Karin mengabdikan seluruh hidupnya untuk mendukung suaminya Dimas menuju kesusksesan. Setelah berada di puncak kesuksesan, Suaminya justru mengkhianatinya dengan membawa pulang wanita muda dengan berniat untuk di jadikannya istri kedua. Lebih menyakitkan nya lagi keluarga suaminya ikut mendukung dan bahkan merendahkanya. Seolah pengorbanannya selama bertahun-tahun tidaklah berarti.
Saat nyawanya berakhir karena ulah sang pelakor. Karin terbangun kembali di masa lalu tepat saat Suaminya membawa wanita itu kerumahnya. Di beri kesempatan kedua Karin berubah menjadi wanita kuat dan bersumpah akan membalas rasa sakitnya di kehidupan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Beberapa detik kemudian, kesadarannya perlahan kembali. Ia menyadari kalau dirinya masih berada di dalam mobil.
Arga masih membungkuk di samping pintu belakang mobil dengan raut wajah yang dipenuhi kekhawatiran.
"Nyonya, Anda sudah sadar?"
Karin menarik napas perlahan. Pandangannya mulai fokus.
"Iya."
Ia mengusap pipinya yang basah oleh air mata, lalu berusaha menenangkan dirinya.
"Syukurlah." Arga mengembuskan napas lega.
"Apa kita sudah sampai?" tanya Karin.
"Sudah, Nyonya," jawab Arga sambil mengangguk pelan.
Karin menoleh ke arah jendela. Barulah ia menyadari mobil sudah berhenti di halaman rumah.
"Maaf saya membangunkan tidur Nyonya," kata Arga. "Tadi Nyonya tiba-tiba mengigau. Saya sudah memanggil beberapa kali, tetapi Nyonya tidak bangun. Nyonya juga terus menangis."
Karin terdiam. Ia kembali teringat mimpinya yang kembali kehilangan kedua orang tuanya.
"Apa aku mengatakan sesuatu?" tanyanya pelan.
Arga ragu sejenak sebelum menjawab.
"Nyonya terus memanggil Ayah dan Ibu. Berkali-kali meminta mereka jangan pergi."
Karin terdiam beberapa saat, berusaha menenangkan detak jantungnya yang masih belum beraturan. Lalu ia menyadari Arga masih membungkuk di samping pintu mobil.
"Maaf, aku sudah merepotkanmu."
"Sudah menjadi tanggung jawab saya memastikan Nyonya baik-baik saja."
Karin menatap pria itu selama beberapa detik. Entah mengapa, setiap kali Arga berbicara, pikirannya yang semula kacau perlahan menjadi lebih tenang.
"Terima kasih, Arga."
Arga mengangguk pelan tanpa banyak bicara. Ia mundur selangkah, lalu mempersilakan Karin keluar.
Karin melangkah turun dari mobil. Ia mendongak menatap rumah megah yang kini terasa begitu asing baginya.
Begitu melangkahkan kaki ke dalam rumah, ia langsung disambut oleh Dimas yang sudah berdiri di depan pintu dengan wajah dipenuhi amarah.
"Karin! Dari mana saja kamu?" bentaknya tanpa basa-basi.
Arga yang hendak masuk ke mobil untuk memarkirkannya ke garasi langsung terdiam mendengar suara Dimas. Sementara itu, Karin menatap suaminya dengan tenang.
"Kamu keluar tanpa meminta izin dariku? Ke mana saja kamu seharian ini?"
"Aku dari rumah orang tuaku," jawab Karin singkat.
"Mau apa kamu ke sana? Apa kamu mengadu pada mereka hanya karena aku ingin menikahi Vina?" tanya Dimas dengan nada penuh emosi.
Karin mendengus pelan melihat tingkah Dimas.
"Kenapa memangnya kalau aku mengadu kepada mereka? Mereka orang tuaku dan berhak tahu apa yang terjadi pada anak mereka."
"Dasar kamu perempuan pencemburu! Hanya karena aku ingin menikahi Vina, kamu sampai mengadu kepada orang tuamu. Kamu terlalu membesar-besarkan masalah."
"Membesar-besarkan masalah, katamu?" Karin tertawa sinis. "Jadi kamu menganggap perselingkuhanmu bukan masalah besar?"
"Aku tidak berselingkuh, Karin. Aku hanya ingin melindungi Vina. Dia teman masa kecilku. Kami dulu pernah berjanji akan menikah saat dewasa," jelas Dimas sambil berusaha menahan amarahnya. "Tapi takdir memisahkan kami. Lalu kami dipertemukan kembali ketika aku sudah menjadi suamimu."
Karin hampir tak percaya mendengar penjelasan itu.
"Wah... ceritamu sungguh mengharukan," ucapnya sinis. "Sampai membuatku ingin muntah mendengarnya."
Tatapannya dipenuhi rasa jijik.
"Kamu masih saja menganggap aku ini bodoh."
"Aku mengatakan yang sebenarnya, Karin."
"Dulu aku memilih diam dan selalu percaya pada setiap perkataanmu karena aku mencintaimu." Suara Karin terdengar tenang, tetapi tajam. "Tapi jangan salah mengartikan diamku sebagai kebodohan."
Wajah Dimas langsung berubah kaku. Suasana mendadak sunyi.
Arga yang masih berdiri di dekat mobil menundukkan kepalanya. Ia sama sekali tidak berniat menguping, tetapi pertengkaran mereka terdengar begitu jelas.
"Karin, kenapa kamu bicara seperti itu?" Nada suara Dimas mulai melunak. "Kita masih suami istri. Aku akan tetap mencintaimu meskipun aku menikah dengan Vina."
Karin hanya menatapnya tanpa ekspresi.
"Aku setuju dengan semua syaratmu tanpa terkecuali," lanjut Dimas. "Aku tidak akan mempunyai anak dari Vina."
Mendengar itu, Karin hanya tersenyum tipis.
"Baiklah."
Ia menepis tangan Dimas yang hendak menyentuhnya.
"Kalau begitu, kamu dan Vina harus menandatangani perjanjian itu."
Setelah mengatakan hal tersebut, Karin berbalik meninggalkan Dimas dan berjalan menuju kamarnya.
Sesampainya di kamar, ia langsung menghampiri meja rias dan menatap pantulan dirinya di cermin.
Wajahnya tampak pucat. Pakaian yang dikenakannya pun terlihat sederhana dan ketinggalan zaman.
Barulah saat itu Karin menyadari sesuatu. Selama menikah dengan Dimas, ia hampir tidak pernah lagi memperhatikan penampilannya.
Setiap kali ingin pergi ke salon, membeli pakaian baru, atau sekadar merawat diri, Dimas selalu melarangnya dengan alasan ia sudah cantik apa adanya dan tidak perlu menghamburkan uang untuk hal-hal yang tidak penting.
Karin mengusap perlahan wajahnya sendiri di depan cermin.
"Kenapa dulu aku benar-benar sebodoh itu?" gumamnya lirih.
Tatapannya perlahan berubah tajam.
"Mulai hari ini, aku tidak akan membiarkan siapa pun mengatur hidupku lagi."