NovelToon NovelToon
ILMU LELUHUR DI MEDAN PERTEMPURAN

ILMU LELUHUR DI MEDAN PERTEMPURAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Dokter / Ilmu Kanuragan / Penyelamat
Popularitas:646
Nilai: 5
Nama Author: E'Ngador Together

Di tangan yang terbiasa memegang senjata, juga tersimpan keahlian untuk menyembuhkan.

Setelah menerima dua warisan tak ternilai dari leluhurnya – ilmu beladiri yang mengakar dalam darah dan keterampilan pengobatan dengan bahan alami yang hanya dia yang tahu rahasianya – Evan berpikir kehidupannya akan berjalan sesuai dengan rencana: melanjutkan kuliah dan melestarikan warisan leluhur. Namun, setelah lulus SMA, keputusannya untuk mendaftar sebagai tentara mengubah segalanya.

Diterima dengan prestasi tinggi, dia pertama kali ditempatkan di wilayah konflik dalam negeri, sebelum akhirnya dikirim sebagai bagian dari pasukan perdamaian ke negara asing yang sedang dilanda perang. Tugasnya jelas: menjaga perdamaian dan melindungi warga sipil. Tetapi ketika pihak negara lain menolak kehadiran pasukan perdamaian dan serangan tiba-tiba menerjang, Evan terpaksa mengangkat senjata bukan untuk berperang, tetapi untuk bertahan hidup dan melindungi rekannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RUMAH KUNO DAN LEMARI KAYU TUA

Hari itu hujan turun deras di Kampung Cibuntu, membasahi setiap sudut kampung dengan air yang segar dan membuat jalan tanah menjadi berlumpur licin. Sekolah libur karena kondisi cuaca yang tidak memungkinkan siswa datang dari desa-desa sekitar, sehingga Evan memiliki kesempatan yang jarang terjadi untuk menghabiskan seluruh hari di rumah Kakek Darmo – rumah kayu kuno yang berdiri kokoh di belakang kebun pepaya dan jambu air milik leluhurnya.

Rumah itu sudah ada sejak zaman kakek buyut Kakek Darmo, dengan dinding kayu yang sudah menguning akibat usia dan atap genteng yang warnanya sudah mulai pudar. Setiap sudut rumah menyimpan cerita – dari lukisan dinding yang menggambarkan kehidupan nenek moyang mereka bertani dan berburu, hingga perabotan kayu tua yang memiliki bentuk unik dan ukiran yang indah. Evan selalu merasa seperti memasuki dunia lain setiap kali masuk ke dalam rumah itu – suasana yang tenang dan penuh dengan aroma kayu tua, daun kering yang digunakan untuk obat, dan sedikit aroma dupa yang selalu dinyalakan Kakek Darmo di kamarnya.

"Saya akan pergi ke ladang belakang untuk memeriksa tanaman jahe dan kunyit," ujar Kakek Darmo sambil mengambil jas hujan dari sudut rumah. "Hujan seperti ini bagus untuk mereka, tapi harus dipastikan tidak ada yang tergenang air terlalu lama. Kamu bisa bermain di dalam rumah jika mau, tapi jangan sembarangan menyentuh barang-barang saya ya, cucu."

Evan mengangguk sambil menatap hujan yang terus menerus menyiram halaman depan. Ia sudah bosan bermain dengan mainan yang ada di rumah sendiri, dan hari ini rasanya ada sesuatu yang menarik di dalam rumah Kakek Darmo yang membuatnya ingin menjelajah lebih jauh dari biasanya. Setelah Kakek Darmo keluar dan menghilang di balik kebun, Evan mulai berjalan perlahan di sekitar ruang tamu yang penuh dengan kursi kayu tua dan meja yang sudah licin akibat sering digunakan.

