaha menjadi yang terbaik untuk suami dan anakku.

Namun di saat pernikahanku yang ke tujuh, Mas Afif memberikanku kejutan besar, dia membawa seorang wanita lain ke dalam rumah tangga kami, namanya Laras dan anak tirinya bernama Salsa, yang Bintang selalu bilang kalau anak itu adalah anak tercantik di kelasnya.

cerita perhianatan dan kebangkitan Nadia dari penghianatan suaminya.

happy reading All❤️ bantu support cerita pertama saya ya, trims🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Acaciadri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Sebetulnya anakku Bintang memiliki pengasuh yang bernama Melati dan biasanya Melati yang mengantar jemput Bintang. Namun belakangan ini aku yang memilih mengantar jemput Bintang, selain karena aku ingin lebih dekat dengan anakku aku juga ingin setidaknya tidak sendirian di rumah dan membatin, ngerti lah ya apa yang saat ini ku alami. Tentu tentang suamiku yang berpoligami dengan wanita lain tanpa sepengetahuanku.

Ok, mulut bisa berbohong dengan aku yang mengangguk dan seolah menyetujuinya saat Mas Afif bertanya tempo lalu, tapi tentu saja tidak dengan hatiku. Hatiku kacau, sakit, marah semua bercampur aduk. Bahkan belakangan ini sangat berpengaruh pada tubuhku yang kelihatan lebih kurus karena aku tidak bernafsu makan. Istri mana yang tidak kepikiran jika tahu suaminya yang selama ini di kira begitu setia, justru malah menikah tanpa sepengetahuannya. Yakin sekali, jika seandainya saja aku dan Bintang tidak memergoki Mas Afif dan istri barunya, maka pria yang menjadi suamiku akan bungkam selamanya.

Tentu hatiku tidak sama lagi setelah tahu dia berselingkuh hingga menikah diam-diam di belakangku, bukan lagi kecewa. Tetapi sudah sampai pada tahap muak mungkin__namun tentu aku memilih bertahan sampai detik ini, karena tak bisa langsung berpisah, apalagi mengingat aku yang tidak memiliki pekerjaan dan uang.

Andai aku berpisah dengannya. Terus bagaimana dengan kehidupanku dan Bintang? Ok, Bintang anaknya masih bisa di kirimi uang olehnya, sedang aku? Tentunya Mas Afif tidak akan mau memberiku nafkah lagi, toh aku bukan istrinya. Maka dengan alasan itulah aku pun memilih bertahan, setidaknya aku harus mengumpulkan uang atau apapun, sebelum benar-benar berpisah darinya.

“Papa ma.“Ujar Bintang yang langsung membuat atensiku teralih padanya, ku ikuti tangannya yang menunjuk ke arah depan.

Mas Afif, Laras dan juga anak tirinya yang sepertinya sudah ia terima dan sayangi seperti anak kandungnya, Salsa. Yang Bintang sukai karena memiliki paras cantik.

Haruskah aku mundur sekarang? Atau pura-pura tidak melihat mereka saja. Lagi pula rasanya malas saja kalau aku menyapa mereka duluan.

“Ma, papa manggil mama tuh.“Ujar Bintang yang kembsli membuat diriku tersadar dari lamunan, lalu Bintang menyeretku untuk menghampiri papanya dan juga istri mudanya itu.

Kami berhadapan, aku yang masih ngos-ngosan karena di serer Bintang dan Mas Afif serta Laras yang menatapku tanpa berkedip. Pun dengan Salsa yang sepertinya sangat penasaran tentang aku dan Bintang.

“Salsa..“Pekik Bintang senang sambil tersenyum lebar. Andai dia sudah dewasa dan mengerti, ku yakin dia takan berani berteriak memangil cewek yang katanya cantik itu dan di sukai olehnya. Karena keberadaan Salsa lah yang membuatku begini, istri pertama yang terasa seperti istri simpanan bahkan lebih parahnya tidak di akui oleh suaminya sendiri.

“Ehh Bintang.“Ujar Salsa sambil tersenyum cantik. Ku akui Salsa dan ibunya sama-sama cantik dan mungkin salah satu alasan Mas Afif mau menikah dengan ibunya Salsa yaitu Laras.

Aku sadar diri, siapala aku. Aku hanya lulusan D3 yang terjebak dengan pengakuan cinta dan mau menyerahkan masa mudaku kepada seorang pemuda yang menjanjikan aku kebahagiaan dan juga materi yang melimpah__padahal waktu itu, dia masihlah perintis dan usahanya pun belum sebesar sekarang. Sering kali dia hanya bisa meminta maaf karena pulang tidak membawa uang dan pada akhirnya kami makan seadanya, kadang hanya cukup pakai garam, gorengan atau kerupuk saja. Ya begitulah, namanya juga perintis.

