Daniella Dania wanita tangguh yg hidup sebatang kara harus mengalami peristiwa yang membuat dunianya runtuh kesucian nya di ambil oleh pria yg tidak dia kenal di malam kelulusan nya karna jebaka seseorang yg tidak menyukai nya di sebuah hotel nega A
Calix Matthew Batrix pria super tampan,cuek, dingin tak tersentuh orang paling berpengaruh baik di dunia atas atau bawah CEO BATRIX GRUP dan pemimpin mafia Eropa dan asia BLACK DRAGON.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
POSITIF
"Oke, oke! Beri aku waktu dua jam. Gila, hari liburku musnah seketika!"
Lima Bulan Kemudian – Negara Y
Dania duduk di tepi tempat tidur, menatap sebuah benda kecil dengan dua garis merah di tangannya. Air mata jatuh membasahi pipinya. Ada rasa takut yang luar biasa, namun terselip kehangatan yang tak terlukiskan di dadanya.
"Anak-anak Mommy..." bisiknya sambil mengusap perutnya yang sudah mulai membuncit.
Pagi itu, ia telah mengunjungi dokter kandungan. Ingatannya kembali ke ruang USG yang dingin saat Dokter tersenyum lebar menatap layar monitor.
Kehamilan baby triple tidaklah mudah. Memasuki bulan kelima, perut Dania jauh lebih besar dari ibu hamil pada umumnya. Punggungnya sering terasa nyeri, dan kakinya mulai membengkak.
Malam itu, hujan turun deras di Negara Y. Dania duduk bersandar, mencoba mencari posisi nyaman. Tiba-tiba, sebuah tendangan kecil terasa kuat di perutnya.
"Ssh... sayang, tenanglah," bisik Dania sambil tersenyum meski air matanya mulai mengalir. "Kalian kangen Daddy, ya?"
Perasaan sensitif ibu hamil menghantamnya dengan telak. Ia merindukan Calix. Ia merindukan pelukan pria yang hanya ia temui satu malam itu. Dengan tangan gemetar, Dania meraih kemeja putih milik Calix yang masih tersimpan rapi. Ia memeluk kain itu erat-erat, menghirup sisa aroma yang sebenarnya sudah lama hilang, namun masih terekam jelas di ingatannya.
"Maafkan Mommy karena tidak bisa menghadirkan Daddy di sini," isaknya pecah dalam kesunyian kamar.
Di Negara A, di waktu yang sama, Calix Matthew Batrix terlonjak bangun dari tidurnya dengan napas memburu. Keringat dingin membasahi keningnya.
Ia baru saja bermimpi. Dalam mimpinya, ia melihat Dania sedang menangis tersedu-sedu di sebuah ruangan asing. Ia mencoba menggapai wanita itu, ingin menghapus air matanya, namun Dania justru berjalan menjauh darinya dengan bahu yang bergetar.
Calix memegangi dadanya. Rasa sesak itu terasa begitu nyata, seolah jantungnya sedang dicabut paksa.
"Di mana kau, Dania?" bisiknya parau ke arah kegelapan kamar. "Kenapa kau menangis? Apa yang terjadi padamu?"
Calix berdiri, menatap jendela besar yang memperlihatkan lampu kota. Selama lima bulan ini, ia tidak pernah berhenti mencari. Dan malam ini, firasatnya mengatakan sesuatu yang besar sedang terjadi pada wanita itu.
"Aku akan menemukanmu. Segera," janjinya pada diri sendiri.
Pagi itu di Negara Y, udara terasa begitu berat bagi Dania. Ia mencoba bangkit dari tempat tidur, namun dunianya seolah berputar hebat. Perutnya yang besar karena hamil bayi kembar tiga terasa sangat berat, membuat punggungnya seperti ditarik paksa.
"Ssh... pelan-pelan, Sayang," bisiknya pada dirinya sendiri, mencoba menenangkan detak jantungnya yang tidak beraturan.
Dania berjalan tertatih menuju dapur untuk mengambil segelas air. Namun, baru beberapa langkah, rasa mual yang hebat menyerangnya. Tubuhnya gemetar, wajahnya pucat pasi tanpa semburat darah. Saat ia bercermin di lorong, ia hampir tidak mengenali dirinya sendiri. Matanya cekung karena kurang tidur, dan tubuhnya terlihat lebih kurus meski perutnya membuncit besar.
"Nona! Nona Dania!" Seru Mang Asep yang baru saja masuk untuk mengantarkan belanjaan. Ia segera berlari menahan tubuh Dania yang hampir ambruk.
"Mang... pusing sekali," gumam Dania lirih sebelum kesadarannya mulai meredup.