Ia berhenti di depan pintu kecil yang selalu terkunci dengan kunci besi tua – pintu yang terletak di sudut paling dalam rumah, dekat dengan kamarnya Kakek Darmo. Sejak kecil Evan selalu penasaran dengan apa yang ada di balik pintu itu, namun setiap kali ia bertanya, Kakek Darmo hanya mengatakan bahwa itu adalah ruangan penyimpanan yang tidak penting dan terlalu berantakan untuk dilihat. Tapi hari ini, ketika ia mendekati pintu itu dengan hati-hati, ia melihat bahwa kuncinya tidak terpasang dengan benar – seolah-olah Kakek Darmo terburu-buru dan tidak menyadari bahwa pintu bisa terbuka dengan mudah.

Dengan hati yang berdebar-debar, Evan mencoba memutar pegangan pintu kayu tua itu. Bunyi kresek yang pelan terdengar saat pintu perlahan terbuka, mengungkapkan ruangan kecil yang gelap dan penuh dengan bau yang kuat – campuran daun kering, akar tanaman, dan kayu tua yang sudah tua. Sinar matahari yang sedikit menerobos melalui celah jendela kecil di bagian atas dinding menerangi ruangan itu cukup untuk membuat Evan bisa melihat isi di dalamnya.

Ruangannya tidak besar, mungkin hanya sekitar tiga kali ukuran kamar tidur Evan. Dindingnya dipenuhi dengan rak-rak kayu yang penuh dengan toples kaca dan botol kaca tua yang berisi berbagai jenis bubuk, serbuk, dan daun kering dengan warna yang berbeda-beda. Di sudut ruangan terdapat meja kayu besar yang juga penuh dengan alat-alat aneh – dari cobek dan ulekan kayu hingga pisau khusus dengan bentuk yang tidak biasa dan baskom bambu yang sudah tua. Namun yang paling menarik perhatian Evan adalah lemari kayu besar yang berdiri di sisi lain ruangan – lemari yang tinggi hampir mencapai langit-langit, dengan pintu yang memiliki ukiran bunga dan binatang yang sangat indah.

Dengan langkah yang hati-hati agar tidak menyentuh apa pun yang mungkin mudah pecah, Evan mendekati lemari kayu itu. Pintu lemari tidak terkunci, dan ketika ia membukanya perlahan, ia terkejut melihat isi di dalamnya – tumpukan buku-buku kuno dengan kulit kayu atau kain sutra sebagai sampulnya, disusun rapi sesuai dengan ukuran dan ketebalannya. Beberapa buku sudah sangat tua hingga halamannya mulai menguning dan sobek di bagian ujung, namun tetap terlihat terawat dengan baik.

Evan mengambil salah satu buku yang paling kecil namun tampaknya paling lengkap. Sampulnya terbuat dari kulit kayu yang sudah mengeras dengan tulisan tangan menggunakan tusuk gigi yang dicap dengan warna hitam. Ia tidak bisa membaca semua hurufnya, namun beberapa kata seperti "Obat", "Tanaman", dan "Penyembuhan" bisa ia kenali dengan jelas. Ketika ia membuka halaman pertama, ia melihat gambar-gambar tangan yang menggambarkan berbagai jenis tanaman dengan detail yang luar biasa – mulai dari akar, batang, daun, bunga, hingga buahnya, disertai dengan catatan tangan yang menjelaskan khasiat masing-masing tanaman dan cara mengolahnya menjadi obat.

Dengan rasa kagum yang semakin besar, Evan mengambil buku lain yang lebih tebal. Sampulnya terbuat dari kain sutra warna merah tua yang sudah mulai pudar, dengan tulisan yang lebih rumit di sampulnya. Ketika dibuka, buku itu berisi gambar-gambar orang yang sedang melakukan perawatan pada orang lain – mulai dari memijat bagian tubuh tertentu, menerapkan ramuan pada luka, hingga memberikan minuman yang dibuat dari berbagai bahan alami. Setiap gambar disertai dengan penjelasan yang panjang tentang penyakit yang dirawat, bahan-bahan yang digunakan, dan langkah-langkah yang harus dilakukan dengan sangat hati-hati.

