NovelToon NovelToon
Sembilan Tahun Pelarian

Sembilan Tahun Pelarian

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Penyesalan Suami / Lari Saat Hamil
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

Demi menyelamatkan diri dan bayinya, Arin memilih pergi dari suaminya dan mengubur rapat masa lalu kelam mereka. Ia mengungsi ke sebuah kampung terpencil dan menyambung hidup sebagai tukang cuci keliling demi membesarkan putra semata wayangnya.

Tapi, Takdir membawa Arin berhadapan kembali dengan laki-laki dari masa lalu yang paling ia benci dan tak ingin ia temui lagi seumur hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18

Keesokan paginya, untuk pertama kalinya setelah beberapa hari menghilang tanpa kabar dari kantor, Regan akhirnya kembali menginjakkan kaki di perusahaan.

Gedung pencakar langit milik Malik Group tampak sibuk seperti biasa. Para karyawan yang berpapasan dengannya di lobi utama langsung menundukkan kepala dan menyapa nya.

"Selamat pagi, Pak Regan."

"Pagi," balas Regan singkat tanpa menoleh, terus melangkah lebar menuju lift khusus jajaran direksi.

Sementara itu di lantai paling atas, suasana di dalam ruang kerja CEO justru terasa sedikit tegang. Gani, yang sampai saat ini masih menjabat aktif sebagai CEO Malik Group, sedang memeriksa tumpukan laporan tahunan didampingi oleh Maya, sekretaris senior sekaligus asisten pribadinya.

Gani menutup map tebal yang baru saja dibacanya dengan ketukan pelan di meja.

"Regan sudah masuk hari ini?"

Maya segera memeriksa jadwal dan presensi pada tablet di tangannya. "Sudah, Pak. Baru saja tiba sekitar lima menit yang lalu."

Gani menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, raut wajahnya menyiratkan kejengkelan yang tertahan.

"Anak itu... baru juga pulang dari luar negeri, kerjanya malah sering bolos. Kalau kelakuannya begini terus, siapa yang mau urus kelanjutan proyek besar kita?"

Maya tersenyum kecil, berusaha bersikap netral. "Belakangan ini Pak Regan memang terlihat sering keluar kantor untuk urusan personal, Pak. Beberapa agenda rapat internal juga sempat diwakilkan kepada manajer divisi."

Gani mengembuskan napas panjang, memijat pangkal hidungnya yang terasa pening. "Tolong panggil dia ke ruangan saya sekarang juga."

"Baik, Pak. Permisi." Maya segera membalikkan badan dan keluar dari ruangan CEO.

Beberapa menit kemudian, Maya sudah tiba di depan pintu ruang kerja sang Direktur.

Tok... Tok... Tok...

"Masuk," sahut suara berat dari dalam.

Maya membuka pintu dengan sopan. "Selamat pagi, Pak Regan."

"Pagi, Maya. Ada apa?" tanya Regan tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop.

"Pak Gani meminta Bapak untuk segera datang ke ruangan beliau sekarang juga," penyampaian Maya sukses membuat gerakan jemari Regan di atas keyboard terhenti seketika.

Regan langsung mengangkat wajahnya, menatap Maya lurus.

"Papa manggil aku?"

"Iya, Pak. Ditunggu sekarang."

"Oke, baik." Regan menutup laptop dan beberapa map di hadapannya, lalu bangkit berdiri dari kursi kebesarannya.

Tak butuh waktu lama bagi Regan untuk melangkah menuju ruang kerja sang ayah yang berada di ujung koridor lantai teratas. Setelah mengetuk sekali, terdengar sahutan singkat dari dalam.

"Masuk."

Regan membuka pintu kaca tebal itu dan melangkah masuk dengan tenang. "Papa nyari aku?"

Gani tidak langsung menjawab. Ia hanya melirik putranya sekilas, lalu menunjuk kursi kosong di hadapan meja kerjanya dengan gerakan dagu.

"Duduk kamu."

Regan menurut. Ia menarik kursi kulit mewah tersebut lalu duduk dengan posisi yang sengaja dibuat sesantai mungkin untuk menutupi kegugupannya.

"Ada apa, Pa? Serius banget mukanya."

Gani menatap tajam manik mata putranya selama beberapa saat sebelum akhirnya membuka suara dengan nada mengintimidasi. "Kamu... masih ingat apa jabatan kamu di perusahaan ini?"

