NovelToon NovelToon
Satu Bulan Menunda Cerai

Satu Bulan Menunda Cerai

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Transmigrasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ririne Rose

Gisella terbangun dalam tubuh seorang wanita figuran dengan nama yang sama di dalam sebuah novel roman. Sialnya, momen transmigrasinya terjadi tepat saat sang suami, Adrian Arthur—seorang profesor riset jenius berusia 27 tahun yang dingin dan kaku—menyodorkan surat cerai di atas meja.

Mampukah Gisella mengubah takdir kematian tragisnya dan bertahan di samping sang profesor jenius, ataukah waktu satu bulan itu akan tetap menjadi akhir dari kisah mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririne Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 5: Menu Sarapan yang Berubah

Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah-celah tirai kamar Gisella, membentuk garis-garis emas di atas lantai marmer.

Gisella mengerjap, perlahan menyesuaikan penglihatannya dengan kecerahan kamar barunya.

Kesadarannya langsung pulih 100 persen begitu ingatan tentang insiden memalukan semalam melintas di benaknya.

"Salah masuk kamar. Mengunci pintu dari dalam. Ditangkap basah oleh Adrian."

Gisella menarik selimut untuk menutupi wajahnya yang mendadak terasa panas bahkan hanya karena mengingatnya.

"Bodoh, bodoh, bodoh!"

 pada diri sendiri dalam gulungan selimut.

Jika dia ingin bertahan hidup dengan tenang selama tiga puluh hari ke depan, dia harus menghapus citra sebagai wanita mencurigakan di mata Adrian.

Dan cara terbaik untuk memulainya adalah hari ini.

Gisella melompat dari ranjang.

Dia melirik jam dinding—pukul enam pagi.

Di dunia aslinya, jam segini adalah waktu baginya untuk bersiap-siap menghadapi kemacetan ibu kota demi pergi ke kantor.

Di dunia novel ini, jam enam pagi adalah waktu yang sangat tepat untuk menguasai dapur sebelum seluruh kediaman Arthur terbangun.

Setelah mencuci muka dan mengikat rambut cokelat bergelombangnya menjadi cepol kasual yang rapi, Gisella melangkah turun ke lantai satu.

Suasana rumah masih sepi, hanya terdengar suara sapu lidi dari halaman luar—para pelayan sedang membersihkan taman bawah.

Ketika Gisella menginjakkan kaki di dapur, seorang pelayan paruh baya bernama Bibi Martha sedang mengeluarkan beberapa stoples selai dan roti tawar putih dari lemari gantung.

Bibi Martha tersentak kaget hingga hampir menjatuhkan stoples selai stroberi di tangannya saat melihat Gisella.

"N-Nona Muda Gisella?"

Bibi Martha menatapnya dengan mata terbelalak dan tubuh sedikit bergetar.

Dalam ingatan tubuh ini, Gisella asli sering memaki para pelayan di pagi hari jika suasana hatinya buruk.

 Wajar jika Bibi Martha tampak ketakutan melihat sang nyonya muda sudah berada di dapur sepagi ini dengan rambut dicepol dan lengan baju yang disingsingkan.

Gisella segera memamerkan senyuman paling ramah dan hangat yang dia miliki.

"Selamat pagi, Bibi Martha. Maaf membuatmu kaget."

Bibi Martha mengerjap beberapa kali, tampak tidak percaya dengan kelembutan suara yang baru saja didengarnya.

"Ah, selamat pagi, Nona Muda. Apakah... apakah ada yang salah? Saya baru saja bersiap menyajikan sarapan seperti biasa untuk Anda dan Tuan Muda Adrian."

Gisella mendekati konter dapur, melirik ke arah roti tawar putih dan deretan selai industri yang dipenuhi pemanis buatan.

Di sudut lain, ada beberapa potong bacon berlemak yang siap digoreng. Ini adalah menu sarapan standar yang biasa disiapkan untuk Adrian—menu tinggi karbohidrat sederhana, lemak jenuh, dan gula, yang jika dikombinasikan dengan tingkat stres riset Adrian, akan menjadi bom waktu bagi kesehatannya.

"Bibi Martha, mulai hari ini, biar aku yang menyiapkan sarapan untuk Adrian... maksudku, untuk kami berdua,"

ujar Gisella lembut namun tegas.

"Tapi, Nona Muda..."

Bibi Martha tampak ragu sekaligus panik.

"Tuan Muda Adrian sangat ketat dengan jadwalnya. Beliau biasanya hanya makan roti bakar dengan selai manis dan kopi hitam sebelum pergi ke laboratorium universitas."

"Aku tahu. Dan menu itulah yang harus diubah,"

kata Gisella sambil membuka lemari pendingin besar.

"Percayalah padaku, Bibi. Aku tidak akan membuat kekacauan. Tolong bantu aku menyiapkan beberapa bahan saja, ya?"

Melihat binar mata Gisella yang begitu jernih dan penuh tekad—jauh dari ekspresi kosong atau kemarahan histeris yang biasanya mendominasi wajah wanita itu—Bibi Martha perlahan melunakkan sikapnya.