Ia melanjutkan melihat buku-buku lain di dalam lemari – ada yang membahas tentang cara mengumpulkan dan menyimpan bahan obat agar khasiatnya tetap terjaga, ada yang menjelaskan tentang hubungan antara alam dan kesehatan manusia, bahkan ada yang berisi cerita tentang nenek moyang mereka yang dikenal sebagai penyembuh hebat di masa lalu. Salah satu buku yang paling tua bahkan berisi catatan tentang bagaimana ilmu pengobatan tersebut diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, dengan aturan yang ketat bahwa ilmu itu hanya boleh diberikan kepada mereka yang memiliki hati yang baik dan niat yang benar untuk membantu orang lain.

Saat Evan sedang asyik membaca salah satu bab tentang pengobatan demam dan penyakit menular, ia mendengar suara langkah kaki yang mendekati dari luar ruangan. Jantungnya berdebar kencang karena khawatir akan dimarahi Kakek Darmo karena memasuki ruangan yang seharusnya tidak boleh ia masuk. Ia segera menutup buku yang sedang dibacanya dan ingin meletakkannya kembali ke tempatnya, namun tangan Kakek Darmo sudah muncul di belakangnya, menyentuh bahunya dengan lembut.

"Sudah tahu ya, cucu?" ujar Kakek Darmo dengan suara yang tidak marah, bahkan terdengar seperti sudah mengharapkan hal ini terjadi.

Evan berbalik dengan wajah yang penuh rasa bersalah, menundukkan kepalanya. "Maaf Kakek... saya tidak sengaja mau masuk sini. Pintu nya tidak terkunci dan saya hanya penasaran..."

Kakek Darmo tersenyum lembut, kemudian masuk ke ruangan kecil itu dan berdiri di sisi Evan. Ia melihat ke arah lemari kayu yang terbuka, mata nya penuh dengan kenangan yang dalam. "Sebenarnya, saya sudah lama merencanakan untuk menunjukkan ruangan ini padamu, Evan. Hanya saja saya sedang menunggu waktu yang tepat. Waktu ketika kamu sudah cukup besar untuk memahami bahwa apa yang ada di sini bukan hanya sekadar buku atau obat – ini adalah warisan yang sangat berharga yang harus dijaga dengan segenap hati."

Ia mengambil salah satu buku dari lemari, membukanya dan menunjukkan gambar tanaman kunyit yang digambarkan dengan sangat detail. "Ilmu pengobatan ini sama pentingnya dengan ilmu beladiri yang kuhitungkan padamu kemarin. Beladiri untuk melindungi tubuh dan jiwa dari bahaya yang datang dari luar, sedangkan ilmu pengobatan untuk menyembuhkan dan menjaga kesehatan tubuh dan jiwa dari dalam. Kedua ilmu ini saling melengkapi satu sama lain, seperti dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan."

Kakek Darmo duduk di atas bangku kayu kecil yang ada di sudut ruangan, menandai Evan untuk duduk bersamanya. Ia mulai menjelaskan tentang setiap buku yang ada di lemari itu – buku mana yang berisi tentang pengobatan dengan daun dan bunga, buku mana yang membahas tentang akar dan umbi-umbian, dan buku mana yang berisi tentang ramuan yang dibuat dari bagian tanaman yang berbeda-beda. Ia juga menceritakan tentang nenek moyang mereka yang dulu adalah penyembuh terkenal di seluruh daerah sekitar, membantu orang-orang yang sakit tanpa meminta imbalan apa pun, hanya dengan harapan bahwa kebaikan itu akan kembali kepada mereka dan generasi berikutnya.

"Kakek pernah menggunakan ilmu ini untuk menyembuhkan orang?" tanya Evan dengan suara penuh rasa kagum, melupakan rasa bersalah yang sebelumnya ada di dalam hatinya.

