"Tugasmu sederhana: seduh kopi hitamku tepat pukul tujuh pagi, dan pastikan aku tidak mati hari ini."
Bagi Adinda Elizabeth (23), William Bagaskara adalah tiket keluar dari kemiskinan. Pria itu arogan, dingin, dan menyebalkan. Namun, Adinda tahu bagaimana cara mematahkan leher lawan secepat ia menyeduh kopi.
Bagi William (28), Adinda adalah anomali. Seorang gadis kecil yang berani menatap matanya tanpa rasa takut, sekaligus satu-satunya orang yang rela berdarah demi melindunginya.
Di tengah intrik bisnis yang kejam dan teror yang mengintai, sebuah kontrak kerja berubah menjadi pertaruhan hati. Bisakah sang CEO angkuh luluh pada gadis yang dibayarnya untuk terluka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Topeng Paling Sempurna
Matahari bersinar terik di langit Jakarta, kontras sekali dengan badai yang berkecamuk di dalam dada William.
Di depan Gedung Fakultas Seni Rupa, William berdiri bersandar pada kap mobil Innova hitamnya (ia menyewa mobil yang sama seperti kemarin agar tidak mencolok). Ia mengenakan kemeja linen biru muda dan kacamata hitam, terlihat segar dan santai. Di tangannya, ia memegang sebuah buket kecil bunga matahari dan kantong kertas berisi iced americano.
Tidak ada yang tahu bahwa semalam ia tidak tidur sedetik pun.
Tidak ada yang tahu bahwa ia baru saja memecat dua pengawalnya karena takut mereka adalah mata-mata ayahnya.
Tidak ada yang tahu bahwa setiap kali ia mengedipkan mata, ia terbayang ancaman ayahnya tentang "tangan seniman yang patah".
"Senyum, William," bisiknya pada diri sendiri. "Jangan biarkan dia melihat ketakutanmu. Jangan biarkan dia tahu dia sedang diburu."
Pintu kaca gedung terbuka. Adinda keluar bersama kerumunan mahasiswa lainnya.
Adinda terlihat berantakan namun bercahaya. Rambutnya dicepol asal dengan tusuk konde pensil, kaos hitamnya penuh debu gips putih, dan ada noda cat di keningnya. Dia baru saja menyelesaikan sidang penilaian akhir semester pertamanya.
Mata Adinda menyapu area parkir, lalu berhenti tepat di sosok William. Senyum lebar langsung merekah di wajahnya. Gadis itu berlari kecil menghampirinya.
"William!" sapa Adinda riang.
William menegakkan tubuhnya, memasang senyum terbaiknya—senyum yang menyembunyikan ribuan jarum di hatinya.
"Selamat siang, Mahasiswi Teladan," sapa William lembut. Ia menyodorkan bunga dan kopi itu. "Selamat karena sudah bertahan hidup di semester satu yang gila ini."
Adinda tertawa, menerima bunga matahari itu dengan mata berbinar. "Kamu ngapain di sini siang bolong? Nggak kerja? Nggak takut dimarahin investor?"
"Saya CEO-nya, ingat? Saya yang bikin aturan," canda William ringan. Tangannya terulur, dengan lembut membersihkan noda gips di bahu Adinda. "Lagian, saya dapet info intelijen kalau hari ini hari terakhir penilaian studio patung. Saya harus lihat hasilnya."
"Hasilnya A mutlak!" seru Adinda bangga, memamerkan jari-jarinya yang kotor. "Dosen Budi bilang patungku punya karakter. Katanya semester depan aku bisa mulai ikut pameran pemula."
Hati William mencelos. Pameran.
Dunia Adinda baru saja akan dimulai. Masa depannya membentang luas dan cerah. Dan jika William tetap berada di sisinya, awan gelap dari keluarga Bagaskara akan menghancurkan semua itu. Ayahnya tidak pernah main-main.
"Hebat," puji William, suaranya terdengar tulus meski tenggorokannya tercekat. "Saya tahu kamu pasti bisa. Kamu berbakat, Dinda. Sangat berbakat."
"Tumben mujinya manis banget," Adinda menyipitkan mata curiga, lalu menyeruput kopinya. "Biasanya kamu sarkas."
"Lagi pengen baik aja," elak William. "Yuk, makan siang? Perayaan kecil-kecilan. Kamu pilih tempatnya. Warteg pun saya jabanin hari ini."
"Serius?" mata Adinda membulat. "Ada soto ayam enak di kantin belakang. Murah meriah, tapi panasnya minta ampun. Mau?"
William mengangguk mantap. "Ayo. Pimpin jalan, Jenderal."