"Masih lah, Pa," sahut Regan tenang. "Direktur Utama Operasional."

Gani mengangguk tipis, sarat akan sindiran. "Syukurlah kalau otak kamu masih ingat. Soalnya, kalau melihat absensi kamu belakangan ini, kamu itu lebih cocok disebut turis daripada Direktur. Lebih sering menghilang daripada mendekam di meja kerja."

Regan hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, merasa sedikit tersudut. "Maaf, Pa. Aku lagi ada sedikit urusan."

"Sedikit kamu bilang?" Gani menaikkan sebelah alisnya, menatap sang anak dengan pandangan tidak habis pikir. "Rapat penting kemarin kamu tinggal begitu saja. Beberapa dokumen persetujuan vendor tertunda berhari-hari. Telepon dari sekretaris kamu pun sengaja gak kamu angkat. Kalau semua direktur di Malik Group modelannya lepas tanggung jawab kayak kamu, perusahaan ini bisa gulung tikar dalam sebulan."

Regan terkekeh kecil, mencoba mencairkan suasana yang kaku. "Ya gak bakal separah itu juga kali, Pa. Sistem perusahaan kan udah jalan."

"Kamu ini, malah sempat-sempatnya bercanda," tegur Gani, meski garis wajahnya sedikit melunak. Ia menggelengkan kepala melihat tingkah anak laki-lakinya itu.

"Mulai hari ini, Papa minta kamu fokus lagi sama pekerjaan kamu. Ingat, cepat atau lambat posisi CEO ini bakal Papa serahkan ke kamu. Jangan sampai orang-orang di luar sana menilai kamu cuma modal numpang nama besar keluarga Malik tanpa punya kapabilitas."

Regan mengangguk pelan. "Iya, Pa. Aku paham. Mulai hari ini aku bakal handle semuanya sendiri."

Meski mulutnya menjawab demikian dengan patuh, namun fokus pikiran Regan sebenarnya sama sekali tidak berada di ruangan itu. Pikirannya melayang jauh kembali pada sosok Arin dan Zayyan. Ingatan tentang sorot mata ketakutan sang anak di sekolah, gurat kelelahan di wajah matang Arin, hingga kalimat pengusiran yang diucapkan wanita itu tadi malam terus berputar acak di kepalanya bak kaset rusak.

Gani, yang sudah membesarkan dan mengenal tabiat putranya sejak kecil, tentu saja langsung menangkap perubahan drastis pada raut wajah dan tatapan kosong Regan.

Pria paruh baya itu menyandarkan punggungnya ke kursi, melipat tangan di dada. "Kamu... lagi ada masalah, Reg?"

Regan tersentak dari lamunannya, lalu buru-buru memaksakan sebuah senyuman tipis di bibirnya. "Ah... iya, Pa. Ada sedikit masalah yang lagi coba aku selesaikan."

Melihat gurat keputusasaan yang samar di mata putranya, Gani memilih untuk tidak memaksa bertanya lebih jauh. Ia tahu betul, jika Regan sudah siap bercerita, anak itu pasti akan datang sendiri kepadanya.

Malam harinya, Regan kembali mengarahkan mobilnya ke area belakang restoran, tepat di sudut terpencil dekat pekarangan mes karyawan tempat Arin dan Zayyan tinggal.

Entah sejak kapan, kebiasaan mengendap-endap ini berubah menjadi rutinitas barunya setiap pulang kantor. Kali ini ia benar-benar tidak berniat untuk turun atau mengganggu ketenangan mereka lagi. Regan hanya ingin diam dari jauh, memastikan kalau Arin dan Zayyan dalam keadaan aman dan baik-baik saja.

Mobil hitamnya perlahan berhenti di bawah bayangan pohon yang sama seperti malam-malam sebelumnya. Namun, baru saja jemarinya hendak memutar kunci untuk mematikan mesin, sepasang manik matanya mendadak menangkap sosok yang sangat ia kenali keluar dari gerbang mes.

Arin.

Wanita itu melangkah pelan sembari menggenggam erat tangan mungil Zayyan. Tapi malam ini, mereka tidak sedang berjalan berdua.

