"Sepertinya aku mengenalnya, dia sangat tampan dan wajah putih bersih itu, dia sungguh seperti malaikat." Batin Xela.
Tiba-tiba lelaki tampan itu menciumnya di bawah air yang masih jauh dengan permukaan. Xela bisa merasakan sentuhan bibir mereka, lelaki tampan itu memeluknya dengan erat dan mencium bibirnya, ini terasa seperti mimpi. Xela menganggapnya mimpi karena tubuhnya terlalu lemah dan tidak bisa melakukan penolakan. Ciuman di dalam air dengan sosok lelaki tampan adalah mimpi bagi Xela, matanya yang sudah melihat dengan pandangan kabur memaksanya untuk terpejam.
Namun Xela bisa merasakan ciuman ini, ciuman yang sangat dalam bahkan sangat dalam dari danau ini.
Penasaran untuk melihat siapa sosok itu, Xela membuka matanya lagi berusaha fokus memandang sosok lelaki itu dan ia menemukan lelaki itu mirip Alfarel.
"Oh tidak apakah dia kak Alfarel? Tuan possesif itu?" batin Xela lalu menutup matanya lagi tidak kuasa menahan perih matanya, ia tidak bisa Melepaskan dirinya dan ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marlita Marlita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Muka Simpanse
Dafi malah terlihat aneh dan lucu tingkahnya seperti anak kecil yang ketahuan melanggar larangan, Ia menggoyangkan tangannya dan mukanya selalu dibuang kearah lain, tidak mau menatap Xela yang berbicara padanya.
"Kak Dafi kenapa, kenapa seperti itu. Kenapa sepertinya tidak mau melihatku? Ada yang salah?" Tanya Xela lagi, meskipun ia tahu pasti, jika Dafi mungkin ketakutan kepadanya karena ia mengingat Dafi yang mengiranya kerasukan, mungkin Dafi berpikir ia akan marah, padahal Xela sudah menipis semua kemarahan dihatinya.
"Enggak, ke-kenapa kamu tidak istirahat, beristirahatlah!" Katanya dengan nada bicara yang gugup.
"Memang nya ada apa denganku. Aku tidak butuh istirahat lagi, perasaan aku tidak sakit."
Aduh susah amat sih ngomong nya, gimana ya? Malah gue masih takut lagi kalau liat dia, ah pergi aja deh.
batin Dafi kemudian pergi tanpa permisi meninggalkan Xela.
"Eh kak Dafi mau kemana? Kak Dafi ..." Panggil Xela, tetapi Dafi tidak menghiraukannya.
"Xela ..."
Disaat Xela kebingungan dengan tingkah Dafi, suara Alfarel memanggilnya dari belakang, karena ia merasa ada yang aneh dengan Dafi, akhirnya segera ia mengutarakan apa yang dirasakannya saat ini.
"Kak Al ada apa dengan kak Dafi, kenapa dia sepertinya sangat ketakutan padaku, ada apa denganku apa mukaku aneh atau bagaimana?"
Tanya Xela sambil menggoncangkan tangan Alfarel dengan raut muka kuatur nya .
Anak ini mirip sekali tingkahnya dengan Alika. Berada didekatnya serasa Alika masih ada.
Alfarel memandang Xela dengan tatapan sendu.
"Kak Al jawab dong! " Pinta Xela dengan serius kepada Alfarel sepertinya tidak mengindahkan pertanyaannya.
"Dafi takut melihat mu karena mukamu yang baru saja bangun tidur terlihat jelek, seperti muka simpanse. Tahukah kamu kalau Dafi takut dengan simpanse?" Mendengar ucapan Alfarel, Xela sedikit merasa kesal, bisa-bisanya wajahnya yang lumayan molek dikatakan mirip simpanse, Xela menatap Al dengan wajah cemberut dan bibir yang dicebikkan.
"Nah gitu lebih mirip simpanse, sepertinya kamu saudara kembarnya yang tercipta menjadi manusia." Ucap Alfarel sambil meletakkan gelasnya di wastafel kemudian kembali lagi ke ruang televisi, Alfarel rupanya sedang menonton sebuah berita yang di siarkan.
Orang ini, kenapa selalu saja ingin membuatku marah, masa ia muka cantik gini dibilang mirip simpanse? Dasar bos yang hanya bisa memancing amarah.
Xela hanya bisa mengumpat dalam hati rasa kesalnya terhadap Alfarel maba berani ia mengutarakan kalimat itu secara langsung, mungkin jika salah bicara ia akan dipecat.
Wuah ada cermin tuh, lihat Ah mana tahu benaran muka gue mirip simpanse.
batin Xela setelah kakinya melangkah menuju ruang tamu, disana terdapat tanggal dan disebabkannya ada cermin besar. Ketika ia bercermin, teringatlah ia akan kejadian sebelumnya, ia melihat sosok saat ia berada didekat pintu dan memerhatikan cermin besar tersebut.
"Aaa ...." Xela berteriak dan kembali lagi ke dalam.
Alfarel tidak menonton televisi dengan serius, ia terus memikirkan ucapan Alika sebelum keluar dari tubuh Xela.
