NovelToon NovelToon
Turunnya Naga Suci: Bangkit Dalam Dendam

Turunnya Naga Suci: Bangkit Dalam Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Action / Reinkarnasi / Balas Dendam
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: waseng

Di Benua Langit Sembilan, Xiao Yuan adalah jenius tak tertandingi yang memegang Sumsum Naga Suci. Namun, di malam pernikahannya, ia dikhianati oleh tunangannya, Ling’er, yang meracuninya dan membedah tulang naganya untuk diberikan kepada kekasih gelapnya. Xiao Yuan dibuang ke Jurang Keputusasaan dalam kondisi cacat.
Namun, takdir tidak berhenti. Roh Naga Kuno yang tertidur di dasar jurang menyatu dengan jiwanya yang hancur. Dengan bantuan Yun’er, gadis misterius dari klan terbuang, Xiao Yuan merangkak naik dari neraka. Kali ini, ia tidak akan menjadi pelindung dunia, melainkan Dewa Naga yang akan menghancurkan siapa pun yang pernah menginjaknya. "Jika langit menghalangi jalanku, aku akan merobek langit!".

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26: Menara Keputusasaan

Lembah Kesunyian yang tadi menjadi saksi pertempuran dahsyat antara dua saudara sedarah, kini hanya menyisakan keheningan yang menyesakkan. Bau belerang dari sisa-sisa energi ilahi Xiao Tian perlahan tertutup oleh hawa dingin yang terpancar dari tubuh Xiao Yuan.

Xiao Yuan berdiri menatap gulungan kertas yang ditemukan Baraka. Jari-jarinya gemetar, bukan karena takut, melainkan karena amarah yang begitu murni hingga ia bisa merasakan darahnya sendiri berdesir panas. "Menara Keputusasaan..." gumamnya. Nama itu terdengar seperti kutukan. Ia tahu tempat itu dari cerita-cerita kuno Kakek Gu; sebuah menara yang dibangun di atas tumpukan tulang para pemberontak, tempat di mana waktu berhenti dan harapan hanyalah dongeng.

"Yuan, jangan biarkan kebencian ini membutakanmu," suara Yun’er terdengar lembut di belakangnya. Gadis itu mendekat, matanya yang biru jernih menatap tanda hitam yang kini menetap di dahi Xiao Yuan bekas dari Mahkota Tulang Naga.

Xiao Yuan menoleh, matanya yang merah perlahan meredup kembali menjadi warna aslinya, namun tatapannya kini jauh lebih dalam dan dingin. "Mereka menjadikannya tumbal, Yun'er. Ibuku... setelah semua yang dia lakukan untuk melindungiku, mereka ingin membuangnya ke lubang iblis hanya untuk membuka gerbang yang tidak seharusnya ada."

"Kita akan pergi ke sana," ucap Long Chi tegas. Sang Naga Kerangka itu kini memegang tongkat kayu tua yang sebenarnya adalah tulang rusuk naga yang dipadatkan. "Tapi kau harus tahu, Menara Keputusasaan berada di wilayah Tanah Tak Bertuan. Itu adalah zona penyangga antara Alam Atas dan Dunia Antara yang dijaga oleh monster-monster yang bahkan Dewa Langit pun enggan melawannya."

"Aku tidak peduli jika aku harus membantai seluruh isi Tanah Tak Bertuan," Xiao Yuan menyarungkan Glaive Naga Kiamat di punggungnya. "Baraka, apakah kau masih ikut?"

Baraka, pemimpin para buangan itu, tertawa getir sambil menatap sisa-sisa pemukimannya yang hancur. "Aku tidak punya apa-apa lagi untuk ditinggalkan, Tuan Muda. Lagipula, aku ingin melihat wajah para Dewa itu saat mereka menyadari bahwa sampah yang mereka buang telah kembali untuk membakar istana mereka."

Mereka memulai perjalanan meninggalkan Lembah Kesunyian. Medan di depan mereka berubah drastis; tanah abu-abu Dunia Antara berganti dengan hamparan padang pasir berwarna merah darah. Di langit, awan-awan menggantung rendah, berbentuk seperti wajah-wajah manusia yang sedang menjerit kesakitan. Ini adalah pintu masuk menuju Tanah Tak Bertuan.