Di samping Arin, berjalan seorang pria berpostur tegap yang usianya tampak sebaya dengan Regan. Pria itu mengenakan pakaian kasual santai, sesekali mencondongkan tubuhnya untuk mengobrol dengan Arin sambil melempar senyum hangat. Yang membuat dada Regan mencelos, Zayyan bahkan tampak ikut tertawa lepas menanggapi candaan dari pria asing tersebut.

Kening Regan seketika berkerut dalam. Tatapannya menajam, mengunci pergerakan ketiga orang itu tanpa berkedip sedikit pun.

"Siapa lagi itu cowok?" gumam Regan rendah, suaranya sarat akan nada tidak suka.

Ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana pria itu dengan sopan membukakan pagar kecil mes untuk jalan Arin. Arin menyambut perlakuan itu dengan sebuah anggukan kecil dan gurat senyum yang sudah lama tidak Regan lihat dari wajahnya. Tak lama kemudian, pria itu mengulurkan tangan, mengusap pelan puncak kepala Zayyan.

Anehnya, Zayyan yang biasanya waspada pada orang asing, sama sekali tidak menolak perlakuan itu.

Kedua rahang Regan langsung mengeras seketika, cengkeramannya pada setir mobil mengerat.

"Bisa-bisanya..." desisnya tak habis pikir.

"Sama aku aja judesnya setengah mati sampai pasang muka ngajak ribut, tapi sama cowok itu malah ketawa-tawa lepas begitu."

Regan menyandarkan punggungnya dengan kasar ke jok mobil, namun pandangannya tetap tertuju lurus ke arah mereka yang mulai berjalan menyusuri trotoar. Semakin lama ia memperhatikan interaksi manis di depan sana, entah mengapa hawa di dalam mobilnya mendadak terasa semakin panas dan menyesakkan.

"Jangan bilang..." Kalimat Regan menggantung di udara. Ia langsung menggelengkan kepalanya kuat-kuat, mengusir pikiran buruk yang melintas.

"Gak, gak mungkin. Gak mungkin Arin secepat itu."

Regan mendengus pelan, emosinya mulai tersulut tak beraturan.

"Tapi... kok bisa seakrab itu? Zayyan juga kayaknya nempel banget."

Tanpa sadar, jemari Regan mulai mengetuk-ngetuk setir mobil dengan ritme cepat dan gelisah. Rasa kesal yang kekanak-kanakan mendadak menguasai logikanya.

"Baru juga ditinggal beberapa hari gak dipantau, udah ada laki-laki lain aja yang nyangkut di sebelahnya. Cepat amat."

Padahal jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Regan sadar betul. Ia sama sekali tidak memiliki hak atau status apa pun untuk merasa cemburu. Hubungan mereka sudah kandas sembilan tahun lalu karena keegoisannya. Namun tetap saja, melihat ada sosok pria lain yang sanggup mengukir senyum di bibir Arin dan memberikan kenyamanan bagi Zayyan, rasa tidak rela yang teramat besar telak menggerogoti dadanya hingga perih.

Sebelum akal sehatnya sempat melarang, jemari Regan sudah bergerak membuka tuas pintu mobil.

"Enggak, gak bisa," bisik Regan penuh keputusasaan.

"Aku harus tahu siapa sebenarnya laki-laki itu."

Dengan gerakan cepat, Regan turun dari mobil dan merapatkan jaketnya. Ia mulai melangkah lebar, mengikuti ketiganya dari jarak aman.

1
Anonim
ANJING PENGEN BUNUH REGAN ... DEMI TUHAN PENGEN BUNUH REGAN
Lina Asm
lanjut kak
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
🤣🤣 didikan mu jelek rin 🤣 pantes anak mu berontak harusnya klo ada yg nginjak lawan. bego bukan diem😒 di bully diem. ya bloon
falea sezi
lagian goblok nya harusnya pergi dr suami bawa uang banyak biar anak mu gk menderita bawa fto nikah di pajang gede biar orang kampung tau lu bersuamii😒 begooo MC nya menye
falea sezi
anak g tau diri😒 baru baca uda kesel anak gk pernah di didik. ya gini
Mutaharotin Rotin
🥰🥰🥰🌹
Mutaharotin Rotin
mampir thor 🌹🌹🌹🌹🥰🥰🥰😭😭
Mutaharotin Rotin
karya baru ya🥰🥰🥰 mampir ya 🌹🌹🌹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!