Dia membuka bisnis pakaian dengan menyewa jongko di pasar. Kala itu belumlah secanggih seperti sekarang, yang mana bisnis pakaian bisa juga melalui promosi online, di pajang di berbagai platform online. Seperti : Shopee, Lazada, tiktok hingga bukalapak. Sayangnya saat Mas Afif dan aku merintis bisnis pakaian, belum ada platform online seperti itu, jadi kami hanya mengandalkan penjualan lewat offline saja__dan ya, namanya pemula dan juga punya pesaing yang cukup banyak. Hingga bisa terbilang sangat sulit sekali mendapat customer yang pada akhinya karena ingin sekali pecah telor, maka kami pun tak punya pilihan lain selain membujuk, merayu hingga memelas pada keluarga dan teman-teman terdekat kami supaya mereka membeli produk kami. Alhasil mereka membeli, walaupun hanya satu pcs sampai dua, yang penting kami ada pendapatan dan bisa makan sudah syukur alhamdulillah kala itu.

Kala itu, setiap dia mengeluh, setiap dia putus asa dan setiap dia mulai merasa jenuh, capek dan lelah karena pendapatan dari penjualan baju online tsk pernah meningkat, yang ada malah berkurang. Belum beberapa biaya yang harus kami bayar, seperti: biaya sewa jongko, air, bayar listrik, bahan sembako hingga keperluan mendadak lainnya. Aku selalu datang dan aku selalu ada untuk memberinya dukungan serta membantunya dengan do'a dan jualan makanan ringan sebagai upaya untuk membantu masalah ekonomi kami__walau aku lulusan D3 dengan IPK cukup baik, tapi aku tidak gengsi berjualan keliling makanan ringan, karena apa? Karena aku ingin sekali bisa membantu keuangan keluarga kami.

Hah.. jika ingat perjuangan kami dulu, aku selalu ingin menangis saja. Bukan lebay ya, tapi memang sekeras itu.

Kata orang, usaha tidak akan menghianati hasil. Benar adanya, bertahun-tahun kami merintis, melalui gelombang pasang surut itu bersama-sama, sampai bisnis mas Afif pun semakin besar, semakin stabil. Yang tadinya hanya ada dia di jongko, lama-lama mas Afif mulai mencari satu, lalu bertambah menjadi dua sampai menjadi lima. Bisnis yang hanya berjualan baju pun meningkat ke bisnis yang lain, seperti travel umroh dan setahun yang lalu dia bilang kalau dia akan membuka bisnis kafe yang bertemakan anak muda ke kinian yang di dirikan di dekat kampus. Tentu aku bahagia dan senang luar biasa, akhirnya air mata, rasa lelah dan capeknys terbayarkan dengan bisnis Mas Afif yang kian meroket tajam__aku juga tidak keberatan saat Mas Afif pamit ke luar kita untuk mengontrol bisnis travel haji dan umrohnya pun dengan bisnis kafenya di sana, karena tidak mungkin di kampung halamanku ini. Selain di pastikan tidak akan ada yang datang, sebab orang kampung lebih memilih nongkrong di rumah masing-masing dan membuat makanan sendiri.

Namun kebahagiaan itu harus musnah seketika, tatkala aku memergokinya tengah menggandeng perempuan yang lebih segalanya dariku dan anak perempuan yang mungkin sebaya dengan Buntang__apakah aku insecure? Sama sekali tidak, kenapa? Karena aku meyakini, kalau setiap perempuan itu terlahir cantik dengan bakatnya masing-masing, hanya si pasangan saja yang perlu bersyukur dan menerima apa adanya.

“Kita perlu bicara.“Ucap Mas Afif yang memberiku kode untuk memgikutinya, aku tak lantas mengikutinya. Namun melirik pada Bintang yang saat ini terlihat asik bermain bersama Salsa.

“Biarkan saja, lagian anak-anak juga sedang anteng.“Ujarnya lagi, ku hela nafasku panjang sambil mengangguk, lalu aku ikut Mas Afif dengan perempuan bernama Laras yang setia di sampingnya dan menggandeng lengannya__sementara aku di belakang. Hei.. kenapa malah aku yang seperti orang ketiga di pernikahan Mas Afif dan Laras ya? Huhh.. segera ku tepis pemikiran itu, lagi pula hatiku sudah mati rasa semenjak Mas Afif ketahuan menikah tanpa sepengetahuanku.

Ku akui hatiku sakit, tapi tidak apa. Lagian semenjak kecil aku juga sudah merasakan yang lebih sakit dari pada ini kok. Huhhh

******

Kami bertiga duduk di kelas yang sudah kosong melompong, karena anak-anak dan para orang tua yang berjaga sudah pulang, pun dengan bapak dan ibu guru yang mengajar__Mas Afif tadi sempat meminta izin kepada salah satu guru yang entah siapa namanya, karena aku tak mendebgar jelas. Pokoknya guru itu mengizinkan Mas Afif aku dan Laras untuk duduk di salah satu kelas yang sudah kosong itu.

