Raka harus menikah mendadak dengan Laras setelah calon istrinya, Rara, kabur. Demi menjaga masa depan putrinya, ayah Laras mewajibkan surat perjanjian pranikah yang membuat Raka merasa tertekan dan membenci pernikahan ini. Meski Laras sangat mencintainya dan berharap membina rumah tangga, Raka tetap dingin, kasar, dan tak bisa melupakan Rara. Namun, Laras bertekad meluluhkan hati suaminya dan mengubah pernikahan yang bermula dari keterpaksaan ini menjadi penuh kasih sayang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atik's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14
6
“Kenapa kamu menolakku? Nanti kamu pasti jadi milikku sepenuhnya, tak bisa lari lagi,” ujar Raka sambil menyentuh tubuh Laras tanpa kendali, masih mengira itu Rara di bawah pengaruh alkohol.
“Kak Raka, sadar… ini aku, Laras, bukan Rara! Tolong jangan begini, nanti Kakak pasti menyesal. Lepaskan aku,” mohon Laras sambil menangis, saat Raka merobek pakaiannya dengan kasar.
Bukan karena dia tak mau melayani suami, tapi Laras tidak mau hubungan badan itu terjadi saat Raka belum sadar dan belum benar‑benar menyayanginya. Dia ingin hal itu terjadi nanti saja, kalau hati Raka sudah terbuka untuknya.
Tapi Raka sudah tak bisa dikendalikan. Dia berbuat semauya tanpa peduli. Semua harapan Laras hancur seketika. Apa yang dia jaga baik‑baik, dirampas begitu saja tanpa belas kasihan. Tak ada kelembutan sama sekali, hanya rasa sakit dan diperlakukan seperti benda mati.
Laras terus menangis dan minta berhenti, tapi Raka tak mendengar. Dia terus bergerak lincah sampai merasa puas.
“Sakit… Kak, berhenti…” rintihnya.
“Tidak, aku takkan melepaskanmu,” jawab Raka pendek.
*****
Keesokan paginya, Raka bangun dengan kepala sangat pusing. Dia duduk perlahan dan baru sadar dirinya tak pakai baju.
“Apa yang terjadi semalam? Dimana bajuku?” gumamnya bingung.
Lalu dia melihat baju‑baju berserakan di lantai. Saat menoleh ke samping, dia kaget melihat Laras tidur di sana, hanya tertutup selimut.
“Tidak mungkin… ini mimpi saja kan? Aku jijik menyentuh gadis itu,” pikirnya kesal.
Lalu dia langsung mengguncang dan berteriak supaya Laras bangun.
“Bangun! Cepat bangun sekarang!”
Karena tak kunjung bangun, Raka mencengkeram lengan gadis itu dengan kuat. Akhirnya Laras kaget.
“Apa… kenapa berisik sekali?” tanyanya masih mengantuk dan belum sadar sepenuhnya.
“Hei, sialan! Aku yang harusnya bertanya. Kenapa kamu bisa tidur di kamarku?” tanya Raka dengan nada sangat marah.
Kata‑kata itu langsung membuat Laras teringat semalam. Dia cepat‑cepat melihat ke dalam selimut, lalu menatap suaminya dengan mata berkaca‑kaca.
“Kak… Kakak tidak ingat apa yang sudah Kakak lakukan padaku semalam?” tanyanya pelan.
“Aku lupa semuanya. Terakhir aku ingat cuma ada di tempat hiburan, minum‑minum sama Rizki. Setelah itu gelap total. Apa kamu yang menjebakku? Atau membujuk supaya bisa tidur sama aku? Pasti kamu manfaatkan aku yang mabuk, kan? Dasar wanita murah dan licik!” bentak Raka dengan kasar.
Kata‑kata itu sangat menyakitkan, tapi Laras berusaha tenang sambil menutupi tubuhnya.
“Apa salahnya kalau kita melakukan itu? Bukankah aku ini istri sah Kakak? Bukan wanita murahan seperti yang Kakak tuduhkan itu. Aku sudah minta berhenti semalam, tapi Kakak tidak mau dengar. Apa kakak kira aku senang? Padahal aku hanya mendapatkan rasa sakit. Dan saat itu Kakak mengira aku ini orang lain,” ujar Laras sambil menumpahkan segala rasa sakit hatinya.
Dia langsung turun dari ranjang, memungut pakaiannya, lalu berjalan keluar dengan kaki yang masih terasa sakit. Raka hanya diam dan berusaha mengingat kejadian semalam. Dia mengusap rambut ke belakang, wajahnya penuh penyesalan.
“Aduh… kenapa jadi begini…” gerutunya menyesal. Saat melihat noda di seprai, dia semakin terpukul: “Dia masih gadis… Ya Tuhan, kenapa aku merusaknya?”
Di kamar sebelah, Laras menangis sendirian.
“Jangan menangis, jangan lemah. Kak Raja sudah mengambil hal yang paling berharga dariku. Sekarang aku akan pastikan dia tidak bisa lari dari tanggung jawab ini.”
*****
Pagi harinya, mereka duduk berhadapan di meja makan. Laras tetap melayani seperti biasa tapi kali ini sama sekali tidak berbicara. Raka pun diam karena rasa bersalah yang besar. Keheningan berlangsung lama sampai Raka akhirnya bicara pelan.
“Maaf…”
“Maaf untuk apa?” tanya Laras dingin.
“Maaf karena menyakitimu semalam. Aku tidak sadar karena terlalu banyak minum. Seharusnya hal itu tidak terjadi. Karena kelalaianku, kamu kehilangan hal yang paling berharga, yang seharusnya kamu berikan pada pria yang berharga bagimu.”
“Tak perlu minta maaf. Bukankah itu memang kewajibanku sebagai istri? Untung saja kamu pulang ke rumah, coba kalau tidak begitu, bisa jadi kamu malah tidur dengan wanita lain di luar sana. Belajarlah berpikir lebih dewasa. Minum alkohol bukan jalan keluar. Tidak usah merasa bersalah. Apa yang paling berharga dalam diriku memang diambil oleh orang yang aku cintai semalam. Sayang sekali, orang itu tidak mencintaiku,” ujar Laras tenang namun tegas.
Raka menelan ludah. Kata‑kata itu benar semua dan rasanya seperti ditampar keras.
“Mulai hari ini aku akan pindah ke kamarmu. Tak ada gunanya lagi kita tidur terpisah. Apa yang paling berharga di tubuhku sudah kamu ambil. Aku ingin kamu bertanggung jawab atas apa yang sudah kamu lakukan,” kata Laras lagi.
“Tapi Laras, aku tidak mau…” potong Raka namun belum sempat selesai bicara.
“Aku tidak menerima penolakan. Mau aku sampaikan hal ini kepada kedua orang tuamu?” ancam Laras pelan tapi tegas.
Raka semakin kesal namun tidak punya pilihan lain, akhirnya setuju saja. Setelah sarapan selesai, Raka langsung berangkat ke kantor. Laras membersihkan seluruh ruangan lalu memindahkan barang‑barangnya ke kamar Raka. Kebetulan hari ini tidak ada jadwal kuliah jadi dia punya cukup waktu.