"Gila ... ini sungguh gila, bagaimana bisa jantung ini selalu berdebar kencang hanya karena tatapan matanya, senyumnya bahkan sentuhan yang tanpa sengaja itu."
~Sephia~
"Rasa ini salah, tapi gue suka ... dia selalu membuat jantung ini berdebar-debar ... damn! kenapa datang di waktu yang salah sih."
~Danar~
Pertemuan itu, membuat mereka ada dalam posisi yang sangat sulit. Terlebih lelaki itu sudah mempunyai seorang kekasih. Sementara hatinya memilih gadis lain.
Entah waktu yang salah ... atau takdir yang mempermainkan mereka. Apakah akan berakhir dengan indah atau sama-sama saling melepaskan ... meski CINTA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa dia?
Pagi itu baru saja Danar menghidupkan mesin mobilnya untuk segera menuju ke kantor. Ponselnya bergetar, satu nama yang sudah seminggu ini mengganggunya. Tak ingin menghindar lagi, Danar menjawab panggilan itu.
Dan disinilah dia, di sebuah hotel di bilangan pantai Kuta. Wanita itu memberitahukan jika sudah berada di Bali dan sudah membooking sebuah hotel di sana. Wulan meminta Danar untuk menjemputnya di bandara pagi itu.
Bukan Danar namanya kalau tidak bertanggungjawab, terlebih wanita ini adalah korban dari dirinya. Selama perjalanan menuju hotel rasa risih Danar rasakan. Sungguh perasaan cinta itu memang sudah hilang, sebelum kejadian mereka berdua tanpa busana di apartemen Danar saat itu. Danar hanya melakukan tugasnya sebagai laki-laki dewasa.
Wulan bagai parasit yang menempel pada tubuhnya. Seharian merengek untuk ditemani kemanapun dia pergi. Bahkan waktu untuk menghubungi Sephia pun tak sempat ia lakukan, ia hanya menyampaikan pesan pada Made agar sesekali melihat Sephia di kantor.
"Setelah ini kita ke pantai Kuta ya," ujar Wulan yang duduk di pinggiran sofa, melingkarkan tangannya pada leher Danar.
"Wulan, aku gak suka kamu gini," Danar menyingkirkan tangan itu dari tubuhnya.
"Kamu kenapa sih, dari sejak aku datang sampe sekarang dingin banget," kata Wulan beranjak dari duduknya namun duduk di pangkuan Danar. "Gak kangen?" wanita itu menyusuri leher Danar.
"Stop, kamu datang kesini dengan tujuan menyelesaikan masalah kita ... katakan mau kamu?" Danar menjauhkan tubuh Wulan.
"Kapan kita nikah?" Wulan beringsut dari duduknya, merasa tak ditanggapi oleh Danar.
"Aku harus bicarakan dulu dengan keluarga aku."
"Hampir empat bulan dan belum dibicarakan dengan keluarga kamu."
"Aku perlu waktu, Papa sakit kan ... perlu bicara tenang untuk masalah ini."
"Bukan alasan kan?"
"Apa yang membuat kamu berpikir aku beralasan, bukankah sudah tidak ada waktu untuk beralasan? kecuali kamu yang tiba-tiba datang, tiba-tiba menghilang?"
Kata-kata Danar membuat Wulan merasa tersindir, benar kalau ia tiba-tiba datang dan tiba-tiba pergi, wajar saja jika lelaki itu tidak menyimpan cinta untuknya.
"Aku mau secepatnya, aku mau kita ketemu orang tua kamu," ujar Wulan berdiri di hadapan Danar.
"Aku hanya bertanggungjawab, setelahnya aku gak jamin apa-apa." tegas Danar.
"Maksud kamu?"
"Hanya sebuah status, tapi aku gak menjamin cinta aku buat kamu."
"Brengsek kamu!" Wulan marah, apa artinya pernikahan tanpa cinta.
"Kamu yang membuat aku jadi brengsek, jangan lupakan itu ... kamu yang membuat hubungan kita seperti jailangkung, saat butuh kamu datang setelahnya kamu pergi, apa itu yang dinamakan hubungan berlandaskan cinta?"
"Aku hanya bertanggungjawab, dan sepertinya itu gak jadi masalah untuk wanita seperti kamu Wulan, yang bahkan sesuka hati bersenang-senang disaat pasangan kamu membutuhkan kamu."
Danar mengungkapkan semua isi hatinya dengan keadaan sadar saat ini, tidak ada lagi minuman yang mempengaruhinya.
"Bahkan jauh dari hubungan terlarang kita kemarin, rasa aku sama kamu itu udah gak ada." Danar bangkit melangkah menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya.
Sementara Wulan terdiam dengan kata-kata menohok yang membuatnya meradang menahan marah. Sebenarnya masalah ini tidak terlalu rumit bagi seorang wanita dengan gaya hidup bebas seperti Wulan, toh Wulan juga tidak mengandung anak Danar. Obsesi terbesar Wulan adalah mendapatkan lelaki mapan itu agar kehidupannya semakin terjamin.
Bisa saja ia dapatkan dari lelaki lain, tapi entah mengapa menurutnya hanya Danar yang mampu bertahan dengan sifat dan sikapnya selama ini, dan sejujurnya Wulan sangat mencintai Danar.
"Temani aku selama di sini sebelum aku pulang ke Jakarta," ujar Wulan saat Danar sudah keluar dari kamar mandi.
"Aku gak bisa, hari ini saja seharian aku sama kamu, pekerjaanku banyak."
"Aku bisa temenin kamu di kantor."
