Sejatinya anak adalah Mutiara di dalam sebuah pernikahan. namun tidak demikian dengan Tiara yang justru dianggap pembawa sial oleh wanita yang sudah melahirkannya.
Ia disalahkan sebagai penyebab hancurnya impian sang ibu, yang jelas jelas bukan salahnya.
Bu Nani belum bisa berdamai dengan keadaan dan melampiaskan kekecewaannya kepada Tiara.
Yuk baca kisah Tiara selengkapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dara Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30
bulu kuduknya berdiri, seluruh tubuhnya merinding.
ia sangat takut namun masih berusaha agar tidak lari karena hukumannya belum selesai.
komat kamit mulutnya membaca doa sambil melanjutkan hukumannya hingga berapa menit kemudian "uhuk" terdengar suara orang batuk dalam toilet yang tertutup tersebut.
"Alhamdulillah... ada orang rupanya" Dea bernapas lega, namun setelah itu sunyi seperti tidak ada tanda-tanda ada orang di dalam.
"halo ada orang di dalam" ujar Dea memeriksa, namun tidak ada jawaban.
"gara-gara Rani ni jadi parno begini aku" gumam Dea menatap ke seluruh ruangan.
"tok tok tok" Dea mengetuk pintu tersebut memastikan sekali lagi ada orang atau tidak namun hasilnya tetap sama membuatnya semakin takut.
"apa aku. .. apa... bagaimana ini? kabur? pasti di tambahin hukuman sama pa Tono, di teruskan aku takut" batin Dea.
pintu toilet terbuka, nampak lah bu Kiki berdiri di hadapan Dea yang tengah mematung.
"Dea"
Dea terperanjat,tersadar dari lamunannya dan hampir terjatuh.
"astagfirullah" ucap Dea.
"kamu pikir saya hantu? "
"ti.. tidak bu saya cuma kaget saja"
"lagian kamu ngapain ngetuk-ngetuk pintu toilet, ganggu ritual saya aja"
"maaf bu, memangnya ibu melakukan ritual apa di dalam sana" tanya Dea polos.
"kamu kalau ke toilet ngapain aja? " tanya bu Kiki balik.
"buang air bu"
"nah itu tau, sudah kerjakan saja hukuman mu" berlalu pergi.
"oh ritual itu" Dea mengangguk-anggukkan kepalanya dan kembali melanjutkan hukumannya.
ia sudah merasa tenang sekarang dan tidak takut lagi.
"hi hi hi hi hi" suara itu begitu nyaring menggema di ruangan tersebut.
"apa itu?" batinnya seraya menghentikan aktivitasnya.
"aaa...." teriak Dea dan langsung ambil langkah seribu meninggalkan toilet.
"BUGH" tak sengaja Dea menabrak bu Kiki yang kembali ke toilet.
"Dea, kamu kenapa? " melihat wajah Dea yang sudah pucat pasi.
"ada se.. setan bu" dengan nafas yang terengah-engah.
"mana ada setan di siang bolong begini"
"serius bu"
"di mana? "
"di toilet bu, ketawanya kenceng banget hihi gitu bu"
"oh berarti benar handphone ibu terjatuh di situ" melangkah masuk ke toilet di iringi oleh Dea.
bu Kiki dapat mendengar suara tersebut.
" tuh kan ada yang nelpon" meraih handphone dan menjawab panggilan tersebut "halo...... "
"dasar penakut" ujar bu Kiki.
"ya abis nada panggilan ibu serem sih, ganti napa"
"suka-suka ibu lah, ini kan handphone ibu" melenggang pergi.
sementara di kelas proses belajar mengajar sedang berlangsung.
Tiara dan teman-temannya mengerjakan latihan matematika yang di berikan oleh pak Tono.
"sst.. aku baru sadar Aldo gak ada" ujar Risty menunjuk bangku Aldo menggunakan isyarat mulutnya.
Tiara menoleh ke arah bangku yang di tunjuk oleh Risty, disaat bersamaan pak tono melihat tiara yang menoleh ke belakang.
"mau ngapain kamu tolah-toleh? " ujar pak Tono menatap Tiara.
"enggak pak, leher saya kaku"
Tiara dan Risty kembali fokus mengisi soal-soal latihan.
"Tring... " bel tanda pulang berbunyi.
Tiara dan teman-teman yang lainnya bergegas mengumpulkan latihan mereka.
"Tiara, Risty, Rani kalian gak ikut? " tanya Dewi teman sekelas mereka.
"kemana? " sahut Risty seraya mengemasi buku-bukunya.
"ke rumah Aldo, ayahnya meninggal "
"innalilahi wainnailahirojiun.. " ucap Tiara dan dua sahabatnya serentak.
tiba-tiba Dea masuk ke dalam kelas.
"girls, akhirnya selesai juga hukumanku. capek banget tau"
"mau ikut gak Dea" tanya Rani.
"kemana? "
"ke rumah Aldo, ayahnya meninggal" sahut Tiara
"innalillahi wainnailahirojiun" ucap Dea.
"kalau begitu aku ikut" tambahnya.
"kalian ikut juga kan? " tanya Dea pada tiga sahabatnya itu.
"iya lah, masa enggak" jawab mereka serentak.
"siapa aja yang ikut? " tanya Dea lagi.
"yang pasti kelas kita sama guru" timpal Dewi si ketua kelas.
"yok berangkat, sekolah udah sepi nih tinggal kelas kita doang yang masih stay" ujar Dewi.
mereka pun berangkat ke rumah Aldo menggunakan mobil sekolah dan mobil para guru yang juga ikut ke sana, sebagian ada yang bawa motor sendiri.
✨💎💎✨💎💎✨
💎💎💎💎💎💎💎
💎💎💎💎💎💎💎
✨💎💎💎💎💎✨
✨✨💎💎💎✨✨
✨✨✨💎✨✨✨