Kakek Darmo mengangguk sambil tersenyum. "Banyak sekali, cucu. Ketika masih muda, saya sering membantu orang-orang di kampung ini dan desa-desa sekitar yang tidak mampu pergi ke dokter. Ada waktu ketika wabah penyakit menyerang kampung kita, dan dengan bantuan ilmu yang diwariskan ini, kita bisa mengatasinya tanpa harus kehilangan banyak nyawa. Bahkan sekarang pun, kadang-kadang tetangga datang mencari bantuan ketika mereka merasa tidak enak badan dan tidak bisa pergi ke puskesmas."

Ia menatap mata Evan dengan tatapan yang serius. "Namun, ilmu ini tidak boleh disalahgunakan, cucu. Setiap ramuan yang dibuat harus dengan niat yang benar – untuk menyembuhkan, bukan untuk menyakiti. Ada beberapa ramuan yang bisa digunakan untuk tujuan jahat jika jatuh ke tangan yang salah, itulah mengapa ilmu ini hanya boleh diberikan kepada mereka yang sudah terbukti memiliki hati yang bersih dan tanggung jawab yang tinggi."

Evan mengangguk dengan penuh pemahaman, melihat kembali ke arah lemari kayu yang penuh dengan buku-buku kuno itu. Ia merasa bahwa tanggung jawab yang besar mulai tertumpu di pundaknya, namun bukan rasa takut yang ia rasakan melainkan rasa bangga bisa menjadi bagian dari rantai warisan yang sudah berjalan selama berabad-abad.

"Mulai dari hari ini," ujar Kakek Darmo sambil menepuk bahu Evan dengan lembut, "kamu bisa belajar tentang ilmu pengobatan ini bersama saya. Setiap hari setelah sekolah dan setelah kamu selesai mengamati latihan beladiri, kita akan duduk di sini dan membahas setiap buku satu per satu. Kamu akan belajar mengenal setiap tanaman, cara mengumpulkannya dengan benar, cara membuat ramuan yang efektif, dan yang paling penting – bagaimana menggunakan ilmu ini dengan penuh rasa tanggung jawab."

Hujan masih terus turun di luar, membuat suara gemericik yang menenangkan di atap rumah kayu kuno itu. Di dalam ruangan kecil yang penuh dengan buku-buku kuno dan aroma obat alami, Evan merasa bahwa dunia nya semakin luas dan makna hidupnya semakin jelas. Ia tidak hanya akan belajar ilmu beladiri untuk melindungi diri dan orang lain, namun juga ilmu pengobatan untuk menyembuhkan dan memberikan harapan kepada mereka yang sedang menderita. Dan di dalam lemari kayu tua itu, warisan leluhurnya yang telah tertidur selama bertahun-tahun mulai bangkit kembali, siap untuk diteruskan ke generasi berikutnya melalui tangan dan hati Evan.

Kakek Darmo mengambil buku yang pertama kali diambil Evan, kemudian mulai menjelaskan tentang khasiat tanaman yang digambarkan di dalamnya – bagaimana daunnya bisa digunakan untuk mengobati sakit kepala, akarnya untuk mengatasi masalah pencernaan, dan bagian batangnya untuk membantu menyembuhkan luka yang dalam. Evan mendengarkan dengan penuh perhatian, setiap kata yang keluar dari mulut Kakek Darmo seperti permata yang berharga yang ia kumpulkan dengan hati-hati, siap untuk disimpan dan digunakan ketika waktunya tiba.

Di luar, hujan mulai mereda sedikit, menyisakan aroma tanah basah dan harapan akan hari yang cerah besok. Tapi di dalam ruangan rahasia itu, waktu seolah berhenti berjalan – hanya ada dua generasi yang sedang saling terhubung melalui warisan yang lebih dari sekadar ilmu pengetahuan, melainkan tentang cara hidup yang penuh penghormatan terhadap kehidupan dan sesama makhluk di bumi ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!