"Kamu akan bosan." Danar meraih ponselnya yang ternyata mungkin sudah lama tak hidup.
"Kalo gitu temenin aku ke pantai Kuta," ajak Wulan yang saat itu sudah mengenakan summer dress sebatas paha.
Wulan memang cantik sekali, tak akan ada yang menolak wanita ini dari segi pisik itu sudah pasti.
Menyusuri bibir pantai dan bergelayut manja di lengan Danar. Wulan benar-benar memanfaatkan waktu yang ada bersama lelaki itu. Beberapa kali Danar memaksa melepaskan tangan Wulan dari lengannya.
"Please, bisa gak biasa aja."
"Hey, come on Danar, we are lovers ...." Wulan mengingatkan kembali dan mencondongkan tubuhnya pada lelaki itu.
"Kita bukan lagi sepasang kekasih, Wulan ... kita hanya partner yang saat ini sedang melakukan proses ikatan perjanjian."
"Aku masih cinta kamu," mata Wulan berkaca-kaca.
Danar menatap netra itu lama, wanita yang dulu memang sempat mengisi hatinya itu tidak berbohong, namun sayangnya isi hati Danar sudah penuh untuk wanita yang lain.
"Aku antar pulang ke hotel," ujarnya berjalan mendahului Wulan.
"Danar ... please," lirih Wulan.
"Kasih aku kesempatan memperbaiki semuanya, kita bisa menikah bukan karena kamu harus tanggung jawab akan hal ini, tapi menikah dengan cinta, cinta kita."
"Aku gak bisa Lan, kamu bisa miliki aku tapi gak hati aku," ucap Danar meninggalkan Wulan yg berlari mengejarnya.
"Aduh ... Danar." Wulan terjatuh dan mengaduh, Danar membalikkan tubuhnya membantu wanita itu.
"Shitt, kenapa gak hati-hati sih," kesal Danar.
"Sakit ...." Danar memapah tubuh Wulan, wanita itu mengaduh, kakinya mungkin terkilir.
Sesampai di kamar hotel, Danar mulai membaringkan Wulan. Tatapan mereka saling mengunci, keinginan Wulan untuk menautkan bibirnya pada bibir Danar semakin terbuka lebar. Wulan melingkarkan tangannya pada leher Danar.
"Aku kangen ...." Wulan mendekatkan bibirnya.
Pikiran Danar menolak, di benaknya ada satu nama. Sephia mungkin menunggunya untuk pulang.
"Aku harus pulang," ujar Danar melepaskan lingkaran tangan Wulan.
"Temani aku di sini malam ini, please ... kakiku bahkan masih sakit, bisakah?"
"Akan aku carikan terapis, biasanya hotel menyediakan, aku akan cari tau," ujar Danar.
Sungguh malam ini dia harus mengurungkan niatnya mengunjungi kekasihnya. Bahkan satu hari tak melihat wajahnya saja seakan menyiksa dirinya.
Dirogohnya ponsel itu dari kantung celananya, keadaan ponsel itu sudah tak bernyawa. Niatnya dia akan menghubungi Sephia agar tak menunggunya malam ini, Danar akan menemuinya pagi-pagi sekali.
"Aku cari tau dulu sama pihak hotel, apa ada terapis yang standby, aku juga harus mengisi daya ponselku."
"Danar ... jangan pulang ya, temani aku di sini." Wulan memohon.
"Besok aku ada meeting, aku gak bisa stay di sini, setelah urusan kaki kamu selesai, aku tinggal." Danar berlalu keluar kamar itu
Wajah Wulan begitu kesal, harusnya malam ini dia habiskan waktu bercumbu dengan lelaki yang masih dia anggap kekasihnya itu. Hingga ponselnya berbunyi.
"Ngapain lagi si dia," ujarnya kesal menatap satu nama di sana. "Mau apa lagi?"
"Kamu dimana? manager kamu bilang kalo kamu kembali ke Indonesia, dimana sekarang?" tanya suara di seberang sana.
"Bukan urusan kamu," jawab Wulan kesal lalu mematikan ponselnya kembali.
Danar akhirnya mendapatkan kabar bahwa ada salah satu terapis yang bisa memijat kaki terkilir, setelah mengantarkan terapis itu ke kamar Wulan. Danar mencoba menghubungi Sephia setelah daya ponselnya sedikit terisi.
"Iya," jawab Sephia.
"Sephia, malam ini aku gak datang, maaf ya."
"Hah?"
"Malam ini aku gak kesana, tapi pagi-pagi sekali aku ke tempat kamu, ya?"
Sephia terdiam, "Phi ... Sayang, kamu dengar aku?" Danar mendengar isak tangis di seberang sana.
Gadis itu terdiam, diam seribu bahasa, diam terpaku merasakan seakan dunia ini runtuh, diam meratapi perih hatinya.
"Siapa dia?" tanya Sephia masih dalam tangisnya.
"Phia ...." Danar menghela nafasnya panjang, lalu kembali masuk ke dalam kamar Wulan, mencari kunci mobilnya.
"Aku ada urusan." Danar tak lagi menoleh dan langsung meninggalkan Wulan di sana dengan tatapan penuh tanya.
***gaeeesss... aku boleh minta sesuat sama kalian yaaaah... jadi gini aku lihat yang membaca (mempaporitkan) cerita ini sudah mulai banyak nih... tapi kok yang like sedikit banget.. boleh dong aku dapet like aja dari kalian, dari jempol yang kalian arah kan pada tempatnya itu udah bikin aku senang banget loh, apalagi sekalian komennya... gak minta lebih cuma itu doang😂
enjoy reading 😘***