Indah, seorang gadis dari kampung yang merantau ke kota demi bisa merubah perekonomian keluarganya.
Dikota, Indah bertemu dengan seorang pemuda tampan. Keduanya saling jatuh cinta, dan mereka pun berpacaran.
Hubungan yang semula sehat, berubah petaka, saat bisikan setan datang menggoda. Keduanya melakukan sesuatu yang seharusnya hanya boleh di lakukan oleh pasangan halal.
Naasnya, ketika apa yang mereka lakukan membuahkan benih yang tumbuh subur, sang kekasih hati justru ingkar dari tanggung-jawab.
Apa alasan pemuda tersebut?
Lalu bagaimana kehidupan Indah selanjutnya?
Akankah pelangi datang memberi warna dalam kehidupan indah yang kini gelap?
Ikuti kisahnya dalam
Ditolak Camer, Dinikahi MAJIKAN
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. pernikahan 2
"Sah!"
"Saahhh...!"
Sahut para saksi dan tamu undangan yang hadir. Pagi ini adalah acara ijab kabul yang digelar secara sederhana di kediaman Tuan Rama. Hanya dihadiri oleh keluarga besar saja, yang jumlahnya mungkin berkisar kurang lebih seratus orang.
Ya, itu adalah "sederhana" versi Nyonya Felly. Katanya, yang bukan keluarga inti baru akan hadir nanti saat resepsi malam hari yang akan digelar secara meriah di salah satu hotel bintang lima milik Tuan Rama. Termasuk para karyawan perusahaan, rekan bisnis, dan tamu undangan khusus, termasuk petinggi negara.
"Ah... akhirnya aku punya seorang anak perempuan!" ucap Nyonya Felly, seraya menarik tubuh Indah ke dalam pelukannya. Indah sedang berlutut di hadapannya, hendak mencium tangannya saat acara sungkeman.
Indah menangis haru. Tidak percaya dia sudah menjadi istri Tuan Rama Wijaya.
Di samping Nyonya Felly, Bu Narsih dan Pak Wawan terlihat menyeka air mata. Keduanya tidak percaya jika anak gadis kebanggaannya telah menikah. Ya, keluarga kandung Indah telah didatangkan oleh Tuan Rama sejak tiga hari yang lalu. Kehadiran Pak Wawan sangat diperlukan, selain untuk memberikan doa restu, juga karena beliau adalah wali nikah Indah.
***
Beberapa hari yang lalu
Awalnya, Pak Wawan begitu tidak percaya saat orang suruhan Tuan Rama datang dan menyampaikan maksudnya menjemput mereka. Apalagi mendengar kenyataan bahwa Indah akan menikah dengan putra majikannya.
Sesampainya Pak Wawan, Bu Narsih, dan Resti di kediaman Tuan Rama, dan bertemu langsung dengan Indah, mereka benar-benar shock melihat keadaan Indah. Putri kesayangan mereka sedang hamil? Apa ini benar atau hanya mimpi buruk saja?
Bukan... bukan ini yang mereka harapkan ketika melepas putrinya untuk merantau ke kota. Keinginan mereka adalah putrinya mendapatkan pekerjaan yang layak, lalu bisa mengubah kehidupan mereka. Bukan seperti sekarang.
Mereka memang mendapatkan kiriman uang dari putrinya setiap bulan. mereka pikir kiriman uang itu berasal dari gaji indah yang bekerja sebagai penjaga toko kelontong. Siapa yang mengira itu uang kiriman dari kesucian putrinya yang tergadai? Itulah yang ada di kepala Pak Wawan dan Bu Narsih pada awalnya.
Keduanya benar-benar murka, bahkan nyaris saja Pak Wawan menghajar Tuan Rama, hingga Indah menjelaskan kejadian yang sebenarnya, membuat Pak Wawan dan Bu Narsih benar-benar kehilangan muka. Indah telah berani melempar kotoran ke wajah orang tuanya.
Mereka hanya bisa menangis tergugu menerima kenyataan tersebut. Putri kebanggaannya, gadis lugu yang disayanginya, gagal menjaga kehormatannya sendiri. Betapa malunya mereka, mau diletakkan di mana wajah mereka sekarang?
Mereka sudah sering menjadi bahan hinaan karena kemiskinan mereka, dan sekarang kenyataan bahwa putri mereka hamil di luar nikah... seberapa besar lagi hinaan yang akan mereka terima? Apa masih kurang hinaan akibat kemiskinan yang mereka terima selama ini?
"Tuan Rama, saya benar-benar mengucapkan terima kasih atas apa yang telah Anda lakukan dan berikan pada Indah, akan tetapi ini bukan tanggung jawab Anda, biarkan saya membawa Indah pulang!" Begitu teguhnya pendirian Pak Wawan kala itu. "Batalkan saja pernikahan ini. Tidak selayaknya Anda bertanggung jawab atas apa yang tidak Anda lakukan!" tambahnya.
"Apa... dibatalkan?!" Nyonya Felly yang ikut mendengarnya merasa marah. "Apa Anda tidak berpikir bahwa itu akan mencoreng kehormatan keluarga kami?" sentak Nyonya Felly.
"Undangan sudah disebar, persiapan sudah sembilan puluh sembilan persen, tinggal menunggu esok hari penghulu datang, dan Anda ingin kita membatalkannya?!" nyonya Felly sampai meninggikan suaranya.
