NovelToon NovelToon
Pegasus From Diamond Planet

Pegasus From Diamond Planet

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:373
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Saat Planet Diamond runtuh menjadi abu akibat amukan monster legendaris Typhon, sebuah pengorbanan darah terakhir mengirim dua benih harapan ke Planet Bumi. Namun, badai dimensi memisahkan takdir mereka secara kejam.
Alan, bocah Pegasus berusia tujuh tahun yang cerdas, terdampar di danau sebuah kastil kuno. Ia ditemukan oleh Jacob, sang Raja Vampir penguasa malam yang mematikan. Di dunia yang dipenuhi predator berdarah dingin, Alan harus bertahan hidup, menyembunyikan sayapnya, dan tumbuh bersama seorang Pangeran Vampir misterius.
Sementara itu, di belahan kota seberang, seorang bayi perempuan berambut seputih salju terlahir dari kristal pualam ajaib di tengah hutan. Dirawat oleh sepasang petani miskin yang menamainya White Crystal, bayi itu menyembunyikan rahasia besar: setiap kali kulitnya menyentuh air, udara musim panas mendadak membeku menjadi es.
Dua penyintas terakhir. Dua klan bumi yang saling bertolak belakang—Vampir yang dingin dan Petani yang naif.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25. Peringatan Nerissa

"Pantas saja insting Nessie didera kebingungan yang hebat. Aliran darah manusia fana yang mengalir purba di dalam nadimu adalah sejenis darah murni yang memendam memori Bumi, namun di sisi lain, intervensi sihir perubahan dari ayah vampirmu menciptakan sebuah benturan energi dimensi yang teramat masif di dalam sel tubuhmu. Monster air itu sanggup merasakan eksistensi 'sisi kemanusiaan' yang masih tersisa dan berdenyut di dadamu, sesuatu yang teramat sangat jarang bisa dia temui di antara para predator darat berdarah dingin yang biasa dia mangsa." Roland Nixie mengusap dagunya yang kasar berjanggut tipis sembari menatap ke arah jendela luar.

"Di dalam hukum wilayah samudra ini, tingkat keaslian esensi jiwa adalah segalanya. Nessie menyeretmu ke tempat ini bukan karena dia memendam nafsu untuk membunuhmu, melainkan karena alam bawah sadarnya merasakan adanya konflik batin di dalam darahmu. Kau laksana sebuah teka-teki geometri bagi hukum alam, Anak muda."

Moana melangkah menggeser posisinya, mengulurkan tangan kecilnya untuk menyentuh lembut lengan Justin dengan gerakan ragu namun sarat akan dukungan moral yang kuat.

"Berarti... kau masih punya sisi manusia di dalam sana, Justin? Itulah sebabnya kau tidak sekejam atau sedingin para monster vampir daratan lain yang sering diceritakan dalam buku sejarah horor orang-orang desa?"

Helios Marine menghela napas panjang, menepuk bahu Moana dengan pelan sebelum menatap Justin dengan pandangan yang jauh lebih lunak dari sebelumnya. "Sudahlah, Moana. Meskipun dia aneh, dia sudah berhasil lolos dari Nessie. Kakek buyut klan Marine kita selalu bilang, siapa saja yang lolos dari lilitan monster laut tanpa kehilangan nyawa, dia berhak dihormati sebagai pengembara."

Nerissa Marine yang sejak awal mendengarkan seluruh dialog tersebut sembari memegangi kotak ramuannya, akhirnya kembali angkat bicara dengan nada suara keibuan yang menenangkan.

"Ritual perubahan ras yang dipaksakan secara magis biasanya memang akan selalu meninggalkan jejak trauma psikologis dan fisik yang teramat menyakitkan bagi subjeknya. Namun, fakta takdir bahwa kau sanggup selamat hidup-hidup dari cengkeraman rahang mahluk purba lautan sekelas Nessie telah membuktikan satu hal mutlak: hukum laut saat ini telah menerima eksistensimu, atau setidaknya... rahim laut saat ini sedang bersedia memberikanmu sebuah kesempatan hidup yang kedua."

Roland Nixie kemudian bangkit berdiri dari kursi kayunya, melangkah mendekat, lalu menepuk pelan pundak kecil Justin menggunakan telapak tangan pelautnya yang lebar, tegap, dan memendam kekuatan sejati.

"Jika kau kemarin malam hanyalah sebatas anak manusia fana yang biasa tanpa sihir perlindungan, tubuh kecilmu dipastikan sudah hancur lebur menjadi serpihan daging di dasar palung laut. Dan jika kau adalah seorang Vampir murni yang memendam hawa membunuh, kau saat ini sudah sah menjelma menjadi menu santapan malam Nessie."

"Sepertinya aku pernah melihat struktur wajah dan esensi energi tubuhmu di suatu tempat sebelumnya, Anak muda," tambah Roland Nixie, suaranya yang bariton memecah kesunyian ruang tengah.

