Novel ini adalah sequel dari Novel karya author yang berjudul Perjalanan Istimewa.
Novel ini berkisah tentang Shima Killa Danurdara, Adik bungsu dari Bopo Arjuna dan juga Bahuraska Adiwangsa, putra Arjuna yang merupakan Bopo Muda Desa Banyu Alas.
Tak hanya itu, di Novel ini juga menceritakan mengenai Bima, adik angkat Aka yang menjadi orang paling dekat dengan Aka dan selalu menemani setiap langkah Aka.
Bagaimanakah perjalanan masa kecil mereka?
Ikuti kisah Shima dan Bahuraska (Aka) juga Bimantara di Novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Kumpul Keluarga
"Kok Pak Ama juga bawa mobil?" Tanya Aka saat melihat Arjuna dan Gama sedang menyiapkan mobil mereka masing-masing.
"Kalo cuma satu mobilnya, ya gak cukup to, Nang. Wong yang di jemput banyak." Jawab Arjuna.
"Terus, Romo sendirian?" Tanya Aka.
"Iya." Jawab Arjuna.
"Mamas temenin kalo gitu, Mo." Kata Aka yang tak tega jika Romonya mengemudi sendirian.
"Katanya mau ngecat rumah pohon?" Tanya Arjuna.
"Besok lagi aja, Mo. Kan rame yang bantuin ngecat. Sekarang Mamas temenin Romo aja." Jawab Aka.
"Yasudah, gek siap-siap. Sekalian Dek Bima di tanyain, mau ikut atau enggak." Titah Arjuna yang langsung di turuti oleh Aka.
Setelah bersiap, Aka, Bima, Arjuna dan Gama pun segera menuju ke Stasiun untuk menjemput keluarga Dipta dan keluarga Mifta yang juga sedang dalam perjalanan.
Arjuna dan Bima sepakat berbagi tugas untuk menemani Gama dan Arjuna. Bima bersama Gama, sementara Aka menemani Arjuna.
Berbeda dengan mobil Arjuna dan Aka yang tampak tenang dengan obrolan santai, mobil Gama dan Bima justru penuh berisi gelak tawa Gama. Gama terus tertawa karena kelucuan Bima yang selalu asal berbicara.
"Eh! Mau kemana, Kak?" Tanya Arjuna saat melihat Gama yang langsung berlari ketika sampai di Stasiun.
"Mau ke Toilet!" Jawab Gama.
"Pak Ama kenapa, kok sampe lari-larian gitu, Dek?" Tanya Arjuna.
"Pak Ama kebelet pipis, Mo. Gara-gara ngetawain aku." Jawab Bima dengan santainya.
"Yaudah. Kita tunggu di dalam aja." Ajak Arjuna.
"Pak Ama di tinggal, Mo? Nanti kalau hilang, gimana?" Tanya Aka sambil melihat ke arah Gama berlari.
"Kalo hilang, nanti Bu Aci suruh cari Suami baru." Jawab Arjuna sambil menggandeng tangan Aka dan Bima.
Setelah menunggu sekitar sepuluh menit, kereta yang mengangkut rombongan keluarga Dipta dan Mifta pun sampai. Aka dan Bima tampak antusias mencari keberadaan sepupu-sepupu mereka diantara penumpang kereta yang turun.
"Beneran ini keretanya, Mo?" Tanya Aka.
"Iya, ini keretanya." Jawab Arjuna.
"Tapi kok gak turun-turun?" Tanya Bima.
"Sabar to, Le. Biasanya, Papa sama Pakdemu tuh turun belakangan karena males desak-desakan sama penumpang lain." Jawab Arjuna yang paham dengan kebiasaan Mifta dan Dipta, karena ia pun begitu.
"Nah! Itu mereka." Kata Gama sambil menunjuk keberadaan Dipta dan Mifta yang nampak sibuk membawa koper. Sementara anak-anak mereka di gandeng oleh Nala dan Lia.
"Mas Bagas, Mbak Bibil, Kak io, Mbak Sena!" Seru Bima yang mengabsen satu-persatu sepupunya.
Keenam bocah itu pun tampak sangat girang. Mereka saling berpelukan dengan bahagia saat akhirnya bisa kembali bertemu.
"Mbok ya salim dulu, to." Kata Arjuna sambil melihat ke arah bocah-bocah yang kegirangan.
Mereka pun kemudian menghampiri para orang tua untuk bersalaman setelah Arjuna memperingatkan.
"Ya Allah, anak Mama. Kangen banget Mama sama Dek Bima." Kata Nala sambil memeluk dan mengecupi putranya.
"Mamas Aka, tambah ganteng aja sih." Goda Nala sambil menjawil dagu Aka yang hanya bisa cengar-cengir saat di goda oleh Tantenya.
"Iya ya, Te. Si Mamas tambah ganteng loh. Sekarang tambah putih." Timpal Kamelia.
"Wes... Langsung mekrok-mekrok irunge iki. Lak wulu irunge njoget-njoget kuwi. (Wes... Langsung mekar-mekar hidungnya ini. Pasti bulu hidungnya menari-nari itu.)" Ujar Arjuna yang meledek putranya.
"Apa sih, Romo ini!" Kata Aka.
"Bilang aja kalau Romo iri, karena aku lebih ganteng dari Romo." Imbuh Aka.
"Memang, Mas! Romomu tuh iri sama Anaknya yang lebih ganteng." Kata Dipta yang mengompori.
