DALAM TAHAP REVISI
AUTHOR GAK JAMIN CERITANYA BAKAL SERU
KALAU PENASARAN SILAHKAN DIBACA
Arkan dan Arta si pria cupu dan gadis cacat di persatukan dalam ikatan pernikahan untuk menyelamatkan nama keluarga kedua belah pihak lebih tepatnya menyelamatkan nama keluarga Arkan dan mantan tunangannya yang merupakan sepupu Arta.
Arta dahulu gadis yang ceria dan cantik hingga sebuah kecelakaan tragis yang merenggut nyawa kedua orangtuanya mengubah segala hal dalam hidupnya.
Ia harus hidup terpisah dari sang kakak yang memiliki kepribadian ganda akibat kejadian di masa lalu, ia tinggal bersama keluarga Mahendra adik dari sang Ibu yang telah berpulang.
Bukannya disayangi, Arta justru mengalami kekerasan fisik dan tekanan mental di rumah itu, tak sampai disitu ia harus mengganti posisi sepupunya uuntuk menikah dengan Arkan karena pria cupu itu telah jatuh miskin.
Namun, ada rahasia dibalik semua kejadian yang mereka alami bahkan identitas keduanya adalah rahasia terbesar yang mereka simpan selama ini.
Sang kakak menaruh curiga pada keluarga Mahendra menyebabkannya mencari tahu penyebab kecelakaan keluarga mereka.
Kejadian demi kejadian saling bertautan, merangkai puzzle menjadi satu gambar yang utuh.
Kisah cinta mereka telah diulai, misteri dibalik kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orangtuanya akan diungkapkan oleh alter ego sang kakak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Harsie Alive, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bau bau pelakor
Pagi hari yang indah dihiasi dengan sinar mentari dan udara yang menyegarkan. Di sebuah Apartemen sederhana namun bergaya klasik, seorang pria tampan dengan bola mata hitam legam tengah duduk menikmati secangkir kopi sambil tersenyum memandang layar komputernya.
"Manis sekali kalian " ucapnya sambil tersenyum.
tit tit tit tit
Terdengar seseorang memasukkan password apartemennya.
ceklek
"Good morning my boy!!" seru seorang wanita dengan rambut panjang ikal berwarna cokelat terang, kulit putih, tubuh aduhai, tinggi 165 cm, wajah kecil, mata bulat besar, hidung mancung dan bibir tipis.
Wanita cantik itu mengenakan kaos putih longgar dengan jeans biru dilengkapi kardigan senada dengan celananya.
"I Miss you so much" ucap Pria itu sambil berdiri merentangkan tangannya dibalas pelukan oleh wanita itu.
"I Miss you too Roki" ucap wanita itu pada Roki.
"Kamu datang sendirian Karina?" tanya Roki pada wanita yang adalah asisten Arta yaitu Karina.
"Tadi diantar sama Celo, kenapa ponselmu tak bisa dihubungi hah?" gerutu Karina kesal karena sejak mengetahui kepulangan Roki ia berusaha menghubungi ponsel kekasihnya itu.
"Maaf maaf, ponselku belum ku nyalakan" ucap Roki sambil mengelus pucuk kepala Karina.
"Huh lain kali jangan begitu!" ucap Karina mendongakkan kepalanya menatap mata pria itu.
"Iya iya maaf ya sayang ya!" ucap Roki mencubit gemas kedua pipi Karina.
"Hehehe iya iya, Kamu sudah sarapan?" tanya Karina masih dalam pelukan Roki yang dibalas gelengan kepala oleh Roki.
"Ya sudah aku buat sarapan dulu" ucap Karina seraya melepaskan pelukan Roki.
"Nanti saja" ucap Roki mempererat pelukannya.
"ihk kamu bisa sakit nanti!" kesal Karina memberontak berusaha melepaskan pelukan Roki.
"Kumohon 5 menit saja, tetap seperti ini" ucap Roki memeluk Karina dan meletakkan dagunya di antara leher dan bahu Karina.
"iya deh, apa kamu ada masalah hmm?" tanya Karina seraya membalas pelukan Roki.
"Seperti biasa, kau sudah tau apa masalahku" ucap Roki lesu.
"Hmmm ya sudah aku peluk dulu deh biar punya energi heheheh" kekeh Karina berusaha menghibur Roki. Dan benar saja pria itu merasa hatinya menghangat setelah memeluk kekasihnya itu.
Drtt drrt drtt
Terdengar ponsel Karina berbunyi dan menghentikan aktivitas mereka berdua.
"Bentar ya sayang, adik kamu nelpon" ucap Karina melihat nama Arta pada panggilan teleponnya.
