Mereka bersama hanya sebentar, namun ingatan tentang sang mantan selalu memenuhi pikirannya, bahkan sosok mantan mampu menembus alam mimpi dengan membawa kenangan-kenangan manis ketika masa-masa sekolah dan saat mereka menjalin kasih.
Pie meneruskan hidupnya dengan teror mimpi dari sang kekasih. Apakah Pie masih mencintai sang mantan? Atau hati Pie memang hanya terpaku pada Kim?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chndrlv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mama, Mataku Sepertinya Bermasalah
"Pie, kau sudah membuat tugas dari Miss Fen?"
Pie mengangguk.
"Sudah."
"Boleh aku melihatnya?"
Pie menggeleng.
"Tidak. Aku mengerjakannya sampai begadang."
"Oh, baiklah." Zar menghampiri teman yang lain untuk meminta contekan.
"Pie, ayo ke kantin."
Caca menghampiri Pie yang masih duduk di mejanya.
"Kau parfum baru?"
Caca terkekeh pelan.
"Apa kau menciumnya? Enak 'kan?"
Pie mengangguk.
Caca tersenyum senang, tak sia-sia ia memilih parfum hampir satu jam sebelum memutuskan membelinya.
"Kau ingin makan apa?"
"Emm.. Seperti biasanya saja. Kau makan apa tidak?"
"Aku masih kenyang. Sepertinya makan camilan saja."
"Okeh, cepatlah. Nanti menunya habis oleh anak kelas satu." Caca memeluk lengan Pie dan sedikit menariknya untuk berjalan lebih cepat. Pie hanya tertawa menanggapi sikap Caca.
Penglihatan Pie semakin buram, ia tak bisa melihat dengan jelas objek yang ada di depannya dalam jarak beberapa meter.
"Sepertinya, aku harus segera periksa." Gumam Pie
"Pie?"
Gadis itu menoleh ke belakang, terlihat Kim yang menghampirinya dengan mengenakan seragam olahraga.
"Kim."
"Sedang apa? Kelasmu tidak belajar?" Kim menatap sekilas kelas 3A lalu kembali menatap Pie.
"Aku baru saja ke toilet."
"Oh, mapel apa?"
"Bahasa Indonesia."
"Ok, Istirahat nanti kau akan ke kantin, 'kan?"
"Ya. Ingin bersama?"
"Tentu."
"Baiklah, aku akan kembali ke kelas. Bye."
"Bye."
Pie berlari kecil menuju kelasnya, sedangkan Kim tak mengalihkan pandangannya dari Pie.
"Kim? Kenapa kau masih di sini?" Prett menghampiri Kim yang juga mengenakan seragam olahraga.
"Ada apa?"
"Guru olahraga sudah menunggu di depan, ayo."
"Ya." Prett lebih dulu pergi, Kim hanya berjalan dengan santai.
"Kim! Tunggu.." Kim menoleh mendapati Ong yang berlari ke arahnya.
"Kupikir kau sudah berkumpul."
"Belum, aku baru selesai menelepon."
Ong dan Kim berjalan bersama menuju area halaman sekolah. Materi hari ini, mereka akan melakukan jalan santai.
"Ma, sepertinya mataku bermasalah."
Mama yang sedang memasak menoleh ke arah Pie.
"Bermasalah bagaimana?" Mama mematikan kompor dan memindahkan masakan yang sudah matang ke dalam wadah saji.
"Penglihatanku buram dari jarak sekian."
"Periksa saja ke dokter. Minta antar ayahmu besok."
"Besok?"
"Kau ada ulangan?"
Pie menggeleng pelan.
"Lalu?"
Pie diam, ia bingung harus bagaimana.
"Pie, segera periksakan ya, agar lekas diobati."
"Baik, Ma."
"Tunggu Ayahmu pulang, biar Mama yang bicara."
"Iya, Mama."
Pukul 07.48 malam, Pie sedang mengulang pelajaran.
Suara tv samar-samar terdengar dari kamarnya.
Sedang fokus membaca, tiba-tiba Pie terbatuk-batuk. Tenggorokannya sangat gatal. Ia memilih keluar untuk mengambil air minum.
"Kau kah yang batuk?"
Pie kembali masuk ke kamar dengan membawa air minum. Ia melihat ponselnya berkedip tanda ada pesan masuk.
Pie mengerutkan kening membaca pesan Fang yang seperti cenayang.
"Ya. Kenapa kau tahu?"
"Terdengar sampai sini. Hehe."
"Memang kau di mana?"
"Di depan rumah Jeff." Jeff adalah tetangga sebelah rumah Pie.
Pie tak membalas lagi pesan Fang, ia kembali melanjutkan kegiatan belajarnya.
"Apa yang kau lakukan?"
"Sudah tidur?"
Pie enggan membalas lagi, dirinya harus fokus belajar untuk menghadapi ujian yang tinggal beberapa bulan lagi.
Beberapa hari berlalu...
Para siswa yang akan berangkat ke Museum sudah berkumpul di depan gerbang sekolah. Ada sekitar tiga puluh orang siswa yang mengikuti kegiatan itu, beberapa dari kelas satu, dua dan tiga. Tetapi jumlah terbanyak dari kelas tiga, termasuk Pie, Kim, dan Caca.
Dengan transportasi menggunakan bus, mereka membelah jalanan yang sedikit ramai pagi itu.
Caca duduk bersama Gem, Pie dengan Kim, Fang dengan Gustav, tentu saja geng Kim juga ikut kegiatan ini. Mereka seakan tak terpisahkan.
"Pie? Kau tidak mabuk naik bus, 'kan?" Kim melihat Pie yang hanya diam sejak duduk di kursi penumpang.
"Ya, aku mengantuk Kim."
Semalam Pie tidur hampir larut malam, dirinya gelisah tak bisa tidur jika akan pergi esok harinya.
"Apa kau semalam bergadang?"
Pie mengangguk.
Mulutnya seperti sudah tak kuasa untuk berucap. Perlahan matanya yang terasa berat tertutup dan menuju alam mimpi.
Kim bosan, ia ingin mengobrol namun di kursi yang berada di sampingnya adalah Caca bukan gengnya. Kim memutuskan untuk mendengarkan musik saja melalui earphone yang ia bawa.