Pernikahan yang berdasarkan untuk menghindari kesalahpahaman, hingga membuatku terpaksa harus menerima pernikahan yang sama sekali tidak kuinginkan.
Pernikahan yang ku fikir akan menyelamatkan ku dari fitnah ternyata justru membuatku hidup dalam kesengsaraan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marina Monalisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30. Kelancangan Rere
"Nak Adit, Ibu titip Meisa yah."
Dengan senyum yang mengembang Aditya mengangguk. "Ibu jangan khawatir, saya akan di sini sampai besok pagi."
"Terimakasih Nak Adit."
"Sama-sama, Ibu. Saya juga berterimakasih karena di berikan kesempatan membalas budi Meisa, Ibu."
Senyum merekah di wajah keduanya sebelum akhirnya Bu Nirmala masuk ke dalam mobil milik Aditya yang sudah ada supir di sana.
Aditya membawa pakaian ganti lalu kembali melangkah masuk ke ruangan tempat Aldi di rawat dengan Rere.
Ia masuk ke ruang rawat yang masih memperlihatkan Meisa menatap sang suami. "Daddy." ucap Naina dengan menunjukkan deretan gigi putihnya yang terlihat satu bolong karena ompong.
"Mei, aku permisi mandi dulu yah." ucap Aditya pelan.
"Iya silahkan." tutur Meisa tanpa menatapnya.
"Naina, Mommy titip Om Aldi yah sayang sebentar saja."
"Mommy Mey mau kemana memangnya?"
"Mau solat sebentar, tidak apa-apa kan?"
Naina menganggukkan kepalanya, lalu Meisa beranjak pergi ke musholla.
***
"Halo Diana." suara khas milik Ale terdengar jelas di seberang telepon itu.
"Ale, untuk apa kau menghubungiku? aku tidak ingin kau merusak rumah tangga ku yah. Pergilah, aku tidak memiliki uang lagi untuk membayar mu." Diana yang sudah menjauh dari meja makan berbicara setengah berbisik.
Dari kejauhan Bimo tampak acuh dengan sekali lirikan tajamnya ia kembali fokus dengan hidangan di depannya.
"Aku tidak ingin uangmu, Diana. Jam berapa kita bertemu? hem? aku sangat merindukanmu malam ini."
"Kau gila yah? aku tidak ada janji dengan mu. Sudah aku ingin makan malam dengan suami ku."
Ketika Diana hendak mengakhiri panggilan itu, tiba-tiba saja suara Ale terdengar mendesis di seberang sana.
"Sst... jangan berani mematikan panggilan ini jika kau tidak ingin aku datang menjemput mu ke rumah."
"Hey, apa yang kau bicarakan? aku tidak mau." Diana berteriak dengan mulut yang ia bungkam.
"Diana, aku tidak perduli. Sekarang datang, aku sudah menunggu di tempat empuk biasanya, Oke sayang?"
"Ah...sial." pekik Diana yang setengah menghempaskan tangannya di udara.
"Aku ingin memperbaiki semuanya, mengapa dia jadi seperti ini? aku tidak mau Bimo sampai mengetahui hal ini."
Setelah kekesalannya mampu ia redakan, Diana kembali menuju ke meja makan dan bergabung dengan Bimo untuk makan.
"Loh sudah selesai makannya, Pah?" tanya Diana terkejut melihat Bimo meletakkan kedua sendok itu di piringnya.
Bimo tak bersuara, ia segera menuju ke kamarnya untuk beristirahat. Perasaannya perlahan sudah mulai terkendali.
Sesampainya di kamar, ia duduk di tepi tempat tidur. Matanya menatap kosong di depannya. Tidak ada lagi kecemasan bahkan rasa penasaran tentang kehidupan Meisa, yang ada di dalam pikirannya adalah bayangan bayi yang ia impikan sejak lama.
"Papah, Mamah ayo kita tidur bareng." Terlihat bayangan keluarga kecil yang tengah tidur dengan pakaian tidur yang senada dan saling berpelukan. Yah keluarga kecil bahagia yang di impikan oleh Bimo.
"Apa sudah saatnya untuk rumah ini terdengar suara anak-anak?" Bimo bergumam sembari tersenyum tipis.
Sementara di ambang pintu yang masih terbuka lebar, terlihat langkah kaki yang hampir tak terdengar memasuki kamar itu. Diana mengira jika suaminya sudah merebahkan tubuhnya, ternyata kali ini perkiraannya salah.
"Aduh belum mau tidur lagi, bagaimana aku keluar kalau begini?"
Bimo melirik kehadiran istrinya, ia terlihat lebih tenang dari sebelumnya. Bahkan Diana tersentak melihat senyuman dari bibir sang suami.
Senyuman yang sudah hampir ia lupa bentuknya. Bimo perlahan mendekat pada istrinya dan Diana berusaha tenang meski dirinya hanya berdiri mematung.
"A-ada apa, Pah?" tanya Diana panik.
Bimo tak bersuara sedikit pun, ia meraih kedua pundak istrinya, Diana pun melirik ke sisi kiri di mana suaminya menggenggam bahunya.
Matanya membulat seketika saat Bimo melahap bibir merah itu, tidak ada percakapan diantara mereka. Bimo terus melancarkan aksinya hingga indera perasanya menelusuri setiap titik rongga mulut sang istri.
Diana yang menegang perlahan mulai terbuai dengan sentuhan lembut yang ia rasakan. Bibir dan tangan sudah beraksi lancar pada tubuh padat sang istri. Bimo merasa semakin ingin melakukan lebih jauh lagi.
