NovelToon NovelToon
Wajah Kedua Seorang MAFIA

Wajah Kedua Seorang MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Identitas Tersembunyi / Balas Dendam
Popularitas:759
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Aurelia Vanzara, sosok yang dulu ditakuti sebagai Crimson Queen, memilih menghilang dari dunia gelap setelah kehilangan satu-satunya orang yang mampu meluluhkan hatinya.
Kematian orang terkasih itu bukan hanya merenggut kebahagiaannya, tetapi juga menghancurkan alasan Aurelia untuk terus memegang kekuasaan.
Dengan identitas baru sebagai wanita biasa, ia mencoba menjalani hidup sederhana. Bekerja, tersenyum, dan berpura-pura bahwa masa lalunya tak pernah ada.
Namun, dunia tidak pernah benar-benar melepaskan miliknya.
Ketika sebuah keadaan mengancam satu-satunya kehidupan damai yang ia miliki sekarang, Aurelia dipaksa memilih: tetap menjadi wanita lemah yang mencoba melupakan segalanya, atau kembali menjadi ratu kejam yang pernah menguasai dunia bawah tanah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34- Jamuan Malam

Tiga hari berlalu seperti mimpi yang enggan usai. Di dalam kamar Penthouse Suite yang terisolasi dari penatnya dunia luar, Alena dan Bara benar-benar menenggelamkan diri dalam peran baru mereka sebagai suami istri.

Tidak ada dering telepon bisnis, tidak ada urusan mendadak, dan tidak ada bayang-bayang intrik keluarga. Yang ada hanya kecupan di pagi hari, tawa kecil di meja makan, dan kehangatan yang mereka bagi di bawah selimut yang sama.

Namun, dunia nyata tidak membiarkan mereka bersembunyi selamanya.

Pada malam ketiga, ponsel Bara bergetar di atas nakas dan nama "Ayah" berkedip di layar.

Bramantyo menghubungi putra mahkotanya dengan maksud mengundang mereka berdua untuk menghadiri jamuan makan malam resmi di rumah utama keesokan harinya.

Bagaimanapun, sebagai kepala keluarga, Bramantyo ingin segera dikunjungi secara resmi oleh menantu barunya.

Keesokan paginya, Alena dan Bara mulai mengemas barang-barang mereka. Kemeja, gaun pesta, dan barang bawaan lainnya ditata rapi ke dalam koper.

Namun, alih-alih langsung meluncur ke kediaman mewah keluarga Bramantyo, Alena meminta satu permohonan kecil.

"Bara, bisakah kita mampir ke toko dulu? Aku ingin memeriksa keadaan bunga-bunga di sana," pinta Alena saat Bara sedang memasukkan koper ke dalam bagasi mobil.

Bara pun tersenyum, menutup pintu bagasi lalu mengacak rambut istrinya dengan gemas. "Tentu saja, Istriku. Toko bunga itu kan bayimu. Ayo kita periksa."

Siang itu, mereka menghabiskan waktu di Alena’s Floral Boutique. Alena merasa lega melihat asisten sementaranya merawat toko dengan sangat baik selama ia pergi.

Menghirup aroma tanah basah dan kelopak mawar segar seolah memberikan Alena pasokan energi tambahan.

Baru pada sore harinya, saat langit kota mulai meredup dan berganti semburat jingga keunguan, mobil yang dikemudikan Bara membelah jalanan menuju kawasan elit tempat rumah utama berdiri.

Beberapa saat kemudian mobil Bara berhenti tepat di depan teras megah rumah utama yang ditopang pilar-pilar marmer raksasa.

Dua pelayan berseragam rapi langsung bergegas membuka pintu mobil dan menyambut mereka dengan membungkuk hormat.

Bara turun lebih dulu, lalu berjalan memutari mobil untuk membukakan pintu bagi Alena. Ia mengulurkan tangannya yang langsung disambut hangat oleh Alena.

Sore itu, Alena tampil sangat anggun dengan gaun rajut kasual berwarna emerald green yang dipadukan dengan riasan tipis, hingga memancarkan aura wanita berkelas.

