Liana hamil anak pria lain, tapi Morgan—suami kontrak yang selalu ia maki—justru yang menggagalkan aborsinya dan mengaku sebagai ayahnya. 'Hiduplah untuk anak itu,' ucap Morgan dingin, meski hatinya hancur melihat istrinya merindukan pria yang telah membuangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perang di Meja Makan
Liana memejamkan mata rapat-rapat, mencoba menghalau suara sirine yang kini terdengar semakin nyata dari arah jalan raya di bawah sana. Setiap detik yang berlalu terasa seperti detak bom waktu. Ia menatap tangan Morgan yang masih mencengkeram pergelangan tangannya—tangan yang panas karena demam, namun sekuat cengkeraman maut.
"Cepat, Liana. Waktumu hampir habis," bisik Morgan, suaranya sedingin es meski napasnya terasa hangat di kulit wajah Liana.
Dengan jemari gemetar, Liana menyentuh layar ponselnya. Ia menekan tombol panggil pada kontak Derby. Morgan melepaskan cengkeramannya, namun ia tidak menjauh. Ia justru berdiri tepat di depan celah pintu, menyandarkan bahunya di sana, memasang telinga untuk memastikan setiap kata yang keluar dari bibir Liana sesuai dengan instruksinya.
Panggilan tersambung.
"Sayang! Ayo turun sekarang! Aku sudah di depan lobi. Kita pergi dari dosen gila itu sekarang juga!" Suara Derby terdengar bersemangat, bercampur dengan deru mesin motornya yang sombong.
Liana menelan ludah, tenggorokannya terasa tersumbat duri. Ia melirik Morgan yang menatapnya tanpa kedip. "Derby ..." suara Liana tercekat.
"Kenapa? Kau menangis? Bajingan itu menyakitimu?" Suara Derby mendadak meninggi, penuh amarah.
"Bukan ... bukan itu," Liana menarik napas panjang, mencoba menstabilkan suaranya agar tidak terdengar seperti sedang diancam. "Derby, pergilah. Jangan menungguku. Aku ... aku tidak bisa keluar malam ini."
"Apa maksudmu? Aku sudah di sini, Liana!"
Liana memejamkan mata, bulir air mata akhirnya jatuh membasahi pipinya. "Aku tidak ingin menemuimu malam ini, Derby. Aku lebih memilih tinggal di sini ... bersama Pak Morgan. Masih banyak tugas kuliah yang harus kuselesaikan dengannya. Jadi, tolong pergi sekarang. Jangan kembali lagi malam ini."
Keheningan yang menyakitkan terjadi di seberang telepon. Hanya terdengar suara klakson kendaraan yang lewat dan sayup sirine yang semakin mendekat.
"Kau bercanda, kan? Kau lebih memilih tinggal dengan patung es itu daripada ikut denganku?" suara Derby terdengar hancur sekaligus tak percaya.
"Ya. Pergilah, Derby. Sekarang!" Liana langsung memutuskan sambungan telepon itu sebelum pertahanannya runtuh sepenuhnya.
Ia melemparkan ponselnya ke atas tempat tidur dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, terisak tanpa suara. Di ambang pintu, Morgan tetap diam. Ia melihat sirine polisi yang sempat melambat di depan lobi apartemen kini kembali melaju menjauh, mengikuti instruksi lewat radio yang dikirimkan oleh koneksi Morgan untuk "membatalkan" patroli di area tersebut.
"Keputusan yang bijak," ucap Morgan pelan. Ia menggeser kembali pintu itu hingga tepat pada celah sepuluh sentimeter, lalu meletakkan penggaris besinya di atas meja belajar Liana dengan denting yang final. "Lanjutkan jurnalmu. Aku tidak akan mentoleransi satu halaman pun yang kosong besok pagi."
Morgan berbalik dan melangkah menuju ruang kerjanya, meninggalkan Liana yang hancur dalam diam.
***
Pagi menyapa dengan kejam. Sinar matahari menembus celah gorden kamar Liana, memaksanya untuk membuka mata yang terasa berat dan sembab. Ia hanya sempat tertidur selama dua jam setelah menyelesaikan rangkuman jurnal ekonomi yang menyiksa itu. Tangannya terasa kaku, dan punggungnya berdenyut nyeri karena membungkuk semalaman di atas meja belajar.
Liana bangkit dengan lunglai, rambutnya yang kusut menutupi wajahnya saat ia berjalan menuju ruang tengah. Ia berharap aroma kopi pahit Morgan adalah satu-satunya hal yang menyambutnya. Namun, saat ia melangkah ke ruang makan, indra penciumannya menangkap aroma yang jauh lebih asing dan ... menjijikkan baginya.