"Hmm" ucap Roki singkat lalu kembali ke tempat duduknya tadi.
"Halo Arta" ucap Karina.
"Halo Karin, kamu dimana sekarang?" tanya Arta.
"Di apartemen Roki" ucap Karina.
"Ada apa? apa ada masalah?" tanya Karin pada Arta.
"Hmm tidak jadi biar aku suruh Celo saja nanti. Kamu bisa berikan ponselnya pada kak Roki nggak?" ucap Arta.
"Oh iya sebentar ya" ucap Karina lalu menyerahkan ponselnya pada Roki.
"Sayang ini Arta mau ngomong" ucap Karin menyodorkan ponselnya.
Roki menerima ponsel itu lalu berbicara dengan Arta. Sementara Karina sedang bertempur di dapur memasak sarapan untuk mereka.
"Halo Arta ada apa princess kakak?" ucap Roki sambil tersenyum di balik teleponnya.
"Halo pangeran tampan, apa pangeran punya waktu hari ini? princess dan keluarga barunya merindukan pangeran tampan heheheh" balas Arta terkekeh geli dengan percakapan mereka.
"Wah setelah sekian lama baru kalian rindu ya!" gurau Roki.
"Hahahah baru satu Minggu setelah pernikahan kak. Arta mau ketemu sama kakak, sama Karina, Celo dan Paman Bram juga. Arta mau kenalkan sama anak-anak" ucap Arta.
"Hmm baiklah, kalau begitu kapan kita ketemu?" tanya Roki.
" Bagaimana kalau 3 hari lagi kak, kebetulan sudah weekend kita bisa piknik bareng" usul Arta.
"Boleh, boleh kakak akan bawa Karina, Celo dan Paman Bram. Nanti kita ketemunya di taman XX disana viewnya bagus dan cocok buat rame-rame" ucap Roki.
"Okkay kak, nanti biar kami yang bawa perlengkapan nya, rombongan kakak boleh bawa snack dan buah kak atau apa aja deh pokoknya biar seru" ucap Arta penuh semangat.
"Iya iya, oh iya gimana kabar Arkan?" tanya Roki.
"Kak Arkan baik kak. Kami punya kejutan buat kalian jadi sampai ketemu 3 hari lagi pangeranku! titip salam sama Kak Karina hahahah" seru Arta.
"Hahahha baiklah kunantikan kejutamu Princess Arta " balas Roki mengakhiri panggilan telepon itu.
Roki berjalan menuju dapur dan mendapati kekasihnya sedang memasak disana. Ia memeluk wanita itu dari belakang.
"Eh, udah selesai telponannya?" ucap Karina menyadari pelukan Roki di belakangnya.
"Hmm, udah Arta bilang kita mau piknik akhir Minggu ini" ucap Roki.
"Wah benarkah! baguslah aku juga sudah lama tidak refreshing" seru Karina antusias.
"Kamu senang?" tanya Roki.
"Tentu saja!" balas Karina semangat.
"Maafkan aku ya " ucap Roki sendu.
"Kenapa sayang hmm?"tanya Karina bingung.
"Seandainya semua masalah ini cepat selesai kita bisa menikah dan hidup bersama" ucap Roki lirih.
Karina yang mengerti beban hati Roki menghentikan aktivitasnya lalu berbalik memeluk Roki dengan erat.
"Jangan sedih begitu, tidak kah kau lihat kekasih mu ini setia menunggumu hmm? Semua ada waktunya sayang, kau juga masih belum sembuh sepenuhnya" ucap Karina menatap mata Roki dengan lembut dan tulus.
Cup
Sebuah ciuman lembut mendarat di kening wanita cantik itu.
"Terimakasih telah hadir di hidupku" ucap Roki memperdalam pelukannya.
"Iya iya, aku tau kalau gitu kita makan dulu ya. Kamu duduk sana" titah Karin melepaskan pelukannya.
"Siap Sayang heheh" seru Roki.
Sementara itu di rumah utama Whitegar, suasana rumah yang biasanya sepi kini berubah menjadi sangat ramai karena kehadiran anggota keluarga baru yang memberi warna di rumah itu.
Hari ini adalah keberangkatan Papa George dan Mama Lily. Begitu juga Arta yang tengah bersiap untuk melakukan konsultasi perihal bekas luka di wajahnya.
"Papa dan Mama akan berangkat hari ini, kalian tak usah mengantar, Pak Irwan akan menemani kami" ucap Papa George pada anak anaknya , kini mereka tengah berkumpul di ruang keluarga.
