Cinta adalah anugerah ilahi. Saat cinta kepada pasangan halal didasarkan tuntunan Sang Mahacinta, semua menjadi indah.
Cinta sepasang suami istri tidak hanya sampai tua, tetapi hingga kehidupan berikutnya. Di kala senang, suasana indah dinikmati penuh syukur. Di saat susah, dihadapi bersama penuh tawakal.
Itulah yang dilakukan Azka dan Meli. Pasangan muda yang menikah saat mereka belum lama saling mengenal. Cinta tumbuh subur dalam ikatan yang halal.
Di saat cobaan melanda, mereka dengan penuh kesabaran melewatinya. Mereka saling menguatkan untuk kembali menikmati indahnya mentari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Usaha Meli
Azka fokus menatap jalanan. Ia sengaja pulang lebih awal untuk mengantar Meli ke rumah kakaknya. Meski malamnya harus lembur, bagi Azka itu tak menjadi masalah.
Menjelang azan ashar, mereka telah sampai di kediaman Via. Kedatangan mereka disambut sang keponakan yang lucu, Zayn.
“Assalamualaikum, anak sholeh.” Azka menyapa Zayn.
“Ikum calam, Om, Ate,” sahut Zayn dengan lafal yang belum fasih.
“Bunda sudah pulang?” tanya Meli sambil mengulurkan tangan.
Anak kecil itu menggeleng. Tangannya menyambut tangan Meli lalu dicium.
“Ibu biasanya sebentar lagi pulang. Silakan masuk,” kata wanita berusia 40-an tahun. Dia baru bekerja sekitar 2 minggu sebagai baby sitter Zayn.
Baru saja mereka duduk, terdengar azan ashar. Azka berpamitan ke masjid. Meli pun menuju musala keluarga, menunaikan salat berjamaah bersama Bu Inah dan Mbok Marsih.
Ketika ketiganya salat di musala, sang pemilik rumah pulang. Wajah letihnya seketika berubah cerah begitu melihat anak kesayangan berlari memeluknya.
“Ayaikum, Bun,” ucapnya.
“Waalaikumsalam, Sayang. Bunda bau asem nih. Anak sholehnya Bunda juga belum mandi, kan? Sana, mandi dulu sama Bu Marni. Kita main bareng nanti,” ucap Via.
“Om Aka ma Ate Meli ikut,” kata Zayn.
Via menautkan kening. Ia menatap lekat wajah Zayn.
“Kangen sama Om Azka dan Tante Meli?” tanya Via.
“Mbak Meli dan Mas Azka ke sini, Bu. Mereka sedang salat. Mas Azka ke masjid.” Bu Marni menjelaskan.
Via mengangguk sambil tersenyum. Sekilas memang melihat mobil Azka terparkir di halaman. Namun, Via tidak terlalu memperhatikan.
“Ya sudah, anak sholeh sekarang mandi. Bunda juga mau mandi, lalu salat. Oke?”
“Oke, Bun,” jawab batita itu dengan diiringi senyum yang menggemaskan.
Via bergegas ke kamar untuk mandi. Usai mandi, ia menuju musala untuk menunaikan salat ashar bersama Bu Marni. Langkahnya terhenti saat melihat si buah hati sedang bermain mobil-mobilan bersama tantenya.
“Kapan datang, Tante Meli?”
Meli mendongak kala mendengar namanya disebut. Ia berdiri mendekati Via.
“Belum lama, Mbak. Baru pulang, Mbak Via?”
“Iya, nih. Maaf, aku salat dulu, ya. Suamimu belum pulang dari masjid?”
“Belum, Mbak. Silakan kalau Mbak Via mau salat. Bu Marni tadi baru saja ke musala. Zayn biar main sama aku.”
“Oke. Titip Zayn, ya!” Via meninggalkan Zayn bersama Meli.
Tak lama berselang, Azka datang. Ia segera bergabung bersama istri dan keponakan yang tengah asyik bermain.
“Wah, asyik sekali mainnya. Anak sholeh Bunda main apa sama Om dan Tante?” ucap Via yang baru kembali dari musala.
