Senja terpaku saat matanya menangkap pacar dan sahabatnya bercumbu di balik semak hutan. Dengan langkah terpukul ia pergi menjauh hingga tersesat. Namun, sosok Sagara muncul, membelah kabut tebal seolah ditakdirkan menemuinya.
.
.
.
Senja mengerang pelan, refleks mendekat, menempel seperti magnet. Tangannya meraba, mencari sesuatu yang hangat. Jari-jarinya mencengkeram punggung kokoh Sagara. Napas mereka saling bercampur, tidak teratur, dan berat.
"Om…" Senja berbisik. Suaranya rapuh. "Aku dingin…"
"Aku di sini," jawab Sagara serak. "Tahan sedikit lagi."
Mereka tidak saling kenal, keduanya masih asing. Namun, malam itu... keduanya berbagi kehangatan di tengah hutan berselimut kabut tebal.
Satu malam mengubah hidup Senja.
Bukan karena cinta, melainkan karena kesalahan yang membuatnya kehilangan rumah, keluarga, dan tempat berpulang.
Sagara menikahinya bukan untuk memiliki. Ia hanya ingin bertanggung jawab… lalu pergi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nofiya Hayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22
Komplek tidak pernah benar-benar tidur.
Jika malam menutup pintu rumah-rumah, pagi justru membuka mulut orang-orangnya.
Berita tentang Senja menyebar bukan lewat pengumuman resmi, tapi lewat bisik-bisik yang berpindah dari warung ke warung, dari teras ke teras, dari gelas kopi ke gelas kopi.
“Katanya hamil.”
“Sudah dibawa laki-laki.”
“Mobilnya mewah.”
“Orang kaya, katanya.”
“Dulu ibunya bilang miskin, lho.”
Kalimat-kalimat itu tidak pernah lengkap. Tidak pernah utuh, tapi cukup untuk membentuk cerita yang versi akhirnya selalu salah dan selalu menyudutkan Senja.
Di warung Bu Ningsih, tempat para ibu biasa membeli kebutuhan kecil sambil menumpahkan isi kepala, gosip itu menjadi menu utama.
“Kalau memang orang kaya, ngapain dulu datang ke rumah cuma naik motor?” tanya seseorang.
“Pura-pura miskin kali. Biar kelihatan merakyat,” sahut yang lain.
“Anak sekarang mah licik.”
"Tapi terakhir datang bawa mobil loh."
"Katanya mobil sewa'an."
"Siapa yang bilang?"
"Winarti sendiri yang bilang di grub."
"Kamu salah baca kali. Orang Winarti bilang kalau mantunya itu orang kaya. Dia dibeli'in gaun bagus... mahal."
"Ini loh buktinya." Seseorang menyodorkan layar ponselnya, menunjukkan bukti chat Winarti kemarin."
"Dasar, mulutnya Winarti emang esuk dhele, sore tempe."
Bu Ningsih pemilik warung hanya mengaduk kopi, tapi telinganya tajam.
“Yang salah tetap Senjanya,” katanya akhirnya. “Hamil duluan itu kan aib.”
“Betul.”
“Iya.”
Tidak ada yang bertanya, siapa yang menjaga Senja saat itu? siapa yang melindunginya? siapa yang memeluknya ketika ia diusir?
Di ujung gang lain, Winarti berjalan dengan kepala tegak. Gaun mahal itu masih ia kenakan, dipadukan dengan sandal biasa, tidak serasi, dan cukup mencolok.
“Eh, Win,” sapa seorang ibu. “Itu benar menantumu orang kaya?”
Winarti berhenti. Wajahnya berubah. bukan tersinggung, bukan tersipu. Lebih ke ekspresi orang yang akhirnya merasa menang. “Rezeki anak siapa tahu,” jawabnya ringan. “Namanya juga jodoh.”
Padahal, tiga hari lalu, ia menyebut Senja sebagai aib.