"Lambene Dipta! Tuman leh 'ndamu-ndamu'. (Mulutnya Dipta! Kebiasaan mengompori.)" Kata Arjuna yang memecah tawa mereka.
Sesampainya di Desa, kedatangan mereka di sambut hangat oleh keluarga yang sudah menunggu. Seperti biasa, mereka semua kini sedang berkumpul di rumah Arsha.
"Maa Syaa Allah, Mbakku udah gadis." Kata Nala sambil memeluk dan menciumi Shima.
"Kayak gak pernah ketemu aja sih, Ma. Padahal belum lama kan Nty Ncim ke Kota sama Kung-Kung dan Uti." Komentar Bima.
"Udah lama ya, udah tiga atau empat bulan yang lalu kok." Jawab Nala.
"Ya Allah, ini cucu-cucu Opa, udah pada besar-besar." Kata Aksa sambil memeluk keempat cucunya.
"Di kasih makan apa lho ini, kok cepet banget besarnya?" Tanya Aksa kemudian.
"Sentrat enam sebelas sama dedak." Sahut Bima.
"Itu lak kamu, Bim. Di wehi onggok mbarang. (dikasih onggok juga)." Sergah Aksa yang langsung memecah tawa mereka.
"Ampun banget sama mulutnya anak satu ini. Makin kesana, kok malah makin kesini. Ada aja jawabannya buat nyahutin orang." Gemas Meshwa sambil mencapit bibir Bima yang memang sedang duduk di depannya.
"Kayak Mas Dipta." Timpal Lia.
"Halah, Mas Mifta sama Mas Juna juga kayak gitu." Imbuh Nala.
"Uwes sak krandah! Sak turun-temurun. Opane, Nty ne yo ngono kuwi mbarang. (Udah se keluarga! Se turun-temurun. Opanya, Nty nya juga kayak gitu.)" Ujar Saira.
"Cuma Aku yang gak kayak gitu." Kata Arsha.
"Halah! Ayah tu sebenernya ya sama aja. Cuma kalo Ayah emang lebih banyak diemnya. Tapi, sekalinya jawab, kalo gak nyelekit, ya bikin Mbeledos." Ujar Sashi.
"Tapi Nty Ncim udah mulai anteng kok. Gak ceriwis kayak dulu lagi." Kata Kamelia.
"Iya. Makin besar, makin kalem ya, Nty." Kekeh Nala.
"Ini kalian mau sampe kapan cuma bertujuh aja? Anak udah tambah besar, Mbok ya nambah anak lagi gitu lho." Ujar Raina.
"Biar Mbak Aci sama Kak Gama duluan aja, Bu. Yang tua duluan." Sahut Arjuna.
"Mbak Aci sama Kak Gama udah usaha kok. Cuma belum di kasih aja." Jawab Sashi.
"Mas Juna tuh, tambah satu lagi. Biar Aka sama Bima punya adek wedok (adek perempuan)" Ujar Saira.
"Yah, kalo dapetnya perempuan, Na. Kalo laki lagi, apa gak tobat!" Jawab Arjuna yang membuat mereka kembali tertawa.
"Ini berdua aja udah bikin Mbunnya naik darah tiap hari. Gak kebayang kalo nambah satu laki lagi." Kata Meshwa.
"Bisa menyala hari-harimu, Mbak." Sahut Dipta.
"Terus ujung-ujungnya tetep aku yang jadi korban. Korban pelampiasan omelan." Timpal Arjuna.
"Semua laki-laki emang gitu kok, Mas. Anak yang salah, kita juga yang kena omel. Dia (istri) salah sendiri, tetep kita juga yang kena omel." Keluh Dipta.
"Betul itu!" Sahut Mifta.
"Kalo gak mau dengerin omelan, ya gak usah punya istri lah. Istri juga sebenernya ya gak mau ngomel. Cuma gimana, ya, laki-lakinya emang bikin emosi tiap hari." Sahut Meshwa.
"Emang iya kok, Mbak. Udah bertahun-tahun aja, masih gak inget dimana naro anduk basah." Kata Kamelia sambil melirik ke arah Dipta.
"Kalo kayak gitu, Nduk. Maunya itu telinga kanan dan kiri di iketin tali jemuran, biar anduknya di jemur di situ." Ujar Saira.
"Bener tuh, Na. Kadang ngelepas celana dalem aja bisa ngeluntung jadi satu kayak kelanting." Timpal Nala.
Ocehan para istri yang meluapkan kekesalan mereka itu pun hanya di jawab cengiran kuda oleh para suami.
"Bau-baunya bakal terjadi peperangan ini. Siap-siap libur seminggu." Kata Gama yang meledek sambil terkekeh.
lhah gimna Romo mu gk tau Mas 🤭🤭🤭 wong Romo juga sakti mandra guna 😀😀😀 tp sok ben luweh sakti Mas Aka ✌️✌️✌️ piihhhh Mas Jun jangan marah 😀😀😀
Alah2 Bima leh so sweetttt 🤭🤭🤭 padine kangen Mas Aka 3 dino ora kepetuk ora ng sg dijarak i 🤣🤣🤣
wong romo-mu bopo istimewa
tapi masih istimewa dirimu kok Ka
apapun itu semoga bermanfaat tnpa ada efek berbahayanya
lah mama's mama's aneh bin ajaib romomu kuwi titisan bopo pertama loh