Dihianati pacar dan sahabat, membuat Danisa atau yang akrab disapa Nisa enggan menjalin hubungan percintaan dan persahabatan dengan perempuan lagi.
Dari itu dia hanya dekat dengan Senopati, atau yang akrab disapa Seno, hanya dengan Seno dia merasa nyaman.
Saking akrabnya, Seno sudah seperti suami bagi Nisa. Sebelas tahun menjalin persahabatan, rasa cinta mulai tumbuh di hati Seno. Namun, tiba-tiba cinta masa lalu Nisa datang lagi.
Apakah Nisa memilih cinta masa lalunya atau berbalik memilih sahabatnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daffo Azhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29
Nisa memandang Seno tanpa berkedip saat suaminya itu tengah bekerja. Dia menjelaskan dengan elegan konsep iklan ke kliennya. Nisa dibuat takjub sendiri. Dialah Senopati sahabat terbaiknya. Seno yang pintar dan memesona.
Suasana Siam's Spice siang itu lumayan penuh karena memang sekarang jam makan siang. Seno, Aldi, dan klien mereka mengisi meja di tengah-tengah sana, sedangkan Nisa duduk di meja lain dekat dengan jendela, sambil sesekali melihat suasana. Sepiring spageti di hadapannya belum disentuh. Selera makannya tiba-tiba lenyap karena pesona suaminya sendiri membuatnya kehilangan selera makan. Dia hanya ingin memandangnya terus menerus.
Nisa tidak mengerti kenapa semenjak menikah dengan si playboy cap paus itu, rasa cintanya naik berkali-kali lipat. Dirinya sendiri tidak bisa mengukurnya. Grafiknya terus naik tak terkendali, hingga rasanya mau meledak.
"Danisa ...."
Tiba-tiba seseorang menegurnya dari belakang. Nisa mengerjap kaget lalu menoleh. Seorang laki-laki memakai stelan kemeja dengan jas tanpa dikancingkan berdiri sambil menyunggingkan senyum.
"Mas Andi?" tanya Nisa kaget. Andi mengulurkan tangannya, Nisa menjabat tangan pria tampan itu dengan hangat.
"Wah, gak nyangka kita bisa ketemu di sini," ucap Andi. "Kamu sendirian aja?"
"Enggak, aku sama suamiku. Tuh, dia lagi meeting."
Andi menoleh ke arah meja Seno. Raut wajahnya seketika berubah tidak suka. "Oh, begitu. Iya aku denger kamu udah nikah lagi. Kamu enggak undang aku ke nikahan kamu, jahatnya."
"Maaf, Mas, riweuh, banyak temen-temen aku juga yang enggak keundang, mereka juga pada marah-marah." Nisa terkekeh.
"Eh Mas, duduk," ucap Nisa.
Andi menggigit bibir bingung. "Maaf, Nis, tapi aku harus pergi nih. Aku ke sini nganter Bos ketemu sama rekan bisnisnya."
"Oh gitu. Ya udah deh. Kapan-kapan kita harus ketemu lagi nih, ngobrol-ngobrol. Udah lama gak ketemu."
Dari mejanya, Seno melirik Nisa diam-diam yang tengah bicara dengan Andi. Siapa dia? Seno baru melihat pria itu. Tanpa dipungkiri dalam hatinya berdesir rasa cemburu.
"Ya udah, Nis, aku permisi dulu ya."
"Iya, Mas. Salam sama Dara dan Mas Alan juga ya."
"Oke, tar aku salamin. Kapan-kapan main ke rumah, Nis, Dara udah punya baby sekarang."
"Wah, ikut senang. Inshaallah nanti main, deh."
"Aku tunggu loh," ucap Andi lalu pergi.
Nisa menatap punggung pria tampan itu yang semakin menjauh dan menghilang di belokan. Andi adalah salah satu temannya Viko. Waktu masih pacaran dengan Viko, Nisa lumayan sering bertemu dengan Andi dan beberapa kali main ke rumahnya. Mereka juga pernah melakukan double date. Namun, yang terakhir Nisa dengar Andi putus dengan Tika si penyiar radio itu. Entah apa masalahnya.
Selang satu jam, Seno selesai meeting. "Yuk," ucapnya setelah di samping Nisa.
"Udah?"
"Udah." Nisa meraih tasnya lalu pergi menggandeng tangan suaminya. Gadis itu mendongak menatap wajah Seno diam-diam, lantas dia tersenyum malu-malu. 'Astaga gue beneran naksir elo, Sen,' ucap Nisa dalam hati.