“Tapi katanya Senja diusir ya?” tanya yang lain, pura-pura polos.
Winarti tertawa kecil. “Diusir gimana? Namanya juga anak. Kalau pulang, ya pulang.” Kalimatnya itu bohong, tapi bohong yang diterima dengan anggukan.
Di rumah lain, Pandi duduk di pos ronda. Rokok sudah ada di tangannya lagi. Bukan rokok murahan. Ia menghisapnya dengan santai, seolah lupa bahwa dua hari lalu ia mengeluh mulutnya kecut.
“Katanya kamu jadi wali nikah?” tanya seorang bapak.
Pandi mengangkat bahu. “Tergantung sikap mereka.”
Nada itu membuat orang lain berpikir, 'Oh, berarti dia punya kuasa'. Padahal, kuasa itu baru muncul setelah ia tahu siapa Sagara sebenarnya.
Riyan, di sekolah, mulai berubah sikap. Jaket mahal yang ia pakai membuat beberapa temannya mendekat.
“Woi, Riyan! Lo mau nikah sama orang kaya ya?”
“Iya.”
“Enak banget.”
Riyan tersenyum bangga. Tidak menyebut bahwa kakaknya pergi dengan air mata.
Sementara itu, Senja duduk di dalam rumah yang tenang. Rumah Sagara tidak ramai. Tidak ada bisik-bisik. Tidak ada tetangga yang pura-pura lewat sambil melirik. Namun, ponselnya bergetar tanpa henti.
Pesan dari nomor yang tidak ia simpan.
Katanya kamu sekarang orang berada ya.
Hati-hati, jangan lupa daratan. Kasihan orang tuamu.
Senja membaca satu per satu, tapi tidak berniat membalas. Ia menutup ponsel, lalu menatap jendela. Lampu taman menyala lembut. Tidak ada suara selain angin.
“Capek?” suara Sagara terdengar dari belakang.
Senja mengangguk pelan. “Mereka bicara banyak,” katanya lirih. “Padahal… mereka tidak tahu apa-apa.”
Sagara tidak langsung menjawab. Ia duduk di kursi, jaraknya cukup dekat tapi tetap menjaga ruang.
“Orang tidak butuh tahu,” katanya akhirnya. “Mereka hanya butuh cerita.”
Senja menunduk. “Aku takut.”
“Takut apa?”
“Takut aku tidak kuat.”
Sagara menatapnya. Tatapan itu tidak mengasihani, tidak menggurui. “Kuat itu bukan berarti kebal. Kuat itu tetap berdiri meski tahu akan disakiti,” katanya.
Senja mengangguk, air matanya menggenang, tapi tidak jatuh.
“Dan kamu sedang belajar itu,” lanjut Sagara.
Di kampung, gosip semakin liar. Ada yang bilang Senja hamil karena mengejar harta. Ada yang bilang Sagara memanfaatkan Senja. Ada yang bilang keluarga Senja pintar memanfaatkan keadaan.
Tidak ada yang peduli pada kebenaran.
Yang penting, cerita terus berjalan.
Namun, ada satu hal yang mulai terasa,
nama Senja tidak lagi disebut dengan nada kasihan, melainkan dengan nada iri.
Dan itu, tanpa disadari siapa pun, adalah perubahan yang paling kejam. Karena iri membuat orang kehilangan rasa simpati, dan hanya ingin menjatuhkan.
Di malam yang sama, Senja berbaring di tempat tidurnya. Tangannya melindungi perutnya secara refleks. Napasnya juga pelan.
Di luar sana, kampung terus bicara. Di dalam sini, Senja memilih diam. Bukan karena lemah.
Tapi karena ia sedang belajar satu hal penting:
bahwa hidupnya tidak harus dijelaskan
kepada orang-orang yang tidak pernah mau mendengarkan.
Bersambung~~
Maaf ya ibook ibook. Hari ini up telat dan isi babnya cm dikit🙏🏻😔