seorang wanita dari Negara Asia, memutuskan untuk berlibur ke Negara terpencil di bagian timur tengah, hanya untuk bisa melupakan Mantan pacarnya yang berselingkuh dengan sahabatnya sendiri.
Yang dia pikir hanya akan mendapatkan pengalaman baru, tapi ternyata malah menemukan pasangan hidupnya, seorang pria pemilik kafe.
Walau begitu, wanita dari Asia itu tidak mengetahui bahwa pria tersebut, merupakan seorang penerus atau Pangeran mahkota di negara itu.
bisa dikatakan, di buang batu jalanan, malah dapat pengganti batu zamrud di negara asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sayida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 4
Bis yang ditumpangi Tiffany berhenti tepat di depan pasar di dalam kota Aladin tersebut. Suasana di sana sangat mengagumkan mata Tiffany karena lingkungan yang asing dan begitu menakjubkan yang baru dirasakan oleh Tiffany. Tiffany yang baru sampai di kota Aladin sekitar sore hari bisa melihat beberapa orang yang sudah membereskan jualan yang sudah habis.
Udara di kota itu dipenuhi dengan aroma rempah-rempah dan kopi yang harum. Jalan-jalan di kota Aladin dihiasi dengan bangunan-bangunan tua yang indah dengan arsitektur yang khas Timur Tengah.
Karena waktu sudah hampir malam, Tiffany memutuskan untuk mencari penginapan di kota tersebut. Ia berusaha menanyakan penginapan kepada saudagar yang lalu lalang di sana, dan walau memakan waktu yang panjang, Tiffany berhasil menemukan sebuah penginapan yang dikhususkan untuk para wisatawan di sana.
Uniknya, penginapan tersebut sudah tersedia kafe, tempat makan, dan toko kecil khas Timur Tengah, jadi bagi wisatawan seperti Tiffany, cukup awal yang bagus jika tinggal di penginapan tersebut.
Usai Tiffany melakukan transaksi untuk memesan kamar, ia diberikan kartu dengan nomor kamar 15. Di sana, tidak terlalu banyak kamar, hanya ada sekitar 20 kamar di penginapan tersebut. Dan dia merupakan orang ke-15 yang memesan penginapan di sana.
"Terima kasih, miss," ucap Tiffany kepada orang yang menjaga penginapan tersebut dan langsung mengambil kartu kamar dari tangan wanita itu.
Ia pun bergegas ke kamarnya yang berada di lantai 2, ia melepaskan semua beban di tubuhnya, yaitu ransel hitam besar, dan juga pakaian, ia berencana untuk mandi dan langsung tidur.
Singkatnya, pagi pun tiba, suasana yang begitu asing dan berisik langsung membangunkan Tiffany pagi-pagi sekali. Sudah banyak orang yang terbangun di pagi buta itu, suara merdu yang dinyanyikan dari tempat suci orang-orang yang beragama mulai terdengar.
Saat itu juga Tiffany memutuskan untuk mandi dan akan keluar saat matahari pagi terbit. Suasana pagi di kota Aladin begitu tentram. Tiffany yang sudah selesai membersihkan dirinya memutuskan untuk berjalan-jalan pagi di kota Aladin tersebut, dan kota itu juga tidak terlalu besar, membuat Tiffany sangat menikmati waktu jalan pagi-paginya.
...----------------...
Di pagi hari, kota Aladin dipenuhi dengan suara-suara pedagang yang menjual barang-barang mereka, dari karpet hingga perhiasan. Suara-suara ini bercampur dengan suara-suara burung yang berkicau di atas atap-atap bangunan, dan pohon-pohon kurma tumbuh subur di setiap jalan.
"Wah, luar biasa sekali... Banyak sekali barang-barang yang baru pertama kali aku lihat, aku singgah di mana dulu ya?" seru Tiffany, melihat sekeliling orang-orang yang sedang berjualan, hingga ia tertarik di tempat orang yang menjual perhiasan juga pakaian khas Timur Tengah.
Ia membeli beberapa perhiasan di sana dan juga mengganti baju kemejanya dengan pakaian di sana, yaitu ia menggunakan baju bothe berwarna ungu dan baju tersebut memiliki hiasan khas wanita Timur Tengah di bagian dada dan juga kedua lengan tangan yang panjang.
"Wah, luar biasa sekali, kamu sangat cantik menggunakan bothe, nona. Wajahmu dan kulit putihmu sangat menawan. Apa kamu seorang wisatawan?" tanya seorang pria penjual perhiasan dan juga baju tersebut.
"Iya, benar, tuan. Berapa harga baju dan gelang ini?" tanya Tiffany dengan wajah yang berseri-seri.
"5 koin saja," ucap pria itu.
Tiffany yang merasa bahwa harganya sangat murah tidak lagi menawar karena ia sangat senang atas pujian pria tadi kepadanya, ia langsung mengeluarkan koin uangnya dan memberikan kepada pedagang tersebut.
"Terima kasih... Nona," seru pedagang tersebut sambil mengambil uang yang diberikan oleh Tiffany.
"Sama-sama, pak. Saya harus pergi lagi, terima kasih atas pelayanannya," seru Tiffany, memberikan salamnya dan pergi dari sana.