Begitu pintu jati besar rumah tersebut terbuka, sosok Bramantyo sudah berdiri di tengah ruang tamu yang luas. Pria paruh baya itu tampak melepaskan wibawa kakunya sejenak. Wajah tegasnya kini dihiasi senyuman lebar yang sangat jarang diperlihatkan kepada semua orang.

"Akhirnya, pengantin baru kita pulang juga!" seru Bramantyo dengan suara baritonnya yang mantap.

Ia melangkah maju dan menepuk bahu tegap Bara dengan bangga, lalu beralih menatap Alena. "Selamat datang di rumahmu yang baru, Alena. Bagaimana hotelnya? Semoga Bara memperlakukanmu dengan baik selama tiga hari ini."

Alena membungkuk sedikit seraya memberikan senyuman paling sopan. "Terima kasih, Ayah. Semuanya sangat luar biasa. Terima kasih atas fasilitas yang Ayah berikan untuk kami."

Mendengar kata "Ayah" meluncur dari bibir Alena, Bramantyo pun tampak sangat puas. "Bagus, bagus. Ayo langsung ke ruang makan, hidangan sudah siap."

Namun, kehangatan yang diciptakan oleh Bramantyo tidak menjalar ke seluruh penjuru ruangan.

Di dekat tangga besar menuju lantai dua, Sofia dan Mico tengah berdiri disana. Ibu dan anak itu mengenakan pakaian formal yang mewah, seolah tidak mau kalah pamor dari sang pengantin baru.

Begitu Alena dan Bara melangkah melewati mereka menuju ruang makan, Sofia memasang senyum ramah yang sangat kentara kepalsuannya.

"Selamat datang, Alena. Selamat atas pernikahannya, ya," ucap Sofia dengan nada suara yang sengaja dibuat manis di depan suaminya, namun sepasang matanya menatap Alena dari atas ke bawah dengan tatapan merendahkan, menilai gaun kasual Alena yang dianggapnya terlalu sederhana untuk standar rumah ini.

"Terima kasih, Tante Sofia," balas Alena. Ia menatap Sofia dengan tatapan tenang hingga wanita paruh baya itu sedikit membuang muka.

Sementara itu, Mico berdiri di samping ibunya sambil memegang segelas air. Ia ikut memasang senyum formal, namun fokusnya sama sekali tidak beralih dari sosok Alena.

Sorot mata Mico dipenuhi dengan rasa penasaran dan obsesi terlarang yang sempat tertanam sejak malam resepsi.

Ia memperhatikan bagaimana pinggang Alena yang kini didekap oleh lengan Bara saat berjalan. Ada rasa panas yang menjalar di dada Mico saat melihat kemesraan kakak tirinya itu.

"Mico, sapa kakak iparmu," tegur Bramantyo yang menyadari putranya hanya diam saja.

Mico tersentak sejenak, namun dengan cepat ia menguasai diri, kemudian mengangkat gelasnya sedikit ke arah Alena dengan senyum miring yang terkesan nakal. "Selamat datang di keluarga kami, Kakak Ipar. Semoga betah tinggal di sini," ucap Mico, sengaja memberi penekanan pada kata 'Kakak Ipar'.

Bara yang menangkap gelagat aneh dan tatapan lancang dari adik tirinya itu langsung mempererat dekapannya pada pinggang Alena, sambil menatap Mico dengan pandangan dingin yang memperingatkan.

Alena yang merasakan ketegangan suaminya hanya mengusap pelan punggung tangan Bara yang melingkar di pinggangnya.

Ia lalu melirik Mico sekilas dengan tatapan yang sedikit meremehkan, seolah menganggap keberadaan pria muda itu tidak lebih dari sekadar kerikil di jalanan.

"Berani sekali dia menatapku seperti itu." batin Mico.

Bersambung...

1
𝐀⃝🥀Weny
keren kau Max👍🏻
𝐀⃝🥀Weny
akhirnya dapat restu juga dari camer🤭 hati² kamu Sofia jangan sampai kamu membangunkan singa yang sedang tidur😁
𝐀⃝🥀Weny
dobel up thor
Aurora: siap... di usahakan ya.../Ok/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!