Mang Asep panik. "Nona! Bertahanlah! Saya akan bawa Nona ke rumah sakit sekarang!"
Di lantai teratas gedung pencakar langit Batrix Group, suasana mencekam menyelimuti ruangan kerja Calix. Suara barang pecah beradu dengan teriakan yang membuat jantung siapapun menciut.
"APA YANG KALIAN KERJAKAN SELAMA INI, HAH?!" suara Calix menggelegar, memenuhi setiap sudut ruangan.
Tiga orang pria berpakaian hitam tertunduk gemetar di hadapannya. Mereka adalah tim elit yang biasanya tak pernah gagal, namun di hadapan Calix yang sedang meradang, mereka tampak seperti tikus kecil.
"Jawab aku! Satu tahun! Hampir satu tahun istriku menghilang dan kalian hanya memberiku laporan kosong?!" Calix menyapu semua barang di atas meja kerjanya hingga berantakan di lantai.
"Maaf, Tuan... Nona Dania sepertinya sengaja memalsukan seluruh data penerbangan. Sistem keamanan bandara di hari itu telah dibersihkan secara total. Kami kehilangan jejak di terminal keberangkatan," ucap salah satu anak buahnya dengan suara bergetar.
Calix mencengkeram kerah baju pria itu. Matanya merah, penuh dengan amarah dan kerinduan yang menyiksa. "Istriku bukan orang biasa! Dia jenius! Jika kalian tidak bisa menemukannya, itu artinya kalian yang bodoh!"
"Tuan, tenanglah..." Samuel masuk dengan langkah cepat, mencoba menengahi sebelum Calix melepaskan pelatuk senjatanya.
"TENANG KATA MU, SAM?! ISTRIKU PERGI! DIA MEMBAWA DIRINYA JAUH DARIKU!" Calix menghempaskan anak buahnya. "Satria saja sampai koma dua bulan karena kegagalannya. Kalian mau menyusul dia ke rumah sakit?!"
"Marco sedang mengerahkan semua unit di luar negeri, Tuan. Kita akan menyisir setiap sudut negara Y dan sekitarnya," bujuk Samuel.
Calix terengah, ia merosot ke kursi kebesarannya dan menutup wajah dengan tangan. "Cari dia sampai dapat. Jika tidak, jangan pernah menampakkan wajah bodoh kalian lagi di depanku. Keluar!"
Begitu ruangan sepi, Calix meraih sebuah figura foto yang kosong—karena ia bahkan tidak memiliki foto Dania selain dari tangkapan layar CCTV yang kabur. "Di mana kau, Sayang? Kembali padaku..."
Berbeda dengan badai di Negara A, di sebuah vila asri di Negara Y, Dania sedang berjuang dengan perutnya yang kian membesar. Meski fisiknya melelahkan, ia tidak sendiri. Ada Rafael, remaja berusia 16 tahun yang kini mengabdikan hidupnya untuk menjaga Dania.
Pertemuan mereka terjadi setahun lalu, sebuah takdir yang menyelamatkan dua nyawa sekaligus.
Flashback
Dania baru saja keluar dari sebuah kantor properti saat melihat kerumunan orang di depan sebuah toko roti. Seorang pria tua sedang memukuli seorang remaja kurus yang sudah bersimbah darah.
"Pencuri! Beraninya kau mengambil rotiku!" teriak pria itu sambil melayangkan tendangan.
"Berhenti!" Suara Dania menghentikan aksi brutal itu. Ia melangkah maju dengan aura kepemimpinan yang tak terbantahkan. "Berapa harga roti yang dia ambil?"
Pria tua itu menoleh sinis. "Siapa kau? Jangan ikut campur! Dia sudah mencuri!"
"Aku tanya berapa harganya?" Dania menatap pria itu tajam. "Anak ini sudah pingsan. Kau ingin menjadi pembunuh hanya karena sepotong roti?"
"Tiga puluh lima ribu!" jawab si pemilik toko kasar.
Dania mengeluarkan lembaran uang merah dan melemparkannya ke meja. "Ambil. Itu dua kali lipat harganya. Sekarang minggir, aku akan membawanya ke rumah sakit."
Flashback End
Sejak saat itu, Rafael menganggap Dania sebagai kakaknya, pelindungnya, dan dunianya.
"Kak Dania... tolonglah, kali ini saja jangan yang aneh-aneh," rengek Rafael sambil memegangi kepalanya yang pening.
Dania yang sedang bersandar di sofa empuk sambil mengelus perut buncitnya hanya cemberut. "Tapi Rafael, Baby Triple yang minta. Mereka ingin melihatmu memeluk harimau yang sedang hamil di kebun binatang."