Menceritakan kisah cinta seorang Guru Gen Z tampan bernama Dimas Aditya dengan janda muda cantik dan kaya raya bernama Wulan Anggraeni. Kedua nya di pertemukan oleh keadaan hingga akhirnya tumbuh gelombang cinta di hati mereka. Seiring berjalannya waktu, Dimas berhasil mencuri hati Wulan sekaligus menyembuhkan rasa traumanya atas kegagalannya di pernikahan pertama. Namun di satu sisi, sang mantan (Nayla) masih mengharapkan menikah dengan Dimas. Rasa sayangnya yang begitu dalam, membuat cinta segitiga di antara mereka tak terelakkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kukuh Basunanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wulan Ziarah ke Makam Emak dan Abahnya
Rasa Rindu yang mendalam tiba-tiba datang menyelimuti hati Wulan kepada emak dan abahnya. Sudah begitu lama Wulan tidak berziarah ke makam mereka.
"Ban, hari sabtu pagi kita ziarah yuk ke makam emak sama abah ! sekalian mba juga mau ngajakin Azka kesana" isi chat WhatsApp Wulan.
"Azka kan sekolah mba ?" balas Bandi.
"Kamu ini lupa atau gimana sih, kan tiap sabtu minggu Azka libur"
"Oh iya yah mba, Bandi lupa" balas Bandi dengan emoticon tepuk jidat.
"Mba Wulan lagi kangen yah sama emak dan abah ?" ketik Bandi kembali.
"Iya kangen banget ban"
"Ok mba, sabtu pagi kita ke Brebes" balas chat WA Bandi.
Hari Sabtu tiba, dengan mobil Fortuner miliknya, Wulan bertolak menuju Brebes yang di kemudikan oleh sang Adik, Bandi Prasetyo. Sesampainya di sana, mereka langsung menuju ke makam tempat dimana kakek dan nenek Azka di kebumikan.
"Assalamu 'alaikum ahlad diyaari minal mu 'miniina wal muslimiin, wa innaa in syaa alloohu bikum laahiquun, nas 'alullooha lanaa wa lakumul 'aafiyah" ucap Wulan ketika hendak memasuki makam orangtuanya.
Di makam kedua orang tuanya yang posisinya berdampingan, Wulan memanjatkan doa sembari menitikkan air mata. Bunga melati dan mawar yang ia siapkan dari rumah di taburkan di pusara kedua orang tuanya tersebut.
"Mah, ini makam kakek nenek ya mah ?" tanya Azka kepada mamahnya.
"Iya sayang, kalau mereka melihat kamu udah segede ini, pasti mereka senang banget" ucap Wulan kepada anaknya.
"Mah kata om Bandi, dulu waktu mamah dan om Bandi masih kecil tinggalnya di Brebes, emang rumahnya sebelah mana mah ?" tanya Azka kembali.
"Nanti mamah tunjukan yah sayang" sahut mamah Wulan.
"Yuk sekarang kita ke mobil lagi !" seru mamah Wulan.
Sesuai janji, di perjalanan, Wulan menunjukan rumah lamanya kepada putranya, Azka.
"Ini loh sayang, rumah kakek dan nenek , rumah mamah sama om Bandi juga waktu masih kecil", kata mamah Wulan di dalam mobil sembari mengacungkan jari telunjuknya ke arah rumah tersebut.
"Rumahnya kok kecil banget ya mah ?" tanya Azka.
"Iya dulu kan hidup kami susah sayang, punya rumah aja udah Alhamdulillah" respon mamah Wulan.
"Kalau sekarang, Allah sudah angkat derajat kita dan punya rumah yang besar, kita harus syukuri itu" petuah mamah Wulan kepada Azka.
"Sekarang rumahnya siapa yang nungguin mah ?" tanya Azka kembali.
"Rumah itu kosong sayang, gak ada penghuninya dan gak akan mamah jual, rumah itu punya banyak kenangan" sahut mamah Wulan kembali.
"Kalau rumah kosong itu kan di huni setan mah", ucap sang putra.
"Eh kamu kata siapa ?"
"Kata ustadzah Azka di sekolah mah" jawab Azka.
"Ada hadist Nabi juga mengatakan, Jangan jadikan rumah kalian seperti kuburan. Sesungguhnya setan lari dari rumah yang dibacakan Surat Al-Baqarah" ujar Azka.
"Wah anak mamah pinter banget" sahut mama Wulan.
"Ban, mumpung kita lagi di Brebes, jalan-jalan kemana gitu ?" ucap mba Wulan kepada Adiknya.
"Iya nih om, jalan-jalan yuk !" seru Azka.
