NovelToon NovelToon
PENDEKAR PEDANG BERLIAN

PENDEKAR PEDANG BERLIAN

Status: tamat
Genre:Romantis / Fantasi / Contest / Kultivasi / Pendekar / Wuxia / Fantasi Timur / Tamat
Popularitas:2.5M
Nilai: 4.8
Nama Author: Aa Petruk

Teratai Putih adalah nama sebuah desa terpencil yang letaknya jauh dari pusat keramaian kota di kekaisaran Han. Meski terletak jauh dari pusat ibu kota, namun penduduk desa Teratai Putih hidup rukun dan sejahtera berkat sumber daya alam yang melimpah.

Hingga suatu saat kedamaian desa Teratai Putih terusik oleh kehadiran kelompok perampok dan pendekar aliran hitam yang datang untuk merampas harta benda seluruh warga desa.

Penduduk desa yang awalnya hidup rukun penuh dengan ketentraman, terpaksa melewati hari-hari berselimut ketakutan yang mencekam.

Chi wei adalah seorang anak petani dari desa Teratai Putih. Dia bersama dua orang sahabatnya Tao Ming dan Yan San, setiap hari menghabiskan waktunya untuk berburu. Disaat anak-anak sebayanya sibuk belajar dan berlatih ilmu bela diri, mereka bertiga akan pergi ke hutan untuk berburu hewan liar dan berbagai macam tanaman obat. Hasil dari perburuan tersebut nantinya akan mereka jual ke tengkulak yang ada di desa Teratai Putih.

Hingga suatu ketika di sebuah hutan belantara, chi wei mengalami fenomena yang merubah jalan hidupnya. Takdir hidup yang membuat dia menjadi seorang pendekar berilmu tinggi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aa Petruk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cha 4 - Berita Yang Menggemparkan

Di sebuah rumah kayu berwarna coklat sederhana namun cantik yang terletak tidak jauh dari danau Teratai Putih, terlihat sepasang suami istri duduk santai di bale-bale ditemani dua gadis kembar lucu berusia sekitar empat tahun.

Mereka menikmati indahnya langit sore seraya menyaksikan beberapa penduduk desa yang berada di sekitar danau. Semua orang yang berada di sana begitu kagum akan kecantikan kelopak bunga teratai putih. Sesekali mereka memejamkan mata untuk menikmati kedamaian saat aroma wangi masuk kedalam saluran pernapasan mereka.

Ya, hari itu tepat dimana Teratai Putih yang ukurannya paling besar mendapatkan giliran untuk memamerkan kecantikan kelopaknya. Sehingga hari itu banyak penduduk desa Teratai Putih yang menghabiskan waktu di taman-taman sekitaran danau. Mereka seakan tidak pernah bosan untuk menikmati penomena tersebut.

"suamiku, hari sudah menjelang malam, apa kau tahu Wei'er pergi kemana?" Xin Yia bertanya kepada suaminya, Chi Fan.

Chi Fan menarik nafas panjang lalu mengembuskannya secara perlahan. "seharusnya kau tidak perlu bertanya istriku, kau pasti tahu dimana dia sekarang."

"iya, tapi tidak biasanya Wei'er pulang terlambat."

sanggah Xin Yia memasang muka cemas.

"kamu tidak perlu khawatir Yia'er, paling anak kita malam ini menginap di sarang harimau...hahaha." Chi Fan menggoda istrinya.

Sejenak dia teringat ketika Chi Wei pulang dengan membawa tiga ekor anak harimau, dan baru dikembalikan kepada induknya tiga hari berselang. Anehnya dia pulang setelah mengembalikan anak harimau tersebut tanpa sedikitpun terluka. Padahal saat itu ibu Chi Wei sangat khawatir takutnya induk harimau tersebut marah dan melukai anak sulungnya itu.

"suamiku.......hmmmmm." Xin Yia pura-pura geram menanggapi sikap suaminya yang seakan tidak peduli atas kekhawatiran yang tengah ia rasakan.

"ayah, ibu, itu kak Tao Ming dan Kak Yan San." celetuk Chi Meilin sambil menunjuk ke arah Tao Ming dan Yan San yang sedang berlari terengah-engah menuju kearah mereka.

Anak gadis kembar lucu itu adalah Chi Meilin dan Chi Mexia. Mereka berdua adalah adik kandung dari Chi Wei.

"mereka berdua kenapa, seperti ketakutan?" gumam Chi Fan yang sedikit merasa heran melihat ada beberap penduduk yang berjalan cepat mengikuti Tao Ming dan Yan San di belakangnya.

"Paman, Bibi....hah...hah..hah..hah..." Tao Ming dan Yan San langsung duduk di depan orang tua Chi Wei dengan napas tersengal-sengal.

"kalian berdua kenapa,,,terus... di mana Wei'er?... apa yang terjadi dengan dia?..." Xin Yia semakin panik melihat Tao Ming memegang baju dan tas milik putra sulungnya tersebut.

"kamu tenang dulu istriku." Chi Fan berkata sambil memegang pundak Xin Yia, lalu masuk kedalam rumah dan kembali dengan membawa dua gelas air putih dan diberikannya kepada Tao Ming dan Yan San.

"Minumlah,,,Ming'er, San'er."

"Hiruplah aroma teratai putih, sesaplah dalam-dalam agar kalian merasa lebih tenang." Chi Fan memegang pundak kedua sahabat anaknya tersebut.

Sementara di halaman rumah Chi Fan ada sekitar 20 orang yang menyaksikan mereka. Melihat Tao Ming dan Yan San lari pontang panting sambil menampakan wajah cemas membuat mereka merasa kalau ada sesuatu yang buruk telah terjadi kepada tiga anak kecil yang bersahabat itu.