Mereka berjalan beriringan menuju kantin belakang kampus yang riuh dan panas. William, sang miliarder yang biasa makan di restoran bintang lima ber-AC, kini duduk di bangku kayu panjang yang agak berminyak, di tengah asap soto dan riuh mahasiswa yang berteriak memesan es teh.
William mendengarkan Adinda bercerita dengan antusias tentang teman-teman barunya, tentang susahnya membentuk tanah liat, tentang Arthur yang hampir membakar studio lukis.
William tertawa di saat yang tepat. Ia menimpali dengan lelucon di saat yang tepat. Ia menatap Adinda dengan tatapan penuh kasih sayang.
Namun di dalam hatinya, ia sedang merekam semuanya.
Ia merekam cara mata Adinda menyipit saat tertawa.
Ia merekam semangat yang meledak-ledak saat Adinda bicara soal seni.
Ia merekam betapa hidupnya gadis ini tanpa beban "Bagaskara" di pundaknya.
Lihat dia, Will, batin William menjerit. Lihat betapa bahagianya dia. Kau tidak boleh merusak ini. Kau tidak boleh membiarkan Ayah menyentuh satu helai rambutnya pun.
"Kamu kok ngeliatin aku terus sih? Ada nasi nempel di pipi?" tanya Adinda, mengusap pipinya grogi.
William menggeleng pelan. "Enggak. Cuma... saya senang lihat kamu bahagia."
William meraih tangan Adinda yang ada di atas meja. Tangan yang kasar karena kerja keras, tangan yang pernah memegang pisau demi melindunginya, dan kini tangan yang memegang alat pahat untuk menciptakan keindahan.
Ia menggenggam tangan itu erat. Sangat erat. Seolah ia takut jika ia melepaskannya, tangan itu akan hancur.
"Din," panggil William.
"Ya?"
"Berjanjilah satu hal sama saya."
"Apaan? Kok serius amat?" Adinda tertawa kecil, tapi berhenti saat melihat intensitas di mata William.
"Berjanjilah kamu akan terus melukis, terus memahat. Apa pun yang terjadi. Jangan pernah berhenti mengejar mimpi kamu cuma karena... hal-hal bodoh atau orang lain."
Adinda terdiam sejenak, lalu mengangguk. "Iya, aku janji. Kan kamu yang nyuruh aku hidup normal."
"Bagus," William tersenyum. Senyum yang sedikit retak di ujungnya. "Kamu harus jadi seniman hebat. Biar nanti saya bisa pamer ke orang-orang, 'Tuh, seniman terkenal itu dulu pernah nyelamatin nyawa saya'."
"Dih, pamrih," Adinda menepuk tangan William pelan.
Mereka menghabiskan soto itu dengan canda tawa. Bagi Adinda, ini adalah hari yang sempurna. Nilai bagus, pacar (atau calon pacar) yang suportif, dan masa depan cerah.
Tapi bagi William, ini adalah perpisahan.
Setiap detik yang berlalu adalah pasir yang jatuh di jam waktu. William tahu, begitu ia masuk ke mobil nanti, ia harus kembali menjadi monster dingin untuk melindungi perisainya. Ia harus menjadi orang jahat agar Adinda selamat.
"Udah jam dua," kata Adinda, melirik jam tangannya. "Aku harus balikin alat ke gudang. Kamu balik kerja gih, nanti dicariin Rudi."
"Oke," William berdiri.
Ia menatap Adinda sekali lagi. Menyimpan bayangan gadis itu dalam memorinya untuk bekal menghadapi hari-hari sepi yang akan datang.
"Adinda," William mencondongkan tubuh, mencium kening Adinda. Lama. Hangat. Dan penuh kepedihan yang tak terucap.
Adinda terpaku, pipinya memerah hebat. "William..."
William menarik diri, tersenyum lebar seolah tidak ada beban. "Dah. Semangat ya semester duanya."
William berbalik badan dan berjalan cepat menuju mobilnya tanpa menoleh lagi. Karena ia tahu, jika ia menoleh, pertahanannya akan runtuh dan ia akan menangis di sana.
Adinda melambaikan tangan dengan senyum lebar, tidak menyadari bahwa punggung tegap yang menjauh itu sedang memikul beban perpisahan yang menghancurkan.
William masuk ke dalam mobil, menutup pintu, dan senyumnya lenyap seketika. Digantikan oleh wajah keras yang basah oleh air mata.
"Jalan, Pak," perintah William pada sopir sewaan dengan suara serak. "Bawa saya jauh dari sini. Sebelum saya berubah pikiran."
lanjut thor
lanjuuut