"Jalan-jalan kemana mba ?" tanya Bandi.
"Di Brebes ada tempat wisata baru gak sih ?" tanya Wulan.
"Bagaimana kalau kita ke alun-alun Tegal mba terus habis itu kita ke guci ?" kata Bandi.
"Wah mba setuju banget ban, kata orang, alun-alun Tegal sekarang udah bagus, bener gak sih ? Kalau ke guci, mba juga udah lama banget gak kesana" respon Wulan.
Sampai di Tegal, mobil mereka berhenti di alun-alun Tegal tepat di waktu Dzuhur. Suara Adzan menggema di masjid Agung Tegal.
"Benar juga kata orang ya ban, alun-alun Tegal tambah bagus gak kaya dulu tapi sayangnya panas banget, waktunya yang kurang pas" ujar Wulan.
"Bener mba, panas banget" sahut Bandi.
"Kita sholat Dzuhur aja dulu yuk di masjid" seru Wulan.
Usai melaksanakan kewajiban sholat, mereka melanjutkan perjalanan menuju guci. Di tengah perjalanan, Wulan melihat gerobak jualan bertuliskan tahu aci dan olos kocok.
"Ban, berhenti, mba pengin beli tahu aci sama olos dulu buat cemilan di jalan" kata Wulan.
"Siap kakakku yang cantik"
Di dalam mobil, mereka menyantap makanan khas Tegal tersebut.
"Enak banget mah, namanya jajanan apa ini mah ?" tanya Azka kepada mamahnya.
"Itu olos kocok sayang"
Setelah menempuh perjalanan sekitar 2 jam dari kota Tegal, mereka akhirnya sampai di guci. Laju roda mobil Wulan berhenti di sebuah hotel. Cuaca dingin yang alami menjamah tubuh mereka. Suara resepsionis menyambut dengan penuh keramahan.
"Selamat datang di hotel kami, ada yang bisa kami bantu bu ?" suara resepsionis saat Wulan hendak check in.
"Saya mau check in untuk 2 kamar mba" ucap Wulan.
"Sebelumnya ibu sudah reservasi atau belum ?" suara ramah resepsionis dengan penuh senyuman.
"Sudah mba lewat aplikasi OTA dan ini bukti booking nya" ujar Wulan sambil menunjukan bukti pemesanan hotel di handphone nya.
"Baik, mohon di tunggu sebentar bu, saya check data ibu dulu"
"Disini tertera, ibu booking 1 kamar tipe executive suite balcony dan 1 kamar tipe deluxe, apakah benar bu ?" tanya resepsionis.
"Benar sekali mba" respon Wulan.
"Saya boleh pinjam KTP nya ibu untuk menyamakan data" kembali kata resepsionis dengan ramah.
"Ini KTP saya mba" ujar Wulan sembari menyodorkan KTP nya.
"Baik bu, proses check in selesai, kamar tipe executive suite balcony di nomor 145 sedangkan tipe deluxe di nomor 156, semuanya berada di lantai 2"
"Ini cardlock nya bu"
"Apa ada yang bisa kami bantu lagi bu ?" tanya resepsionis kembali dengan senyum ramah.
"Untuk swimming pool nya airnya hangat kan mba ?" tanya Wulan.
"Benar sekali bu"
"Guci itu terkenal dengan pemandian air hangatnya yang alami, di hotel ini, swimming pool nya air hangat alami langsung dari alam bu, jadi sebenarnya kalau staycation di hotel ini saja sudah cukup mewakili pemandian air hangat lain yang ada di guci, ibu tidak perlu keluar hotel untuk cari pemandian air hangat", begitu penjelasan resepsionis.
"Baik, terimakasih infonya mba" ucap Wulan.
"Sama-sama, happy staycation here" respon resepsionis dengan ramah.
Wulan, Azka dan Bandi melangkah menuju kamar yang di pesan. Koridor kamar hotel ini di desain outdoor. Mereka merasa takjub melihat view alam yang begitu indah.
Membuka pintu kamar hotel nya, tatapan Wulan dan Azka langsung menuju ke arah balkon. Mereka berdiri sembari menikmati view alam yang cantik. Mereka berswafoto dengan latar belakang pemandangan alam layaknya di Swiss.
"View nya cantik banget ya mah" kata Azka.
"Iya, masya Allah tabarokallah" sahut Wulan.
Hari Minggu pagi, sebelum sarapan, mereka menyempatkan berendam air hangat di swimming pool hotel tersebut. Azka begitu bahagia liburan di guci. Tepat pukul 10.30 WIB, mereka check out dan kembali ke Jakarta.
P