Aira Wibisono, Baru Kehilangan Seluruh Keluarganya, Kisah tragisnya di mulai saat Kakaknya Arya meninggal karena kecelakaan, Ayahnya sangat terpukul dengan kepergian Arya, Arya merupaka ke banggan keluarga, Arya baik, pintar, dan tampan, Arya kuliah di FK UGM Orang tua Aira menaruh harapan yang besar kepada Arya, Cinta mereka sangat besar kepada Arya, Semenjak kepergian Arya Ayahnya Aira jadi sakit sakitan dan tak lama Ayah Aira meniggal, Setelah itu Ibu Aira mulai defresi dan meninggal satu tahun kemudian. Akhirnya Aira memutuskan tinggal di rumah Tante Mala sahabat ibunya, Tante Mala mempunyai anak Laki-laki bernama Damar, dia populer di sekolah, pintar, tampan mirip dengan kakaknya Aira di sana lah kisah Aira di mulai...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Ada Perubahan Tetap Dingin
Pagi itu terasa… aneh.
Aira duduk di meja makan sambil mengaduk susu yang sudah dingin sejak lima menit lalu.
Damar datang belakangan.
Seragamnya rapi. Ekspresinya datar.
Seolah malam tadi tidak pernah terjadi.
“Pagi,” kata Damar singkat.
“Pagi,” jawab Aira cepat, terlalu cepat.
Sunyi.
Sendok beradu dengan cangkir terdengar lebih keras dari biasanya.
Aira melirik Damar sekilas. Aira berharap entah apa.
Damar mengambil roti, duduk, dan membuka ponsel.
Tenang.
Normal.
Dingin.
Aira menghela napas kecil.
“Semalam…tidur mu nyenyak,” kata Aira pelan, nyaris berbisik.
Damar berhenti mengunyah, namun hanya sepersekian detik.
“Nyenyak, Sangat nyenyak,” katanya ringan.
“Oh,” Sahut Aira pendek.
Damar menyesap air.
“Kamu gimana?” Kata Damar tanpa menatap, "Tidur mu nyenyak?" katanya lagi.
"Aku nggak bisa tidur semalam," Kata Aira ragu,
Damar hampir tersedak entah kenapa.
“Damar.”
Damar meletakan gelasnya , tapi tidak menoleh.
“Makasih… sudah nolong semalam,” kata Aira agak canggung.
Damar mengangguk kecil.
“Iya itu Refleks,” jawabnya.
Lalu beranjak terburu-buru pergi dari tempat itu,
Pintu tertutup.
Aira duduk bengong menatap kepergian Damar.
“Hah, Refleks… ” gumamnya Aira kesal
"Kalau refleks… Nggak usah pake acara meluk segala"
Aira menghentakan kakinya moodnya seketika buruk pagi itu.
Di luar rumah, Damar berjalan cepat, tangannya mengepal di dalam saku celana.
“Bodoh,” gumamnya sendiri.
Damar menarik napas panjang, Itu memang kebawa suasana kan, gumamnya dalam hati.
"Aku nggak boleh memikirkan Aira seperti itu."
"Tidak boleh.."
Namun saat bayangan mata Aira semalam terlintas. Damar menggelengkan kepalanya cepat
“Jangan dipikirkan,” Kata Damar pelan.
Tapi untuk pertama kalinya dalam hidupnya, mengabaikan sesuatu terasa jauh lebih sulit, daripada menghadapinya.
Di dalam kelas 2 E, rungan itu seperti biasa ramai dengan suara suara teriakan.
"Balikin komik gue!"
"Hi, Bayar uang kas,"
"Buset, Si Bonnie tidur di kelas lagi,"
Aira melirik Ke arah belakang melihat Bonnie yang sedang menikmati tidurnya.
Dan beberapa detik kemudian, Bonnie tiba-tiba menggeliat mengangkat kedua tangannya.
Bonnie kaget melihat Aira bengong dengan tatapan kosong. Seperti melihat ke arahnya namun tidak Aira sedang tidak ada disana.
"Woy, Ra," Aira terperanjat.
"hmm," gumamnya lemas
"Kenapa lu?" Tanya Bonnie heran.
"Baru kena serangan Goshting cowok yang katanya reflek," Tiba-tiba aja Aira jadi curhat.
"Terlalu mudah," Ucap Bonnie santai "Nggak ada tantangannya" Lanjut membuat hati Aira semakin sesak.
"Maksudnya?" Aira mulai menegang,
"Lu Keliatan banget Naksirnya," Kata Bonnie menegaskan.
"Sok tau emang tau siapa yang aku maksud"
Aira Mulai mengelak tidak terima dengan ucapan Bonnie.
"Tau lah si genius dari kelas Akselerasi itu kan," Aira sedikit terkejut mendengarnya.
"Keliatan banget emang?"
Bonnie menarik nafasnya,
"Banget," kata Bonnie semakin menegaskan.
"Dari cara lu ngeliatin dia sambil senyum-senyum,"
Bonnie si preman sekolah tiba-tiba jadi ahli percintaan.
"Dari muka lu yang tiba-tiba jadi merah kalau dia ngeliatin balik"
Aira seperti tertampar realita saat mendengar ucapan Bonnie.
"kamu yang tukang tidur emang ngerti masalah begini?"
"Ya elah,"
Bonnie meneruskan ucapannya.
"Topik pembicaran lu tiap hari isinya dia mulu."
"Kok kamu tau?"
"Gue denger Aira, gue kan duduk di belakang lu,"
Bonnie mulai menarik urat kehernya sekarang.
"Gue inget lu pernah bilang, pernah ngeliat dia nggak pake baju,"
"Stop nggak usah di teruskan," Potong Aira panik.
"Trus aku mesti gimana bon?" kata Aira lemas tampak putus asa sampai curhat ke preman sekolah.
"Lu serius mau denger nasehat preman," Bonnie sedikit mengerutkan dahinya
Aira mengangguk putus asa.
"Rubah sikap lu, bikin dia ngerasa kehilangan lu,"
"Maksudnya," Aira menggaruk tengkuknya, masih tidak paham dengan ucapan Bonnie.
"Ya, elah gitu aja nggak paham," Bonnie menarik nafasnya panjang mencoba bersabar.
"Cuek, menghindar, jalan sama cowok lain," sambung Bonnie lagi langsung ke inti.
"Jalan sama cowok lain, siapa?"
"Mana gue tau," Sahut Bonnie sambil berdiri dari tempat duduknya.
"Udah akh gue mau sebat dulu,"
Bonnie pun berlalu begitu saja dari hadapan Aira.