NovelToon NovelToon
Cinta Lama, Dendam Baru

Cinta Lama, Dendam Baru

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / CEO
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Cilia

Tujuh tahun lalu, Kirana Ayu Pradipta ditinggalkan tanpa penjelasan oleh kekasihnya, Raditya Alamsyah Wibowo. Kirana pergi tanpa tahu kebenaran, membangun hidup dan kariernya dari nol, tumbuh jadi perempuan tegar yang tak lagi percaya cinta. Tujuh tahun kemudian, mereka bertemu kembali. Bukan sebagai sepasang kekasih, tapi sebagai rival bisnis dalam tender proyek properti terbesar di Jakarta. Radit yang dingin berusaha merebut kembali hati Kirana, sementara Kirana harus memilih antara membalas dendam, melindungi perusahaannya, atau membuka hatinya lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

XXXI - Ultimatum

Tepat pukul 10.00, resepsionis Cipta Prada Land menelepon ke ruang kerja Kirana, suaranya terdengar agak bingung. "Bu Kirana, ada Ibu Valerie Wijaya di lobi. Katanya mau ketemu langsung, tapi saya lihat, beliau nggak ada janji sebelumnya."

Kirana terdiam sesaat, meletakkan pena di tangannya. Nama itu adalah hal terakhir yang ia duga akan muncul pagi ini. "Suruh dia ke ruang tamu eksekutif. Saya turun sebentar lagi."

Nadia yang sedang duduk di kursi seberang meja Kirana mengangkat alis. "Valerie? Ngapain dia ke sini?"

"Nggak tau," Kirana menjawab, berdiri dari kursinya. "Tapi kayaknya bukan buat basa-basi doang, deh..."

"Lu mau gua temenin?" Nadia bertanya, sudah setengah berdiri.

"Nggak usah," Kirana berkata. "Biar gua sendiri dulu. Kalau ada apa-apa, nanti gua telepon lu."

"Oke, tapi hati-hati ya, Kir," Nadia berkata, duduk kembali meski masih terlihat khawatir. "Orang kayak Valerie biasanya nggak dateng kalau bukan buat cari masalah."

Valerie sudah duduk di sofa ruang tamu ketika Kirana masuk, tangannya terlipat rapi di pangkuan.

"Kamu berani juga dateng ke sini," Kirana berkata, duduk di kursi seberang Valerie, tidak berbasa-basi. "Ada apa?"

"Aku cuma mau ngomong empat mata," Valerie menjawab, suaranya dibuat setenang mungkin. "Nggak lama, kok."

"Kalau soal rumor kemarin, aku udah tau siapa yang ada di balik itu," Kirana berkata tajam. "Kamu nggak perlu pura-pura nggak tau."

Valerie tidak membantah. Ia hanya tersenyum tipis. "Aku ke sini bukan buat bahas itu. Aku ke sini buat kasih kamu kesempatan terakhir, sebelum semuanya jadi lebih rumit."

"Kesempatan apa?" Kirana bertanya, alisnya mengerut.

Valerie membuka tasnya, mengeluarkan ponsel, lalu memutar layarnya menghadap Kirana. Sebuah foto muncul di layar — Kirana dan Radit berdiri berdekatan di parkiran basement gedung Wibowo Group, cahaya temaram di belakang mereka, tangan Radit di pinggang Kirana, dengan wajah mereka nyaris bersentuhan.

Kirana merasakan darahnya seolah berhenti mengalir. "Dari mana kamu dapet foto ini?"

"Nggak penting dari mana," Valerie menjawab. "Yang penting, foto ini bisa aku sebar ke media kapan pun aku mau. Bayangin judulnya, Kirana. 'CEO Cipta Prada Land dan CEO Wibowo Group Berselingkuh di Tengah Krisis Perusahaan'. Reputasi yang susah payah kamu bangun ulang minggu ini, bakal hancur dalam semalam."

"Kamu mengancam aku?" Kirana berkata, suaranya tetap ia jaga agar terdengar datar meski di dalam dadanya, jantungnya berdegup cepat.

"Aku cuma kasih pilihan," Valerie menjawab. "Mundur dari kehidupan Radit. Batalin semua kerja sama bisnis kalian, jauhin dia secara pribadi juga. Kalau kamu lakuin itu, foto ini nggak akan pernah keluar, ke media mana pun."

Kirana menatap Valerie lama, mencoba menahan amarah yang mulai naik ke tenggorokannya. "Kamu pikir aku bakal nyerah cuma karena ancaman kayak gini?"