Satu persatu mereka pun mengikuti Tao Ming dan Yan San saat berlari menuju rumah Chi Wei. Sikap saling peduli antar penduduk desa Teratai Putih memang sudah tertanam amat dalam, hingga jika salah satu penduduk ada yang mengalami kesulitan maka tanpa diminta pun mereka akan dengan senang hati mengulurkan bantuan.

"Paman,...Bibi...Chi Wei........"

Dengan tubuh bergetar dan mata sedikit berkaca-kaca, Tao Ming menceritakan semua yang mereka alami selama berada di hutan Timur. Semua orang yang berada di tempat itu tersentak kaget dan tak sedikit merasa heran atas apa yang menimpa Chi Wei dan kedua sahabatnya.

"Wei'er,,,Dimana kamu nak?"... Lirih Xin Yia menangis sambil memeluk kedu anak gadis kembarnya.

Para tetangga Chi Fan yang ikut mendengarkan penjelasan Tao Ming pun mulai gaduh masing-masing mengemukakan pendapatnya.

"baiklah,,,Ming'er, San'er,,,untuk sementara tolong kalian jaga si kembar, dan kau istriku, pergilah ke rumah kepala desa, ceritakan semua apa yang baru saja kita dengar. sementara, aku akan pergi ke hutan Timur untuk mencari Wei'er."

"Paman Chi, biar aku saja yang menemui kepala desa. Bibi Xin sebaiknya tetap di sini bersama si kembar. Dan para tuan-tuan semuanya, aku harap kalian membantu paman Chi untuk mencari Wei'er ke Hutan Timur." sahut seorang pemuda yang dari tadi telah mengikuti Tao Ming dan Yan San saat mereka berlari keluar dari arah hutan Timur.

Semua orang yang berada di kediaman Chi Wei pun sepakat atas usulan pemuda tersebut tadi. Xin Yia, Tao Ming dan Yan San beserta si kembar menunggu di rumah, Chi Fan bersama para tetua dan beberapa orang penduduk pergi menuju hutan Timur.

Sebagian dari mereka ada yang berangkat kearah utara untuk menyusuri sungai, sementara sisanya langsung pergi menuju hutan Timur bersama Chi Fan.

Dengan cepat kabar tentang menghilangnya Chi Wei menyebar ke seluruh pelosok desa Teratai Putih. Diantara mereka ada yang mendatangi kediaman Chi Wei termasuk salah satunya kepala desa. Ada juga yang berinisiatif langsung pergi ke hutan Timur untuk membantu pencarian. Mereka seakan tak peduli meski hari sudah mulai gelap. Rasa kepedulian yang sangat besar diantara mereka, membuat para penduduk desa tidak bisa hanya berdiam diri sementara salah satu sodara mereka tengah dilanda musibah.

Chi Wei, dengan segala kelebihannya mampu membuat para orang tua menyayanginya seperti menyayangi anak sendiri.

Chi Wei, dengan segala pesonanya mampu meluluhkan banyak hati para remaja putri. Mereka seakan tak peduli meski usia anak itu jauh dibawah mereka. Bahkan bisa dibilang Chi Wei hanyalah seorang anak kecil ingusan yang masih sangat bau kencur.

Bagi mereka, ketampanan Chi Wei semakin sempurna di saat dia tersenyum manis. Lesung pipi yang terukir di kedua belah pipi Chi Wei, mampu membuat siapapun yang memandangnya enggan untuk berpaling.

Dan saat ini dikala kabar menghilangnya Chi Wei menyebar, banyak diantara mereka yang menangis merasa kehilangan.

Seketika rumah kediaman Chi Wei pun dipadati oleh sodara, tetangga, dan beberapa penduduk yang datang untuk memberikan dukungan moril kepada Xin Yia yang sejak sore tadi tak berhenti meneteskan air mata.

Xin Yia tidak bisa menerima begitu saja kalau anak kebanggaannya tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Meski begitu, sedikit pun dia tidak menyalahkan Tao Ming dan Yan San. Xin Yia tahu bagaimana eratnya persahabatan Chi Wei, Tao Ming dan Yan San.

1
Rajo kaciak
cerita nya terlalu kereen
Rajo kaciak
mantap, mudah2an hanya seorang wanita nya , karna rata2 kultivator punya bnyk istri 🤣🤣
Nay Galcite Nay Galcite
😎😎
John Travolta
thor ga ada update lagi kah?
dofi hendriyanto
rekomendasi
Khairul Azman Abdul Kahar
waduhhhh kenapa tidak diambil cincinnya
Bocil
cwritanya bagus thor. tapi untuk suara audionya musiknya terkalu keras jd merusak suara lainya.
Didik Setyawan
aq bingung saat bca seorang yg d'panggil pangeran it anakx jenderal,trs anakx raja/kaisar d'panggil pa y??????????????????
Didik Setyawan
tingkatan pendekar kok lucu pke bingit sich,s'tauku gelar dewa yg akhir tp nie lucu bingit.masa pendekar bumi trs dewa bumi,pendekar langit trs dewa langit.n raja Mlah yg akhir,emang gelar raja lbih tinggi drpd dewa wkwkwk,,
Roynaldi Ananda
àuthor kan lulusan pesantren tebu ireng
Roynaldi Ananda
author sialan
Hary
KAMPRET.... 🤣
Omen Aura
keren menghibur😄
Omen Aura
kopi luwak😄😄
Raditya Radi
lanjut
Harman Loke
lanjuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuutt
Purwanto aza
g ada kelanjutannya
Nurhairani
jadi ngak seru.masa berahir begini ceritanya
Roni Sakroni
lanjutkan dan terima kasih...
Roni Sakroni
asyemmm tenan...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!