“Bun, Om Aka bikin bulung ni!” Zayn memamerkan burung-burungan yang Azka buat dari kertas.
Via memperhatikan hasil karya Azka sejenak.
“Hem, bagus ya? Suatu saat Zayn tentu bisa buat mainan sendiri,” kata Via dengan senyum tersungging.
“Dek Zayn, main bareng Bu Marni di teras, yuk! Kita main rumah-rumahan, ya,” ajak Bu Marni, “Main sama Om dan Tantenya nanti setelah Om dan Tante minum dan makan pisang goreng. Oke?”
Mata bening Zayn menatap bundanya. Via mengangguk. Batita itu pun mengikuti baby sitternya keluar.
Via mengajak Azka dan Meli ke ruang keluarga. Ia menyilakan adik ipar duduk dan menikmati hidangan.
“Tumben sore begini kalian datang? Dek Azka bolos?” tanya Via.
“Hehe, iya. Nanti dilanjut di rumah. Ada perlu dikit sama Mbk Via dan Ma Farhan.” Azka mengusap tengkuknya.
Via memperhatikan tingkah Azka sambil menahan senyum. Adik iparnya tampak grogi.
“Ada apa? Penting sekali?”
Yah, lumayan. Terutama Meli.”
Dahi Via berkerut. Ia merasa Azka berbelit-belit.
“Coba jelaskan, Mel!” perintah Via.
“Emm, begini. Kampus Meli mau mengadakan bakti sosial. Untuk penggalangan dana, kami mau cari donator dan sponsor. Apa kira-kira Mbak Via bisa bantu?”
Via tersenyum mendengar penuturan Meli. Ia teringat kiprahnya saat SMA dulu.
“Boleh lihat proposal kegiatan?” pinta Via.
“Tentu.”
Meli segera mengambil tasnya. Ia mengeluarkan dokumen yang telah dijilid rapi. Disodorkannya dokumen itu kepada kakak iparnya.
Via membaca sekilas. Pimpinan Wijaya Kusuma itu mencermati jenis kegiatan dan anggaran biaya.
“Besok atau lusa datang ke kantor! Bawa beberapa proposal, jangan cuma satu! Nanti aku sampaikan ke Mas Farhan biar ayahnya Zayn ikut andil. Kamu juga kan, Dek?” Via menoleh ke Azka.
“Tentu saja, Mbak. Tapi kan perusahaanku hanya cabang, tak bisa kasih dana besar. Itu sebabnya aku minta tolong Mbak Via dan Mas Farhan,” sahut Azka.
“Ya, ya. Mas Farhan biar jadi urusanku. Kecuali kalau kalian mau menginap. Sebab, hari ini Mas Farhan pulangnya malam.”
“Ya sudah, Mbak Via saja yang membicarakan dengan Mas Farhan. Meli tahu beres saja,” kata Azla.
Via mencebik. Sementara Meli hanya senyum-senyum. Secercah harapan sudah ia dapatkan.
“O ya, Mel. Coba kamu tanya Ratna stok baju lama di Azrina masih ada atau tidak. Kalau ada, sumbangkan saja untuk dijual di pasar murah.” Via memberi masukan.
Mulut Meli terbuka tanpa disadari. Ia benar-benar tak menduga respon Via seperti itu. Rasanya Meli ingin berteriak meluapkan kegembiraan.
*
Ruang sekretariat cukup ramai. Siang itu Panitia Bakti Sosial mengadakan rapat koordinasi. Masing-masing memberikan laporan tentang tugas yang telah dilakukan.
“Untuk iuran suka rela dari mahasiswa, kami sudah berkoordinasi dengan HMJ. Sampai saat ini terkumpul dana sebesar Rp 3.350.000,00. Dari donatur dana yang berhasil kami himpun sebesar Rp 2.725.000,00.” Fani melaporkan.
“Berarti dari 2 sumber itu ada dana 6 jutaan. Bagaimana dengan sponsor?” Aldo menanggapo laporan Fani.
“Baru melobi, tapi belum dapat jawaban. Aku sudah memasukan proposal tiga hari yang lalu,” jawab Fani.
Sinta membuka catatan. Ia membuat beberapa coretan.