Sepanjang perjalanan, Xiao Yuan merasa aneh. Melalui ikatan jiwa mereka, ia bisa merasakan setiap kecemasan Yun’er, namun ia juga merasakan sesuatu yang lain sebuah kekuatan es yang mulai tumbuh lebih besar di dalam diri gadis itu.

"Yun'er, apakah kau merasa... berbeda?" tanya Xiao Yuan saat mereka beristirahat di balik reruntuhan patung raksasa yang sudah terkubur setengah badan.

Yun’er menunduk, menatap telapak tangannya. Seketika, kepingan salju biru muncul dan membeku di udara. "Sejak penyatuan jiwa itu, aku merasa seolah-olah aku bisa mendengar suara ibuku, Sang Permaisuri Phoenix Es, lebih jelas. Dia memberitahuku bahwa Menara Keputusasaan adalah kunci. Jika kita bisa menghancurkan menara itu, bukan hanya ibumu yang selamat, tapi seluruh segel yang membelenggu klan Naga dan Phoenix akan retak."

Xiao Yuan terdiam. Tanggung jawab di pundaknya kini terasa ribuan kali lebih berat. Ia bukan lagi sekadar pemuda yang ingin membalas dendam pada tunangan yang mengkhianatinya, ia kini adalah ujung tombak bagi dua ras purba yang tertindas.

Tiba-tiba, tanah di bawah mereka bergetar. Bukan getaran naga, melainkan getaran mekanis.

"Sembunyi!" seru Long Chi.

Dari balik bukit pasir merah, muncul sebuah konstruksi raksasa setinggi tiga puluh meter. Itu tampak seperti laba-laba logam dengan ratusan mata merah menyala Pemeriksa Ruang Langit. Alat ini adalah mesin pembunuh otomatis yang dikirim oleh Aliansi Dewa untuk menyapu bersih sisa-sisa kehidupan di zona penyangga.

"Jangan bergerak," bisik Baraka. "Sensor mereka sangat sensitif terhadap Qi."

Xiao Yuan menatap mesin itu dengan mata menyipit. Tanda hitam di dahinya berdenyut. Ia bisa merasakan energi naga di dalam dirinya meronta, ingin keluar dan menghancurkan benda logam tersebut.

"Mereka mencari kita," bisik Xiao Yuan. "Jika kita membiarkannya lewat, dia akan menemukan jejak kita dalam satu jam."

"Lalu apa rencanamu?" tanya Long Chi.

Xiao Yuan berdiri perlahan. Ia melepaskan jubah hitamnya, memperlihatkan sisik-sisik emas yang kini mulai merayap permanen di lengan bawahnya. "Aku akan menjadi umpan. Kalian berputar ke arah utara menuju kaki menara. Aku akan menghancurkan benda ini dan menyusul kalian."

"Yuan, itu terlalu berbahaya!" Yun’er mencoba menahan tangan Xiao Yuan.

"Percayalah padaku, Yun'er. Aku sekarang memiliki Mahkota Tulang. Benda logam itu tidak akan bisa menyentuhku," Xiao Yuan memberikan senyum tipis senyum yang jarang ia berikan, senyum yang mengandung janji kesetiaan.

Xiao Yuan melompat keluar dari persembunyian. Ia tidak menggunakan tenaga dalamnya, melainkan kekuatan fisik murni naga. Ia berlari di atas pasir merah dengan kecepatan kilat.

Mata-mata merah pada mesin laba-laba itu langsung fokus padanya. ZAP! Sebuah tembakan laser panas menghujam tempat Xiao Yuan berdiri, namun ia sudah melenting ke udara.

Di udara, Xiao Yuan menarik Glaive-nya. "Kau ingin memburuku? Akulah yang memburumu!"

Xiao Yuan menghujamkan senjatanya tepat ke pusat mesin tersebut. DUAR! Ledakan energi hitam terjadi. Namun, mesin itu ternyata jauh lebih tangguh. Salah satu kaki logamnya yang tajam menebas bahu Xiao Yuan, merobek zirah dan kulitnya.

