Kemungkinan ada narasi adegan nyerempet 21th+
Pembaca mohon lebih bijak dalam memilih bacaan yang sesuai usia! Cerita cuma fiksi jgn terlalu baper
Setelah mengetahui perselingkuhan tunangannya dengan saudara tirinya, Beatrice justru dipertemukan dengan Alexander, seorang CEO ganteng, kaya, dingin yang sangat menyayangi dan memanjakannya. Awalnya Alex hanya penasaran terhadap Beatrice, pasalnya penyakit alerginya terhadap wanita sama sekali tidak kambuh saat bersentuhan dengan Beatrice. Sahabat sekaligus dokter pribadinya, Harris menyuruhnya terus bersentuhan dengan Beatrice sebagai upaya terapi untuk kesembuhan alergi yang diderita Alex. Namun lama-lama sikap posesif dan cemburuan Alex terhadap Beatrice semakin menjadi, membuatnya sadar bahwa dia telah jatuh hati pada Beatrice. Alex ingin pernikahan kontrak mereka menjadi pernikahan sungguhan. Akankah hati Beatrice terbuka untuk Alex?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiara Pratiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 Lalu Siapa Beatrice?
Cahaya matahari pagi yang malu-malu menyelinap masuk melalui celah gorden tebal, menciptakan pola emas pada lantai marmer kamar suite mewah itu.
Alex membuka mata. Hal pertama yang ia rasakan adalah beban di lengannya. Ia menoleh perlahan.
Di lengannya, berbaringlah Beatrice. Rambut hitam kecokelatan Beatrice menyebar di atas bantal sutra, menutupi sebagian wajahnya yang tampak lelah. Ia tidur pulas dalam pelukan Alex, tubuh telanjangnya tertutup oleh selimut tebal yang kusut.
Alex sama sekali tidak mabuk semalam. Ia bisa mengingat setiap detail dari kejadian yang telah mereka lalui. Ingatannya tajam, jauh lebih tajam daripada biasanya, seolah otaknya bekerja overtime untuk merekam setiap sentuhan dan desahan.
Ia masih ingat bagaimana Beatrice, di tengah adegan intim sempat merengek dan mulai menangis.
“Alex, kumohon, hentikan… Aku lelah,” bisik Beatrice dengan suara serak, mencoba mendorong dada bidang Alex yang seolah terbuat dari baja.
Namun, Alex yang seolah baru menemukan oase setelah berkelana di padang pasir tandus selama 25 tahun, tidak mau melepaskannya. Rasa alergi yang selalu ia derita, yang akan membuatnya sesak napas dan kulitnya melepuh hanya karena bersentuhan dengan kulit wanita, semalam menghilang tanpa jejak. Kehadiran Beatrice adalah sebuah keajaiban, dan Alex tidak berniat melepaskannya begitu saja.
Semalam, Alex memang awalnya bersikap gentle, memuja tubuh Beatrice dengan ciuman lembut. Tetapi, lama kelamaan, nafsu yang selama ini terpendam, terkunci rapat oleh kondisi tubuhnya, kini meledak tak terkendali. Nafsunya mengalahkan akal pikirannya.
Alex menyapu pandangannya ke seluruh tubuh Beatrice yang terbuka. Ia bisa melihat bekas-bekas percintaan yang dia tinggalkan, memar kecil di pangkal paha, guratan merah samar di kulit halus perutnya, dan yang paling jelas, tanda-tanda merah keunguan yang tersebar di leher dan dadanya. Bekas-bekas kepemilikan yang ia tanamkan semalam.
Alex mengusap lembut kiss mark yang ia tinggalkan tepat di lekuk leher Beatrice, kemudian membelai area dada wanita itu. Jantungnya mulai berdebar, tubuhnya kembali memanas.
Ia merasa gerah. Ia harus mendinginkan kepalanya. Ia perlu mandi air dingin.
Dengan sangat hati-hati, Alex menarik lengannya dari bawah kepala Beatrice. Ia mencium kening wanita itu dengan lembut lalu bangkit dari tempat tidur.