Di atas meja kayu jati yang mengilap, Morgan sudah duduk dengan rapi. Pria itu mengenakan kemeja putih bersih tanpa jas, lengannya digulung rapi hingga siku, memperlihatkan jam tangan perak yang selalu tepat waktu. Di hadapannya, bukan hanya ada secangkir kopi, tapi juga dua mangkuk besar dan sebuah piring datar berisi potongan-potongan hijau yang tampak mencurigakan.
"Duduk," ucap Morgan tanpa mendongak dari tabletnya yang menampilkan grafik saham. Ia menggeser satu mangkuk besar berisi cairan hijau kental ke arah tempat duduk kosong di depannya.
Liana menatap mangkuk itu dengan ngeri. Ia menarik kursi dengan suara decitan yang sengaja ia buat keras, lalu duduk dengan gaya malas, menumpukan dagunya di tangan. "Apa ini? Racun untuk membunuhku secara perlahan?"
Morgan meletakkan tabletnya ke meja dengan gerakan tenang, lalu menatap Liana dengan mata tajamnya yang tak terbaca. "Itu adalah smoothie bayam, kale, dan apel hijau. Tanpa gula. Di sampingnya adalah salad brokoli dan alpukat dengan siraman minyak zaitun. Mulai hari ini, itu adalah sarapan wajibmu."
Liana merasa perutnya mual seketika. Ia mendorong mangkuk hijau itu menjauh hingga hampir jatuh ke pinggiran meja. "Kau gila! Aku tidak makan rumput! Aku biasanya sarapan croissant cokelat atau setidaknya nasi goreng. Aku tidak akan menyentuh cairan menjijikkan ini!"
Morgan tidak bereaksi terhadap ledakan itu. Ia hanya mengambil garpu peraknya, lalu menusuk satu potongan brokoli kecil dengan gerakan yang sangat presisi, seolah sedang melakukan operasi bedah. "Tubuhmu penuh dengan racun alkohol dan makanan sampah dari gaya hidupmu yang tidak teratur. Liam memintaku menjagamu, dan itu termasuk memastikan organ tubuhmu tidak rusak sebelum usiamu mencapai dua puluh satu tahun."
"Aku bukan anak kecil yang harus kau suapi sayur, Morgan!" bentak Liana. Ia bangkit dari kursi, berniat menuju dapur untuk mencari roti atau apa pun yang bisa dimakan.
"Duduk kembali, Liana Shine," suara Morgan berubah menjadi rendah dan berwibawa, nada yang selalu berhasil membuat nyali Liana menciut meski ia benci mengakuinya. Morgan menunjuk kursi itu dengan telunjuknya yang panjang. "Kau tidak akan menemukan apa pun di dapur. Aku sudah membuang semua sereal manis, mi instan, dan selai cokelatmu semalam. Hanya ada bahan makanan organik dan segar di rumah ini sekarang."
Liana ternganga, matanya membelalak tak percaya. Ia berlari ke arah pantry dan membukanya dengan kasar. Kosong. Benar-benar hanya ada deretan botol gandum, biji-bijian, dan minyak zaitun. Ia membuka lemari es, dan yang ia temukan hanyalah hamparan sayuran hijau dan botol-botol jus dingin tanpa label.
"KAU BENAR-BENAR MONSTER!" Liana berteriak dari depan pintu kulkas. Ia berbalik dan berjalan kembali ke meja makan dengan langkah menghentak, wajahnya merah padam karena amarah. "Kau tidak punya hak untuk mengatur apa yang masuk ke perutku! Ini sudah lewat batas! Aku akan menelepon Kak Liam!"
"Silakan," Morgan menyesap kopi hitamnya, wajahnya tetap datar seperti permukaan danau yang membeku. "Liam adalah orang yang menyarankan diet ini. Dia bahkan mengirimkan daftar alergi dan makanan yang selama ini kau hindari agar aku bisa 'memaksamu' memakannya. Dia khawatir kau akan jatuh sakit karena pola makanmu yang mengerikan."
Liana terdiam. Pengkhianatan kakaknya terasa lebih menyakitkan daripada kekakuan Morgan. Ia kembali duduk di kursinya, menatap mangkuk hijau itu dengan kebencian murni. "Aku benci sayur. Baunya membuatku ingin muntah."
