Demi menyelamatkan nyawa suaminya yang kritis akibat kecelakaan, Melisa harus berhadapan dengan tagihan rumah sakit yang sangat besar. Di tengah keputusasaan, ia bertemu kembali dengan Harvey, dokter bedah yang menangani suaminya sekaligus mantan kekasih yang ia tinggalkan secara tragis saat SMA.
Terdesak biaya, Melisa terpaksa mengambil jalan gelap dengan bekerja di sebuah klub malam melalui bantuan temannya, Laluna. Namun, takdir kembali mempermainkannya: pria kaya yang menawar harganya paling tinggi malam itu adalah Harvey.
Kini, Harvey menggunakan kekuasaannya untuk menjerat Melisa kembali—bukan hanya untuk membalas dendam atas sakit hati masa lalu, tapi juga menuntut bayaran atas nyawa suami Melisa yang ia selamatkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SATU BULAN DARIMU, UNTUK SISA UMUR SUAMIMU
🌼🌼🌼🌼🌼
Lampu remang-remang di ruang VIP The Crimson seolah menyerap sisa-sisa keberanian Melisa. Di depannya, Harvey berdiri dengan keangkuhan yang sempurna. Pria itu tertawa pendek—sebuah tawa kering yang hanya sampai di bibir, sementara matanya tetap sedingin es.
Ia melangkah maju, memperkecil jarak hingga Melisa bisa merasakan hawa panas yang menguar dari tubuh pria itu, bercampur dengan aroma parfum kayu cendana yang mahal dan sisa wiski.
"Dua ratus juta untuk nyawa suamimu," Harvey berbisik tepat di telinga Melisa. Suaranya rendah, mengirimkan getaran intimidasi yang membuat bulu kuduk Melisa meremang. "Angka yang cukup besar untuk seorang pemula di tempat sampah seperti ini, bukan?"
Harvey mengulurkan tangan, meraih sehelai rambut Melisa yang terjatuh di bahu. Ia memainkannya dengan ujung jari, perlahan dan penuh penilaian, seolah-olah Melisa hanyalah komoditas yang sedang ditawar di pasar gelap.
"Aku akan memberikan uang itu. Detik ini juga," ucap Harvey sembari merogoh saku jasnya, mengeluarkan buku cek yang tampak kontras dengan suasana klub yang kumuh. "Tapi jangan harap ini gratis, Melisa. Jika kau cukup rendah untuk bekerja menjadi pelayan di sini, maka jadilah pelayan yang sesungguhnya. Untukku."
Harvey berhenti sejenak. Ia menarik dagu Melisa agar wanita itu menatap tepat ke dalam manik matanya yang tajam. Di sana, Melisa melihat pantulan dirinya yang hancur.
"Satu bulan," lanjut Harvey dengan nada tanpa ampun. "Jadilah budak pribadiku selama tiga puluh hari. Kau harus ada kapan pun aku memanggilmu. Kau akan melakukan apa pun yang aku perintahkan—di tempat tidur, atau di mana pun. Tidak ada penolakan, tidak ada air mata, dan lupakan sejarah kita sebagai mantan kekasih. Hanya transaksi. Kau setuju?"
Dunia Melisa terasa runtuh. Syarat itu bukan sekadar permintaan fisik; itu adalah cara Harvey untuk menguliti martabatnya hingga ke tulang. Harvey tidak menginginkan tubuhnya; ia menginginkan kendali penuh untuk menghancurkan apa yang tersisa dari harga diri Melisa.
"Kenapa diam?" tantang Harvey. Ujung pulpennya sudah menyentuh kertas cek. "Bukankah kau bilang kau akan melakukan apa pun demi Rendra? Satu bulan darimu, untuk sisa umur suamimu. Bukankah itu pertukaran yang sangat adil bagi wanita sepertimu?"
Melisa memejamkan mata. Wajah Rendra yang pucat pasi di ruang ICU terlintas di benaknya. Tanpa uang ini, besok pagi suaminya akan diusir dari rumah sakit.
"Aku..." Suara Melisa tercekat.
Di ambang pintu yang sedikit terbuka, Laluna berdiri mematung. Wajahnya pucat pasi mendengar negosiasi iblis tersebut. Laluna ingin masuk, ingin menarik Melisa keluar dari neraka itu, namun ia tahu kenyataan pahitnya: hanya Harvey yang punya uang sebanyak itu malam ini.
Satu tetes air mata jatuh, membasahi pipi Melisa yang dingin.
"Baik," bisik Melisa, nyaris tak terdengar di antara dentum musik dari luar ruangan. "Aku setuju."
