Guno adalah seorang pria yang hidupnya berubah drastis dalam semalam. Istri tercintanya meninggal dunia akibat ledakan gas tragis di rumah mereka. Kejadian itu mengubah status Guno dari seorang suami menjadi duda dalam sekejap.
Sebagai seorang guru yang dikenal berdedikasi tinggi, Guno dikelilingi oleh siswa-siswi berprestasi yang baik dan simpatik. Saat kabar duka itu tersebar, seluruh penghuni sekolah memberikan simpati dan empati yang mendalam. Namun, di tengah masa berkabung itulah, muncul sebuah perasaan yang tidak biasa. Rasa peduli Guno yang semula hanya sebatas guru kepada murid, perlahan berubah menjadi obsesi terhadap seorang siswi bernama Tamara.
Awalnya, Tamara menganggap perhatian Guno hanyalah bentuk kasih sayang seorang guru kepada anak didiknya yang ingin menghibur. Namun, lama-kelamaan, sikap Guno mulai membuatnya risih. Teman-teman Tamara pun mulai menyadari gelagat aneh sang guru yang terus berusaha mendekati gadis itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silviriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketiga kalinya
Plak!
Tamparan itu begitu keras hingga menyadarkan Guno yang sedari tadi seperti orang kesurupan ketika melihat Tama. Tentu rasa sakit menjelma di pipi Guno, Dia memegang pipinya lalu menatap Tama.
" kok kamu jahat sih sama saya? " tanya Guno pelan.
Lalu secara perlahan Tama bangun dari posisi tidurnya itu pun mau tak mau Guno juga duduk dengan benar.
" Sadar pak, saya masih murid bapak! "
Guno malu, dia langsung pergi ke kamar mandi dan Tama mengelus dada. Dia bersyukur jika Guno masih bisa diberi tahu meskipun dengan cara ditampar.
Akhirnya Tama mengambil sebuah handuk kimono yang tersimpan dilemari hotel, ia memakainya.
" Biar pak Guno gak nafsu lihat gue! " ucapnya pada dirinya sendiri.
Dan Guno yang berada didalam toilet hanya bisa diam sembari melihat dirinya sendiri.
" Bodoh banget gue, baru lihat segitu doang udah kepancing. Terus habis ini ngapain, langsung makan aja? "
Guno mengetuk - ngetuk kakinya ke lantai sembari berfikir langkah selanjutnya harus apa. Dia kebingungan sendiri " Apa gue minta pendapat anak - anak aja kali ya? " dia diam lalu otaknya menyetujui pertanyaannya itu " Iya! Gue harus minta pendapat anak - anak " Dengan sigap Guno langsung mengeluarkan Handphone nya.
Guno bertanya soal kencannya dengan Tama digrup chat guru yang isinya hanya laki - laki saja.
" Gays, gue mau tanya sama kalian! "
Dan yang merespon Guno, Dika.
" Tanya apa? "
" Gue hari ini kencan sama Tama di hotel Senjaya, barusan dia pakai baju Hana. Gue terkesima lihat Tama, sampai - sampai hampir aja gue sentuh dia "
" Terus, sekarang lu lagi ngapain, dimana? "
" Gue di toilet, keadaan jadi canggung setelah Tama tampar gue "
Kini Dika tidak membalas dia hanya menyimak seperti yang lain. Lama sekali pesan Guno tidak ada yang menyahuti pun dirinya menggaruk kepala karena langsung stress dibuatnya, Guno mengirim pesan kembali di grup chat itu.
" Ini gue harus gimana, ada yang punya saran gak? "
Lalu Usep menjawab.
" Sebagai anak muda yang sehat, gue saranin mending langsung makan saja! Minta maaf sama Tama karena sudah berani berbuat yang tidak wajar terus cari topik yang lain, yang menurut lu Tama harus tahu "
" Apapun itu? "
" Apapun, mungkin sekalian jam tambahan biologi? wkwkwkwk! "
Guno berdecak " Ck! Sialan! " tapi dia menulis digrup chat " Ok! gue coba " pun usep menjawab " Selamat berjuang petarung sejati! ".
Lagi - lagi Guno mengatur nafasnya, dia sedikit melakukan pemanasan tubuh lalu dirinya siap maju menemui Tama.
Pintu kamar mandi di buka.
Clek!
Tama sedang duduk memandang keluar jendela dan Guno menghampirinya meskipun ada sedikit adegan Guno hampir terjatuh ke lantai karena kakinya berjalan tidak sinkron.
" Duh! "
Tama menyadari hal itu, dia langsung menengok ke arah Guno.
" Pak? "
" Tam.. "
Guno grogi tapi mau bagaimana lagi dia sudah berada disamping Tama.
" Maaf ya tadi saya kelewatan " Guno to the point.
" Gakpapa pak, wajar " ucap Tama wajahnya masih memandang keluar jendela.