Sebelum memasuki kamar mandi, Alex mengambil ponselnya. Ia menekan nomor Harris.
Harris mengangkat panggilan dengan cepat, suaranya sedikit terkejut.
“Halo, Alex. Ada apa mencariku pagi-pagi? Apa kau mau mengajakku ngegym?”
“Ada seorang wanita di kamarku,” ujar Alex tanpa basa-basi, suaranya terdengar datar.
“Apa??” Harris langsung terbangun.
“Kami melakukannya semalam.”
“Apa???? Apa kau serius? Kau bisa menyentuh wanita itu? Lalu bagaimana tubuhmu sekarang? Di mana kau? Biar aku ke sana sekarang membawa obat alergimu!” Harris terdengar panik.
“Alergiku tidak kambuh. Tapi aku membutuhkan bantuanmu untuk hal lain.”
“Jadi… maksudmu alergimu sudah sembuh? Bagaimana bisa? Aku ingat beberapa bulan yang lalu, alergimu masih kambuh waktu jarimu tidak sengaja menyentuh jari Victoria!”
“Aku juga tidak tahu. Wanita ini… Berbeda…” Alex mengakui.
“Lalu kenapa kau menelponku? Bantuan apa yang kau butuhkan sekarang?” Harris mendesak.
Alex menarik napas. “Ugh, itu… Aku sepertinya terlalu kasar semalam. Aku melihat bercak darah di sprei dan memeriksa wanita itu. Sepertinya bagian… itu… sedikit bengkak dan lecet… Apa yang harus aku lakukan? Apa kau punya obat untuk itu?”
Terdengar tawa tertahan dari seberang telepon. “Pft!!! Apa kelakuanmu seperti kucing garong semalam?! Baiklah aku akan menyuruh asistenku mengirimkan salepnya sekarang, kamu bisa menggoleskannya di area itu.”
Setelah menutup teleponnya dan mendapatkan alamat hotel Alex, alih-alih meminta asistennya, Harris berangkat sendiri ke sana. Ia sangat penasaran dengan seperti apa wanita yang berhasil bersentuhan dengan Alex tanpa membuat alergi Alex kambuh. Harris juga ingin mengecek apa alergi Alex terhadap wanita benar-benar sudah sembuh.
Di sisi lain, Alex masuk kamar mandi. Suara shower segera terdengar mengisi keheningan kamar.
Tak lama, Beatrice juga terbangun. Ia mengerjap, pandangannya langsung tertuju pada kekosongan di sampingnya. Hanya seorang diri di atas tempat tidur yang tampak berantakan, dan ia segera mengenali suara shower yang menyala dari arah kamar mandi.
Kepanikan menyergap. Aku harus pergi!
Beatrice segera bergegas bangun dari tempat tidur meskipun tubuhnya terasa sakit semua, serasa akan remuk. Setiap gerakan terasa menyiksa, tetapi ketakutan akan apa yang akan terjadi ketika pria itu keluar dari kamar mandi memberinya kekuatan. Secepat kilat Beatrice mengambil gaunnya yang sudah di-dry clean dan memakainya kembali. Ia bahkan tidak peduli merapikan rambutnya. Ia keluar dari kamar suite itu secepat kilat.
Beberapa menit kemudian, Alex keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang terlilit di pinggangnya dan air yang masih menetes dari rambutnya. Pandangannya langsung menyapu ke arah tempat tidur dan mendapatinya telah kosong.
Raut wajah Alex pun seketika berubah menjadi gelap dan dingin. Ia merasa seperti baru saja ditampar.
Alex meraih ponselnya, hendak menelpon asistennya untuk melacak keberadaan Beatrice, tetapi ia menemukan pesan masuk dari semalam yang belum terbaca olehnya. Pesan itu dari Jackson.
> Bro, aku dengar kamu menginap di hotel malam ini. Bagaimana kalau aku kirim seseorang untuk menemanimu. Kau pasti bosan sendirian di sana. Aku serius! Tunggu dan nikmati ya!
