NovelToon NovelToon
Terjebak Cinta Di Antara Dua Kakakku.

Terjebak Cinta Di Antara Dua Kakakku.

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:227
Nilai: 5
Nama Author: Andinirhein

Aku hanya ingin memiliki keluarga. Namun, takdir justru menyeretku ke dalam cinta yang mustahil. Terjebak di antara pria yang kucintai dan kakak angkat yang diam-diam menginginkanku, aku dipaksa menghadapi rahasia kelam yang selama bertahun-tahun disembunyikan. Saat kebenaran terungkap, bukan hanya hatiku yang hancur, tetapi seluruh hidupku ikut berubah. Akankah cinta menjadi penyelamat... atau justru awal dari kehancuranku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andinirhein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Duka Yang Terlambat Di Pahami.

Aku melihat Eun Dam berdiri di ujung lorong ruang perawatan. Bahunya bergetar pelan, sementara isak tangis lirih keluar dari bibirnya.

"E-Eun Dam..." panggilku pelan.

Aku segera menghampirinya dan memeluknya erat.

Begitu tubuh kami bersentuhan, tangisnya pecah. Wajahnya tampak sangat lelah, matanya sembap, dan seluruh tubuhnya seolah kehilangan tenaga untuk tetap berdiri tegak.

Hari itu, untuk pertama kalinya, aku melihat sisi lain dari pria yang kucintai.

Sisi dirinya yang rapuh.

"S-Seolhwa..." suaranya bergetar. "A-Appa meninggal... dan Eomma koma."

Dadaku terasa sesak mendengarnya.

Aku mengeratkan pelukanku, lalu mengusap punggungnya perlahan. Jemariku bergerak lembut menyisir helai demi helai rambut hitamnya yang tampak berantakan.

"Aku tidak akan menyuruhmu bersabar," ucapku hati-hati. "Karena aku tahu ini sangat menyakitkan untukmu."

Aku menarik napas sejenak sebelum melanjutkan.

"Tapi aku hanya bisa mendoakanmu dan mengingatkanmu bahwa kamu adalah pria yang kuat. Mungkin karena itulah Tuhan memberimu ujian sebesar ini."

Air mata kembali mengalir di wajahnya.

"Aku akan selalu ada untukmu," lanjutku. "Kita harus percaya bahwa Eomma akan segera sadar dari komanya. Dan Appa... beliau pasti berada di tempat terbaik di sisi-Nya."

Perlahan, Eun Dam melepaskan pelukannya.

Aku menatap wajahnya lekat-lekat.

Kedua matanya telah memerah karena terlalu banyak menangis.

Dengan kedua tanganku, kupegang pipinya dengan lembut. Aku mengusap air mata yang membasahi wajahnya, seolah berharap bisa mengurangi sedikit saja rasa sakit yang sedang ia rasakan.

"Kamu mau melihat Appa?" tanyanya lirih. "Beliau masih berada di ruang jenazah."

Aku mengangguk pelan.

Tanpa berkata apa-apa lagi, aku mengikuti langkahnya.

Sepanjang perjalanan menuju ruang jenazah, Eun Dam berusaha menahan tangisnya. Ia terus berjalan dengan kepala tertunduk, berusaha tetap kuat meski duka jelas terlihat di setiap langkahnya.

Saat kami tiba, seorang petugas perlahan membuka kain putih yang menutupi tubuh ayahnya.

Entah mengapa, begitu wajah beliau terlihat, dadaku mendadak terasa sesak.

Ada rasa sakit yang sulit dijelaskan, seolah aku ikut merasakan kehilangan yang sedang menghancurkan hati Eun Dam.

Tenggorokanku tercekat.

Tanpa kusadari, air mata mulai menggenang di pelupuk mataku.

Dan beberapa detik kemudian, butiran-butiran bening itu jatuh begitu saja membasahi pipiku.

Pemandangan di hadapanku membuat kenangan lama yang selama ini berusaha kukubur kembali muncul ke permukaan.

Aku teringat saat melihat jenazah Eomma dan Appa untuk terakhir kalinya.

Namun, entah mengapa, rasa sakit yang kurasakan kali ini berbeda. Mungkin karena sekarang aku tidak sedang kehilangan seseorang, melainkan menyaksikan orang yang kucintai berjuang menghadapi kehilangan itu.

Lamunanku buyar ketika kurasakan sentuhan hangat di tanganku.

Eun Dam menggenggam tanganku erat.

"Maafkan aku, Seolhwa..." ucapnya tiba-tiba.

Aku menoleh dan menatapnya bingung.

"Kenapa minta maaf?"

Ia tersenyum tipis, tetapi matanya kembali dipenuhi air mata.

"Karena baru sekarang aku merasakan kehilangan orang yang sangat kucintai." Suaranya terdengar berat. "Beginikah rasanya menjadi dirimu dulu?"

Dadaku terasa sesak mendengar pertanyaannya.

Aku menggeleng pelan.