Ia melepaskan sejenak ciuman itu dan melirik Diana yang memejamkan matanya. "Kita hadirkan dia yah?" Bimo mengusap lembut perut rata istrinya.
Tanpa di berikan waktu untuk menjawab, Bimo sudah melahap kembali bibir itu dan menggendong tubuh Diana ke atas kasur. Kedua melanjutkan aksi panas itu di atas kasur.
Kekuatan Bimo mampu mengeluarkan suara indah di bibir Diana. Semua permasalahan mereka seketika lenyap, hanya ada perasaan cinta yang kini tersalurkan dari kerinduan yang amat dalam. Rindu akan keharmonisan mereka.
Beberapa kali ponsel Diana berkelip menandakan ada panggilan masuk namun tak terjawab. Bimo masih bergerak lancar di atas sana.
Sementara di sisi lain Ale tampak emosi. "Ah kemana Diana? aku sudah sangat merindukannya. Sialan mengapa aku bisa se-gelisah ini jauh dari wanita itu." Sembari menggaruk kasar rambut yang tidak gatal ia mondar mandir di dalam kamar hotelnya.
Malam yang semakin larut kini hanya memperdengarkan suara keramaian kendaraan di tengah Kota itu. Di ruangan rawat Aldi, Aditya tampak duduk di sofa. Ia memperhatikan Meisa yang masih belum terlelap.
"Mamah, Papah." ucap lirih seorang wanita yang masih setengah sadar di seberang sana.
Tidak ada yang menghiraukannya sama sekali. Aditya merasa enggan untuk mendekati wanita yang sama sekali tidak ia kenali. Sementara Meisa yang masih fokus dengan suaminya sama sekali tidak mendengar.
"Aldi." panggilan yang seketika membuat mata Meisa beralih ke arahnya.
Rere berusaha bangun dari tidurnya, ia melirik pria yang sedang di jaga dengan seorang wanita dan dua orang asing baginya.
"Aldi," Rere berusaha turun dari tempat tidurnya.
"Mba, tolong jangan turun dulu." Meisa segera menghampiri Rere karena sampai saat ini ia masih mengira jika wanita itu pasti hanya sebatas rekan kerja.
"Tidak, aku mau bersama Aldi." bantah Rere.
"Ma-af, suami saya ada saya yang akan menjaga. Sebaiknya anda istirahat saja dulu." terang Meisa setengah memaksa senyum meski ia kesal mendengar Rere yang begitu memaksa.
"Aldi juga suami saya, saya dan Aldi sama-sama butuh asal kamu tahu." pungkas Rere dengan tegasnya.
Mata Meisa membulat, ia menegak kasar salivahnya yang terasa seperti bongkahan batu di sana. Begitu juga dengan Aditya dan Naina yang mendengarnya.
Seketika tubuh Rere yang setengah di bopong oleh Meisa langsung tersungkur karena tangan Meisa tak lagi menahannya.
"Aw..." rintih Rere.
Meisa masih berdiri menatap Rere yang tergeletak di lantai.
"Apa tujuan anda berkata seperti itu pada saya? ingin merusak rumah tangga saya?"
Rere tersenyum getir, ia melihat ada kesempatan bagus saat ini dimana Aldi yang masih tidak sadarkan diri.
"Daddy." Naina menyembunyikan wajah mungilnya pada tubuh Aditya yang masih mematung.
"Meisa Ayunda, aku wanita yang tidak lain adalah madu mu. Kita sama-sama memiliki hak atas Aldi. Aldi menikahi diriku untuk merasakan keperawanan."
Deg.
Jantung Meisa seketika terhenti berdegup. Dadanya panas seakan ingin meledak mendengar ucapan wanita di hadapan kakinya itu.
"Sudahlah jangan berharap lebih untuk pernikahan kalian itu. Meisa, aku hanya membantu mu untuk membahagiakan pria yang sama-sama kita cintai. Aku akan menjadi pelengkap rumah tangga kalian dengan kehadiran anakku dan Aldi."
"A-nak." Meisa mengulang ucapan Rere dengan suara bergetar, air matanya menetes seketika. Tubuhnya hampir saja terjatuh kalau Aditya tidak lebih cepat menjadi penopangnya.
"Mei, ayo. Sebaiknya kita pindahkan saja suami mu ke ruang lainnya."
"Tidak, Aldi suamiku. Aku berhak bersama dengannya. Jangan kalian berani memisahkan aku dengan suami ku." teriak Rere dengan tatapan bengisnya.
Meisa tak bisa berkata-kata lagi, ia melangkah gontai di bantu dengan Aditya menuju kursi yang ada di sebelah Aldi.
Sementara Rere tidak ada yang membantu dirinya berdiri, tangannya segera menekan tombol untuk meminta bantuan pada suster.
Beberapa saat setelah itu pintu ruang rawat terbuka. "Sus, tolong bantu saya untuk tidur di tempat suami saya."
Mata Meisa yang sembab menatapnya dengan tajam. Sungguh wanita tidak tahu diri Rere, bagaimana bisa ia mengambil keputusan tanpa memandang kehadiran Meisa sebagai istri pertamanya.
"Jaga ucapan mu. Aku sebagai istri Mas Aldi tidak akan mengijinkan. Apa pun ucapan mu aku tidak akan mendengar selama Mas Aldi tidak mengatakan pada ku. Tunggu sampai Mas Aldi sadar. Paham!" sentak Meisa.
"Oke."
lanjut baca lagi lah
semangat thor 💪