"Coba satu sendok," Morgan meletakkan garpunya, lalu menyilangkan tangan di depan dada, menatap Liana seolah-olah sedang menunggu hasil sebuah eksperimen. "Atau kau bisa tetap di sini sampai jam kuliahmu dimulai tanpa ponsel, tanpa uang saku, dan tanpa izin untuk keluar apartemen sepulang kampus nanti."
Liana menggigit bibirnya. Ia tahu Morgan tidak pernah bermain-main dengan ancamannya. Dengan tangan gemetar, ia meraih sendok perak di samping mangkuk itu. Ia menyendok sedikit cairan hijau kental tersebut, membawanya ke depan hidungnya, dan segera menjauhkannya kembali karena aromanya yang sangat "bumi".
"Ayo, Liana. Waktumu sepuluh menit sebelum kita berangkat," desak Morgan, matanya melirik jam tangan peraknya.
Liana memejamkan mata erat-rakat, lalu dengan gerakan cepat ia memasukkan sendok itu ke mulutnya. Rasa getir kale dan asam apel hijau meledak di lidahnya. Ia refleks ingin memuntahkannya, namun Morgan dengan cepat menaruh telapak tangannya di depan mulut Liana, seolah siap menampung muntahannya jika gadis itu berani melakukannya.
"Telan," perintah Morgan tegas.
Liana terpaksa menelan cairan itu dengan susah payah. Tenggorokannya terasa aneh. Ia segera meraih gelas air putih di sampingnya dan meminumnya hingga tandas, napasnya tersengal-sengal.
"Satu mangkuk habis, atau kau kehilangan akses ke akun media sosialmu hari ini," tambah Morgan dengan nada santai yang mematikan.
"Kau ... kau benar-benar iblis berbaju dosen," desis Liana. Ia kembali menyendok sayuran itu dengan penuh dendam, membayangkan bahwa setiap sayuran yang ia kunyah adalah bagian dari tubuh Morgan.
Morgan hanya memperhatikan dalam diam. Ada kilatan kecil di matanya—mungkin rasa puas, atau mungkin sesuatu yang lebih lembut yang ia sembunyikan dengan sangat baik. Ia melihat bagaimana Liana yang manja mulai dipaksa untuk tunduk pada keteraturan.
"Setelah ini, cuci piringmu sendiri. Aku tidak menggaji pelayan untuk membersihkan sisa makananmu," Morgan bangkit dari duduknya, merapikan kursinya hingga masuk kembali ke bawah meja dengan jarak yang sempurna. "Aku tunggu di mobil dalam lima menit. Jika kau terlambat satu detik, kau jalan kaki ke kampus."
Morgan melangkah pergi, meninggalkan Liana yang masih berjuang dengan potongan brokoli terakhir di piringnya. Liana menatap punggung tegap itu dengan amarah yang membara. Ia meraih sebuah apel hijau dari piring buah dan melemparkannya ke arah pintu tempat Morgan baru saja menghilang.
Dug! Apel itu mengenai pintu kayu dengan keras dan jatuh ke lantai.
"Aku akan membuatmu menyesal telah menikahiku, Morgan Bruggman!" teriak Liana ke arah pintu yang kosong.
Namun, dari balik pintu, terdengar suara Morgan yang samar namun jelas. "Habiskan brokolinya, Liana. Aku bisa mendengar suaramu yang sedang menunda-nunda."
Liana menggeram frustrasi, lalu dengan terpaksa menusuk potongan brokoli terakhir. Ia bersumpah dalam hati, suatu hari nanti, ia akan melihat Morgan yang bertekuk lutut memohon ampun padanya. Namun untuk saat ini, realitanya adalah sepiring sayuran hijau yang harus ia habiskan demi selembar kebebasan sementara di kampus.
Saat Liana baru saja menyelesaikan cucian piringnya dengan kasar, ponselnya yang berada di atas meja (yang sengaja ditinggalkan Morgan agar Liana melihatnya) bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal, namun Liana tahu betul gaya bahasanya.
"Liana, aku tahu kau tertekan dengan pria itu. Aku punya rencana untuk mengeluarkanmu dari sana sore ini. Tunggu aku di gerbang belakang saat jam pulang. Jangan biarkan dia melihatmu. - D"
Liana menatap pesan itu, lalu melirik ke arah pintu keluar di mana Morgan menunggunya. Ia memiliki waktu lima menit untuk memutuskan: tetap menjadi tawanan sehat Morgan, atau melakukan pelarian berbahaya bersama Derby yang kini sedang diburu polisi.