"Baik, Nona Muda. Apa yang perlu saya siapkan?"

Gisella mulai menyusun menu sarapan baru yang seimbang. Dia memilih untuk membuat Frittata—telur dadar panggang gaya Italia yang kaya akan protein dan serat—menggunakan putih telur yang dicampur dengan telur utuh, potongan dada ayam rebus yang disuir, jamur kancing, bayam segar, dan sedikit keju rendah lemak.

Sebagai pendamping karbohidratnya, dia menolak roti tawar putih dan beralih menggunakan roti gandum utuh yang dipanggang kering tanpa mentega, disajikan dengan alpukat tumbuk yang diberi sedikit perasan lemon dan sejumput lada hitam.

Gisella bekerja dengan cekatan.

Gerakannya yang luwes dalam memotong sayuran dan mengocok telur membuat Bibi Martha yang memperhatikan dari sudut dapur tertegun kagum.

Ini bukan gerakan seseorang yang baru pertama kali menyentuh dapur; ini adalah gerakan seorang ahli.

Pukul tujuh kurang lima belas menit, aroma harum dari telur panggang berbumbu lada hitam dan bawang putih, serta aroma roti gandum yang hangat, mulai memenuhi ruang makan.

Tepat pada saat itu, langkah kaki yang teratur terdengar dari arah tangga.

Adrian Arthur turun dengan pakaian formalnya—celana kain abu-abu gelap, kemeja putih bersih yang pas di tubuh, dan jas diletakkan di lengan kirinya.

 Kacamata berbingkai perak tipisnya bertengger sempurna di atas hidung mancungnya.

Dia tampak segar, namun guratan tipis kelelahan di dahinya menunjukkan bahwa dia kembali terjaga hingga larut malam setelah insiden salah kamar semalam.

Adrian menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu ruang makan.

Hidungnya mengendus aroma asing yang menggugah selera.

Matanya langsung tertuju pada meja makan.

Di atas meja, tidak ada lagi piring berisi roti putih berlumur selai stroberi merah pekat atau bacon berminyak.

Sebagai gantinya, sebuah piring keramik cantik menyajikan sepotong besar frittata kuning keemasan yang tebal dan mengepulkan uap hangat, bersanding dengan roti gandum panggang yang dilapisi warna hijau segar dari alpukat.

Di samping piring tersebut, segelas air lemon hangat dan secangkir teh hijau menggantikan kopi hitam pekatnya yang biasa.

Dan di seberang meja, Gisella sedang duduk manis sambil memegang segelas air putih, menatapnya dengan senyuman cerah tanpa dosa—seolah-olah insiden memalukan di mana dia menyusup ke ranjang Adrian semalam tidak pernah terjadi.

"Selamat pagi, Profesor Adrian," sapa Gisella riang.

"Silakan duduk. Sarapanmu sudah siap."

Adrian tidak langsung duduk. Dia menatap hidangan itu, lalu menatap Gisella dengan mata menyipit.

"Apa ini?"

"Ini sarapan barumu," jawab Gisella santai.

"Protein tinggi dari telur dan ayam, lemak sehat dari alpukat, serat dari bayam dan jamur, serta karbohidrat kompleks dari roti gandum. Ini akan memberimu energi konstan selama mengajar atau melakukan riset di lab tanpa membuatmu mengalami *sugar crash* di siang hari."

Adrian melangkah mendekat, menarik kursi kayu mahoni di hadapan Gisella, lalu duduk.

Dia meletakkan jasnya di sandaran kursi.

Pandangannya beralih ke cangkir yang biasanya berisi kopi hitam pekat sehitam arang.

"Di mana kopiku?"

tanya Adrian, nadanya terdengar menuntut. Bagi seorang peneliti, kopi adalah bahan bakar utama di pagi hari.

"Kopi hitammu dikurangi mulai hari ini," jawab Gisella dengan berani, memajukan tubuhnya sedikit ke arah meja.

"Kau meminum kopi pekat tadi malam, dan jika kau meminumnya lagi pagi ini dalam keadaan perut kosong, asam lambungmu akan naik. Ditambah lagi, kafein berlebih digabung dengan stres akan meningkatkan hormon kortisol yang memperburuk sensitivitas insulin mu. Singkatnya, teh hijau dan air lemon hangat ini jauh lebih baik untuk membersihkan sistem tubuhmu pagi ini."

Adrian bersandar pada kursi, menyilangkan tangannya di depan dada.

Dia menatap Gisella lurus-lurus di balik lensa kacamatanya.

"Gisella, apakah kemarin kepalamu benar-benar hanya terbentur jendela, atau ada bagian dari otakmu yang tertukar?"

Gisella tertawa kecil, suara tawa yang renyah dan terdengar sangat natural, membuat Adrian terpaku sesaat.

Gisella yang asli memiliki suara tawa yang melengking manja atau sinis, bukan tawa yang menenangkan seperti ini.