Xela, sepertinya aku sangat menyukainya, apakah mungkin aku akan membiarkannya tinggal disini untuk jangka waktu yang cukup lama, aku hanya tahu sedikit tentang keluarganya. Tapi nanti setelah aku berhasil menemukan Landry, aku akan mengajaknya kemari dan Landry ... Landry pasti akan sangat dekat dengan Xela. Huh, ini tidak boleh, tidak!
batin Alfarel kemudian ia mendengar teriakan Xela yang berasal dari ruang tamu.
"Ada apa lagi dengannya,"
gumam Alfarel seraya beranjak dari duduknya hendak menghampiri Xela.
Kembali kepada Xela yang terus berlari kemudian ia merasakan jika menabrak seseorang, Xela memeluk badan seseorang yang ia tabrak saat berlari tanpa memerhatikan siapa dulu yang ia tabrak. Sepertinya gadis itu tidak peduli lagi, ia merasa ketakutan mengingat sosok yang ia lihat sebelumnya, Ya Xela sangat ingat betul bagaimana kejadian tersebut, kejadian itu disebabkan karena kesalahpahaman Dafi yang mengiranya kerasukan.
"Nggak aku takut jangan ... jangan, buka pintunya aku mau pergi."
Xela meracau tidak jelas, matanya terpejam, mungkin karena pengaruh takut yang ia rasakan dan terbayang bayang dengan kejadian sebelumnya.
Alfarel berjalan ke arah sumber suara teriakan Xela, namun ia melihat Xela berlari dengan ketakutan, kemudian Xela memeluknya secara tiba-tiba pula, menyebabkan sesuatu seperti aliran listrik menyengat ditubuhnya. Ia merasa berdebar kala itu. Hatinya tersentuh, ia pun entah sadar atau tidak tangannya mengelus pucuk kepala Xela.
Xela, kau selalu membuatkan teringat kepada Alika. Kehadiran mu juga membuatku merasa ada sedikit perubahan, kau membuatku bisa mengiklaskan kepergian Alika. Tapi sekarang ada apa denganmu?
batin Alfarel sembari memerhatikan Xela yang terus memeluknya serta racauan yang keluar dari mulutnya.
"Sudahlah tidak ada apa apa kau baik-baik saja disini. Jangan takut."
Ucapnya menenangkan Xela sambil melepaskan pelukannya. Xela terlihat masih saja ketakutan bahkan menangis.
"Ada apa denganmu? Apa yang membuat mu takut?" Tanya Alfarel sambil memegang kedua bahu Xela, Xela memerhatikan wajah tampan Alfarel yang penuh keseriusan, tatapan Alfarel membuat Xela merasa teduh. Ternyata orang ini lumayan perhatian, pikirnya. Didalam hati Xela senang, ingin sekali ia memancarkan senyumnya, tetapi tidak mungkin.
"Jangan diam katakan apa yang membuatmu takut? " Tanya Alfarel lagi, sepertinya ia mulai kuatir.
"Itu, cermin." sambil tangannya ia menunjuk ke arah ruang tamu dimana letak cermin itu. Alfarel mengerutkan kening kemudian tersenyum getir.
"Kau ini lucu sekali. Apakah sehabis bercermin kau kaget melihat wajahmu sendiri mirip simpanse dan ketakutan dengan lebay seperti ini meminta perhatianku? Kau tadi mencuri kesempatan untuk memeluk orang tampan seperti ku." Ucap Alfarel tiba-tiba saja dengan menyombongkan diri. Xela yang mendengarkan ucapan Alfarel tidak habis pikir, bisa-bisanya laki-laki itu berubah seperti bunglon, tadinya perhatian sekarang malah mengejeknya, menjengkelkan!
"Bukan itu. Aku ingat sebelumnya aku melihat sosok perempuan dengan wajah cantik sekaligus seram didalam cermin itu. Saat itu aku berdiri di depan pintu, aku tidak bisa keluar karna kak Dafi mengunci pintunya, aku takut ..."
Ucapnya, bulu roma nya sudah ikut berdiri setelah mengucapkan kalimat tersebut. Xela masih sangat merasa ketakutan. Alfarel yang mendengar perkataan Xela langsung tersadar, apa mungkin ini yang menyebabkan Xela kerasukan dan sosok yang Xela lihat mungkin saja sosok Alika yang menampakkan dirinya kepada Xela sebelum pada akhirnya masuk ke dalam tubuh Xela. Alfarel melirik Xela yang sudah menutup mata karena ketakutan, merasa iba akhirnya Alfarel meraih lengan Xela dan menuntunnya untuk duduk di sofa sambil menenangkan nya.
"Sudahlah jangan takut. Kamu aman sekarang, tidak ada lagi sosok yang kamu lihat tadi."
"Tapi kalau dia muncul lagi dan aku ketakutan, apakah kak Al akan meninggalkan aku sendiri didalam rumah dan mengunci pintu seperti yang Kak Dafi lakukan?" Tanya Xela kepada Alfarel.
"Tidak, aku bukan orang yang penakut. Aku akan melindungi, tidak akan meninggalkan mu." Ucapan Alfarel menenangkan Xela
Entah ucapan itu di sadari Alfarel atau tidak, Xela hanya bisa berharap Alfarel benar-benar tidak akan meninggalkannya di kala ia ketakutan.
bersambung ...
~Hallo readers, Author up ya, meskipun lagi PAT, tapi Author tetap semangat. Semoga cerita ini sangat menjadi teman fantasi kesukaan, amin ....
aku benci wanita lemah..
dan juga benci laki" yg tidak tegas pembawa bencana...