"Sudah, jangan dibahas lagi, ya."

Aku menggenggam tangannya balik, berusaha memberinya kekuatan meski aku sendiri hampir tak mampu menahan kesedihan.

"Ayo kita keluar."

Eun Dam mengangguk pelan.

Kami pun meninggalkan ruang jenazah.

Baru beberapa langkah berjalan di lorong rumah sakit, ponselku berdering.

Nama Hwi Sol Oppa muncul di layar.

Aku langsung mengangkat panggilannya.

"Seolhwa, kamu sudah sampai rumah?" tanyanya.

Barulah aku teringat bahwa sebelumnya aku berpamitan untuk pergi ke supermarket berbelanja. Hwi Sol Oppa tentu tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Aku pun menceritakan semuanya.

Tentang Appa Eun Dam yang meninggal dunia.

Tentang Eomma-nya yang masih terbaring koma.

Dan tentang kondisi Eun Dam yang nyaris kehilangan kekuatannya untuk tetap berdiri.

Di seberang telepon, Hwi Sol Oppa terdiam cukup lama.

Tak banyak yang ia katakan setelah itu.

Namun, kurang dari satu jam kemudian, ia sudah tiba di rumah sakit.

Aku memandang sosoknya yang berjalan mendekat dengan langkah tenang.

Ya.

Hwi Sol Oppa memang selalu seperti itu.

Dewasa.

Bijaksana.

Dalam situasi seperti ini, ia tidak lagi memikirkan perasaannya sendiri ataupun hubungan rumit yang ada di antara kami. Baginya, duka seseorang jauh lebih penting daripada ego dan kepentingan pribadi.

Setelah tiba di rumah sakit, Hwi Sol Oppa segera membantu mengurus seluruh proses pemakaman Appa Eun Dam.

Mulai dari administrasi rumah sakit, pengurusan dokumen kematian, hingga prosesi pemakaman, semuanya ia bantu tanpa sedikit pun mengeluh.

Selama seharian penuh, ia terus berada di sisi Eun Dam.

Menjadi sosok yang menopang ketika pria itu hampir runtuh.

Matahari mulai tenggelam ketika seluruh prosesi akhirnya selesai.

Eun Dam berdiri dengan wajah pucat dan tubuh yang tampak jauh lebih lelah dibanding pagi tadi.

Ia menatap Hwi Sol Oppa lalu membungkukkan badannya pelan.

"Terima kasih, Hyung. Sudah repot-repot membantuku seharian ini."

Suaranya terdengar serak.

Hwi Sol Oppa menggeleng pelan.

"Tidak masalah."

Ia melangkah mendekat lalu menepuk bahu Eun Dam dengan hangat.

"Kamu kuat, Eun Dam. Aku yakin kamu bisa melewati semua ini."

Untuk beberapa saat, Eun Dam hanya terdiam.

Lalu, untuk pertama kalinya sejak pagi, aku melihat senyum tipis muncul di wajahnya.

Meski penuh kesedihan, setidaknya kini ia tahu bahwa dirinya tidak harus menghadapi semuanya seorang diri.

Eun Dam menatap lekat wajah Hwi Sol Oppa.

Sorot matanya perlahan berubah sendu.

Beberapa detik kemudian, pandangannya bergeser ke arahku yang berdiri tidak jauh dari mereka.

Melihat kedua orang itu berada di hadapannya saat ini, dadanya kembali dipenuhi rasa sesak.

Bukan karena kehilangan.

Melainkan karena rasa bersalah.

Rasa bersalah yang selama ini berusaha ia pendam kini kembali menyeruak, menghantam hatinya tanpa ampun.

Ia mengepalkan tangannya pelan.

Bagaimana mungkin dulu aku tega menghancurkan hidup dua orang berhati tulus seperti Hwi sol hyung dan Seolhwa?

Seseorang yang selalu mencintaiku tanpa syarat.

Dan seseorang yang bahkan masih bersedia membantuku di saat aku berada di titik terendah dalam hidupku.

Kelopak matanya terasa panas.

Untuk sesaat, ia bahkan merasa dirinya tidak pantas menerima kebaikan sebesar itu.

Andai waktu bisa diputar kembali, mungkin ada banyak hal yang ingin ia ubah.

Banyak kesalahan yang ingin ia perbaiki.

Namun kenyataannya, masa lalu tidak pernah memberi kesempatan kedua.

Eun Dam menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Jika aku bisa menukar nyawaku dengan nyawa Appa... atau mengembalikan orang tua mereka yang telah tiada...

Aku pasti akan melakukannya tanpa ragu.

Setidaknya dengan begitu, aku bisa menebus sedikit saja luka yang pernah kuberikan kepada mereka.

Namun ia tahu.

Keajaiban seperti itu tidak akan pernah terjadi.

Yang tersisa sekarang hanyalah penyesalan yang terus menggerogoti hatinya, diam-diam dan tanpa henti.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!