"Di tengah kesibukan kehidupan SMA di Jakarta, Yuki dan kelompok teman terbaiknya menjalani petualangan yang mengubah hidup mereka dari merawat kakaknya yang sakit, menemukan cinta pertama, hingga membentuk tim untuk lomba bahasa asing nasional.
Dengan persahabatan sebagai dasar kuatnya, mereka menghadapi segala rintangan: perbedaan cara pandang, tantangan kompetisi, dan bahkan menemukan makna baru dalam persahabatan antar budaya. Awalnya hanya sekelompok teman biasa, kini mereka membuktikan bahwa kerja sama dan cinta bisa membawa mereka meraih kemenangan yang tak terduga termasuk kesempatan untuk menjelajahi dunia luar!"
"Siapakah mereka? Dan apa yang akan terjadi saat mereka melangkah keluar dari zona nyaman Jakarta untuk menjelajahi dunia yang lebih luas?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Kolim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 13
Pagi setelah hari ulang tahun Yuki, dia bangun dengan senyum yang tidak mau hilang. Dia melihat boneka kelinci dari Hana dan buku catatan dari Kinta yang diletakkan di mejanya, lalu merenungkan kejutan semalam. "Aku benar-benar beruntung punya mereka," gumamnya dalam hati sambil menyentuh buku catatan itu di dalamnya penuh dengan pesan semangat dan kenangan yang Kinta tulis sendiri.
Ayase memanggilnya dari lantai dasar. "Yuki, sarapan sudah siap! Jangan telat sekolah ya! Hari ini hari pertama kembali ke kelas setelah ujian!" Yuki cepat-cepat turun ke bawah dan melihat sarapan yang istimewa: nasi goreng dengan telur mata sapi, ayam geprek, dan jus jeruk yang segar. "Kakak, ini terlalu banyak! Tapi enak banget!" ucap Yuki sambil mulai menyantap.
Ayase tersenyum. "Hari ini kamu harus penuh energi! Pastinya hari ini ada kabar nilai ujian yang keluar. Semoga kamu dapet nilai bagus!" Yuki mengangguk dengan percaya diri. "Insyaallah, kakak. Aku sudah belajar banyak bareng Hana dan Kinta, jadi pasti oke!"
Di jalan ke sekolah, Kinta sudah menunggu dengan sepeda motor. Dia melihat Yuki datang dan tersenyum lebar. "Selamat pagi, Yuki! Kamu terlihat lebih ceria hari ini ya!" ucap Kinta. Yuki naik ke belakangnya dan memeluk pinggangnya lembut. "Ya, karena aku masih ingat kejutan semalam. Terima kasih banyak ya, Kinta. Buku catatannya sangat indah!" Kinta merasa malu tapi senang. "Sama-sama, Yuki. Yang penting kamu senang."
Saat mereka tiba di sekolah, Hana sudah menunggu di gerbang. Dia berlari ke arah mereka dan memeluk Yuki. "Yuki! Kamu udah lihat kabar nilai belum? Semua teman bilang nilai ujian akan keluar hari ini!" teriak Hana dengan semangat. Yuki menggeleng. "Belum, Hana. Kamu juga pasti ragu-ragu ya?" Hana mengangguk. "Sedikit sih, tapi aku yakin kita semua lulus dengan baik!"
Mereka memasuki kelas dan melihat semua siswa sibuk berbicara tentang nilai ujian. Suasana kelas terasa gembira tapi sedikit tegang. Beberapa menit kemudian, guru masuk ke kelas dengan berkas nilai di tangan. Semua siswa langsung diam dan menatap guru.
"Murid-murid, nilai ujian sudah keluar. Semua kalian melakukan pekerjaan yang bagus! Aku akan memanggil nama dan memberikan lembar nilai masing-masing," ucap guru dengan senyum. Semua siswa bersorak senang. Guru mulai memanggil nama satu per satu.
"Taro! Nilai rata-rata 85!"
"Siti! Nilai rata-rata 88!"
"Hana! Nilai rata-rata 95!"
Semua siswa bertepuk tangan untuk Hana. Hana berdiri dan menyapa dengan senyum bangga. "Terima kasih, Bu!" ucapnya. Kemudian guru memanggil nama Kinta.
"Kinta! Nilai rata-rata 90!"
Lagi-lagi ada tepukan tangan. Kinta berdiri dan menyapa guru. Akhirnya, guru memanggil nama Yuki.
"Yuki! Nilai rata-rata 89!"
Yuki terkejut dan senang sekali. Dia berdiri dan mengambil lembar nilai dengan tangan yang sedikit gemetar. "Terima kasih, Bu! Aku sangat senang!" ucapnya dengan suara penuh emosi. Setiap orang bertepuk tangan untuknya Hana bahkan melompat-lompat dengan senang.
Setelah pelajaran selesai, mereka pergi ke taman sekolah buat merayakan. Hana bawa camilan yang dia bikin sendiri: kue keju, brownies, dan jus alpukat. Mereka duduk di bangku yang biasa dan makan bersama.