Tangan Nisa turun ke bawah dan jemarinya menyelusup masuk ke sela-sela jemari Seno lalu menggenggamnya erat.
Seno menatap tangannya yang sedang digenggam. Dia tersenyum geli. Nisa pun masih tersenyum malu-malu. Mereka seperti sepasang ABG yang baru pacaran untuk pertama kali.
Sepanjang perjalanan ke mobil di parkiran, tangan mereka tidak terlepas sedetik pun. Setelah itu Seno membukakan pintu mobil untuk Nisa.
"Silahkan masuk, istriku," ucap Seno sambil menggerakan tangannya seperti pengawal kepada ratunya.
"Terima kasih." Nisa tersenyum geli. Setelah Nisa masuk, Seno memutar masuk ke pintu kemudi.
Perlahan mobil melaju dan melebur bersama kendaraan-kendaraan lain di jalanan Ibu Kota yang tidak pernah sepi.
"Macet," gerutu Seno pelan.
"Oh iya, Nis, tadi di Siam's Space kamu ketemu siapa?"
"Oh, dia Mas Andi, temannya Viko. Aku udah lama banget gak ketemu dia. Dia kecewa karena gak aku undang ke pernikahan kita."
"Oh."
Nisa mengernyit. Dia mendengar ada nada tidak suka dalam suara suaminya itu.
"Dia udah nikah?"
"Kayaknya belum. Malahan aku dengar dia putus sama pacarnya."
Dari dulu Seno memang memiliki sebuah kelebihan dengan feelingnya. Hatinya seperti menjalankan scanning, keningnya berkerut samar, seperti ada sebuah gelombang yang tertangkap oleh radarnya. Gelombang yang mengisyaratkan ketidakberesan, situasi yang tidak aman. Tiba-tiba hati Seno merasa tidak nyaman.
Namun, dia berharap kali ini feelingnya salah.
***
"Nis, berapa banyak lagi yang kamu beli? Udah dua troli, nih," keluh Seno sambil melihat satu-satu troli yang sudah penuh dengan belanjaan. Kebanyakan kebutuhan dapur.
"Habis ini udah."
"Kamu emang mau masak apaan?"
"Enggak tau, hehe. Pokoknya aku akan bereksperimen, dan kamu yang akan memakan semuanya."
"Kamu pengen perut aku off side lagi?"
"Enggak apa-apa, bagus."
Seno memencet hidung sahabatnya itu hingga memerah. Nisa memberengut sebal. Namun, setelah itu Seno mengusap kepala Nisa dengan sayang.
Setelah selesai mereka membayar ke kasir. "Sen, habis ini anter aku ke toko buku sebentar, yuk."
"Oke, kebetulan aku juga mau ada buku yang pengen aku beli."
Setelah membayar ke kasir, mereka menitipkan belanjaan ke tempat penitipan barang.
Nisa dan Seno memasuki toko buku dalam mall tersebut. Seketika kaki Nisa terpaku di tempatnya berdiri. Matanya memicing menatap sebuah rak berisi novel-novel best seller.
Namanya terpampang di sana, di sebuah novel yang Viko tulis. Novel berjudul DANISA ternyata sudah masuk ke dalam kategori novel nasional best seller.
Perlahan matanya menghangat, mengembun, sehingga dia tidak jelas melihat sekeliling. Seno yang mendapati Nisa seperti itu langsung menggenggam tangan Nisa erat. S
aat segugus tangan itu menyentuh kulitnya, air mata Nisa langsung terjun bebas ke pipi. Dengan cepat Nisa menghapusnya.
"Yuk, Sen," ucapnya.
Seno mengangguk. Lalu mereka segera mencari buku-buku yang mereka akan beli.
Seno menatap wanita yang sangat dicintainya tengah melihat-melihat buku. 'Nis, apa luka itu masih melekat di hatimu? Aku harus bagaimana supaya kamu bisa ngelupain semuanya? Waktu Viko pergi, aku gak tau seberapa dahsyat kesedihanmu saat itu, karena aku enggak berada di sisimu. Katakan padaku, aku harus gimana, Nis? Aku akan melakukan apapun sebisa aku untukmu.'
***
*buat teman-teman yang enggak tau siapa Andi, aku harap baca dulu ceritaku yg judulnya Marriage without dating/Manikah tanpa pacaran, ya. biar kalian lebih mengenalnya lebih dekat. hehehe.
sumpah
lanjutt thorr