Harvey tertegun sesaat. Ada kilat penyesalan yang melintas secepat kilat di matanya, namun segera tenggelam oleh keangkuhan. Ia menuliskan nominal itu dengan gerakan cepat, merobek kertas ceknya, dan dengan gerakan menghina, ia menyelipkannya di belahan gaun Melisa.
"Malam ini tugasmu di klub selesai," kata Harvey sambil beranjak pergi tanpa menoleh lagi. "Sampai jumpa besok jam empat sore di apartemenku. Jangan terlambat, budakku."
Saat Melisa melangkah keluar dengan kaki gemetar, Laluna segera menahan lengannya.
"Melisa, kau gila?" bisik Laluna dengan suara bergetar. "Pria seperti Harvey... dia tidak sedang mencari kesenangan. Dia sedang mencari pembalasan dendam. Kau bisa hancur berkeping-keping di tangannya!"
Melisa hanya memberikan senyuman tipis yang terasa lebih menyakitkan daripada tangisan. "Aku sudah hancur sejak melihat suamiku terbaring lemah di rumah sakit, Laluna. Setidaknya sekarang, kehancuranku ada harganya."
*
Bau alkohol dan asap rokok yang menempel di gaunnya terasa sangat kontras dengan bau karbol yang menusuk saat Melisa tiba di rumah sakit. Koridor itu sunyi dan dingin, seolah sedang menyambut kedatangan seorang pendosa.
Melisa berdiri di depan kaca kecil ruang ICU. Di dalam sana, Rendra terbaring lemah dengan berbagai selang yang menjaga nyawanya. Bunyi monitor jantung yang teratur menjadi satu-satunya musik yang ingin ia dengar.
Ia merogoh saku gaunnya, menyentuh kertas cek dari Harvey. Kertas itu terasa sangat berat, seolah membawa beban dosa seluruh dunia.
"Rendra..." bisik Melisa sambil menempelkan telapak tangannya ke kaca. "Besok kau akan dioperasi. Bertahanlah, apa pun taruhannya bagi kita."
*
Keesokan paginya, Melisa terbangun di kursi tunggu dengan leher kaku. Saat ia sedang berusaha mengumpulkan kesadarannya, suara langkah sepatu yang tegas dan berirama bergema di koridor. Melisa mendongak dan seketika jantungnya seakan berhenti berdetak.
Harvey ada di sana.
Namun, pria itu tidak lagi memakai jas klub yang mahal. Ia mengenakan scrub dokter berwarna biru tua dengan jas putih kebanggaannya yang bersih tanpa noda. Wajahnya tampak segar dan sangat profesional, seolah ia tidak baru saja menghancurkan hidup seorang wanita beberapa jam yang lalu.
Harvey berhenti tepat di depan Melisa. Ia mengambil papan kliping medis di dekat pintu ICU, membacanya dengan teliti tanpa memandang Melisa sedikit pun.
"Cek itu baru benar-benar berlaku setelah kau melapor ke apartemenku sore nanti," ucap Harvey dengan suara bariton yang tenang namun tajam. "Jika kau tidak muncul, aku akan membatalkan jadwal operasi suamimu."
Melisa berdiri dengan kaki lemas. "Kau... kau dokter penanggung jawabnya?"
Harvey akhirnya menoleh. Pandangannya kini murni profesional, namun dinginnya tetap sama. "Sebagai kepala departemen bedah saraf, aku punya wewenang penuh atas jadwal ruang operasi. Jika pasien tidak bisa menjamin pembayaran atau jika aku 'berhalangan', operasi batal."
Melisa mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya memutih. "Anda sangat kejam, Dokter Harvey. Sangat kejam."
"Dunia ini tidak pernah menjanjikan keadilan, Melisa. Aku hanya menyesuaikan diri dengan aturan mainnya," sahut Harvey datar. Ia melangkah mendekat, lalu berbisik dengan nada yang hanya bisa didengar oleh Melisa. "Sekarang, pulanglah. Bersihkan dirimu. Bau murah dari kelab malam itu tidak cocok ada di rumah sakitku."
Setelah mengatakan itu, Harvey melangkah masuk ke dalam ruang ICU dengan wibawa seorang penyelamat nyawa, meninggalkan Melisa yang berdiri mematung. Melisa menatap punggung pria itu, menyadari bahwa ia baru saja menjual jiwanya kepada seorang malaikat maut yang memakai jas dokter.
***
Bersambung..
......................
......Sebelum lanjut, bantu author lebih semangat dengan memberikan Like, komen, vote, dan gift semampu kalian ya 🥰🥰🥰......