"Aku pikir kamu bakal mikirin ini baik-baik," Valerie menjawab, berdiri dari sofanya, "sebelum kamu kehilangan lebih banyak lagi dari yang udah kamu korbanin sekarang."

"Kamu udah kehilangan Radit dari awal, Val," Kirana berkata, ikut berdiri. "Foto ini nggak akan ngubah itu. Yang bakal berubah cuma gimana orang-orang mulai mikir soal kamu, begitu mereka tau kamu tega ngelakuin ini."

"Mungkin," Valerie menjawab, suaranya mulai bergetar. "Tapi setidaknya aku nggak akan diem aja liat kamu ngerebut semua yang seharusnya jadi milikku."

"Aku nggak pernah niat ngerebut apa pun dari kamu," Kirana berkata. "Radit dan aku punya sejarah jauh sebelum kamu masuk ke hidupnya. Kamu yang dateng belakangan, Val, bukan aku."

"Sejarah nggak selalu berarti masa depan," Valerie membalas tajam. "Aku yang seharusnya jadi masa depan Radit. Keluarga kami udah rencanain ini bertahun-tahun."

"Kalau itu bener, kenapa kamu harus ancam aku pake foto itu biar Radit tetep sama kamu?" Kirana bertanya. "Orang yang yakin sama posisinya nggak butuh buat ngelakuin cara kotor kayak gini."

Valerie terdiam sesaat, rahangnya mengeras, tapi ia tidak membalas. Ia berjalan keluar tanpa menunggu jawaban, meninggalkan Kirana yang masih terpaku, tangannya mengepal di sisi tubuhnya.

...****************...

Kirana menelepon Radit begitu Valerie pergi, suaranya masih bergetar menahan marah. Radit datang ke kantornya kurang dari satu jam kemudian, wajahnya berubah begitu Kirana menceritakan tentang foto yang baru saja ditunjukkan olel Valerie.

"Dia dapet foto itu dari mana?" Radit bertanya, rahangnya mengeras.

"Aku nggak tau," Kirana menjawab singkat.

"Sialan," Radit menggumam, mengusap wajahnya dengan kedua tangan. "Aku bakal cari tau siapa yang bocorin ini. Tapi sekarang, aku mau selesaiin ini langsung sama dia."

"Dit, jangan gegabah," Kirana berkata, mencoba menahan. "Kalau kamu dateng ke sana dalam keadaan marah kayak gini, keadaan bisa jadi lebih runyam."

"Aku nggak bisa diem aja, Kirana," Radit menjawab, suaranya tegas. "Dia ngancam kamu. Ini udah kelewatan."

Radit berdiri, mengambil jaketnya dari sandaran kursi. "Aku mau ketemu dia sekarang."

"Dit, tunggu —" Kirana mencoba menahan, tapi Radit sudah berjalan keluar ruangan, langkahnya cepat dan tidak menoleh ke belakang.

...****************...

Radit menemukan Valerie di apartemennya sore itu, wajahnya masih merah menahan amarah sejak keluar dari kantor Kirana. Ia mengetuk pintu tiga kali, tidak menunggu lama sebelum Valerie membukanya, mata Valerie sedikit membengkak seperti baru selesai menangis.

"Apa yang kamu lakuin ini keterlaluan, Val," Radit berkata begitu pintu terbuka, ia tidak menunggu untuk diundang masuk. "Kamu ngancam Kirana pake foto pribadi aku dan dia?"

Valerie mundur selangkah, membiarkan Radit masuk ke apartemennya. "Aku cuma pertahanin apa yang seharusnya jadi milikku, Dit," Valerie menjawab. "Kamu, Dit. Pertunangan kita. Sesuatu yang udah direncanain dari lama, sebelum Kirana muncul lagi dan ngerusak semuanya."

"Kita berdua tau pertunangan ini cuma kesepakatan bisnis," Radit berkata tegas. "Kamu juga nggak pernah bener-bener cinta sama aku, Val. Kita berdua cuma ngikutin apa yang orang tua kita mau."

"Mungkin awalnya nggak," Valerie mengakui, matanya mulai berkaca-kaca. "Tapi sekarang… aku mulai ngerasa kalau aku cinta sama kamu. Tapi… yang ada di kepala kamu cuman Kirana, Kirana, dan selalu Kirana. Setiap kali kita ketemu, setiap kali aku coba deketin kamu, aku selalu tau kamu mikirin dia."

"Itu bukan salah aku," Radit menjawab, suaranya sedikit melunak. "Val, ini semua salah dari awal. Pertunangan ini nggak seharusnya pernah terjadi."