“Masih jauh dari target. Padahal, pelaksanaan kegiatan sudah makin dekat.”
“Apa kembali ke program awal saja? Ini kan usulan Meli jadi dananya membengkak,” kata Fani.
Semua panitia terdiam. Aldo menggaruk kepalanya yang tak gatal.
“Assalamualaokum. Maaf, aku terlambat karena tadi ke tempat pemilik grosir sembako,” ucap Meli yang baru masuk.
“Nggak apa-apa, Mel. Tadi sedang membahas soal anggaran. Dana yang terkumpul masih jauh dari anggaran. Tadi Fani mengusulkan kegiatan kita kembali ke rancangan awal yang tidak membutuhkan dana terlalu besar.” Aldo menjawab dengan nada tak bersemangat.
Meli tersenyum. Ia mengeluarkan map dari totte bag yang ia bawa.
“Maaf, aku tidak bermaksud menyerobot job Fani. Aku hanya berniat untuk membantu agar kegiatan ini jalan. Dan tugasku selaku koordinator humas tetap aku kerjakan.”
“Maksud kamu apa, Mel?” tanya Fani dengan tatapan tak suka.
“Begini. Aku sudah memasukkan proposal ke beberapa perusahaan termasuk grosir sembako yang tadi aku datangi. Alhamdulillah, respon mereka bagus. Ini surat perjanjian dengan mereka.”
Meli menyodorkan map kepada Aldo. Ketua Panitia Bakti Sosial itu terbelalak membaca tulisan di lembaran-lembaran yang ada di dalam map.
“Gila kamu, Mel! Kamu bisa melobi perusahaan besar macam Wijaya Kusuma dan Kencana? Hebat! Teman-teman, Meli berhasil dapat sponsor, nih. Bukan kaleng-kaleng, perusahaan kelas kakap nih! Mereka siap mengucurkan dana yang besar. Kebutuhan kita ter-cover dari sponsor,” seru Aldo.
Semua yang hadir menatap Aldo dan Meli bergantian. Mereka masih belum percaya ucapan Aldo.
“Tunggu! Itu baru tulisan, kan? Kita butuh duit. Jangan percaya kalau belum ada bukti nyata berupa duit,” pekik Fani sengit. Ia memberi tekanan pada kata “duit.”
Seketika ruangan menjadi gaduh. Sebagian percaya kepada Meli, sebagian lagi tidak. Meli segera mengangkat tangan kanannya untuk menenangkan.
“Teman-teman, biar aku jelaskan. Aku memang baru dapat kesepakatan dari 5 perusahaan, satu grosir sembako, dan satu toko pakaian. Lima perusahaan ini siap mengucurkan dana sesuai kesepakatan. Mereka akan mentransfer ke rekening kegiatan besok. Sinta, silakan besok kamu cek rekening! Kemudian, untuk grosir sembako dan toko pakaian tidak akan memberikan dana segar tetapi barang. Mereka akan mengirimkan sehari sebelum pelaksanaan pasar murah.”
Mendengar penjelasan Meli yang panjang lebar, teman-teman Meli mengangguk percaya kecuali
Fani. Ia memberikan tatapan sinisnya ke Meli.
“Kita lihat saja besok. Kita buktikan omong besar pelayan toko ini.”
“Fani! Nggak sepatutnya kamu seperti itu! Hargai usaha Meli, dong! Kamu selaku seksi penggalangan dana tidak berhasil dapat sponsor satu pun. Meli kan membantu tugasmu,” bentak Yoga yang ikut hadir.
Fani terkejut mendengar bentakan Yoga. Wajahnya seketika memucat. Ia tak mengira Yoga yang ia kenal ramah bisa membentaknya seperti itu.
“Ini semua gara-gara kamu\, gadis s***an! Awas saja\, aku akan buat perhitungan denganmu. Akan kubalas perbuatanmu berlipat-lipat.”
***
Fani sudah membunyikan gendering permusuhan. Akankah Meli meladeninya? Ikuti terus cerita recehku! Jangan lupa intip “peperangan” Alenna dan janda centil di IKATAN CINTA ALENNA karya Kak Indri Hapsari.
semoga bs SEGERA UP nya....