"Lalu apa yang orang akan katakan? Rekan bisnis, keluarga besar, bahkan para karyawan yang sudah mendapat berita ini. Apa yang akan mereka pikir tentang keluarga kami jika kemudian tersebar berita Tuan Rama Wijaya gagal melangsungkan pernikahan karena mempelainya kabur?! Apa Anda tidak memikirkan kehormatan keluarga kami?!"
Nyonya Felly berbicara menggebu-gebu. Dia paham maksud ucapan Pak Wawan, tetapi pernikahan ini tidak boleh batal. Bagaimana pun, Nyonya Felly sudah terlanjur menyukai Indah, dan putranya pun menyukai wanita itu dan siap menerima anak yang dikandungnya.
"Bukan seperti itu maksud kami, Nyonya." Pak Wawan merasa dilema, antara menyetujui atau tidak pernikahan itu. Sebagai seorang ayah, dia tentu memikirkan kehidupan putrinya ke depannya karena rumah tangga bukan melulu soal harta.
"Apakah Anda akan benar-benar menerima Indah?" Kali ini Pak Wawan beralih kepada Tuan Rama. "Di luar sana Anda bisa mendapatkan yang lebih segala-galanya dari putri saya!" Pak Wawan bertanya sambil menghapus air mata yang tak henti mengalir membasahi pipinya. Di sampingnya, Bu Narsih setia mengusap punggungnya, memberikan ketenangan.
"Selain itu, usia Indah,,,,"
"Apa pak Wawan ingin mengatakan, kalau putraku terlalu tua untuk Indah?" Nyonya Felly memotong ucapan pak Wawan.
"Sama sekali bukan itu maksud saya, Nyonya. Tapi Indah masih terlalu muda. Meskipun dia anak yang rajin, tetap saja, masih ada sisi kanak-kanak dalam dirinya. Dia hanya dipaksa dewasa oleh keadaan. Dan mungkin adakalanya dia tidak bisa menyikapi masalah secara dewasa. Apalagi latar belakang pendidikan putri saya. Saya takut, nantinya itu akan menyusahkan putra Anda. Saya takut, Indah tidak bisa mengimbangi Tuan Muda." akhirnya pak Wawan mengeluarkan aoa yang sejak kemarin menjadi ganjalan hatinya.
"Ayah jangan khawatir. Itu sudah saya pikirkan sebelumnya. Kalau saya tidak bisa menerima Indah, saya tidak akan mengadakan pesta seperti ini. Ayah tenang saja. Ini juga demi anak dalam kandungan Indah!" Pak Wawan merasa terharu. Tuan Rama bahkan tak segan memanggilnya Ayah.
"Saya mengakui sudah lama saya memperhatikan Indah. Sejak dia masuk ke rumah ini. Dan saya memang menyukainya. Selama ini saya diam, karena sebenarnya saya menunggu Indah melahirkan dan habis masa nifas untuk mengungkapkan perasaan dan melamarnya. Tetapi nampaknya Allah memiliki rencananya sendiri."
Pak Wawan mengusap airmata mendengar pengakuan Rama. Pria tua itu lantas bangkit dari duduknya, dan menghampiri calon menantunya.
Brukk...
"Ayah..."
"Ayah..."
"Pak Wawan...?"
Serentak mereka terkejut dengan apa yang dilakukan lelaki tua itu, yang tiba-tiba berlutut di hadapan Tuan Rama.
"Apa yang Ayah lakukan???" Rama bergegas meraih tubuh calon ayah mertuanya agar segera bangkit. "Jangan seperti ini, Ayah. Tidak selayaknya manusia berlutut di hadapan manusia!" ucap Tuan Rama seraya merengkuh tubuh tua renta itu.
"Terima lah penghormatan dari pria tua ini, Tuan..." Pak Wawan menangis tersedu dalam pelukan Tuan Rama.
"Jangan berbicara seperti itu, Ayah..., dan panggil saya dengan nama saja, tanpa 'Tuan'. Karena mulai sekarang saya akan menjadi anak Ayah juga!" ucap Rama.
"Terima kasih, Nak Rama, semoga Tuhan memberikan limpahan rahmat-Nya di sepanjang hidup Nak Rama!" ucap Pak Wawan tulus.
"Entah kebaikan apa yang saya lakukan di masa lalu, sehingga saya mendapatkan anugrah kehormatan seperti sekarang ini..." Pak Wawan kembali terisak, sedih dengan yang menimpa putrinya, tetapi juga bahagia dan terharu atas apa yang dilakukan keluarga Tuan Rama.
***
Dan sekarang Bu Narsih melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Nyonya Felly begitu menyayangi putrinya, Indah. Bu Narsih dan Pak Wawan mengusap air mata, penuh haru, atas penerimaan sepenuh hati dari Nyonya Felly dan Tuan Rama, dan mereka berdoa dalam hati semoga kehidupan putrinya ke depannya hanya akan menemui kebahagiaan.
***
Pesta berlangsung sangat meriah. Nyonya Felly benar-benar tak tanggung-tanggung dalam menyiapkan segalanya. Pak Wawan, Bu Narsih, Resti, dan bahkan Indah sendiri tidak menyangka bahwa Tuan Rama akan mengadakan pesta semegah ini. Apakah ini cerita Cinderella dari kisah negeri seribu dongeng? Apakah ini mimpi ataukah nyata? Jika ini hanya mimpi, bolehkah Indah berharap bahwa dia tak bangun lagi?
keselek biji kedondong gak tuh/Smug//Smug/