"Wah, kita semua dapet nilai bagus ya! Hana paling tinggi!" puji Kinta. Hana tersenyum modis. "Ya dong! Karena aku belajar yang paling giat! Tapi kalo nggak bareng kalian, aku juga pasti nggak bisa!" Yuki menambahkan. "Benar! Belajar bareng jauh lebih seru dan cepat ngerti!"
Saat mereka sedang bersantai, Hana tiba-tiba punya ide. "Kalian, ini udah ujian selesai, nilai juga bagus. Gimana kalo kita bikin libur bareng? Ke tempat yang jauh, misalnya ke gunung atau kota lain? Cuma kita berdua... eh, tiga! Dan mungkin ayahku bisa bawa kita pake mobil!" ucap Hana dengan semangat.
Yuki dan Kinta langsung bersorak senang. "Bisa banget! Itu ide yang bagus!" ucap Yuki. Kinta juga mengangguk. "Ya! Aku akan minta izin ke orang tua ku. Pasti mereka setuju!"
Hana mulai menjelaskan rencananya. "Kita bisa pergi ke Gunung Ciremai! Ada pemandangan yang indah, dan kita bisa jalan-jalan di puncak. Ayahku tahu jalan yang aman, dan dia bisa bawa kita semuanya. Kita bisa tinggal semalam di penginapan di kaki gunung. Gimana?" tanya Hana. Yuki dan Kinta serentak mengangguk. "Seru banget! Kita pasti mau!"
Malam hari, Yuki menceritakan rencana libur ke Ayase. Ayase terkejut tapi senang. "Wah, libur ke gunung? Bagus banget! Tapi kamu harus hati-hati ya! Gunung itu dingin dan jalan nya agak sulit. Jangan lupa bawa baju tebal!" ucap Ayase. Yuki mengangguk. "Iya, kakak. Hana juga bilang akan bawa semua perlengkapan yang dibutuhkan. Ayah dia yang akan bawa kita, jadi pasti aman!"
Ayase menyetujui dengan senang. "Oke deh. Aku akan bantu kamu persiapkan baju dan perlengkapan. Jangan lupa bawa obat-obatan juga ya, kalo ada yang sakit." Yuki memeluk Ayase. "Terima kasih, kakak. Kamu selalu baik sama aku!"
Sementara itu, Kinta minta izin ke orang tuanya. "Bapak, ibu, aku mau libur ke Gunung Ciremai bareng Yuki dan Hana. Ayah Hana yang akan bawa kita. Boleh gak?" tanya Kinta. Orang tuanya mengangguk. "Boleh dong, anak. Tapi harus hati-hati ya! Jangan buang sampah sembarangan dan patuhi perintah ayah Hana." Kinta senang dan memeluk orang tuanya. "Terima kasih, bapak, ibu!"
Hana juga sudah mendapatkan izin dari ayahnya. Ayah Hana bahkan senang banget bisa bawa mereka libur. "Kita akan berangkat hari Sabtu depan ya! Aku akan persiapkan mobil dan semua perlengkapan yang dibutuhkan. Kamu hanya perlu bawa baju dan barang pribadi mu!" ucap ayah Hana. Hana tersenyum lebar. "Terima kasih, ayah! Ini akan menjadi libur yang paling seru!"
Hari Sabtu tiba dengan cepat. Yuki bangun jam 4 pagi dan bersiap dengan cepat. Dia bawa baju tebal, selimut, sepatu gunung, makanan, dan obat-obatan. Ayase membawanya ke rumah Hana, di mana Kinta dan ayah Hana sudah menunggu.
"Selamat pagi, semua! Siap berangkat?" ucap ayah Hana dengan senyum. Mereka semuanya mengangguk. "Siap!" teriak mereka bersama. Mereka naik ke mobil dan memulai perjalanan ke Gunung Ciremai.
Perjalanan lumayan jauh butuh sekitar 3 jam. Tapi mereka tidak bosan, karena Hana bikin kelucuan dan mereka semua menyanyi lagu bersama. Hana menyanyi lagu dengan nada salah lagi, bikin semua orang ketawa terbahak-bahak. "Hana, suara mu bikin burung di sepanjang jalan lari ke arah sebaliknya!" ucap Kinta. Hana hanya tertawa. "Itu tanda aku bikin perjalanan lebih meriah!"
Saat mereka tiba di kaki gunung, mata mereka langsung terkejut. Pemandangan yang indah gunung yang tinggi dan hijau, udara yang segar, dan banyak pohon besar. Ayah Hana membimbing mereka ke penginapan yang sudah dia pesan. Penginapan itu sederhana tapi nyaman, dengan pemandangan gunung yang indah dari jendela.
"Kita istirahat sebentar ya, baru jalan-jalan ke puncak sore ini," ucap ayah Hana. Mereka semua menyetujui. Yuki duduk di jendela penginapan dan melihat pemandangan. Dia merasa sangat bahagia punya orang-orang yang dicintai, nilai ujian yang bagus, dan libur ke tempat yang indah. "Ini adalah hari yang sempurna," gumamnya dalam hati sambil tersenyum.