Aku duduk di bangku pertama, sedang Mas Afif dan Laras duduk di seberang bangkuku. Mereka sudah mirip amplop dan perangko ya? Tidak bisa di pisahkan..hehe

“Silahkan, apa yang ingin kamu sampaikan mas?“Aku pun memulai percakapan sambil menatapnya datar dengan ekspresi yang ku buat sebiasa mungkin, walau jujur aku ingin sekali bisa mencekik atau bahkan menamparnya__mengingat dia sudah begitu kurang ajar memberikanku rasa skait ini. Padahal selama ini aku yang menemaninya dari nol, aku yang selalu menjadi obat di kala dia merasa down dan aku selalu menyambutnya dengan suka cita.

Ternyata benar ya, apa kata orang. Jangan suka menemani siapapun dari nol, ketika dia sudah sukses, maka dia tak akan segan untuk melupakan bahkan menyingkirkanmu. Huhh.. kalau tahu begini, tentu saja aku tak mau repot-repot menemaninya, biar saja dia terpuruk sendirian.

“Laras..“Panggil Mas Afif terdengar lembut dan menatap kepada istri keduanya begitu hati-hati, membuatku berdecih kasar.

“Iya mas.“Jawabnya, Mas Afif lalu melepaskan tangan laras dari tangannya yang sejak tadi di peluknya erat, Laras ini mungkin semacam punya indra keenam ya? Dia seolah tak membiarkan Mas Afif lari darinya, padahal yang istri pertama di sini adalah aku lho. Ckck. Posesif huh!

“Aku udah cerita kan, kalau sebenarnya aku punya istri sebelum kamu ku nikahi.“Ucapnya, Laras memandangnya dengan mata berkaca-kaca, bisa ku lihat kesedihan dan ketidakrelaan di sana.

“Nah, ini Nadia istri pertama aku.“Lalu Mas Afif menunjukku, Laras menunduk dan terdengar terisak sedih. Lalu Mas Afif menenangkannya dengan memeluknya erat. Halah-halahhh, jadi aku di panggil hanya untuk menonton drama murahan ya? Kalau tahu seperti ini, maka aku lebih memilih untuk jajan saja di warung depan, membosankan tahu!

“Mas..“

“Maafkan aku Laras, tapi Nadia memang istri aku.“

“Kenapa kamu gak bilang sebelum menikah sama aku, mas?.“Tanya Laras dengan suars seraknya karena menangis.

“Karena papa kamu gak ngebolehin, papa mamu yang nyusuh aku tutup mulut.“

“Kenapa?.“

“Karena mungkin beliau tahu, kamu gak akan mau jadi istri kedua.“

“Mas__.“

“Tapi aku cinta kamu laras, aku juga sayang anak kamu kok. Please jangan minta cerai.“Ucap Mas Afif yang memotong ucapan Laras, lalu tanpa tahu malu di depanku pria yang bahkan sudah lebih dari menjama* diriku itu, kini menciumi keseluruhan wajah Laras.

Dihhh dasad gila, mau memanas-manasi atau apa? Minimal tahu tempat lah, aku masih manusia dan aku muak melihat kemesraan mereka yang tidak tahu adab itu.

“Ehm ehm..“Aku sengaja berdehm dan ku lirik mereka pun kontan melepas pelukannya, kini Mas Afif melirikku dan terlihat kes karena aksi bermesraan mereka pun terintrupsi oleh dehemanku.

“Sorry, tapi ini di kelas lho. Ada cctv juga.“

“Ehm ehm..“

“Oh ya Laras, tenang aja. Aku gak bakal rebut Mas Afif kok, kalau kamu malu dengan status kamu sebagai istri kedua, kamu tenang aja, aku akan bungkam dan gak akan buka siapa sebenarnya suami aku.“Ucapku dalam sekali tarikan nafas, sambil memaksa bibir ini tersenyum dengan denyutan sakit yang ku rasakan di hati ini.

“Maksud kamu??.“Tanya Mas Afif terdengar tak suka sambil melotot ke arahku, kedua tanganku terkepal kuat di bawah sana. Andai dia bukan imamku, tentu sudah ku layangkan pukulan keras di wajahnya itu__apa dia itu bodoh? Pake gak ngerti segala lagi. Ya, tentu apalagi kalau merahasiakan siapa suamiku yang sebenarnya, agar semua orang tidak menghujat Laras yang punya anak satu sekolah dengan anakku.

“Apa lagi Mas. Ya rahasiain suami aku, lagi pula selama ini gak ada yang tahu siapa suami aku. Mengingat kamu jarang sekali pulang, kalau pun pulang gak pernah mau untuk menjemput Bintang ke sekolah ini, jadi menurutku Laras aman sih.“Tukasku sambil tersenyum getir.

1
Anonymous
afif goblok
Anonymous
anying Juz 30 doang berasa bisa si paling adil
Dewi Sri Astuti: wkwkwkwk🤭🙏
total 1 replies
Anonymous
diem bocil
Dewi Sri Astuti: hahaha🙏
total 1 replies
Dewi Sri Astuti
Yuk kasih bintang lima dan komennya, biar author semangat🙏😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!