*"Di dalam kedalaman tanah yang menyelimuti kota Manado, ada sebuah ruang bawah tanah yang hanya bisa dilihat oleh mereka yang telah 'dipanggil'. Lima belas wanita berjubah hitam berdiri melingkari lingkaran cahaya emas yang bersinar seperti darah yang baru saja mengering. Setiap malam, mereka menyanyikan doa yang tak dikenal manusia, memanggil sesuatu yang seharusnya tetap tertidur di dalam kegelapan.
Sevira, seorang dokter muda yang baru saja pindah ke Manado untuk mengobati warga miskin, tidak menyadari bahwa rumah yang dia sewa dulunya adalah bagian dari kompleks gereja kuno itu. Saat dia mulai menemukan jejak-jejak aneh – kain hitam yang tersangkut di pagar, suara nyanyian yang terdengar di malam hari, dan wajah-wajah menyakitkan yang muncul di cermin saat malam hujan – dia terjerumus ke dalam rahasia yang telah menyiksa keluarga keluarganya selama berabad-abad.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: RUANGAN YANG TERLUPAKAN
Napasan Om Sugi yang hangat dan berbau busuk sudah menyentuh bagian belakang leherku, sementara anak kecil di depanku masih terus tersenyum dengan wajah yang membuatku menggigil. Suara klik klak sepatunya semakin jelas setiap kali dia mengangkat kaki, dan di balikku terdengar suara batu bata yang bergeser serta air yang menggelegak ketika Om Sugi turun ke dasar ruangan. Tangan anak kecil itu perlahan meraih tanganku kulitnya dingin seperti es, tapi rasanya lembut seperti kain sutra yang sudah tua.
Bau darah dan sesuatu yang seperti kembang sepatu yang sudah basi memenuhi lorong sempit ini, membuatku sulit bernapas. Cahaya korek api sudah sangat redup, dan bayangan dari dinding lorong tampak seperti makhluk besar yang sedang merayap menyusul kita. Aku bisa merasakan getaran di lantai saat Om Sugi semakin dekat, dan suara tangannya yang menyentuh air kemerahan membuatku ingin menangis.
Anak itu menarik tanganku dengan lembut, mengajakku berjalan lebih dalam ke lorong. Aku tidak punya pilihan selain mengikutiinya jika balik ke belakang, Om Sugi yang sudah berubah pasti akan menyerangku, dan di depan setidaknya ada sedikit cahaya yang masih bisa kudengar. Saat kita berjalan, lorong mulai sedikit membesar, dan aku melihat ada sebuah pintu kayu tua yang terkunci dengan rantai besi di sisi kanan.
Anak itu menghentikan langkahnya di depan pintu itu, lalu menunjuk ke arah celah kecil di bawah pintu. Aku membungkuk dan melihat ada sebuah kotak kayu kecil yang penuh dengan debu di dalamnya. Aku menarik kotak itu keluar dengan hati-hati, dan ketika membukanya, sebuah surat dan sebuah foto hitam putih terlihat jelas di dalamnya. Surat itu ditulis dengan tulisan tangan wanita yang rapi:
“Untuk cucuku yang belum lahir, jika suatu hari kamu menemukan surat ini. Aku adalah Dewi, ibumu yang sudah tiada. Ayahmu adalah anakku yang hilang, dan kamu adalah harapan terakhir kami. Kutahu bahwa Om Sugi ayahku telah menyembunyikan kebenaran dari kamu karena dia takut akan kutukan yang pernah datang ke keluarga kita. Kutukan itu bukan karena dosa kita, melainkan karena sebuah kesalahpahaman yang terjadi ketika aku masih muda. Aku mencintaimu, cucuku, dan aku berdoa agar kamu bisa menemukan jalan untuk membebaskan kita semua dari rasa takut yang telah menjerat keluarga ini selama bertahun-tahun.”
Fotonya menunjukkan keluarga kecil bahagia seorang pria muda yang mirip Om Sugi, wanita cantik yang pasti Dewi, dan bayi kecil yang sedang tertidur di pelukan ibunya. Air mata mengalir deras di wajahku saat aku melihat foto itu mereka bukanlah makhluk yang jahat, hanya sekelompok keluarga yang terjebak dalam masa lalu yang menyakitkan.
Saat itu, suara Om Sugi sudah terdengar dari belakang pintu kayu, dan dia mulai menggoyangkannya dengan kekuatan besar. Pintu itu akan segera roboh, dan aku harus cepat menemukan cara untuk membukanya atau mencari jalan lain sebelum dia masuk.
Anak kecil itu mengambil surat dari tanganku dan menyimpannya ke dalam gaunnya, lalu dia menunjuk ke sebuah batu kecil di sudut lorong. Aku mengangkat batu itu dan melihat ada sebuah lubang kecil di belakangnya di dalamnya ada kunci besi yang sudah karatan. Aku segera mengambil kunci dan mencoba membuka rantai di pintu kayu. Rantai itu sangat kaku, dan aku harus menggunakan semua kekuatanku untuk memutar kuncinya.
Suara kresek akhirnya terdengar, dan rantai itu terlepas. Aku membuka pintu dengan tergesa-gesa dan menarik anak itu masuk ke dalam ruangan baru. Ruangan itu luas dan penuh dengan barang-barang tua meja kayu yang pecah, kursi yang roboh, dan banyak kotak yang tertutup debu. Di tengah ruangan ada sebuah altar kecil dengan lilin yang sudah padam dan sebuah kalung yang bentuknya persis seperti yang aku kenakan.
Aku mendekati altar itu dengan hati-hati, dan ketika aku ingin menyentuh kalungnya, lampu di ruangan itu tiba-tiba menyala dengan sendirinya. Cahaya terangnya membuatku terpojok, dan aku melihat bayangan banyak orang yang berdiri di sekeliling altar Om Sugi muda, Dewi, dan banyak wajah lain yang tidak kukenal. Mereka semua menatapku dengan mata penuh air mata, dan di tengah mereka berdiri wanita yang kudapatkan di bawah tangga tadi Dewi yang sudah tiada.
Dia mengangkat tangannya ke arah kalung di altar, lalu berkata dengan suara yang lembut tapi jelas: “Sekarang saatnya kamu mengetahui seluruh kebenaran, cucuku. Kutukan ini hanya bisa diakhiri jika kamu bersedia melakukan sesuatu yang sangat sulit memilih antara menyelamatkan dirimu sendiri atau membebaskan semua jiwa yang terkurung di sini selama ini.”
Di belakangku, pintu kayu mulai bergoyang lagi karena Om Sugi yang terus menggoyangkannya, dan suara anak kecil yang menangis kembali terdengar dari lorong. Aku melihat kalung di altar, lalu melihat wajah-wajah keluarga ku yang sudah tiada di depanku. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan apakah akan mengambil kalung itu dan menghadapi masa lalu yang menyakitkan, atau mencari jalan untuk kabur dan meninggalkan mereka semua di sini selamanya.