Pria dewasa berambut hitam ikal lebat itu mencondongkan tubuhnya, memperhatikan setiap detail penampilan fisik Justin dengan ketelitian seorang pelaut ulung, menilai dari ujung kepala hingga ujung kaki. Paras pucat bocah di hadapannya ini terasa sangat tidak asing bagi memori kunonya.

Justin, yang tadinya sedang fokus mengagumi kehalusan kulit betisnya yang baru saja pulih total akibat sihir penyembuhan Nerissa Marine, segera mengalihkan pandangan mata hitamnya. Dia menatap lurus ke arah pria dewasa yang duduk di samping sofa Moana tersebut.

"Apakah Paman secara personal mengenalku? Mungkin saja kita memang pernah berpapasan di suatu forum pertemuan klan, karena Ayah Jacob selalu bersikeras mengajakku setiap kali ada agenda pertemuan politik resmi antara para petinggi ras lintas dimensi," jawab Justin dengan nada suara yang terstruktur rapi.

Pria bernama Roland Nixie itu bersedekap dada kuat-kuat sembari menganggukkan kepalanya secara perlahan. Sebagai Raja tertinggi dari Kerajaan Mermaid Bawah Laut yang agung bernama Abyssal Trench sekaligus ayah kandung dari Moana, dia memang menjadi penguasa samudra yang teramat dihormati.

Meskipun memegang takhta tertinggi di kedalaman laut, Roland Nixie memiliki kebiasaan unik di mana ia sering menghabiskan waktu senggangnya di daratan untuk mengelola toko suvenir dan hidup tenang bersama keluarga kecilnya, sekaligus menjadi diplomat abadi yang menghadiri pertemuan lintas ras supernatural di Bumi.

"Siapa nama fungsional dari ayah yang kau maksud itu, Bocah?" tanya Roland Nixie penuh rasa penasaran yang kian menuntut jawaban.

"Nama agung ayahku adalah Jacob Salvatore," jawab Justin, menatap datar tanpa riak kebohongan.

Mendengar nama legendaris tersebut disebut, sepasang kelopak mata biru safir milik sang penguasa Abyssal Trench mendadak melebar satu inci. "Jadi... kau adalah putra angkat sah dari sang penguasa malam, Raja Jacob Salvatore? Pantas saja sejak menit pertama kau diturunkan di teras ini, seluruh sisa atmosfer instingku langsung mendeteksi adanya aroma zirah pelindung Salvatore yang melekat di tubuh pucatmu."

Justin hanya menganggukkan kepalanya pelan tanpa bersuara, menerima konfirmasi tersebut.

"Jika begitu situasinya, nanti siang setelah matahari tepat berada di atas ubun-ubun, aku sendiri yang akan mengantarmu pulang menuju ke gerbang Kastil Luminara menggunakan mobil jeep milik tokoku," pungkas Roland Nixie sembari bangkit berdiri dari kursi kayunya.

"Untuk detik ini, sebaiknya kau manfaatkan waktu untuk beristirahat total di sini. Jarak geografis dari pesisir Blue Waves menuju ke daratan Luminara teramat sangat jauh, membelah hutan kabut liar dan akan memakan durasi waktu perjalanan darat sekitar lima jam penuh."

Setelah menyelesaikan kalimat keputusannya, penguasa samudra itu melangkah pergi meninggalkan rumah untuk kembali fokus mengelola toko suvenirnya di bagian depan.

Kota Blue Waves memang memiliki titik koordinat geografis yang terisolasi, terletak teramat sangat jauh dari peradaban Kota Luminara. Seandainya di dunia fana ini klan mereka memendam akses teknologi penerbangan seperti bandara udara, mungkin perjalanan lintas kota itu akan terasa teramat singkat.

Sayangnya, tidak ada infrastruktur modern di kota kecil pesisir ini, dan jarak menuju ke kota tetangga pun dikepung oleh batuan karang dan hutan lebat. Satu-satunya metode transportasi fungsional yang tersisa hanyalah menempuh jalur darat yang melelahkan fisik.

Setelah langkah kaki Roland Nixie menghilang di balik pintu konter toko, Nerissa Marine melangkah mendekati sofa ruang tengah. Wanita Mermaid cantik itu melemparkan seulas senyuman hangat ke arah Moana dan Justin, namun tak lama kemudian, intonasi suaranya mendadak berubah menjadi teramat tegas, memancarkan wibawa keibuan yang tak bisa ditawar.

"Moana, ajak sepupumu Helios untuk menemani Justin bermain di sekitar pekarangan rumah ya. Ibu akan segera melangkah ke dapur untuk membuatkan nampan berisi kue mentega dan beberapa camilan manis untuk kalian bertiga," ucap Nerissa Marine.

Dia kemudian memutar tubuhnya, menatap tajam ke sepasang mata Moana, memberikan sebaris kalimat peringatan keras yang tidak bisa dibantah oleh hukum apa pun. "Dan ingat ini baik-baik di dalam kepalamu, Moana! Kau dan Helios sama sekali tidak diberikan izin untuk berenang atau mendekati wilayah tengah laut lepas! Jangan pernah sesekali coba-coba melanggar hukum pembatasan ini, apakah kau mengerti?!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!