Tidak terasa waktu hampir siang, dan Tiffany belum makan apapun sejak malam. Tiffany merupakan anak yang sangat malas untuk makan jika ia tidak benar-benar lapar. Tapi untungnya ayahnya, Damon, yang merupakan seorang koki, sangat menjaga asupan makanan putri satu-satunya itu.
Tiffany memutuskan untuk mencari tempat makan atau kafe yang berada di kota Aladin. Ia baru teringat bahwa di samping penginapan ada sebuah kafe yang sangat ramai dikunjungi orang-orang. Tanpa berpikir panjang lagi, ia pun langsung memutuskan untuk kembali.
Sesampainya ia di kafe tersebut, ia pun masuk dan cukup tercengang karena furniture di dalam kafe tersebut sangat mewah dan serba emas.
"Wah... Aku merasa seperti masuk ke tempat makan bangsawan Timur," seru Tiffany, mengagumi tempat itu sambil mencari tempat kosong.
Tanpa ia sadari, penampilannya yang sangat berbeda dengan orang-orang di sana membuat dirinya memiliki daya tarik sendiri. Dan tidak jauh dari tempat para barista bekerja, ada seorang pria yang sedang asyik membuat minuman di hadapan pembeli, melirik ke arah Tiffany dengan mata emasnya yang berwarna gold kehitaman.
Ia merasa tertarik dengan penampilan Tiffany dan tanpa disadari, pria itu tersenyum miring saat melihat wajah Tiffany.
"Permisi, nona? Apa ada yang ingin nona pesan? Buku menunya berada di samping nona. Apa nona mau pesan sekarang atau nanti?" tanya seorang pelayan wanita dengan ramah menyapa Tiffany yang sudah mendapatkan tempat duduk.
"Ah, terima kasih. Saya ingin pesan sekarang," ucapnya cepat dan langsung membuka buku menu berwarna hitam di hadapannya. Ada macam pilihan minuman kopi dan makanan manis khas Timur yang tertera di buku menu itu.
"Hm... Saya ingin memesan Turkish coffee satu, sama... manisan, kebab, dan sambosa masing-masing satu porsi," ucap seorang gadis yang sudah lapar sejak tadi.
"Baik, nona. Mohon ditunggu, ya..." ucap pelayan wanita itu sambil mencatat pesanan Tiffany dengan teliti. Dan bergegas pergi dari sana.
"Baik..." jawab Tiffany penuh semangat.
Menjelang beberapa menit, akhirnya pesanan Tiffany datang. Dan membawa pesanan itu adalah pria yang memiliki mata emas kegelapan yang tadi memperhatikannya.
"Permisi, nona. Ini pesanan Anda," ucap pria itu sambil menaruh pesanan Tiffany di meja dengan telaten.
"Baik, terima kasih..." ucap Tiffany terhenti saat melihat pria bertubuh besar, tinggi, dan berotot, berkulit eksotis, dan memiliki satu luka sayatan di pergelangan tangannya. Tiffany terpanah dan kagum saat melihat wajah tampan pria itu, apalagi ia melihat warna bola mata pria itu selaras dengan warna rambutnya.
"Wah..." ucap Tiffany tanpa sadar.
"Apa? Ada lagi yang Nona butuhkan?" tanya pria itu sambil berdiri tegak.
"Tampan," ucap Tiffany begitu saja.
"Apa?"
"Ah, maaf! Tidak, sudah tidak ada lagi. Terima kasih banyak," ucap Tiffany gugup sambil tersenyum malu kepada pria itu.
"Nona? Apa Nona orang baru di sini?" tanya pria tersebut dengan wajah penasaran kepada Tiffany.
"Benar, saya baru sehari di sini," jawab Tiffany sambil menunjukan senyuman manisnya.
"Maaf, Nona. Jika Nona tidak keberatan, saya bisa memperkenalkan kota kecil ini kepada Nona. Saya orang asli di sini. Ah, maaf! Perkenalkan, nama saya Ashan. Saya harap Nona tidak takut dengan saya, dan saya cukup percaya diri untuk bisa memperkenalkan kota kami kepada seorang pendatang," ucap Ashan sambil tersenyum tipis kepada Tiffany.
"Eeh?" lirih Tiffany sambil menggaruk-garuk keningnya yang tidak gatal.
*Astagaaaa! Oh, Tuhan! Bukan wajahnya saja yang tampan! Ia juga begitu berani! Astagaaaa! Tiffany, tenang, tetap tenang! Jangan membuat pria tampan ini merasa tidak nyaman denganmu,* batin Tiffany dengan menahan kuat jiwa centilnya itu..
...********BERSAMBUNG********...
kan memank begitu status kalian Fany...
Ashan sudah memintamu pada keluarga mu di telpon tempo hari...
jangan kasi peluang untuk mereka mengganggu Tiffany...
apalagi Cindy untuk mendekati mu...
jadi ingat pelakor aku kk 😆😆😆🙏🙏🙏
lanjut up lagi thor
Tiffany aja manggil Ashan tanpa embel2 pangeran,masa kamu masih panggil Nona...panggil nama aja lebih akrab nya
udah pangeran,brondong pula 😍😍😍