Zenna Amalia bukanlah perempuan suci. Ia memiliki masa lalu yang kelam, pernah menjadi simpanan pewaris kaya bernama Rendy Wangsa demi membiayai pengobatan ibunya yang sakit kanker.
"Di luar sana, mana ada laki-laki yang sudi bersamamu, apalagi kalau mereka tahu, kamu bukan lagi perempuan yang punya kesucian dan kehormatan?" kata Rendy keji, sebelum mencampakkan Zenna.
Setelah kehilangan segalanya, Zenna berusaha kembali ke jalan yang benar, rela menebus dosa dengan menikahi seorang lelaki arogan bernama Bram Atmaja.
Bram tahu semua masa lalu Zenna, bersedia menikahinya, demi memenuhi wasiat mendiang ayah tirinya, yang juga merupakan ayah kandung Zenna. Meski dari awal, ia juga sudah memperingatkan Zenna bahwa dirinya adalah pria kasar dan arogan, dan barangkali tak akan pernah mencintai Zenna seumur hidupnya.
Pernikahan yang berlangsung dengan itikad penebusan dosa, tanpa cinta pada awalnya, dan dikejar bayang-bayang gelap masa silam, akankah berujung bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Rumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji Pernikahan Tuan Arogan - Bab 22
"Zenna! ZENNA!"
Teriakan Bram menggema ke seluruh penjuru ballroom. Alunan musik dan langkah-langkah kaki seketika berhenti. Semua mata tertuju ke layar yang menampilkan Bram berlutut di lantai pualam, memeluk tubuh Zenna yang tak bergerak dan berlumuran darah.
"PELAYAN! PANGGIL DOKTER! PANGGIL AMBULANS! SEKARANG!"
Suara Bram kembali menggema, serak, nyaris pecah. Wajahnya kehilangan warna.
"Baik, Tuan!"
Seisi ruangan langsung heboh. Para pelayan bergegas menghubungi dokter di klinik gedung dan ambulans rumah sakit terdekat. Tamu-tamu terbelah--ada yang membeku di tempat, ada yang berkerumun bingung dan saling berbisik dengan wajah pucat, ada yang meninggalkan ruangan dengan sangat cepat.
Kalila, Umi Sarah, Abah Handoyo, Ridwan, dan Suri yang menggendong Isa nekat menerabas tirai dan menghampiri Bram dan Zenna dengan cemas.
"Zenna! Kamu kenapa?" jerit Kalila.
"Zenna, Nak, sadarlah!" pekik Umi Sarah seraya menepuk pipi Zenna dengan jemari gemetar.
Suri menyerahkan Isa kepada Ridwan, lantas berlutut dan memeriksa keadaan Zenna dengan seksama--nadi, pupil mata, napas.
"Jangan-jangan, ini..."
"Di mana dokter?" seru Abah Handoyo tegang.
"Saya di sini."
Seorang lelaki muda berjas putih panjang muncul dengan membawa kotak medis. Ia pun memeriksa Zenna dengan sigap dan cepat.
"Nyonya Zenna keracunan," simpulnya. "Kita harus segera membawanya ke rumah sakit."
"Keracunan?"
Orang-orang di sekitar Zenna terkesiap, kepanikan seketika menjalar.
"Tetapi... bagaimana bisa...?" rintih Umi Sarah, terbata dan terguncang.
"Ambulans sudah menuju kemari, Tuan, akan tiba dalam waktu sepuluh menit...," lapor salah satu pelayan.
"TERLALU LAMA!"
Emosi membuncah di wajah Bram. Ia berdiri dengan cepat dan tanpa ragu mengangkat tubuh Zenna yang mulai dingin dan membiru dalam pelukannya.
"Siapkan mobilku dan supir! SEKARANG!" bentak Bram kepada pelayan--ia seperti kerasukan.
"Ba-baik, Tuan..."
"Aku ikut!" teriak Kalila.
"Aku juga!" teriak Umi Sarah.
"Kalila, Umi, Abah, kalian naik mobilku," kata Ridwan cepat. "Suri, kamu tetap di sini--jaga Isa dan diam di kamar hotel. Aku akan segera mengabarimu lagi."
Suri kembali memeluk bayinya dan mengangguk, wajahnya juga memucat. "Ya, aku juga akan melaporkan kejadian ini pada atasanku di kantor polisi. Hati-hati."
Bram berlari secepat yang ia bisa sambil membopong Zenna menuju lift, lalu menuju halaman depan gedung di mana mobil BMW hitamnya dan supir sudah menunggu.
"Zenna, bertahanlah!" Bram memeluk erat tubuh istrinya di bangku belakang, suaranya bergetar hebat dan ekspresinya sarat lara. "Jangan pergi... kumohon, kumohon, bertahanlah!"
Kepala Zenna terkulai di dada Bram. Tak ada respon.
Mobil yang ditumpangi Bram dan Zenna melesat bagai kilat menuju rumah sakit terdekat. Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, Zenna sudah dibaringkan di atas brankar dan ditangani para dokter di instalasi gawat darurat.
"Harap tunggu di luar," kata perawat singkat sebelum menutup pintu salah satu ruangan zona merah.
Detik-detik yang berlalu terasa sangat mencekam. Kalila dan Umi Sarah berpelukan di lorong sambil menangis. Abah Handoyo pergi ke mushola untuk sholat dan memanjatkan doa. Ridwan duduk di salah satu bangku sambil terus mengutak-atik ponselnya dengan muram.