" Mau.. makan? Saya pesan bakso dihotel ini, katanya best seller! "
Kini Tama berani melihat wajah Guno
" Jadi tadi bapak keluar kamar untuk pesan bakso? "
" Ya! Kamukan anak orang dan saya yang bawa kamu, masa saya gak kasih makan kamu "
Tama tersenyum tiba - tiba dirinya menyandarkan kepala ke bahu Guno.
" Bapak perhatian.. "
" Sudah biasa "
Guno menjawab itu sembari keluar keringat dingin yang mengucur dipunggungnya pun tiba - tiba tangan Guno gemetar hebat dan itu dirasakan oleh Tama.
Tama duduk tegap, dia melihat Guno dengan tatapan hangat.
" Saya tadi terkejut lihat bapak seperti itu tapi, kalau misalkan bapak mau sentuh saya untuk sekedar memeluk saya siap kok untuk bapak "
Guno tertawa kaku, ada sedikit rasa senang karena ternyata Tama tidak semahal yang dipikirkan-nya. Perlahan tangan Guno merayap dipaha Tama pun lengan satunya lagi menggerayang dipunggung Tama. Sedikit demi sedikit wajah Guno mendekat dan Tama kini bisa mengendalikannya dengan menyematkan jari di bibir Guno lalu bilang " Katanya mau makan bakso? " Senyum Guno merekah namun palsu, batinnya kecewa " Gue pikir bakalan langsung, sialan! ".
Tubuh Guno perlahan mundur kemudian dia berdiri lalu mengulurkan tangan dan uluran itu dibalas oleh Tama. Digandenganya Tama ke meja yang sudah diletak-kan bakso dan minumnya.
Tama dan Guno duduk berhadapan, mereka mulai menyantap bakso itu. Yang namanya bakso apalagi masih panas tentu uap-nya akan naik ke wajah yang menunduk ke mangkok, Tama tak percaya diri berulang kali dirinya mengelap wajah menggunakan tissu. Guno merasa kalau ternyata Tama wanita yang ribet soal penampilan, apalagi ketika Tama mengambil bedak dari dalam tasnya lalu dipakai di depan Guno, Guno pikir itu adalah hal yang tidak wajar.
" Hana kalau makan bakso itu suka santai, nggak pernah dia ribet soal penampilan. Lagi pula Hana punya amalan untuk membuat wajahnya terlihat awet muda "
Tama yang tadinya ribut membenarkan riasannya di cermin bedak langsung terdiam.
" Oh begitu ya? "
" Iya! Dia nggak pernah tuh bedakan di depan saya, dia selalu menghargai saya kalau makan ya makan. Ngapain dandan? "
" Iya, lain kali saya kalau membenarkan riasan bakalan masuk dulu ke toilet maaf jika bapak terganggu "
Guno mengganggukan kepalanya kemudian lanjut makan. semakin lama Guno semakin memperhatikan gerak-gerik Tama dari mulai penampilan sampai cara dia makan.
" kukumu dikasih kutek? "
Tama yang merasa dirinya diperhatikan tentu langsung melihat jari-jarinya itu lalu menjawabnya dengan senyum senang " Iya! Gimana bagus gak pak? " Guno tersenyum namun bibirnya menyungging " mungkin menurutmu bagus tapi menurut saya tidak dan Hana istri saya tidak memakai cat kuku kutek seperti kamu, terlalu banyak yang dipakai tidak mencerminkan bahwa kamu wanita yang bermartabat tinggi " lalu Guno lanjut makan.
Bakso yang rasanya enak sekali sesuai dengan penilaian pelanggan dan pihak hotel memberikan gelar kalau bakso ini best seller, tiba-tiba rasanya menjadi hambar dan tidak sekenyal bakso yang tadi pertama Tama kunyah.
Ini untuk yang ketiga kalinya hati Tama tergores, bakso yang masih banyak porsinya kini harus dia biarkan karena tidak enak bukan soal rasanya tapi soal hati Tama yang beberapa kali Guno menggores luka meski tak seberapa tapi lama - lama kesal juga. Guno yang menyadari Tama begitu langsung bertanya,
" Kenapa? "
Namun tidak dijawab oleh Tama, dia malah berdiri lalu mengambil pakaiannya yang tadi di simpan di atas tas kemudian dia masuk ke dalam kamar mandi.
Guno pikir kalau Tama mengganti pakaiannya karena tidak nyaman makan memakai pakaian dinas seperti itu, meskipun masih pakai handuk kimono tetap saja mungkin, takut area sensitifnya terlihat.
Tak lama Tama di dalam kamar mandi dia langsung keluar kemudian mengambil beberapa barang - barangnya.
" Saya pulang ya pak " ucapnya tiba - tiba dan Guno terkejut mendengar Tama berkata begitu.
" Mau kemana? Waktu kita masih banyak loh! "
Tapi Tama menghiraukan perkataan Guno.