"Beneran nih gak mau di antar?" tanya Samuel meyakinkan.
"Iya, sekarang lebih baik kalian bersiap-siap ke kantor. Banyak pekerjaan untuk kalian" tegas Papa George.
"Oh iya Pa,hari ini aku diwakilkan Tito ya. Arta akan melakukan Laser sekaligus Arkan juga mau check up ke tempat Fiko" ucap Arkan.
"Baiklah, tapi bantu sebisa kalian. Papa dan Mama akan lama di sana. Kalian jaga menantu dan cucu-cucuku ini" ucap Papa George.
"Pasti Pa!" ucap arkan.
Pagi itu Mereka bersiap melakukan semua aktivitas mereka. Papa George dan Mama Lily berangkat menggunakan pesawat pribadi bersama asisten mereka Pak Irwan. Samuel ditemani Mr.Lu atau Tito si pria bertopeng yang ternyata menggantikan Arkan di perusahaan Whitegar langsung berangkat ke perusahaan.
Si kembar bersama kedua orang tuanya melakukan check-up di rumah sakit terbesar dan terbaik di negeri itu. Seperti biasa saat keluar dari rumah mereka mengenakan masker agar tidak dikenali apalagi Jo dan Jen yang masih rentan dengan bahaya.
"Kalian sudah siap?" tanya Arkan pada Arta dan si kembar yang tengah duduk di ruang keluarga.
"Siap Papa!" seru mereka bertiga.
"Ayo kita berangkat" ucap Arkan.
Mereka berangkat menuju Rumah Sakit XX tempat Dokter Fiko bekerja. Sesampainya di sana mereka di sambut oleh Celo asisten Pribadi Arta.
"Pagi Kak Arkan, Kak Arta!" sapa Celo pada rombongan Arta.
"Pagi Kembar!" sapa Celo pada si kembar.
"Pagi Om Tampan heheh" jawab si kembar kompak.
"Hai Cel, apa prosedur bisa segera dilakukan?" tanya Arta to the point.
"Semua prosedur Laser bisa dilaksanakan hari ini kak, apalagi bekas luka kakak tidak termasuk bekas luka yang berat. Tadi gue udah ngomong sama dokter kulitnya" jawab Celo sebab tadi pagi Arta meminta bantuan Celo untuk menemui dokter kulit terbaik di negeri itu.
Awalnya ia juga ingin meminta bantuan Karina, tapi karena ia di Apartemen Roki Arta mengurungkan niatnya sebab ia tau kedua sejoli itu sudah lama tak bertemu.
"Ya sudah ayo kita masuk" ucap Arkan.
"Kak, kakak temanilah si kembar biar aku sendiri kesana, karena jadwal konsultasi dan laser kita bersamaan" ucap Arta menjelaskan.
"Apa kamu akan baik-baik saja?" tanya Arkan sedikit khawatir.
"Tenang saja kak, aku akan baik-baik saja. Kaka juga harus Konsultasi setelah itu" ucap Arta meyakinkan.
"Tapi kan..." ucapnya terputus.
"Kak aku ini wanita kuat jadi tenang saja ya! lagian ada si cecunguk ini yang menemaniku, Jo dan Jen butuh Papanya" ucap Arta meyakinkan Arkan.
"Huh Baiklah. Hei adik tampan kalau ada apa-apa segera hubungi aku!" ucap Arkan menatap Arta dan Celo bergantian.
"Iya iya, pas ada maunya aja dipuji-puji" ucap Celo memanyunkan bibirnya.
"Mama mau kemana?" tanya Josua.
"Mama mau ketemu dokter cantik sayang" ucap Arta mensejajarkan tubuhnya dengan si kembar.
"Ya sudah kalian pergi sama Papa ya, jangan nakal-nakal" ucap Arta mengecup kening kedua anak kembarnya.
"Baik Mama" ucap keduanya kompak.
"Kak hati-hati ya" seru Arta.
"Hati- hati kenapa?" ucap Arkan bingung.
"Kakak tampan banget, lihat sudah mulai tercium bau bau pelakor disini" bisik Arta yang membuat Arkan tertawa terbahak-bahak.
"Hahahahha, kamu tenang saja pria tampan ini hanya milikmu!" goda Arkan.
Penampilan Arkan memang sangat menarik perhatian, tubuh tinggi 180 cm, dada bidang, badan tegap, kaki jenjang dan tubuh berotot serta wajah tampan namun tertutup masker dan kacamata sungguh menarik perhatian semua orang sangat berbeda dengan penampilannya yang dulu.
Namun dengan sengaja ia memakai masker agar tidak dikenali orang-orang.