Setelah membaca pesan itu, wajah Alex semakin mengeras. Ia segera menelepon Jackson, sahabatnya yang seorang playboy ulung.
Padahal sudah tahu Alex memiliki alergi terhadap wanita tapi si playboy Jackson malah mengirimkan wanita ke kamarnya.
Setelah berdering cukup lama, akhirnya Jackson mengangkatnya.
“Hei, Alex.”
“Di mana aku bisa menemukan wanita itu?” Suara Alex serak dan dingin.
“Wanita apa?”
“Wanita yang kau kirim ke kamarku semalam. Kau sendiri yang mengatakannya di chat.”
“Oh, wanita itu… Alex, maafkan aku! Aku benar-benar mabuk semalam dan membuat taruhan dengan Theo… Bagaimana kondisi tubuhmu sekarang? Apa kau baik-baik saja? Wanita itu tidak menyentuhmu kan? Aku yakin banyak bodyguard di sekelilingmu. Kau pasti sudah mengusirnya kan?” Jackson terdengar panik.
“Diamlah! Aku hanya ingin tahu di mana aku bisa menemukannya,” bentak Alex.
Suasana mendadak hening di seberang telepon.
“Kau mencari wanita itu? Kenapa? Apa dia melakukan sesuatu?”
“Jawab saja pertanyaanku! Kenapa kau membalas pertanyaan dengan pertanyaan?”
“Aku akan menanyakannya dulu, nanti aku akan mengabarimu.”
Jackson segera menutup teleponnya. Ia memaki dirinya sendiri, lalu meminta asistennya mencarikan kontak wanita yang dia kirim semalam ke kamar Alex, dan juga alamat tempat tinggalnya.
Tetapi balasan dari asistennya sangat mengejutkan.
> Tuan Muda Dalton, wanita bernama Anita yang Anda maksud tidak pernah datang ke hotel semalam. Dia kecelakaan dalam perjalanan menuju hotel dan kakinya patah. Dia masih berada di rumah sakit.
Jackson pun bingung. “Lalu siapa wanita yang bersama Alex semalam?”
Ia pun menghubungi Alex lagi untuk memberitahukan penemuannya ini.
Wajah Alex semakin menggelap mendengar laporan Jackson. Jika wanita semalam bukan wanita yang dikirim Jackson, lalu siapa wanita yang ia peluk semalaman? Siapa wanita yang telah menyembuhkan alerginya?
Akhirnya, Alex meminta asistennya sendiri untuk mencari tahu siapa wanita itu.
“Namanya Beatrice, memakai gaun hijau. Aku tidak tahu nama lengkapnya. Cari tahu dengan rekaman CCTV hotel semalam, lacak semua pengunjung yang masuk atau keluar hotel.”
Asistennya mulai menelusuri rekaman CCTV dan melakukan penyelidikan identitas wanita itu, bermodalkan nama panggilan wanita itu adalah Beatrice sesuai informasi Alex.
Setelah memberikan instruksi kepada asistennya, Alex masih terduduk di sofa, masih memegang ponsel.
"Aku pasti menemukanmu. Kamu tidak akan bisa lari, Beatrice"
Tepat saat Alex merenung, suara bel pintu kamar suite yang mewah itu memecah keheningan.
Jantung Alex berdebar kencang. Sebuah pikiran liar melintas di benaknya, "Apa wanita itu kembali?"
Antisipasi yang luar biasa membuat gerakan Alex secepat kilat. Ia bergegas menuju pintu, hanya terbalut handuk putih sepinggang, dan membukanya tanpa ragu.
Namun, raut wajahnya yang penuh harap dan antisipasi seketika berubah menjadi kekecewaan yang dingin.
Orang yang berdiri di depan kamarnya bukanlah Beatrice, melainkan Harris.
jgn lupa subscribe, like, komen, kasih rating dan gift, gift yg free jg gpp nonton iklan aja bentar 🤣