"Jadi menurut kamu, aku salah karena coba mempertahankan sesuatu yang udah aku perjuangin selama ini?" Valerie bertanya, suaranya mulai naik. "Aku juga punya harga diri, Dit. Aku nggak mau jadi perempuan yang ditinggalin begitu aja demi cinta lama kamu yang tiba-tiba muncul lagi."

"Kalau kamu punya harga diri," Radit berkata, "kamu nggak akan ngancam orang lain pake foto yang diambil diam-diam. Itu bukan cara orang yang punya harga diri, Val. Itu cara orang yang udah putus asa."

Kata-kata itu tampak menusuk lebih dalam dari yang Radit duga. Valerie terdiam sesaat, bibirnya bergetar.

"Hapus foto itu. Sekarang," Radit melanjutkan, suaranya lebih tegas. "Dan aku minta kamu berhenti. Berhenti lanjutin semua rencana kamu sama Dimas. Aku tau kalian berdua yang bikin rumor soal Cipta Prada Land."

Valerie menatap Radit lama, air mata mulai jatuh membasahi pipinya, tapi ia tidak bergerak untuk menghapusnya.

"Kamu pikir aku mau lakuin semua ini kalau ada cara lain?" Valerie bertanya, suaranya nyaris berbisik. "Aku udah coba semua cara buat bikin kamu liat aku, Dit. Dan setiap kali, kamu selalu balik lagi ke dia."

"Karena aku emang nggak pernah berhenti cinta sama dia, Val," Radit menjawab jujur, meski tau kata-kata itu bakal menyakiti Valerie lebih dalam. "Dan itu nggak akan pernah berubah, apa pun yang kamu lakuin."

Valerie terdiam, dadanya naik turun menahan isak yang mulai pecah. Ia mundur selangkah, punggungnya menyentuh dinding di belakangnya, seolah butuh sesuatu untuk menopang tubuhnya sendiri.

"Aku udah capek, Dit," Valerie berkata, suaranya nyaris tidak terdengar. "Capek jadi orang yang selalu jadi nomor dua..."

"Aku minta maaf soal itu," Radit berkata, nadanya melunak. "Tapi cara kamu sekarang, ngancam Kirana, kerja sama sama Dimas buat ngehancurin perusahaannya — itu nggak akan bikin kamu ngerasa lebih baik, Val. Itu cuma bikin kamu jadi orang yang jahat, dan aku nggak mau lihat kamu jadi kayak gitu."

Valerie menyeka air matanya dengan punggung tangan, tapi air mata baru terus mengalir menggantikannya.

"Kalau aku nggak bisa milikin kamu," Valerie berkata, suaranya pecah di antara isak tangis, "aku pastikan nggak ada yang bisa memilikimu dengan tenang."

1
m.marsela
kalau masih sayang, kenapa melepaskan sih duit, kepo banget sama alasannya ninggalin kirana
Ade Chubi
Radit hebat 👍
Ade Chubi
selalu nyerang pihak perempuan nya ,kalo menyerang Radit , Valerie tau akan konsekuensinya 😂😂
Cilia: Radit punya kuasa ka😂
total 1 replies
m.marsela
padahal ada orang baru yang siap untuk selalu ada
tapi orang yang pernah memberi luka justru masih selalu memenangkan ruang di hati.
Cilia: Terlsdang masa lalu selalu menang ka… huhu
total 3 replies
Raudhatul Zannah
buat penasaran kak ceritanya, semangat ya kak
Ery Sithi Badriyyah
seru bgt ceritanya
Ery Sithi Badriyyah
seru ceritanya lanjut yuk
white star ⭐
bikin ketagihan membacanya
mary dice
Nah gitu dong Kirana 🔥🔥 ditunggu gebrakan-gebrakanya melawan m
para musuh 💪💪
Arni Arlinawati pratiwi
semangat anak ku sayang..
helena
lanjut thoor
m.marsela
Fix lanjut baca, penasaran banget
Putri Ayu/PqxxyZ
Sangat merekomendasi ceritanya... Yang belum baca wajib baca sih ini
Cilia
Penjelasannya bisa dibaca di bab-bab selanjutnya! Makin seru loh😆
Putri Ayu/PqxxyZ
terjadi salah paham ya...tapi kenapaa gak dijelasin sih malah ilang 😊
Putri Ayu/PqxxyZ
yuk bisa yuk cari cowok selain Raditya...💪💪 🤭
Cilia
Terimakasih atas dukungannya kak❤️
Raudhatul Zannah
semangat kak
Wawan
Satu iklan dan mawar buat mu Thor 💪
Wawan
Clue nya menarik 👍
Cilia: Terimakasih, kak! Bab-bab berikutnya akan lebih menarik! Ditunggu, ya😆
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!