Melalui ikatan jiwa, Yun’er yang berada satu mil jauhnya tersentak dan memegang bahunya sendiri. Rasa sakit yang tajam menembus jiwanya. "Yuan... kau terluka," isaknya pelan.

Xiao Yuan menggeram. Rasa sakit itu justru memicu adrenalinnya. Ia tidak lagi mempedulikan luka itu. Ia mencengkeram kaki logam mesin tersebut dan dengan kekuatan naga yang luar biasa, ia membanting mesin seberat puluhan ton itu hingga terbalik.

"Mati!" Xiao Yuan menebas inti energi mesin tersebut hingga meledak menjadi bola api raksasa.

Di tengah asap ledakan, Xiao Yuan berdiri tegak. Luka di bahunya mulai menutup perlahan berkat energi Phoenix dari Yun’er yang mengalir secara otomatis melalui ikatan mereka. Namun, ia menyadari sesuatu. Di kejauhan, di puncak bukit pasir, berdiri sesosok wanita dengan gaun merah darah yang ia kenal.

Hong Yue.

Ratu Bayangan itu berdiri menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Di tangannya, ia memegang sebuah jantung mekanis yang masih berdetak alat yang sama dengan yang digunakan Ling’er sebelumnya.

"Tuan Muda Xiao, kau sungguh luar biasa," suara Hong Yue terbawa angin pasir. "Tapi kau harus tahu, Menara Keputusasaan bukan hanya penjara bagi ibumu. Itu adalah perangkap bagi jiwamu. Ling’er... dia menunggumu di puncak sana. Dan kali ini, dia tidak sendirian."

Xiao Yuan berjalan mendekati Hong Yue, Glaive-nya masih mengeluarkan uap panas. "Apa yang kau inginkan sekarang, Hong Yue? Apakah kau akan mengkhianatiku juga?"

Hong Yue tertawa kecil, sebuah tawa yang penuh rahasia. "Aku adalah pedagang, Yuan. Aku selalu bertaruh pada pemenang. Dan saat ini, taruhanku masih ada padamu. Ambirlah ini."

Hong Yue melemparkan sebuah botol berisi cairan berwarna ungu gelap. "Itu adalah Darah Iblis Kuno. Jika kau terdesak di dalam menara, minumlah. Itu akan memberikanmu kekuatan dewa selama sepuluh menit, namun setelahnya... kau mungkin tidak akan pernah menjadi manusia lagi."

Hong Yue menghilang dalam kepulan asap merah sebelum Xiao Yuan sempat bertanya lebih lanjut.

Xiao Yuan menatap botol itu, lalu menatap Menara Keputusasaan yang mulai terlihat di cakrawala. Menara itu hitam pekat, menembus awan merah, dan dikelilingi oleh ribuan roh penasaran yang terbang berputar-putar.

Xiao Yuan sampai di depan gerbang menara dan menemukan Long Chi serta Yun’er sudah tertangkap oleh jaring energi transparan. Di depan gerbang, berdiri seorang pria tua dengan jubah putih yang memiliki aura yang jauh lebih kuat dari Xiao Tian dia adalah Pendeta Agung dari Aliansi Dewa. Sang Pendeta memegang sebuah belati perak di leher Yun’er. "Masuklah, Xiao Yuan. Ibumu menunggumu di puncak, dan gadismu menunggumu di sini. Pilihlah, siapa yang akan mati lebih dulu?" Xiao Yuan baru saja menyadari bahwa botol dari Hong Yue tadi mulai bergetar di tangannya, seolah-olah cairan di dalamnya haus akan darah sang Pendeta.

1
Rebeka Saja
keren ka...
christian Defit Karamoy: trimakasih🙏
total 1 replies
Nur Aini
lanjut terus Thor
christian Defit Karamoy: siap kak 🙏
total 1 replies
christian Defit Karamoy
mampir yuk di cerita baru thor
perjuangan suamiku:istriku surgaku😍
christian Defit Karamoy
mantap
christian Defit Karamoy
mampir yuk di cerita baru thor
perjuangan suamiku:istriku Surgaku😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!