"Sudah kubilang, benturan kemarin mengaktifkan sel otakku yang tertidur,"

kilah Gisella dengan kedipan mata jenaka.

"Cobalah makan. Bibi Martha saksinya, aku memasak ini dengan higienis dan tanpa racun. Aku tidak berniat menjandakan diriku sendiri sebelum akta cerai resmi keluar satu bulan lagi."

Mendengar kata 'satu bulan lagi', Adrian teringat pada kesepakatan mereka.

Pria itu mengembuskan napas pendek.

Akhirnya, dia mengambil garpu dan pisau, lalu memotong sepotong kecil frittata panggang tersebut dan memasukkannya ke dalam mulut.

Teksturnya lembut namun padat.

Rasa gurih dari telur dan ayam berpadu sempurna dengan kesegaran bayam dan keju yang tidak berlebihan.

 Roti gandum dengan alpukat tumbuk di sampingnya memberikan rasa gurih dan renyah yang unik di lidah.

Ini adalah rasa yang sama sekali baru bagi Adrian, yang selama ini menganggap sarapan hanyalah formalitas pengisi perut yang harus diselesaikan secepat mungkin dengan rasa manis.

Adrian makan dalam keheningan yang teratur. Sendok demi sendok berpindah dengan ritme yang stabil.

Dia bahkan meminum teh hijau hangat itu hingga tersisa setengah tanpa komplain.

Gisella yang mengawasinya tersenyum puas dalam hati.

"Satu poin lagi untuk memperpanjang hidup."

Menjaga kesehatan Adrian adalah investasi terbaiknya saat ini. Jika Adrian sehat dan suasana hatinya baik, posisi Gisella di rumah ini akan aman selama tiga puluh hari ke depan.

"Bagaimana?"

tanya Gisella setelah Adrian meletakkan garpunya tanda selesai.

"Rasanya... bisa diterima,"

 jawab Adrian dengan nada datar khasnya, menolak memberikan pujian terbuka meskipun piringnya bersih tanpa sisa. Dia menyeka bibirnya dengan serbet.

"Tapi jangan mengira dengan mengubah menu sarapanku, kau bisa menghapus kelakuan ceroboh mu semalam, Gisella."

Pipi Gisella refleks merona merah mendengar sindiran tentang insiden salah kamar tersebut.

Dia berdeham, mencoba mengalihkan pembicaraan.

"Itu... itu murni kesalahan teknis karena pencahayaan yang buruk! Lagipula, hari ini aku berencana untuk pergi keluar. Aku butuh izinmu."

Adrian yang sedang memakai jasnya kembali menghentikan gerakannya.

Matanya menatap Gisella dengan tajam.

"Pergi keluar? Menemui Julian?"

Suasana di ruang makan mendadak mendingin.

Aura posesif dan kecurigaan Adrian kembali mencuat.

Di dalam plot novel, setiap kali Gisella asli meminta izin keluar rumah, itu selalu untuk menemui Julian dan memberikan uang atau barang mewah milik keluarga Arthur kepada pria parasit itu.

"Bukan!"

bantah Gisella cepat dengan nada ketat. Dia menatap Adrian dengan pandangan jernih tanpa rasa bersalah.

"Aku pergi untuk urusan pribadiku sendiri. Aku perlu mencari beberapa buku referensi di perpustakaan kota dan... mengurus beberapa hal untuk persiapan kemandirian aku setelah keluar dari rumah ini."

Adrian memperhatikan ekspresi wajah Gisella selama beberapa detik.

Tidak ada kepanikan, tidak ada binar kebohongan yang biasa dia lihat jika wanita itu mencoba menyembunyikan hubungannya dengan Julian.

"Kau bisa pergi,"

ucap Adrian akhirnya sambil merapikan kerah jasnya.

"Tapi ingat peringatanku semalam. Jika aku mendengarmu berhubungan dengan pria itu atau pergi ke tempat yang mencurigakan, supir rumah ini akan langsung melaporkannya kepadaku, dan waktu satu bulan mu akan hangus detik itu juga."

"Aku mengerti, Profesor. Aku memegang kata-kataku,"

jawab Gisella tegas, memberikan gestur hormat yang sedikit jenaka.

Adrian menatapnya sekilas, seolah ingin mengatakan sesuatu, namun dia mengurungkannya.

Dia berbalik dan melangkah keluar dari ruang makan menuju mobil jemputannya yang sudah menunggu di depan rumah.

Begitu siluet Adrian menghilang di balik pintu utama, Gisella menyandarkan punggungnya ke kursi dengan senyuman puas.

"Menu sarapan yang berubah, langkah awal yang sukses,"

bisik Gisella pada diri sendiri. Dia melirik sisa teh hijau di cangkir Adrian.

"Sekarang, mari kita pergi ke perpustakaan kota dan mulai mencari cara untuk menghasilkan uang. Takdir tragis itu tidak akan pernah menyentuhku."

1
Mar lina
lanjut Thor ceritanya
ditunggu updatenya
pengen tau pasti tentang cinta Mereka...
Mar lina
Aku mampir, Thor.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!