Bram tak henti mondar-mandir di depan pintu. Napasnya pendek-pendek. Wajahnya pasi. Tangannya berkali-kali mencengkeram dan mengacak rambutnya yang tebal dengan kasar.
Tolong bertahanlah, Zenna... tolong jangan tinggalkan aku seperti ini... aku tak sanggup jika...
Air mata Bram menetes, tepat saat pintu menjeblak terbuka. Seorang dokter keluar dengan muka pucat dan peluh mengucur di sekujur badan.
"Dokter! Bagaimana kondisi Zenna?" tanya Bram cepat, suaranya bergetar hebat.
Dokter itu menarik napas dalam-dalam.
"Kami sudah mengusahakan yang terbaik. Nyonya Zenna, dia--"
***
"Koma."
Sesosok lelaki jangkung dan tegap dengan rambut ikal penuh uban bersandar di rak buku dalam salah satu ruang tengah kamar suite Hotel Majapahit. Ekspresinya sangat tidak puas.
"Paman dapat kabar itu dari rumah sakit...?"
Sesosok perempuan ramping berambut ikal sebahu duduk di salah satu kursi dan memandang lekat lelaki itu yang kini sibuk menggulir layar ponselnya.
"Ya."
"Bagaimana...?"
"Orang-orang Paman ada di mana-mana."
Perempuan itu menahan napas. "Termasuk yang memasukkan racun ke minuman itu...?"
"Ya."
Sunyi.
"Tapi Paman... apa perlu melakukan semua ini...?" tanya perempuan itu pelan.
"Jangan bodoh, Amrita!" tegur laki-laki itu garang. "Kalau kita tidak melakukannya, semua rencana yang sudah disusun sejak awal, akan sia-sia--"
"Itu rencana Paman, bukan rencanaku!" bantah Amrita marah. "Aku tak pernah ingin membunuh istri Mas Bram--kakak iparku sendiri!"
Lelaki yang dipanggil Paman itu tertawa.
"Kalau perempuan itu tidak mati, bagaimana kamu akan mendapat warisan keluarga Atmaja? Statusmu cuma anak tiri. Tak punya hubungan darah apapun dengan Zahir Atmaja. Bahkan Bram terpaksa menikah agar bisa menikmati harta peninggalan Zahir, sementara kamu tak mendapat apapun, sepeser pun! Itu yang kamu mau? Jadi miskin dan menggelandang di jalan?"
Amrita terdiam, ekspresinya tertekan.
"Tapi jika Kak Zenna mati..."
"Warisan itu akan jatuh ke tanganku--satu-satunya anggota keluarga Atmaja yang masih hidup, karena aku sepupu Zahir. Dan karena aku tak punya anak, aku bisa mewariskan harta itu untukmu dan Bram, asal kalian mau tunduk dan patuh pada semua perintah dan keinginanku...!"
"Kenapa Paman melakukan ini semua...?" tanya Amrita lirih.
"Karena aku mencintai ibumu," kata lelaki itu tanpa basa-basi, nada suara dan ekspresi wajahnya menyiratkan kegetiran. "Meski ibumu tak mencintaiku, dan lebih memilih menikahi ayahmu... jujur aku sudah merelakannya. Asal dia bahagia, aku bahagia."
Lelaki itu menarik napas sejenak, tatapannya menerawang penuh kepahitan.
"Tapi orangtua Zahir memaksanya bercerai dan menikah dengan Zahir, hanya agar bisa menggabungkan dua perusahaan besar dan mendapat keuntungan lebih. Setelah itu, kamu tahu seperti apa nasib ibumu. Ia depresi berat, hingga memutuskan gantung diri malam itu, sehari setelah mendengar kabar ayahmu meninggal dalam kecelakaan..."
Amrita menunduk muram, air matanya menderas ketika kenangan buruk masa silam kembali menikam.
"Aku yakin kecelakaan itu juga bukan kecelakaan biasa. Pamanku cukup berani dan keji untuk melenyapkan siapa saja yang menghalangi rencananya--aku kenal betul dia. Ariana pun menjadi korban di sini. Dan aku tak bisa menerima itu. Aku tak bisa terima, keturunan terakhir bajingan itu yang menikmati semua kekayaan ini... di atas penderitaan dan darah wanita yang kucintai!"
Amrita menangis sesenggukan. Sang Paman mendekat dan memeluknya erat.
"Kamu sangat mirip Ariana. Cantik dan rapuh. Tapi jangan khawatir, aku sudah bersumpah untuk melindungi dan membahagiakan darah daging wanita yang kucintai. Kamu akan aman dan hidup nyaman, Rita. Sekalipun aku harus menumpahkan darah orang lain, akan kulakukan. Anggap saja, kematian Zenna adalah karma atas apa yang sudah dilakukan kakek kandungnya kepada ayah dan ibumu. Nyawa dibalas nyawa. Semua akan impas, pada akhirnya."
Dengan tubuh gemetar dan pipi basah, Amrita mendongak dan menatap lurus wajah sang Paman yang masih digurati dendam dan kebencian mendalam.
"Jadi, Paman akan terus berusaha melenyapkan Kak Zenna...?"
Sang Paman menyeringai.
"Koma bukan akhir. Itu baru permulaan. Kamu lihat saja nanti."
***